NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan saat bujang

Perjalanan saat bujang

Siang belum sepenuhnya hadir masih dalam perjalanan. Tapi pagi sudah beranjak pergi dari munculnya matahari di hari itu.

Pemuda berusia 16 tahun dengan memakai pakaian seragam putih abu duduk di kursi bangku sekolah bersama 40 siswa siswi lain nya sedang menunggu panggilan dari guru pembimbing nya.

" Danil Dwi Cahya ." Seorang Guru wanita memanggil nama nya untuk segera maju kedepan kelas.

Tepukan tangan serta sorak sorai dari siswa dan siswi lainnya bergemuruh di ruangan kelas tiga SMP Taruna Nusantara di kota kecil Cianjur Jawa Barat.

Setelah Pemuda yang di panggil itu sampai di depan meja Guru. Lalu guru itu menyerahkan satu buah rapot dan berkata kepada murid didiknya.

"Selamat Anakku kamu lulus dan masuk peringkat nomor tiga besar di antara 40 siswa lainnya." Wanita berusia kurang lebih 45 tahunan memakai jilbab putih menyerahkan raport berwarna merah pada siswa yang di panggil untuk maju ke depan kelas.

"Terima Kasih Bu Guru tampa bimbingan dan didikan dari Ibu guru dan guru guru lainnya. Saya tidak akan bisa mencapai peringkat ini." Jawab Danil  seraya menerima buku raport dan mencium tangan guru tersebut.

Guru tersenyum manis, didikan dan bimbingan di berikan pada nya, itu sudah menjadi tugasnya sebagai ASN aparatur negara, adapun hasil yang di peroleh oleh setiap murid itu tergantung kemampuan murid muridnya, namun di kehidupan jaman sekarang ada segelintir para orang tua yang dengan secara terang-terangan meminta agar anak-anaknya di luluskan, walau para orang tua itu tahu dan mengakui kebodohan serta malas nya belajar, tapi ini jaman moderan di mana uang yang berkuasa.

Setelah acara kelulusan sekolah itu selesai, para murid-murid pun membubarkan dirinya, kembali ke rumah atau ada yang berkumpul bersama teman-teman lainnya untuk merayakan kelulusan dengan beragam macam cara di lakukan, dengan mencoret coret baju sekolah nya, atau pun komvoi di jalanan, berbeda dengan murid yang mampu menaiki peringkat ke tiga di SMP Negeri yang berada di kota kecil provinsi Jawa Barat.

##################

Hampir 40 menit lamanya, ia berjalan dari gedung sekolah menuju rumah nya yang berada di pinggiran kecamatan, Danil sampai di halaman rumah yang tampak sangat jauh berbeda dari rumah rumah tetangga nya yang berada di kampung Babakan Soka.

" Uh."

Nafas nya melenguh, menatap penuh kesedihan dalam hidupnya, dia terlahir dari rahim seorang ibu yang cintanya di hianati oleh lelaki yang biasa Danil panggil. Bapak.

" Assalamualaikum." Danil mengucap salam seraya membuka engsel pintu yang seperti biasa pintu itu tidak di kunci karna sang Kakak ipar bersama anaknya di jam segini masih bergelut di samping rumah orang tuanya membereskan barang barang rongsokan.

" WaallAikum Salam, terdengar jelas dan nyaring suara dari seorang wanita muda berusia 23 tahun, ya Danil mengetahui nya itu adalah Teh Erna, istri dari kakaknya Mulyadi, anak pertama pasangan suami istri Dedeh dan Dadah.

Danil langsung melangkah menuju kamarnya, hal utama ia lakukan adalah mengganti pakaian sekolah nya, dan membawa sarung untuk pergi ke mesjid melaksanakan perintah dari sang pemberi waktu. Tuhan maha esa.

Hampir tiga puluh menit lamanya, bergelut dalam aktivitas yang seperti orang lain kerjakan, Danil pun keluar dari Masjidi Jami di kampung tempat ia di lahirkan.

" Niel." Teguran suara wanita dari luar pagar, membuat Danil langsung menoleh ke arah suara itu. Ia tersenyum manis.

" Ceu. Ges ti mana maneh.?" ( Ceu. Habis dari mana kamu.?" ) Danil bertanya sosok gadis di atas usia Danil dengan kulit sawo matang dan rambut terurai panjang tersenyum padanya.

" Biasa di suruh majikan beli rokok di warung mang Udin." Jawab gadis dengan panggilan Ceceu itu. Danil melangkah ke luar pagar berjalan beriringan seraya mengobrol receh.

" Gimana lulus? Terus sesuai nggak dengan obrolan di saung bahwa kamu akan mempertahankan peringkat ke tiga.?" Ceceu bertanya pada Danil yang berjalan menuju ke rumah nya masing-masing.

