NovelToon NovelToon
SILK AND STEEL

SILK AND STEEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:388
Nilai: 5
Nama Author: lusi rohmah

Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.


Disclaimer: ini cerita pendek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN HABIS-HABISAN DAN RAHASIA YANG TERUNGKAP

Rian bergerak dengan liar dan tidak teratur, seolah ia sudah tidak peduli lagi dengan nyawanya sendiri apalagi nyawa orang lain. Setiap serangannya mengandung kekuatan yang besar, lahir dari rasa benci yang sudah menumpuk bertahun-tahun lamanya. Ia tidak hanya ingin mengalahkan Raka, tapi ia benar-benar ingin menghancurkannya sampai tidak ada apa-apanya lagi.

Tapi Raka tidak kalah. Ia bergerak dengan tenang dan terukur, menghindari serangan demi serangan, sekaligus mencari celah untuk bisa menahan gerakan orang itu. Ia tidak ingin melukai Rian sampai parah, apalagi membunuhnya. Bagaimanapun juga, ia tahu bahwa orang ini sebenarnya adalah korban dari pikiran dan perasaannya sendiri yang sudah terkeliru. Ia ingin menangkapnya hidup-hidup, supaya ia bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan cara yang benar, bukan berakhir dengan kematian yang sia-sia.

“Berhentilah, Rian! Semua ini tidak ada gunanya lagi!” seru Raka di sela-sela pertarungan.

“Kau sudah terjebak dan tidak ada jalan keluar lagi! Menyerahlah selagi masih ada kesempatan!”

“Tidak akan pernah!” teriak Rian sambil terus menyerang.

“Aku tidak akan pernah menyerah kepada orang-orang yang sudah menghancurkan hidupku dan keluargaku! Sampai nafas terakhirku, aku akan terus berjuang dan membalas semuanya!”

><><><><

Di tempat lain, orang-orang yang bersama Rian sudah berhasil ditaklukkan dan ditahan. Alana segera bergerak mendekati Gubernur William, dan dengan cepat ia melepaskan ikatan yang membelenggu tubuh orang itu.

“Gubernur! Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya dengan nada cemas sambil memeriksa keadaan orang yang sudah dianggap seperti ayah sendiri itu.

Gubernur William mengangguk perlahan, meski wajahnya terlihat lelah dan ada beberapa luka di bagian wajah dan tubuhnya. “Aku baik-baik saja, nak. Terima kasih sudah datang menyelamatkanku. Aku tahu kalian pasti akan datang, aku selalu percaya itu.”

“Maafkan kami ya, Gubernur. Seharusnya kami bisa menjagamu lebih baik lagi, sampai hal seperti ini bisa terjadi padamu,” kata Alana dengan suara yang sedih.

“Jangan katakan begitu, nak. Ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya bagian dari perjalanan hidup kita yang harus kita lalui bersama. Dan lihatlah, semuanya berjalan seperti yang seharusnya kan?” katanya sambil menoleh melihat Raka dan Rian yang masih bertarung dengan sengit.

Saat itu juga, Rian yang merasa dirinya semakin terdesak dan tidak berdaya mulai melakukan hal-hal yang tidak terduga. Ia sadar ia tidak bisa mengalahkan Raka dengan kekuatan fisik, maka ia mulai bergerak mundur perlahan-lahan, mendekati bagian tebing yang sudah lama rusak dan tidak kuat lagi. Di sana, tanah dan bebatuan di pinggirnya sudah rapuh, dan kalau ada beban berat yang menimpanya, pasti akan runtuh dan terjatuh ke jurang yang dalam di bawahnya.

Raka yang melihat gerakan itu langsung merasa ada yang tidak beres. Ia berhenti sejenak dan berusaha mencegah.

“Rian! Jangan ke sana! Tempat itu berbahaya, bisa runtuh kapan saja!”

Rian tertawa mendengarnya, suara tawanya terdengar parau dan penuh keputusasaan.

“Kenapa kau khawatirkan keselamatanku? Bukankah aku ini musuhmu, orang yang ingin menghancurkan segala sesuatu yang kau miliki? Lebih baik aku mati saja daripada harus hidup dalam kekalahan dan dihina oleh orang-orang seperti kalian!”

Ia melangkah mundur lebih jauh lagi, sampai kakinya sudah berada di batas yang paling ujung. Tanah di bawah kakinya mulai bergeser dan runtuh sedikit demi sedikit, menunjukkan bahwa tempat itu memang tidak aman sama sekali.

“Kalau aku harus mati, maka aku akan bawa kau juga bersamaku!” teriaknya dengan suara yang keras dan penuh amarah.

Dengan sekuat tenaga, ia melompat ke arah Raka, berusaha memeluk dan menarik orang itu jatuh bersamanya ke dalam jurang yang gelap dan dalam itu.

Melihat hal itu, hati Alana terasa berhenti berdetak sejenak. Ia berteriak sekuat tenaga.

