NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18 Loh Anggap Gue Apa?

Lala keluar setelah menemukan salep luka dari kotak p3k yang ada diruangan Ayahnya. Lantas, ia duduk di samping Aksa dan berniat untuk membantu mengoleskan salep luka itu di wajah Aksa.

"Biar gue bantu obati, " ucap Lala dengan lembut.

"Tidak usah. Gue bisa sendiri, " tolak Aksa dengan tegas dan mengambil salep luka yang di pegang Lala. Lalu, ia beranjak berdiri. "Loh pesan aja pizza yang loh mau. Gue masuk dulu, " tambahnya kemudian kepada Adit. Lalu, ia pergi ke ruang ganti karyawan untuk mengobati luka di kepalanya yang mulai terasa berdenyut.

Melihat reaksi Lala yang terlihat sangat sedih saat Aksa menolak tawarannya. Membuat Adit menebak sesuatu yang mungkin pasti. "Gue mau diobati sama loh juga dong! " ucap Adit sambil menyodorkan wajahnya ke depan Lala sambil menutup mata. Bukan ingin menggoda atau merayunya, tapi ia hanya ia mencairkan suasana dan menghiburnya.

Lala mendesah pelan sambil mendorong pipi Adit supaya menjauhkan wajahnya dari Lala. "Obati saja sendiri, " ujar Lala ketus dan kesal.

Adit sedikit merasa kecewa tapi juga tersenyum kecil. Lantas, ia menatap Feri sejenak lalu kemudian berpindah kepada Rifal lalu setelahnya kepada Samsul dengan tatapan memelas.

"Apa? " tanya Samsul merasa sangat geli ditatap seperti itu oleh Adit.

"Kita ini teman kan? Hei? Tolong bantu gue obati luka di wajah gue dong, " pintanya kemudian dengan santai seolah sudah akrab dengan mereka.

"Oles saja sendiri sana! " seru Samsul menolak dengan tegas dan merasa jijik.

"Ah, mengecewakan sekali, " Adit merungut sedih karenanya. Ia benar-benar merasa tidak ada satu orang pun yang tertarik kepadanya disini. Ia merasa sangat kecil diantara mereka apalagi setiap kali sedang bersama Aksa. Padahal di sekolah dulunya ia sangat populer dan banyak orang yang ingin berteman dengannya. Tapi bagi mereka dia seperti serpihan pasir yang sangat kecil, dan tidak terlihat sama sekali. Namun, entah kenapa ia sangat menyukai mereka. Hatinya terasa sangat hangat setiap kali berada di dekat mereka.

Tapi tiba-tiba saja dengan mengejutkan Rifal mengambil salep yang ada di kotak obat dan membukanya. Ia dengan senang hati berniat mengoleskan obat itu di wajah Adit.

"Nah, sini biar gue oleskan, " tukas Rifal dengan tatapan lembut dan tulus.

Senyum di wajah Adit mengembang sempurna. Lalu, ia mendekatkan diri kepada Rifal dan membiarkannya mengobati luka diwajahnya.

"Loh berbohong soal dibantu oleh Aksa tadi kan? " tanya Rifal kemudian. Sosok yang selalu bersikap lebih dewasa daripada yang lainnya. Dan ia selalu peka dengan keadaan.

Mendapat pertanyaan mendadak dari Rifal membuat Adit sejenak terdiam dan berpikir. Lalu sesaat kemudian ia tersenyum.

"Apa maksud loh, dia bohong soal di pukuli dan ditolong oleh Aksa? " Sela Samsul dengan antusias mengulang pertanyaan Rifal dengan nada yang cukup keras. Membuat Feri spontan menutup mulutnya.

"Jangan keras-keras!" tegurnya.

"Yah, gue memang bohong. Sebenarnya dia yang di pukuli. Gue gak sengaja lewat dan melihatnya. Tapi, sepertinya dia harus pergi ke rumah sakit, tadi gue gak sengaja lihat luka di kepalanya cukup parah. Tapi dia bersi keras bilang kalau itu gak papah. Sejujurnya gue khawatir lukanya bakalan infeksi jika tidak segera di obati. Tapi dia sangat keras kepala. Aeuh! Dia cukup menyebalkan, " ungkap Adit mengoceh dengan cukup panjang.

