NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *26

"Aku datang sekarang. Tunggu sebentar ya, jangan panik. Aku ke sana sekarang," ucap Reyno tegas ke arah telepon.

Kalimat itu. Sekali lagi. Kalimat itu menjadi akhir dari segalanya. Menjadi tanda bahwa lagi-lagi, pilihan yang diambil adalah meninggalkan rumah ini.

Telepon ditutup dengan cepat. Reyno langsung menoleh ke arah Merlin. Wajahnya penuh dengan rasa bersalah yang mendalam. Ia tahu. Ia sadar. Ia mengerti betul betapa menyakitkan hal ini bagi istrinya.

"Mer..." panggilnya pelan, suaranya hati-hati seolah sedang mendekati kaca yang rapuh.

Namun Merlin hanya menunduk pelan. Matanya kabur oleh air mata yang mulai menggenang. Tangannya perlahan meremas kertas hasil USG itu makin erat, hingga ujung-ujung kertas itu melengkung dan hampir sobek. Sakit. Hatinya jauh lebih sakit dari itu.

"Aku harus ke sana bentar ya?" ucap Reyno menjelaskan, berusaha mencari alasan agar dimaafkan. "Yara ... dia histeris lagi. Katanya dia mimpi buruk, terus dia ngerasa sesak napas, dia ngerasa nggak ada siapa-siapa. Aku nggak tenang kalau dia sendirian di keadaan kayak gini."

Merlin tertawa kecil. Tawa yang sangat pelan, kosong, dan menyakitkan. "Dia selalu histeris tiap kali kamu sama aku," ucapnya lirih. Kalimat itu keluar begitu saja dengan jujur, dan tajam.

Kalimat itu membuat Reyno membeku di tempat. Mulutnya sedikit terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Ia sadar ada benarnya juga ucapan itu. Selalu saja ada hal terjadi, selalu saja ada alasan, tepat saat ia sedang bersama istrinya.

"Merlin ... bukan gitu maksudnya."

"Aku capek, Rey." Merlin mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab menatap lurus ke manik mata suaminya. "Tiap kali aku mau ngomong sesuatu, tiap kali aku mau bilang sesuatu yang penting, selalu ada dia. Selalu ada nama itu. Selalu ada hal yang lebih penting."

"Aku gak bermaksud nyakitin kamu, aku

cuma-- "

"Tapi kamu tetap pergi." Potong Merlin cepat. Suaranya pecah. "Kamu tetap pergi ninggalin aku. Selalu gitu."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Sunyi yang berat, sunyi yang penuh tuduhan diam-diam.

Reyno benar-benar tidak punya jawaban sekarang. Ia tidak bisa membantah. Ia tidak bisa membela diri. Karena semua yang dikatakan Merlin adalah kenyataan pahit yang nyata adanya. Fakta bahwa ia selalu mendahulukan Yara. Fakta bahwa istrinya selalu ada di urutan kedua.

Pria itu mendekat dengan langkah cepat, lalu berlutut tepat di depan sofa di mana Merlin duduk. Tangannya yang hangat menggenggam kedua tangan istrinya yang dingin dan lembab keringat.

"Aku janji ... aku janji setelah ini semuanya bakal lebih baik. Aku bakal atur semuanya. Aku bakal jelasin ke dia, aku bakal pastiin dia bisa mandiri, terus aku bakal fokus ke kamu, ke kita," ucapnya dengan nada penuh permohonan.

Janji. Lagi dan lagi. Selalu ada janji. Selalu ada kata nanti. Dan entah kenapa, malam ini Merlin sudah terlalu lelah untuk mempercayainya. Sudah terlalu sering ia diberi harapan palsu, lalu dikecewakan berulang kali sampai rasa percayanya luntur habis.

"Pergilah," bisiknya lirih, melepaskan genggaman tangan suaminya perlahan.

"Mer ... jangan gini dong."

"Dia nungguin kamu kan? Dia butuhin kamu kan? Dia takut sendirian kan?" tanya Merlin berulang kali dengan nada yang kian melemah.