“RAKA!!!”

Raka kaget dan tidak sempat menghindar sepenuhnya. Tubuhnya terdorong mundur, dan kakinya sudah tidak berpijak di tanah yang kuat lagi. Sebagian badannya sudah melayang di udara, dan ia hanya bisa berpegangan pada bagian tanah yang masih tersisa dengan satu tangannya saja. Sedangkan Rian, tubuhnya sudah jatuh sepenuhnya, dan ia hanya bisa bertahan hidup karena tangannya tergenggam erat di pergelangan tangan Raka.

Keadaan menjadi sangat berbahaya dan menegangkan. Tanah tempat Raka berpegangan itu terus-menerus runtuh sedikit demi sedikit, dan bisa saja putus dan hancur sama sekali kapan saja. Sementara itu, Rian yang tergantung di bawah sana terlihat sangat lemah dan hampir tidak punya tenaga lagi.

“Lepaskan aku! Biarkan aku jatuh saja!” teriak Rian dengan suara yang lemah.

“Kenapa kau masih memegangku?! Aku sudah berbuat begitu banyak hal jahat padamu, kenapa kau masih mau menyelamatkan nyawaku?! Itu tidak masuk akal sama sekali!”

“Karena aku tidak sepertimu!” jawab Raka dengan suara yang terengah-engah karena menahan beban yang berat.

“Aku tidak bisa membiarkan orang mati begitu saja, apa pun kesalahannya! Setiap orang berhak hidup dan berkesempatan untuk berubah! Lepaskan amarah dan kebencianmu itu, Rian! Itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri saja!”

“Tapi... tapi mereka sudah mati... kakakku... orang-orang yang aku sayangi... semuanya sudah tiada...” suara Rian mulai berubah, dari yang tadinya keras dan penuh amarah menjadi lemah dan sedih.

“Selama ini aku hidup hanya untuk membalas dendam... itu satu-satunya alasan aku masih bertahan hidup... kalau itu sudah hilang, lalu untuk apa aku masih hidup di dunia ini?”

“Kau masih bisa hidup untuk hal-hal yang lebih baik!” tutur Raka dengan suara yang tegas dan meyakinkan.

“Kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya, untuk menjadi orang yang baik dan berguna bagi orang lain! Jangan sia-siakan nyawamu ini dengan cara yang sia-sia! Nyawa ini berharga, dan harus dijaga serta diisi dengan hal-hal yang baik!”

Saat itu juga, Alana, Gubernur William, dan orang-orang lain sudah bergerak mendekat. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menarik dan menolong mereka berdua, sebelum tanah tempat Raka berpegangan itu benar-benar runtuh dan hancur.

Setelah berusaha dengan susah payah, akhirnya mereka berhasil menarik Raka dan Rian ke tempat yang aman. Begitu berada di atas tanah yang kuat lagi, Rian langsung terjatuh berlutut, dan air matanya mengalir deras. Semua rasa marah, benci, dan dendam yang ia simpan selama ini seolah-olah luruh dan hilang begitu saja, digantikan oleh rasa sedih, lelah, dan penyesalan yang sangat dalam.

“Aku bodoh... aku sangat bodoh sekali...” bisiknya berulang kali sambil menundukkan kepalanya.

“Selama ini aku hidup dalam kegelapan dan kesesatan... aku menghancurkan hidupku sendiri, dan juga menyakiti orang-orang yang tidak bersalah... aku menyesal... aku sangat menyesal sekali...”

Gubernur William berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di hadapan orang itu. Ia menatapnya dengan pandangan yang tidak ada sedikit pun rasa marah atau benci di dalamnya, tapi justru penuh rasa iba dan pengertian.

“Dulu, aku juga pernah merasa seperti dirimu,” ujarnya perlahan. “Aku juga pernah merasa bahwa hidup ini tidak adil, bahwa orang lain yang selalu mendapatkan hal-hal yang baik, sedangkan aku selalu mendapatkan hal-hal yang buruk. Dan perasaan itu membuatku hampir tergelincir dan melakukan hal-hal yang salah juga. Tapi aku sadar tepat pada waktunya, dan aku berusaha memperbaiki semuanya. Dan kau juga bisa melakukan hal yang sama, Rian. Selama kita masih hidup, selama kita masih punya kesadaran, itu berarti masih ada harapan dan kesempatan untuk berubah.”

Rian mengangkat wajahnya, dan ia menatap Gubernur William dengan pandangan yang penuh rasa tidak percaya.

“Kau... kau tidak membenci aku? Aku sudah melakukan begitu banyak hal jahat padamu, pada orang-orang yang kau sayangi... kenapa kau masih mau berbicara baik-baik padaku?”

“Karena aku tahu, bahwa di dalam hatimu yang paling dalam, sebenarnya kau bukanlah orang yang jahat,” jawab Gubernur William dengan lembut.

