NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senjata Paling Berbahaya Adalah Kata-kata

Hari Senin, pukul 06.30. Aku tiba di sekolah diantar Ayah Budi—seperti yang dijanjikan sejak ancaman Dinda Minggu lalu.

Mobil Ayah Budi berhenti di depan gerbang. Biasanya aku turun di sini, lalu berjalan ke kelas sambil menyapa teman-teman. Tapi hari ini... suasana berbeda.

Sangat berbeda.

Beberapa anak yang sedang berdiri di dekat gerbang menatapku. Lalu berbisik-bisik. Lalu tertawa kecil. Tidak ramah. Mengejek.

Aku tidak tahu kenapa.

Aku memeriksa seragamku—rapi, tidak ada yang salah. Wajahku—tidak ada noda atau bekas jerawat yang membandel. Rambutku—masih terurai rapi seperti biasa, diikat setengah ke belakang dengan jepit lucu berbentuk bunga.

Tapi tatapan mereka... tatapan seperti aku adalah tontonan. Seperti aku adalah seseorang yang sedang dihakimi tanpa pengadilan.

"Nak, kamu nggak apa-apa?" tanya Ayah Budi dari balik setir.

"Aku baik-baik saja, Yah."

"Kok mukamu pucet?"

"Nggak, Yah. Cuma kurang tidur."

Ayah Budi menatapku sejenak—sepertinya dia tidak percaya. Tapi dia tidak memaksa.

"Ayah jemput jam dua, ya. Hati-hati di sekolah."

"Iya, Yah."

Aku turun dari mobil. Menutup pintu. Melangkah masuk ke gerbang sekolah.

Dan bisik-bisik itu semakin keras.

"Itu dia, Nayla."

"Yang 'itu'?"

"Iya. Anak haram katanya."

"Astaga, serem juga ya mukanya."

"Katanya suka pura-pura baik."

"Hati-hati sama dia."

Aku terus berjalan. Tidak menoleh. Tidak menunjukkan reaksi. Tapi setiap kata yang mereka ucapkan seperti paku yang dipalu ke dadaku—satu per satu, perlahan, menyakitkan.

"Nay! Nay, kamu datang!" Sasha berlari kecil menghampiriku dari arah kantin. Wajahnya merah padam—bukan karena olahraga, tapi karena marah.

"Sha, ada apa? Kok orang-orang pada lihat aku aneh?"

Sasha menggenggam tanganku, menarikku ke sudut lapangan yang lebih sepi, di balik pohon rindang dekat ruang UKS. Tempat yang biasanya tidak ada orang saat jam segini.

"Kamu belum lihat, ya?"

"Lihat apa?"

Sasha mengeluarkan handphonenya. Membuka sebuah postingan di media sosial. Aku melihat layar itu—dan duniaku terasa berhenti.

Postingan itu—dari akun Dinda.

Namanya bukan nama asli. Akun itu menggunakan nama samaran "Dinda Maharani". Tapi foto profilnya tidak disembunyikan—foto Dinda dengan dress merah marun yang sama seperti saat dia datang ke rumahku Minggu lalu. Senyum lebarnya. Riasan tebalnya. Mata dinginnya.

Postingan itu sudah dishare ribuan kali. Likes mencapai angka 15 ribu lebih. Komentar sudah lebih dari 3 ribu.

Aku membaca judulnya:

"NAYLA KIRANA, SISWI SMP NEGERI 7 JAKARTA, ADALAH ANAK HARAM. AYAH KANDUNGNYA POLISI KORUPTOR YANG MATI KARENA KEJAR-KEJARAN DENGAN POLISI. IBUNYA NIKAH LAGI DENGAN PRIA MISKIN UNTUK MENUTUPI AIB. NAYLA SEKARANG PURA-PURA JADI KORBAN, PADAHAL DIALAH YANG MEMFITNAH ORANG-ORANG BAIK SEPERTI DR. HENDRA WIJAYA. HATI-HATI PADA ORANG MUNAFIK."

Di bawahnya, disertai foto.

Fotoku waktu kecil.

