"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Logistik VS Logika
Pagi itu, Bandara Internasional Juanda sudah seperti simulasi hari kiamat versi kearifan lokal.
Suara pengumuman keberangkatan bersahutan dengan tangisan anak kecil dan teriakan bapak-bapak yang nyari rombongan umrohnya.
Gua berdiri di depan pintu keberangkatan internasional dengan gaya yang... gua rasa udah paling modis se-Jawa Timur...
Kacamata hitam gede, jaket denim, dan sepatu boots yang haknya lumayan tinggi biar kalau jalan kedengeran cetak-cetuk ala wanita karier sukses.
Tapi masalahnya, di belakang gua ada lima koper jumbo yang warnanya nabrak-nabrak, ada yang pink fanta, ijo neon, sampe ada satu koper kain butut yang gua iket pake tali rafia biar nggak jebol.
Dedik berdiri di samping gua, cuma nenteng satu tas ransel item merk "Teknik" yang warnanya udah mulai pudar. Dia natap tumpukan koper gua seolah-olah itu adalah tumpukan sampah visual yang ngerusak estetika bandara.
"Rey," Dedik manggil, suaranya tenang tapi gua tau otaknya lagi kerja keras ngitung volume. "Secara matematis, luas permukaan koper lo ini kalau digabungin udah bisa buat nutupin separuh lapangan futsal."
"Lo sadar nggak kalau kita ini mau riset ke Singapura, bukan mau pindahan satu kecamatan?"
"Ded, lo nggak paham," jawab gua sambil benerin kacamata yang melorot gara-gara keringetan. "Singapura itu mahal. Biaya hidup di sana itu bisa bikin ginjal kita meronta-ronta."
"Jadi, gua melakukan langkah preventif dengan membawa semua kebutuhan primer, sekunder, sampe tersier dari tanah air."
Dedik narik satu koper gua, yang pink fanta. Pas dia coba angkat, urat lehernya langsung keluar. "Ini... lo isi emas batangan atau apa? Beratnya nggak masuk akal!"
"Oh, itu koper dapur," jawab gua enteng. "Isinya ada ulekan batu asli dari Desa Pinus, inget kan yang kita temuin di belakang kabin?"
"Terus ada rice cooker anti-lengket yang watt-nya rendah, cobek kayu, sama stok sambel teri, rendang kering, dan abon sapi buat enam bulan kedepan. Oh, ada kerupuk mentah juga tiga kilo."
Dedik ngelepas koper itu dengan bunyi BUM yang cukup keras sampe orang-orang nengok. "Ulekan batu? Rey, logikanya, Singapura itu negara maju."
"Mereka punya teknologi penghancur bumbu yang namanya blender. Kenapa lo harus bawa batu seberat lima kilo melintasi batas negara?!"
"Rasa, Ded! RASA!" gua nunjuk-nunjuk dada gua penuh drama. "Ulekan batu itu menghasilkan tekstur sambel dengan frekuensi rasa yang lebih organik."
"Kalau pake blender, mata pisaunya itu muter terlalu cepet, panasnya bisa ngerusak struktur molekul cabe! Lo kan ahli frekuensi, masa nggak paham soal integritas molekul sambel?!"
Dedik ngehela napas panjang, jarinya langsung mencet-mencet aplikasi kalkulator di HP-nya dengan kecepatan cahaya.
"Oke, mari kita hitung. Jatah bagasi kita itu 30 kilo per orang. Total 60 kilo. Berat koper pink lo ini udah 32 kilo. Koper ijo 25 kilo."
"Tiga koper sisanya masing-masing sekitar 15 kilo. Total lo bawa 102 kilo barang, Rey. Kita overweight 42 kilo!"
Gua langsung melotot. "Terus gimana? Masa ulekan gua dibuang?!"
"Denda overweight per kilonya itu sekitar 150 ribu rupiah. 42 dikali 150 ribu itu 6,3 juta rupiah," Dedik ngelihatin layar kalkulatornya ke muka gua.
"6,3 juta itu bisa buat modal gua trading emas dapet berapa lot, Rey! Itu investasi yang terbakar sia-sia cuma buat bawa batu dan kerupuk!"
"Gak mau tau! Pokoknya harus masuk!" gua mulai mode rewel Sagitarius.
Dedik narik rambutnya ke belakang, tanda dia lagi panik secara logis. "Oke, kita lakukan restrukturisasi muatan. Arlan! Sini lo!"
Arlan, yang tadinya lagi asik makan lemper di pojokan sambil liatin kita, langsung lari nyamperin. "Apaan, Bos?"
"Bantuin gua bongkar. Kita pindahin barang paling berat ke tas kabin. Hukum penerbangan bilang tas kabin maksimal 7 kilo tapi jarang ditimbang kalau kelihatannya enteng," instruksi Dedik.
Maka terjadilah pemandangan paling memalukan dalam sejarah Bandara Juanda. Gua, Dedik, dan Arlan lesehan di depan konter check-in, ngebongkar koper pink fanta di depan umum.
Keluar semua isinya: daster batik gua, pembalut satu dus, ulekan batu, sampe bungkusan kerupuk udang yang kegencet.
"Ded, ini ulekan mau ditaruh mana?" tanya Arlan bingung sambil megang batu item gede itu.