“Kau hanya tersesat dan dibutakan oleh perasaan-perasaan yang salah. Dan aku juga tahu, bahwa membenci orang lain tidak akan pernah menyelesaikan apa pun, dan itu hanya akan menyakiti hati kita sendiri saja.”

Mendengar kata-kata itu, hati Rian terasa sangat terharu. Ia merasa bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang yang benar-benar mengerti dirinya, dan ada orang yang masih mau memberikan harapan padanya. Ia menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala rasa sakit dan beban yang selama ini ia pendam sendirian.

Setelah keadaan mulai tenang dan terkendali, mereka kemudian menemukan sesuatu yang tidak terduga. Saat sedang memeriksa barang-barang milik Rian dan juga tempat di sekitar mereka, ditemukan sebuah kotak tua yang tersembunyi di sudut ruangan. Kotak itu terlihat sudah ada di sana sejak bertahun-tahun yang lalu, dan isinya ternyata adalah surat-surat serta catatan-catatan yang sangat penting.

Saat dibaca dan diteliti isinya, mereka semua terkejut dan tidak percaya. Ternyata, di dalamnya terdapat keterangan yang menjelaskan bahwa sebenarnya Darius dan kelompoknya dulu tidak hanya bekerja untuk kepentingan mereka sendiri saja. Ada orang yang lebih tinggi dan lebih berkuasa lagi yang berada di balik mereka semua, orang yang selama ini bersembunyi di tempat yang sangat aman dan tidak terduga, dan yang menggunakan mereka sebagai alat untuk mencapai tujuannya sendiri.

Orang itu adalah seseorang yang sangat dihormati dan dipercaya oleh banyak orang, orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dan kekuasaan yang luas. Ia sudah merencanakan segala sesuatunya sejak bertahun-tahun yang lalu, dan ia selalu memastikan bahwa dirinya tidak pernah terlibat secara langsung dalam kejahatan apa pun, sehingga ia selalu aman dan tidak pernah dicurigai oleh siapa pun.

“Jadi... semuanya ini masih belum selesai ya?” celetuk Alana dengan suara yang lemah, seolah ia merasa lelah menghadapi segala hal yang terus-menerus datang ini.

“Kita sudah mengira semuanya sudah berakhir, tapi ternyata masih ada orang lain yang lebih berbahaya lagi yang sedang bersembunyi dan menunggu kesempatan untuk menyerang kita kembali.”

“Benar sekali,” jawab Raka sambil menggenggam tangan Alana dengan erat, memberikan kekuatan dan ketenangan pada orang yang dicintainya itu.

“Tapi kita tidak akan mundur, dan kita tidak akan menyerah. Selama masih ada kejahatan yang ada, kita akan terus berjuang melawannya. Dan kita akan melakukannya bersama-sama, seperti yang selalu kita lakukan selama ini.”

“Benar juga,” tambah Gubernur William dengan nada yang tegas. “Orang ini pikir ia bisa bersembunyi selamanya, dan ia pikir ia bisa terus memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Tapi ia salah besar. Kita akan menemukannya, dan kita akan menghentikannya, apa pun yang harus kita lakukan.”

Rian yang mendengar hal itu, dan juga membaca isi dari surat-surat itu, merasa sangat terkejut dan marah sekaligus. Selama ini ia mengira bahwa kakaknya dan orang-orang yang bersamanya itu bertindak atas kehendak mereka sendiri, dan bahwa segala hal yang menimpa mereka adalah kesalahan dari orang-orang di sekitar mereka. Tapi ternyata, mereka semua hanyalah alat belaka, yang dimanfaatkan dan kemudian dibuang begitu saja ketika sudah tidak berguna lagi.

“Kalau begitu... aku juga akan membantu kalian,” katanya dengan suara yang tegas, membuat semua orang menoleh dan memandangnya. “Aku ingin membantu kalian menemukan orang ini, dan menghentikan perbuatannya. Aku ingin menebus segala kesalahan yang sudah aku lakukan, dan aku ingin memastikan bahwa orang ini tidak bisa menyakiti orang lain lagi, sama seperti ia sudah menyakiti kami sekeluarga.”

Raka tersenyum mendengarnya, senyum yang penuh rasa haru dan rasa syukur. “Terima kasih, Rian. Bantuanmu ini sangat berharga bagi kami. Dan langkah yang kau ambil ini sudah menunjukkan bahwa kau benar-benar berubah, dan bahwa kau sudah berjalan di jalan yang benar.”

Dengan demikian, perjalanan mereka masih terus berlanjut. Masih ada hal-hal yang harus mereka selesaikan, masih ada bahaya dan tantangan yang menanti di depan sana. Tapi kali ini, mereka tidak berjalan sendirian lagi. Mereka berjalan bersama-sama, dengan hati yang kuat, dengan keyakinan yang teguh, dan dengan cinta yang selalu menyatukan mereka dalam suka maupun duka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!