Aku tidak pernah mengupload foto ini ke mana pun. Foto itu diambil saat acara keluarga—mungkin 12 atau 13 tahun lalu. Aku masih kecil, mungkin baru berusia 2 atau 3 tahun. Di foto itu, Bunda menggendongku. Perut Bunda besar—dia sedang hamil. Tapi yang menggendong bukan Ayah Budi. Itu foto sebelum Bunda menikah dengan Ayah Budi.

Dan di foto itu, Bunda tidak tersenyum. Wajahnya datar. Matanya kosong.

Foto itu... foto yang seharusnya tidak pernah dilihat siapa pun.

Dari mana Dinda mendapatkannya?

Tanganku gemetar. Aku scroll ke bawah—membaca komentar-komentar yang membuat perutku mual.

Komentar-komentar:

"Anak haram emang biasanya licik." — 2.300 likes.

"Polisi koruptor? Mampus aja di penjara." — 1.800 likes.

"Dr. Hendra baik banget. Masa difitnah sama anak kecil?" — 3.200 likes.

"Ayo viralin biar dia dikeluarin dari sekolah." — 1.500 likes.

"Temen sekelasnya hati-hati ya. Jangan sampe ketipu." — 1.400 likes.

"Udah lapor polisi aja. Anak kayak gini harus ditindak." — 900 likes.

Ada juga komentar yang membelaku—tapi jumlahnya sedikit. Terlalu sedikit. Dan komentar itu langsung diserbu oleh komentar-komentar negatif lainnya.

"Kamu temennya ya? Hati-hati nanti kena imbasnya."

"Bela anak haram, berarti kamu juga haram."

"Coba cek fakta dulu sebelum komentar. Atau kamu juga bagian dari mereka?"

Aku tidak bisa membaca lebih lama.

"Nay... Nay, kamu nggak apa-apa?" Sasha meraih bahuku.

Aku menghela napas. Udara terasa berat.

"Dinda... dia serius."

"Aku tahu. Kita harus lapor polisi."

"Lapor polisi? Fitnah di media sosial? Mereka nggak akan ambil pusing, Sha."

"Tapi ini udah viral! Ribuan likes! Polisi harus—"

"Sha, polisi punya banyak kasus yang lebih besar dari fitnah anak SMP." Aku menatapnya. "Kita harus selesaikan ini dengan cara kita sendiri."

"Cara kita sendiri? Caranya gimana?"

Aku belum tahu. Tapi satu hal yang aku tahu: aku tidak bisa menangis di sini. Aku tidak bisa menunjukkan kelemahan.

"Sha, kamu punya kenalan yang paham IT? Yang bisa lacak IP atau sesuatu?"

Sasha mengerjap. "Eh, punya. Temennya kakak sepupuku. Dia hacker amatir."

"Hacker amatir?"

"Iya. Suka bobol wifi tetangga buat streaming film. Tapi katanya dia jago."

"Bisa minta tolong?"

Sasha mengangguk. "Bisa. Tapi nggak gratis."

"Bayar berapa?"

"Nggak tahu. Tapi pasti nggak mahal. Paling 100-200 ribu."

Aku menghela napas. "Oke. Kamu urus. Aku kasih uang nanti."

---

Pukul 07.15

Aku melangkah masuk ke kelas 1C. Dan suasana langsung berubah—seperti ada tombol yang ditekan, dan semua orang tiba-tiba diam.

Diam. Sunyi. Hanya suara langkah kakiku yang terdengar.

Tiga detik.

Lima detik.

Lalu bisik-bisik dimulai lagi.

"Itu dia."

"Tuh, Nayla. Yang 'itu'."

"Dia masih aja berani masuk sekolah."

"Malu-maluin, ya."

Aku terus berjalan ke bangkuku—bangku di deretan kedua, dekat jendela. Biasanya beberapa anak menyapa saat aku lewat. "Pagi, Nay!" atau "Kamu bawa bekal apa, Nay?" atau "Tugas matematika udah kamu kerjain?"

Hari ini, tidak ada yang menyapa.

Mereka hanya menatap. Dengan mata yang penuh tanya. Dengan mata yang penuh curiga. Dengan mata yang sudah menghakimiku.

Aku duduk di kursiku. Sasha duduk di sampingku.

"Kamu nggak apa-apa?" bisik Sasha.

"Aku kuat."

"Kamu pucet."

"Udah, Sha. Jangan komentar terus."

