NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Mas Dokter Untuk Mama

Mengejar Cinta Mas Dokter Untuk Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / Berondong
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

‎Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.

‎Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.

‎Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.

‎Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.

Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?

Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Perfum yang Memikat

Farida sudah bersandar diam dengan senyum nakalnya di sofa ruang tamu rumahnya. Ardi menatapnya dengan penuh gairah yang meluap. Saat Ardi akan siap menerkam Farida, ponselnya berbunyi nyaring. Ardi menatap layar ponselnya. Arumi. Ardi ragu-ragu seketika. Akal sehatnya kembali menguasai. Namun, Farida dengan cepat merebut ponsel Ardi.

"Hari ini... kita bersenang-senang dulu, Mas. Berdua. Tanpa ada pengganggu," kata Farida sambil mendekatkan tubuhnya pada Ardi. Ponsel Ardi berhenti berdering.

"Tuh... udah mati," kata Farida sambil meletakkan ponsel Ardi di atas meja.

"Sekarang..." Farida membelai pipi Ardi.

"Mari kita lanjutkan nostalgia kita," lanjut Farida sambil melemparkan kemeja kerjanya sembarang dan mendaratkan ciuman nakalnya ke bibir Ardi.

Ardi kembali membalas ciuman Farida. Panas, memburu, seolah tak ada waktu lagi. Tangan Ardi meraba seluruh tubuh mulus Farida. Masih sama seperti satu tahun lalu. Menggoda. Menggiurkan. Sayang untuk dilewatkan.

Nafas keduanya beradu. Ardi dapat merasakan seluruh tubuhnya memanas. Farida dengan cepat membuka kemeja Ardi masih sambil mencium bibir Ardi dengan panas. Mereka saling terengah di sela-sela ciuman itu. Namun keduanya menolak berhenti.

Saat Farida akan melepas celana Ardi, ponsel Ardi kembali berdering. Farida tak berhenti. Dia mengunci Ardi dalam jerat cumbunya, membuat Ardi hanyut dalam hasrat yang memabukkan. Di atas sofa ruang tamu, Ardi merasakan nikmat yang selama ini tertahan. Dia menindih Farida yang tersenyum nakal ke arahnya.

"Mmmhhh... Enak kan, Mas? Nggak nyesel kan kamu mampir? Mmmmhh..." kata Farida sambil mendesah nikmat. Ardi diam. Dia terlalu hanyut dalam gairah yang selama ini dia impikan.

Ponsel Ardi kembali berdering di atas meja di samping sofa tempat Ardi menikmati candu dari Farida. Ardi melirik. Arumi. Kali ini, Ardi tak berhenti. Hasratnya sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Desahan Farida membuat Ardi kembali hanyut pada kenikmatan yang tengah ia nikmati. Ponsel Ardi berhenti berdering.

Ponsel Ardi kembali berdering. Kali ini bukan panggilan telepon. Sebuah pesan singkat dari Arumi. Ardi melirik ponselnya sesaat. Ardi bisa melihat isi pesan singkat Arumi pada layar ponselnya. Matanya seketika membulat. Gairahnya seketika menghilang. Ardi seketika berhenti. Dengan cepat dia meraih ponselnya dan memastikan isi pesan singkat yang dia baca dari jauh adalah sebuah halusinasi. Bukan. Itu kenyataan.

Ibu meninggal, Mas. Kamu dimana?

***

"Jangan ganggu aku lagi, Far!" kata Ardi sambil memakai kembali kemejanya. Farida terlihat marah dan kecewa.

"Tapi kamu menik..."

"Selalu ada hal buruk terjadi ketika kita melakukan ini," potong Ardi sambil memakai celananya.

Ardi mengambil ponsel di atas meja dan tasnya yang tergeletak begitu saja di lantai lalu keluar dari rumah Farida begitu saja tanpa pamit. Farida terdiam. Sedetik kemudian dia tersenyum.

"Kita lihat saja nanti, Mas," gumam Farida sambil kembali memakai pakaiannya.

Di dalam mobil, Ardi kembali membaca pesan singkat dari Arumi. Ternyata sejak Ardi meeting bersama klien di resto hotel, Arumi sudah memberinya kabar bahwa ibu Arumi tiba-tiba tak sadarkan diri dan dibawa ke UGD.