Lantas, setelah mendengar penjelasan yang sebenarnya dari Adit, Feri beranjak berdiri tanpa mengatakan apapun, ia pergi menyusul Aksa ke ruang ganti karyawan. Saat masuk Feri kebetulan melihat Aksa yang sedang bercermin sambil menekan dan membersihkan darah yang mengucur dari pelipisnya. Melihat itu hati Feri sangat sakit. Karena walau bagaimanapun juga Aksa adalah temannya sejak kecil. Ia menghampiri Aksa dan menarik tangan Aksa yang sibuk menekan lukanya dengan kain handuk kecil.

"Kemari! Duduklah! Biar gue obati luka loh! " ujar Feri sambil menekan tubuh Aksa supaya duduk di kursi.

"Tidak papah. Gue bisa sendiri! " tolak Aksa.

"Sudahlah. Berhenti bersikap kalau loh bisa melakukan semuanya sendirian. Kalau loh butuh bantuan maka bilang saja, kalau loh terluka jangan menyembunyikannya. Sebenarnya loh anggap gue ini apa? Gue berasa gak berarti apa-apa dalam hidup loh. Jangan terus menghindar seperti ini. Apa salahnya sih, loh sesekali meminta bantuan sama sahabat loh. Apa gue pernah bilang kalau gue merasa terbebani? Tidak. Tidak pernah sama sekali. Gue selalu ingin membantu loh, tapi loh selalu menolak bantuan dari gue. Kenapa? Apa gue gak pantas? " sahut Feri begitu kesal dan marah.

"Bukan.Tidak seperti itu..." balas Aksa sambil menunduk malu menghadapi sahabatnya itu. Ia bukan tidak ingin menerima bantuan dari Feri. Hanya saja Aksa merasa sudah cukup banyak berhutang budi kepada keluarga Feri selama Ayahnya koma. Karena ia tidak sengaja tahu kalau sebenarnya Ibunya bisa membuka warung nasi itu berkat bantuan dari ayah Feri.

"Sudahlah. Jika tidak ingin ke rumah sakit. Biar gue obati luka loh supaya tidak infeksi, " tukas Feri lagi tidak ingin berdebat dengan Aksa. Karena ia tahu mungkin Aksa punya alasannya.

"Baiklah." Aksa pun kini tidak bisa menolak lagi dan membiarkan Feri melihat lukanya dan mengoleskan obat. Aksa meringis sedikit karena perih.

"Lukanya memang cukup dalam. Sembuhkan mungkin akan cukup lama. Jadi, loh harus sering membersihkan luka nya dan mengobatinya. "

"Iyah."

Suasana berubah menjadi sangat canggung setelah Feri selesai membalut lukanya dengan perban. Suasana sejenak menjadi hening diantara mereka. Hanya terdengar helaan nafas berat keluar dari Aksa.

"Gue minta maaf kalau selama ini sikap gue menyakiti loh. Tapi, gue bukannya gak mau menerima bantuan dari loh. Hidup gue bisa berjalan dengan baik sampai sekarang, itu juga berkat bantuan dari Ayah loh. Gue hanya malu karena sudah terlalu banyak menerima bantuan dari keluarga, " jelas Aksa ingin meluruskan salah pahaman ini.

"Begitu rupanya. Tapi, bukankah loh terlalu jahat karena akhir-akhir ini loh sering menghindar dari gue? Gue merasa sangat kecewa, " ungkap Feri lagi.

"Gue juga gak tahu kenapa gue melakukan itu. Mungkin karena gue merasa rendah diri, gue banyak berhutang budi sama loh, " balas Aksa kini jujur dan terbuka.

Feri melirik Aksa dengan tajam dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Hah?! Loh memang sangat menyebalkan. Kenapa gue baru sadar sekarang? Sudahlah, ayo keluar! Jangan sampai yang lain berpikir yang macam-macam karena kita terlalu lama disini, " sahut Feri sambil beranjak berdiri.

Lantas, Aksa pun ikut berdiri dan bergegas keluar menemui yang lainnya diluar kini sedang menikmati pizza dan makanan lain yang memenuhi meja. Aksa sejenak tertegun kaget. Ia pikir Adit sengaja memesan banyak hanya untuk memerasnya.

"Apa ini? Loh?! Sengaja mau meras gue? " tanya Aksa spontan menunjuk ke arah Adit yang sedang menikmati makanannya sampai memenuhi isi mulutnya.

Karena sulit bicara Adit hanya tersenyum lebar kepada Aksa.

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!