Sasha diam. Tapi tangannya—di bawah meja—menggenggam tanganku.

---

Pukul 07.30

Kayla masuk ke kelas dengan wajah pucat. Matanya merah—seperti orang yang baru saja menangis, atau belum tidur semalaman. Dia langsung berjalan ke arahku.

"Nay."

"Kay."

"Aku lihat postingan Dinda." Kayla duduk di kursi di depanku—kursi yang dulu ditempati Vania. "Kamu nggak marah?"

"Marah. Tapi marah tidak akan menyelesaikan masalah."

Kayla menggigit bibir. "Dinda... aku kenal dia. Dia memang kejam."

"Kamu udah bilang itu."

"Waktu kecil, dia suka menyiksa kucing."

Aku mengerjap. "Apa?"

"Iya. Kucing-kucing liar di kompleks rumahnya. Dia tangkap, dia kurung, dia... lukai." Kayla menggigil. "Aku liat sendiri. Waktu aku masih SD, aku main ke rumahnya. Dinda lagi asyik... melakukan itu. Aku lapor ke bibiku—mamanya Dinda. Tapi bibiku cuma bilang, 'Dinda sedang bereksperimen. Dia mau jadi dokter hewan.'"

"Astaga."

"Aku nggak pernah suka sama dia sejak saat itu." Kayla menatapku. "Dia nggak punya empati, Nay. Dia akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya."

"Termasuk memfitnah sepupunya sendiri."

"Termasuk itu."

Aku menutup mata sejenak.

"Kay, kamu kenal orang yang paham IT? Yang bisa bantu kita lacak akun Dinda?"

Kayla mengerjap. "Eh... kenal. Temennya Rio."

Aku membuka mata. "Temennya Rio? Bisa dipercaya?"

"Rio jahat, tapi temen-temennya nggak semuanya jahat. Ada yang baik. Ada yang nggak setuju dengan Rio." Kayla mengambil handphonenya. "Aku kontak dulu."

---

Pukul 10.00 — Jam Istirahat

Bu Dewi—wali kelasku—memanggilku. Suaranya di pengeras suara kelas: "Nayla Kirana, dipanggil ke ruang guru."

Sasha menatapku cemas. "Kamu mau aku temenin?"

"Nggak usah. Jagain meja aja."

"Tapi—"

"Sha, aku bisa."

Aku berjalan ke ruang guru. Setiap langkah terasa berat—seperti kakiku diikat batu. Bisik-bisik masih terus terdengar.

"Dia dipanggil Bu Dewi."

"Pasti karena postingan itu."

"Dikeluarin kali dia."

"Untunglah. Sekolah jadi aman."

Aku tidak menoleh. Aku terus melangkah.

---

Ruang guru ukurannya sedang. Ada puluhan meja kayu berjajar rapi, masing-masing dengan komputer dan tumpukan kertas. Dindingnya dipenuhi jadwal pelajaran, pengumuman, dan poster-poster motivasi.

Bu Dewi duduk di mejanya—di pojok dekat jendela. Wajahnya serius. Tangannya memegang handphone—mungkin dia juga sudah melihat postingan itu.

"Nayla, duduk."

Aku duduk di kursi di depan meja Bu Dewi.

"Ibu sudah lihat postingan itu."

Aku mengangguk.

"Apa benar itu kamu?"

"Benar, Bu. Itu aku waktu kecil. Tapi semua yang ditulis Dinda adalah fitnah."

"Kamu punya bukti?"

Aku berpikir sejenak. "Saya punya saksi, Bu. Rasya, Sasha, Kayla. Juga Inspektur Widi dari Densus 88."

Bu Dewi mengerjap. "Densus? Yang menangani kasus terorisme?"

"Iya, Bu. Karena kasus ini terkait dengan terorisme. Dr. Hendra Wijaya—donatur sekolah—terlibat pendanaan terorisme."

Bu Dewi pucat. Sepucat kertas di mejanya. "Astaga..."

"Bu Dewi, saya tahu ini berat. Tapi saya mohon, jangan percaya pada fitnah."