12.32 Ibu collapse, Mas. Dibawa ke UGD sama tetangga. Aku kesana sekarang ya?

13.43 Mas, kamu lagi sibuk? Keadaan ibu kritis. Kalau udah selesai cepet kesini ya. Ibu di ruang ICU

14.22 Kamu masih sibuk, Mas? Kalo sempet balesin chat ku sebentar

15.10 Aku takut, Mas

16.33 Mas pulang jam 5 kan? Cepet kesini ya, Mas

17.15 Kamu udah pulang, Mas? Aku Tunggu di RSUD, Mas

18.04 Kamu lembur, Mas?

18.55 Kata Dito, kamu meeting tadi siang. Abis itu langsung pulang. Kamu dimana, Mas?

18.25 Ibu meninggal, Mas. Kamu dimana?

Ardi kembali merutuki dirinya. Berulang kali tangannya memukuli kemudi sambil mengumpat.

"Bego! Lo bego, Ar!" umpat Ardi.

Ardi mengusap wajahnya kasar lalu menyalakan mesin mobilnya, Sepanjang perjalanan Ardi tak henti-hentinya merutuki dirinya, mengumpat, memukuli kemudi, apapun yang bisa dia lakukan untuk meluapkan kemarahannya pada dirinya sendiri.

Dua puluh menit perjalanan membawa Ardi pada rumah sakit umum daerah, tempat ibu Arumi dirawat dan meninggal. Ardi segera menelepon Arumi. Ardi dapat mendengar tangis Arumi yang tertahan via sambungan telepon.

"Kamu dimana?" tanya Ardi.

"Di deket ruang jenazah, Mas. Ibu baru dimandikan petugas," jawab Arumi sambil menahan tangis. Ardi memutus sambungan telepon, lalu bergegas menuju kamar jenazah.

Saat di lorong menuju ruang jenazah, Ardi bertemu Kayla yang sedang digendong Bi Ijah. Ardi mengelus Kayla sebentar lalu menuju ruang jenazah.

Ardi memasuki ruang pemulasaraan jenazah di dekat ruang jenazah. Arumi sedang ikut memandikan jenazah ibunya sambil sesenggukan. Ardi menatap Arumi dari ambang pintu ruangan. Hatinya mencelos jika teringat apa yang dia lakukan saat Arumi sedang kalut dan tak ada sandaran.

Ardi memutuskan keluar ruangan. Dia bersandar pada dinding ruang jenazah yang terasa dingin. Ardi kembali mengusap wajahnya. Dia benar-benar merasa sangat gila.

Tak lama kemudian, Arumi keluar dari ruang pemulasaraan jenazah. Arumi melihat Ardi sudah bersandar di dekat pintu. Ardi menegakkan badannya. Seketika itu pula Arumi jatuh ke dalam pelukan Ardi. Menangis sejadi-jadinya, seolah menumpahkan semua kesedihan dan airmata yang sedari tadi dia tahan.

Tangan Ardi bergerak, memeluk tubuh Arumi yang bergetar hebat akibat menangis. Hati Ardi semakin terasa sakit melihat Arumi menangis di pelukannya. Dia merasa semakin tak berguna.

Saat keluar ruang pemulasaraan jenazah, Arumi merasa sangat lemas saat akhirnya dia melihat Ardi bersandar di samping pintu. Arumi tak sanggup lagi. Dia segera menjatuhkan tubuhnya ke arah Ardi dan menangis. Dia sudah menahan tangisnya sejak ibunya tiba di UGD.

Di tengah isak tangisnya yang meluap, Arumi mencium bau asing. Parfum. Bukan milik Ardi. Parfum wanita. Bukan pula miliknya. Baunya terasa genit dan memikat. Namun, Arumi tak memiliki cukup tenaga kali ini. Tenaganya sudah habis sedari ibunya dipindah masuk ke ruang ICU.

'Sama siapa kamu tadi, Mas? Saat aku lagi butuh banget kamu, kamu dimana? Ngapain?'

***

Dimas masih merasa geram. Dia jelas-jelas melihat Ardi bersama wanita lain. Jelas bukan Arumi. Arumi tak akan pernah mengenakan baju kantor ketat seperti itu.

"Lo yakin?" tanya Dira sekali lagi, masih tak percaya dengan cerita Dimas.