Ceceu Intan Nuraini, seorang gadis berusia 19 tahun, iya tak berbeda jauh tentang ekonomi di keluarga nya, sama sama terlahir dari keluarga miskin, gadis itu sudah mengenal Danil ketika dia bekerja jadi pembantu rumah tangga di keluarga kaya di kampung tempat Danil tinggal. Rumah majikan gadis berkulit sawo matang itu hanya berjarak 500 meter dari rumah orang tua Danil, jadi ketika Ceceu di suruh membeli rokok ke warung depan ia harus melewati rumah kumuh tempat dimana ia selalu mencurahkan keluh kesahnya atas patamorgana kehidupan yang sedang di jalani nya.

" Alhamdulillah lulus Ceu.! Dan peringkat masih bertahan di angka tiga sesuai dengan aku anak ketiga.............

Danil berhenti berkata, ia selalu tak kuasa bila pandangan dalam hatinya mengucapkan sebuah anak ke tiga.

" Kenapa?" Ceceu menoleh membutuhkan jawaban dari ucapan yang terhenti itu.

" Tidak ada apa apa." Danil menggelengkan kepalanya, ia sudah sampai di halaman rumahnya. Alis Ceceu naik sedikit jawaban dari Danil tidak puas dalam hatinya.

" Nanti malam sesudah Magrib kita ketemu di Sahung ya. Kalau kamu ketemu sama si Neng atau si Rini ajak aja." Kata Danil

" Ok. Tapi kalau mereka gak ada gimana? Kamu tahu kan si Rini kalau dah malam ia paling bisa keluar pukul delapan habis beres ngajarin anak anak ngaji. Sedangkan Si Neng tadi aku lewat depan rumah nya, bapaknya mandar namanya baru pulang dari Jakarta, otomatis dia gak bakalan bisa keluar." Terang Ceceu.

" Oh......" Bibir Danil maju beberapa senti, hal itu membuat Ceceu geli melihatnya, ingin dia melumatnya, hingga sadar ia memikirkan hal yang mesum.

" Ya udah lihat aja nanti Ceu. Intinya aku pasti pergi ke Sahung sesudah Magrib." Tekan Danil.

" Yoi. Gue juga pasti datang, seandainya kedua kutu kunyuk itu tak datang juga." Lugas Ceceu.

" Siap! Jangan lupa bawa cemilan ya, kan di rumah majikan kamu banyak makanan." Danil memperingatkan. Ceceu hanya mengangguk pelan lalu melangkah menuju rumah majikannya, Danil sendiri masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk ke rumah bergant baju dengan memakai kaos oblong dan celana pendek, Danil pun melangkah ke arah samping rumah, sosok wanita yang tak lain istri dari kakak pertamanya masih bergelut dalam bidang rongsokan yang telah di bawa oleh sang suaminya.

" Teh. Si akang belum pulang lagi.?" Danil bertanya dan duduk membantu memisahkan barang barang rongsokan yang terdiri dari botol plastik Aqua, kardus dan lain lainnya.

" Udah tadi pukul satengah dua belas, tapi liar lagi ke kampung sebelah." Jawab Teh Erna tak menampilkan wajah nya, ia sibuk dalam pekerjaannya.

" Ohk.... Ari si mamah masih belum pulang dari acara kenaikan kelas si Amel dan si Mela.?" Tanya lagi Danil.

" Belum.... Si mamah kamu tahu kan, kalau ada acara di sertai organ tunggal mana mau mamah pulang cepat cepat."kesal Teh Erna terhadap mertuanya, biasa nya kalau suaminya sedang giat giat nya mencari barang rongsokan, ia suka di bantu oleh mertuanya, tapi kali ini karena adik iparnya sedang dalam acara penaikan kelas, dan lebih kesal nya lagi ada dangdutan

jadi otomatis mertuanya itu gak bakalan pulang cepat cepat.

Siang sudah berlalu kini langit telah berubah menjadi kekuningan, waktu senja sudah berada di hadapannya, hanya kurang beberapa menit saja suara toa dari mesjid akan berkumandang, lalu lalang anak anak berlari kembali menuju rumah nya, mitos mengatakan bahwa di saat waktu magrib akan tiba, di saat itu juga para mahluk tak kasat mata akan keluar dan menjelajahi di Bumi ini.

Ada cerita mistos di kampung sebelah Danil yang tak lain kampung di mana neneknya tinggal, konon waktu seorang anak berusia sembilan tahun kembali pulang ke rumahnya tepat di waktu senja yang hanya beberapa menit saja menjelang Magrib.

Sang anak itu yang biasa kakak pertamanya memanggil Tarna, karna satu sekolahan sama kakaknya jadi ia tahu dan orang tua nya pun bertetangga dengan Nenek Danil.

Waktu itu musim layangan, anak anak sepantaran Tarna lagi asyik asyik nya mengejar layangan yang putus hingga lupa akan waktu yang mulai memasuki waktu magrib.

Bersambung.

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!