"Ibu tidak percaya fitnah, Nayla. Ibu kenal kamu. Kamu anak baik." Bu Dewi meraih tanganku. Tangannya hangat—sama hangatnya seperti saat aku pingsan waktu upacara bulan lalu, dan dia mengantarku ke UKS. "Tapi ibu tidak bisa melindungi kamu dari omongan orang. Kamu harus kuat."

"Saya tahu, Bu."

"Kamu juga harus hati-hati. Media sosial itu kejam. Satu postingan bisa menghancurkan hidup seseorang dalam hitungan jam."

"Saya akan hati-hati, Bu."

Bu Dewi menghela napas. "Ibu akan bicara dengan kepala sekolah. Mungkin sekolah bisa mengeluarkan pernyataan resmi."

"Terima kasih, Bu."

---

Pukul 12.00 — Kembali ke Kelas

Pelajaran terakhir adalah Matematika. Pak Rahmat—guru killer dengan kumis tebal itu—masuk ke kelas dengan wajah datar seperti biasa. Dia tidak menatapku berbeda dari biasanya. Dia tidak ikut bergosip.

Dia hanya mengajar.

Dan untuk satu jam itu, aku bisa bernapas.

"Nay, kamu denger penjelasan Pak Rahmat?" bisik Sasha.

"Nggak. Pikiranku kacau."

"Pusing mikirin postingan Dinda?"

"Iya."

Sasha menulis sesuatu di buku catatannya, lalu menyodorkan ke aku:

"Kamu kuat. Rasya di sini. Rasya di sini. Kayla (mungkin) di sini. Kita bertiga lawan dunia."

Aku tersenyum—untuk pertama kalinya hari ini.

---

Pukul 13.00

Bel pulang berbunyi. Aku segera membereskan buku-bukuku—ingin cepat-cepat keluar dari kelas, cepat-cepat pergi dari tatapan tajam teman-teman sekelasku.

"Nay," Kayla mendekat. "Aku sudah kontak temennya Rio."

"Terus?"

"Dia mau bantu. Tapi dia minta ketemu langsung. Buat negosiasi harga."

"Kapan?"

"Besok. Di kafe dekat sekolah."

Aku mengangguk. "Aku ikut."

"Kamu yakin? Nggak takut dia jebak?"

Aku menatap Kayla. "Kay, aku sudah takut setengah mati. Tapi kalau aku terus takut, aku nggak akan pernah bergerak."

Kayla tersenyum—senyum yang tulus, untuk pertama kalinya sejak kami bertemu. "Kamu keren, Nay."

"Nggak keren. Cuma nekat."

---

Pukul 14.00 — Chat dengan Rasya

Rasya (14.05): "Kamu di mana?"

Nayla (14.06): "Di rumah. Tadi diantar Ayah."

Rasya (14.06): "Aku dengar soal postingan itu."

Nayla (14.07): "Udah viral, ya?"

Rasya (14.07): "Udah. Banyak yang share."

Nayla (14.08): "Kamu nggak panik?"

Rasya (14.08): "Panik? Tidak. Aku marah."

Nayla (14.09): "Aku juga marah. Tapi marah nggak nolong."

Rasya (14.09): "Besok kita ke polisi."

Nayla (14.10): "Kayla punya temen yang bisa bantu lacak akun Dinda. Dia hacker amatir."

Rasya (14.10): "Bisa dipercaya?"

Nayla (14.11): "Kayla bilang bisa. Tapi kita tetap waspada."

Rasya (14.11): "Setuju. Aku ikut besok."

Nayla (14.12): "Makasih, Ras."

Rasya (14.12): "Untuk apa?"

Nayla (14.13): "Untuk... selalu ada."

Rasya (14.13): "Tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku."

Nayla (14.14): "Sejak kapan jadi kewajibanmu?"

Rasya (14.14): "Sejak kehidupan sebelumnya."

Aku tersenyum di depan layar.

---

Pukul 16.00

Begitu aku masuk ke rumah, aku mendengar suara isak tangis dari ruang tamu. Bunda duduk di sofa, memegang handphone, wajahnya basah—basah oleh air mata yang sudah jatuh berulang kali.

"Bunda, kenapa?"

"Nay... Bunda... Bunda lihat postingan Dinda."

Aku duduk di samping Bunda. "Bunda, itu fitnah."