"Yakin banget, Ra. Itu Ardi. Sama cewek lain," kata Dimas.

"Tadi siang sih dia emang ke resto hotel buat meeting bareng PT. Sanjaya Abadi sama klien. Agenda taunan kantor," kata Dira.

"Kamu tau siapa kliennya?" tanya Dimas. Dira mengerutkan alis.

"Nggak sih," jawab Dira. Dimas menghela nafas panjang.

"Tapi mereka nggak check-in kan?" tanya Dira.

"Yaaa mereka nggak check-in disana. Tapi bisa juga mereka check-in di hotel lain. Yang jelas, aku liat mereka jalan ke arah area parkir, masuk mobil berdua, udah," kata Dimas.

"Kenapa nggak lo ikutin?" tanya Dira.

"Aku masih ada janji sama senior setelah seminar tadi. Jadi nggak bisa kemana-mana," kata Dimas.

Dira terdiam, terlihat berpikir siapa wanita yang bersama Ardi di hotel. Dimas menyandarkan kepala dan punggungnya di sandaran sofa. Dimas masih mengingat jelas bagaimana wajah dan bentuk wanita yang bersama Ardi di hotel tadi.

'Terlalu sexy. Terlalu sulit ditolak. Apalagi... hubungan ranjangnya bersama Arumi sedang kering,'

***

1
YuWie
ya gara2 kamu lah pak..main api, menatap istri malas..rak jelas pak2..sekarang baru kerasa ditinggal.
YuWie
iya yokk..ardi.. istrimu sdh punya bukti kelanjutan ons mu tuh. terus aja berpura2,sdh anyep kenapa dipaksa
YuWie
kamu kie ya masih lajang pak dokter..apa ortu mu nanti gak keberatan dpt janda beranak.
YuWie
Luar biasa
Purnamanisa: terimakasih 😊😊
total 1 replies
YuWie
siap2 ditinghal istrimu yaa
YuWie
iya bener2 brengaek..bersalah tapi ketagihan...
YuWie
ehhh jgn panasss pak dokter..mereka kan mmg suami istri
YuWie
lho lho pak dokter kok berani pegang tangan... apa suami ngopinya gak siseputan situ ya
YuWie
ya berhenti lebih bagus dokter dimas , konseling untuk pernikahan malah dokternya tertarik sama pasien..nantiii nunggu jandanya aja klo mmg si suami sdh semakin kebablasan.
YuWie
nah lhooo..gak profesional kan dokternya. Rawan ya profesi dokter ternyata 🤣
YuWie
maaih bisa bersiri tuh burung? klo rasa bersalahmu tinggi tapi kurasa kau malah nafau dg farida kan
YuWie
suami yg merasa siperior.. ujung2 nya pasti selingkuh . apalagi sdh mencicipi kebun yg tidak halal.
YuWie
lha kok blm ada kemajuan konsul nya ke rmh tàngga arumi ya... gagalkah dokternya? krn sejauh ini gak ada keberanian arum untuk ngobrol dg suami.. eman2 biayamu rum 🤣
YuWie
oalah..pak suami..pak suami..kamu yg salah..ehhh nyolotnya ke istri yg bkin trauma sampe sekarang.
YuWie
mendapatkan senyuman semua donk bu arumi..bukan hanya untukmu saja../Facepalm/
YuWie
haus kasih sayam ya rum..punya suami hy sambil lewat..eh pak dokter melakukan kebaikan2 kecil yg membangkitkan gairahmu..right?
Purnamanisa: terkadang wanita memang butuh perhatian2 kecil yang mungkin terlihat sepele
total 1 replies
YuWie
Baru 7th, anak satu sdh gak ada minat ke istri..malah main api dg rekan sekerja...hmmm..realita zaman now
falea sezi
cepetan kebongkar
Purnamanisa: udah gemes banget keknya😅😅
total 1 replies
falea sezi
laki bejat cepatan bkin cerai biar g bertele tele thor
Purnamanisa: siap kak... tapi kudu tetep realistis kak, ga mungkin ga ada angin ga ada api, tiba2 minta cerai... harus ada asap, api baru cerai 🤭🤭😁😁
total 1 replies
falea sezi
lanjut moga cpet kebongkar dan cpet cerai
Purnamanisa: jangan cepet-cepet kak, biar readersnya gemes 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!