Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peringatan Pak RT
Matahari pagi bersinar cerah di Desa Pasir Angin, sedikit mengurangi ketegangan dari malam sebelumnya. Adrian mengenakan pakaian almamater biru dongker yang rapi sambil membawa papan tulis dan alat tulis, Dinda menggantungkan kamera DSLR di lehernya, sementara Bagas berjalan di samping mereka sambil sesekali memperbaiki posisi kacamatanya.
"Yan, Din, apa kita harus izin ke Jarian? Tadi malam saat kita menyebut nama tempat itu, wajah Pak RT dan Kang Kosim langsung berubah seperti melihat hantu,". Bisik Bagas sambil mengetuk pintu rumah Pak RT.
"Kita datang dengan niat untuk membantu masyarakat, Gas. Prosedur KKN harus jelas. Untuk membuat Sistem Pengelolaan Sampah Smart, kita perlu survei lokasi utama. Jangan terpengaruh cerita menakutkan tadi malam," jawab Adrian dengan nada tegas.
"Tapi sekali lagi, Yan, kita harus berbicara dengan halus. Keadaan mereka perlu diperhatikan," sahut Dinda.
Pintu terbuka, dan Pak RT muncul dengan sarung di bahu dan segelas kopi di tangan. Ekspresinya tampak sedikit terkejut, tetapi segera berubah ramah.
"Eh, adik-adik mahasiswa. Silakan duduk. Bagaimana tidur kalian semalam di rumah dinas? Tidak ada gangguan, kan?" sapa Pak RT.
"Wah, tidurnya sangat nyenyak, Pak! Setelah lampunya diganti dengan yang lebih terang, rasanya rumah ini jadi seperti hotel bintang lima. Makanan di desa ini juga lezat, Pak," Bagas segera menyahut sambil tersenyum lebar.
"Syukurlah jika begitu. Jadi, pagi ini sepertinya sudah siap semuanya. Adakah yang bisa Bapak bantu untuk agenda hari pertama kalian?" Pak RT tertawa kecil.
"Begini, Pak RT. Sesuai dengan draf program kerja yang kami siapkan di Jakarta, hari ini kami ingin melakukan survei lapangan dan observasi yang pertama. Fokus kami adalah mengukur koordinat, memeriksa kondisi tanah, dan melihat sistem drainase di area Jarian," kata Adrian sambil melangkah maju dan membuka catatan dari papan tulisnya.
Tiba-tiba, cangkir kopi di tangan Pak RT bergetar pelan karena gerakannya yang tiba-tiba kaku. Senyumnya perlahan-lahan memudar.
Pak RT berdeham lama, memandang Adrian dengan tatapan yang sukar dipahami.
"Ke Jarian? Kenapa harus ke sana, Nak Adrian? Bukankah kemarin saya dan Kang Kosim sudah menjelaskan bahwa tempat itu baru dibersihkan secara total oleh warga? Sekarang kondisinya sudah kosong,". Balas Pak RT dengan nada tegas.
"Justru karena sudah bersih, Pak. Kami melihat bahwa Jarian memiliki potensi besar untuk jadi proyek percontohan pengelolaan sampah modern berbasis teknologi. Kami ingin meneliti mengapa kemarin terjadi penumpukan limbah organik yang luar biasa parah di sana hingga memunculkan bau tidak sedap," Dinda menjelaskan dengan nada meyakinkan.
"Adik-adik sekalian. Jarian itu bukan tempat pembuangan sampah normal. Bagi kami, warga Desa Pasir Angin, tempat itu menyimpan sejarah Desa. Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah oleh komputer atau alat-alat yang kalian bawa,". Pak RT menghela napas berat dan bersandar pada kursi kayunya.
"Maaf sebelumnya, Pak RT. Namun, dari pandangan kami, setiap aroma menyengat atau kegagalan dalam bahan organik selalu memiliki alasan yang logis. Mungkin disebabkan oleh kejenuhan tanah atau jumlah bakteri anaerob yang terlalu banyak. Kami hanya ingin mengambil sampel tanah dan memetakan lokasi tersebut agar ke depannya, desa ini memiliki sistem sanitasi yang cerdas dan tidak ada lagi warga yang terpapar penyakit terkait lingkungan.". Adrian memotong dengan sopan namun tetap tegas.
"Kalian ini persis seperti Maman. Penuh semangat, cerdas, dan hanya percaya pada apa yang terlihat oleh mata.". Pak RT terdiam cukup lama, memandangi ketiga mahasiswa itu secara bergantian. Sebuah kekhawatiran yang mendalam terlihat di matanya, tetapi ia juga merasa tidak enak menolak niat baik para tamunya.
"Maman, pemuda yang sakit waktu itu, kan, Pak?". Bagas merasa merinding saat mendengar nama Maman disebut.
"Ya. Tapi baiklah, jika itu memang tugas dari kampus kalian. Saya mengizinkan kalian pergi ke Jarian pagi ini. Namun, saya memiliki dua syarat yang wajib dipatuhi dan tidak boleh diabaikan." Pak RT mengangguk perlahan.
"Apa saja itu, Pak RT?" tanya Adrian.
"Pertama, sebelum azan zuhur berkumandang, kalian harus meninggalkan tempat itu. Jangan sekali-kali bertahan sampai mendekati malam. Kedua, jika kalian menemukan benda asing yang tertimbun di tanah Jarian, jangan disentuh, jangan difoto, dan jangan dipindahkan dari tempatnya. Biarkan tanah itu menyimpan apa yang seharusnya dimilikinya. Apakah kalian paham?" Pak RT berbicara dengan pelan, suaranya sangat serius.
"Paham, Pak RT." Dinda dan Bagas serentak mengangguk cepat.
"Baik, Pak RT. Kami menerima syarat tersebut. Terima kasih atas izinnya. Kami pamit untuk menuju lokasi.". Meskipun Adrian dalam hati beranggapan syarat itu tidak masuk akal, dia tetap mengangguk demi kesopanan.
Saat ketiga mahasiswa itu menjauh dari halaman rumahnya, Pak RT berdiri di tepi teras, memperhatikan almamater biru dongker mereka yang semakin menjauh dengan perasaan cemas yang kembali menghampiri.