"Bunda tahu. Tapi..." Bunda menangis lebih keras. "Masa lalu Bunda... terbuka semua. Orang-orang tahu Bunda hamil di luar nikah. Mereka tahu Bunda menikah dengan Budi bukan karena cinta. Mereka tahu Bunda..."

"Bunda, itu masa lalu."

"Tapi—"

"Bunda, aku nggak peduli dengan omongan orang." Aku memeluk Bunda. "Yang aku peduli adalah Bunda. Bunda sehat. Bunda bahagia. Bunda ada di sini, bersama aku."

Bunda memelukku balik—erat, seperti tidak mau melepaskan.

"Aku sayang Bunda, Bun."

"Aku juga sayang kamu, Nak. Lebih dari apa pun."

---

Pukul 19.00

Ayah Budi pulang dengan wajah lelah. Tapi begitu melihatku dan Bunda duduk di ruang tamu dengan mata merah, dia langsung tahu.

"Dinda," katanya. Bukan pertanyaan.

Aku mengangguk.

Ayah Budi duduk di sampingku. "Ayah sudah lihat postingannya."

"Maaf, Yah."

"Kenapa kamu minta maaf? Kamu yang jadi korban."

"Tapi—"

"Nak, ini bukan salah kamu. Ini salah Dinda. Ini salah Dr. Hendra." Ayah Budi meraih tanganku. "Dan Ayah akan memastikan mereka bertanggung jawab."

"Cara Bapak? Perang bisnis lagi?"

Ayah Budi tersenyum—senyum yang lelah tapi tegas. "Bukan hanya perang bisnis, Nak. Sekarang Ayah akan serang dari semua sisi. Ayah sudah hubungi pengacara. Kita akan lapor polisi. Fitnah di media sosial bisa dipidana."

"Tapi, Yah—"

"Tidak ada tapi." Ayah Budi menatap mataku. "Dia sudah melukai keluargaku. Ayah tidak akan diam."

---

Pukul 21.00 — Chat dengan Sasha, Rasya, dan Kayla

Sasha (21.05): "Aku udah kontak temennya kakak sepupu aku. Dia setuju bantu."

Nayla (21.06): "Besok jam berapa?"

Sasha (21.06): "Jam 4 sore. Di kafe dekat sekolah."

Rasya (21.07): "Aku ikut."

Kayla (21.07): "Aku juga ikut. Temennya Rio juga mau dateng jam segitu."

Sasha (21.08): "Wah, jadi rame. Kayak kongres."

Nayla (21.09): "Sha, ini serius."

Sasha (21.09): "Aku tahu. Tapi aku suka suasana tegang. Deg-degan."

Rasya (21.10): "Besok kita kumpul di depan sekolah jam 3.30."

Nayla (21.10): "Setuju."

Kayla (21.11): "Setuju."

Sasha (21.11): "Setuju. Eh, aku boleh bawa kamera? Buat dokumentasi."

Nayla (21.12): "Jangan, Sha. Nanti mereka curiga."

Sasha (21.12): "Oke. Aku cuma bawa handphone."

Rasya (21.13): "Itu sudah cukup."

---

Pukul 22.00 — Aku menulis diary

Hari ini berat. Sangat berat. Aku tidak menyangka Dinda sekejam itu. Dia tidak hanya menyerangku—dia menyerang Bunda, Ayah Budi, dan almarhum ayah kandungku. Dia membuka luka lama yang selama ini kupendam dalam-dalam.

Aku marah. Tapi marah tidak akan menyelesaikan masalah. Aku harus bertindak.

Besok aku akan bertemu dengan hacker amatir itu. Aku akan melacak akun Dinda. Aku akan mengumpulkan bukti. Dan aku akan melaporkannya ke polisi.

Bukan hanya untuk aku. Tapi untuk Bunda. Untuk Ayah Budi. Untuk almarhum ayah kandungku. Untuk semua orang yang pernah menjadi korban fitnah.

Aku tidak akan menyerah.

Aku tidak bisa menyerah.

Rasya bilang aku tidak sendirian. Dan itu benar. Aku punya Rasya, Sasha, Kayla (mungkin), Bunda, Ayah Budi, Pak Bambang, dan Inspektur Widi.

Kita akan melawan. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan kebenaran.

—Nayla Kirana, 15 tahun, Kamar tidur, 22.00.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!