Dada Reyno terasa sesak, nyeri, dan berat. Namun tepat saat ia hendak menjawab, ponsel di saku celananya kembali bergetar. Berkali-kali. Hal itu membuatnya cukup panik. Di layar, nama yang sama kembali menyala.

Pada akhirnya, di antara rasa bersalah dan rasa khawatir, Reyno berdiri perlahan. Ia melepaskan tangan Merlin. "Aku gak lama. Cuma sebentar doang. Aku cuma pastiin dia tenang, terus aku langsung balik ke sini," ucapnya sebagai pamitan terakhir.

Kalimat terakhir itu terasa seperti pisau tajam yang menyayat hati Merlin. Karena wanita itu tahu, betul-betul tahu. Bahwa malam ini pun, ia akan tetap sendirian. Ia akan tetap menunggu. Ia akan tetap ditinggalkan.

Reyno berbalik badan, berjalan cepat menuju pintu depan. Suara pintu terbuka, lalu tertutup rapat. Klik. Dan bersamaan dengan bunyi itu, air mata Merlin akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.

Wanita itu memeluk kertas hasil USG itu ke dadanya erat-erat, seolah ingin melindungi makhluk kecil di dalam sana dari rasa sakit dunia luar. Tubuhnya berguncang hebat karena tangis yang sejak tadi ia tahan mati-matian.

"Ayah kamu pergi lagi, Nak." Bisiknya lirih di sela isak tangis. Tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang masih datar itu pelan dan penuh kasih sayang. "Maafin Mama ya. Maafin Mama kalau Mama belum bisa jagain kamu. Maafin Mama kalau rumah ini nggak bisa bikin kamu bahagia."

Dadanya sakit sekali. Sakit sampai sulit bernapas. Sakit sampai rasanya ia ingin ikut lenyap bersama rasa sakit itu. Dan tanpa Merlin sadari, beban batin, stres berkepanjangan, kelelahan fisik, dan luka batin yang terus ia pendam hari demi hari mulai perlahan menghancurkan tubuhnya dari dalam.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyakitkan. Merlin masih terisak pelan, bersandar lemas di sandaran sofa. Namun tiba-tiba, rasa nyeri tajam menusuk perut bagian bawahnya.

Awalnya kecil. Seperti kram biasa. Ia pikir itu hanya efek terlalu banyak menangis. Namun semakin lama, rasa sakit itu semakin kuat, semakin tajam, dan semakin menyiksa.

"Ah ..." Merlin langsung memegangi perutnya dengan kedua tangan. Wajahnya yang sudah pucat kini berubah menjadi putih pasi, keringat dingin seketika membasahi seluruh tubuhnya.

Rasa nyeri itu datang berulang-ulang. Menusuk juga mengiris. Membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat. Napasnya menjadi pendek dan cepat karena menahan sakit. Dan saat ia merasakan sesuatu yang hangat, basah, dan licin mengalir turun di selapaha, jantung Merlin langsung berhenti berdetak sesaat.

Ia menunduk. Di balik gaun tidurnya yang berwarna muda, terlihat jelas noda merah yang perlahan melebar.

"Darah."

"Enggak," suaranya langsung pecah. Matanya membelalak penuh ketakutan yang luar biasa. Panik. "Tidak. Tidak mungkin ...."

Merlin buru-buru mencoba berdiri. Ia ingin lari keluar. Ia ingin menelepon. Ia ingin meminta tolong. Namun tubuhnya sudah terlalu lemas. Kakinya gemetar hebat, tak sanggup menopang berat badannya sendiri. Langkahnya goyah hanya satu dua kali sebelum akhirnya ia jatuh terduduk kembali di lantai yang dingin dan keras.

"Rey." Air matanya mulai bercucuran semakin deras, bercampur dengan keringat dingin di wajahnya. "Reyno ... tolong ... tolong aku ...."

Tangannya gemetar parah saat mencoba meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil di sebelahnya. Beberapa kali tangannya meleset, hampir jatuh, sebelum akhirnya ia berhasil menggenggam benda itu. Jari-jarinya yang kaku dan gemetar susah payah menekan nama suaminya di daftar panggilan.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!