"Masukin ke ransel gua," kata Dedik pasrah. "Gua bakal pake teknik distribusi berat. Gua bakal jalan tegap seolah-olah tas gua cuma isi kapas, biar petugasnya nggak curiga."
"Terus ini mukena cadangan gue yang sepuluh biji gimana?" tanya gua.
"Pakai, Rey. Pakai!"
"Maksud lo?!"
"Pake rangkap tiga! Biar koper lo enteng! Logikanya, baju yang nempel di badan itu nggak dihitung bagasi!" Dedik mulai masuk mode gila.
Gua beneran nurutin kata dia. Gua masuk ke toilet, terus gua pake daster rangkap dua, baru ditutup jaket denim.
Gua ngerasa badan gua melebar dua kali lipat, gerak gua jadi kaku kayak robot rusak. Pas gua keluar, Dedik sama Arlan lagi sibuk ngiket koper pake lakban bening biar makin ringkes.
"Gimana?" tanya gua sesak napas.
"Lo kelihatan kayak orang yang baru aja makan satu gerobak bakso, tapi demi efisiensi dana, ini bisa diterima," kata Dedik.
Kita pun maju ke konter check-in. Mbak petugasnya ngelihatin timbangan dengan muka heran. 29,9 kg. Pas banget. Mbak itu nengok ke gua yang mukanya udah merah padam gara-gara kepanasan pake baju rangkap-rangkap.
"Mbak... nggak apa-apa? Kok keringetan banget?" tanya Mbaknya curiga.
"Oh, ini... saya emang punya metabolisme yang sangat aktif, Mbak. Semangat mau ke Singapura jadi membara," jawab gua sambil nyengir kuda.
Lalu giliran Dedik. Dia naruh ranselnya di punggung. Pas dia berdiri, gua denger suara tulang punggungnya bunyi kretek.
Tapi gila, si Dedik tetep berdiri tegak, mukanya lempeng banget kayak nggak bawa beban apa-apa, padahal di dalem situ ada ulekan batu lima kilo dan tumpukan kabel.
"Ada barang elektronik di dalam tas, Mas?" tanya Mbaknya.
"Ada. Central Processing Unit portabel dan beberapa komponen mineral penstabil frekuensi," jawab Dedik dengan nada paling berwibawa yang pernah gua denger.
Mbaknya cuma mangut-mangut, mungkin dia pikir Dedik ini ilmuwan jenius yang bawa batu meteor buat diteliti. Pas kita lolos dari konter, gua langsung lemes nyender di tembok.
"Gila... jantung gua mau copot," bisik gua.
"Punggung gua yang mau patah, Rey," bales Dedik sambil nahan sakit. "Tapi secara finansial, kita baru saja menyelamatkan 6,3 juta rupiah. Itu kemenangan besar bagi logika atas logistik."
Drama belum berakhir. Kita harus ngelewatin imigrasi dan pemeriksaan X-ray kedua sebelum masuk ke ruang tunggu. Pas ransel Dedik masuk ke mesin X-ray, petugasnya langsung ngerutin dahi.
"Mas, tasnya bisa dibuka sebentar?"
Gua udah pucet. Mampus, ulekannya ketauan!
Dedik ngebuka tasnya dengan tenang. Dia ngeluarin laptopnya dulu, terus dia ngeluarin ulekan batu yang udah dia bungkus pake kain flanel, jaket flanel dia yang paling dia sayang.
"Ini apa, Mas? Kok bentuknya padat sekali?" tanya petugasnya sambil megang batu itu.
"Itu adalah alat kalibrasi akustik tradisional berbasis mineral andesit," jawab Dedik tanpa kedip. "Kami sedang mengerjakan riset tentang resonansi suara pada media bambu."
"Batu ini berfungsi untuk memberikan tekanan statis pada serat bambu agar menghasilkan frekuensi yang presisi. Ini sangat krusial, Pak. Kalau nggak ada ini, riset miliaran rupiah kami bisa gagal total."
Petugas imigrasinya ngelihatin Dedik, terus ngelihatin gua yang lagi akting pasang muka serius (padahal gua lagi nahan kentut gara-gara baju kekencengan).
"Oh... riset ya? Ya sudah, silakan. Hati-hati ya Mas, berat banget ini."
Begitu kita menjauh, gua langsung meluk lengan Dedik. "Sumpah! Lo bener-bener raja bohong ilmiah! Alat kalibrasi mineral andesit?! Hahaha!"
"Itu bukan bohong, Rey. Itu cuma penggantian terminologi agar sesuai dengan level kognitif lawan bicara," sahut Dedik sambil benerin posisi ranselnya.
Akhirnya kita duduk di ruang tunggu. Gua langsung ngebuka jaket denim gua karena udah nggak tahan panas. Arlan pamitan di depan pintu kaca, dadah-dadah sambil nangis bombay kayak kehilangan separuh nyawanya.
"JAGA SEPUPU GUE YA DED! JANGAN SAMPE DIA KURUS DI SINGAPURA!" teriak Arlan.
"Gak bakal kurus, Lan! Dia bawa rendang sekilo di dalem tas jinjingnya!" bales Dedik teriak.
Pas kita masuk ke pesawat, masalah baru muncul lagi. Pesawatnya jenis yang agak kecil, dan rak bagasi kabinnya udah penuh sama tas-tas turis lain. Dedik harus muter-muter nyari tempat buat ransel batunya.
"Rey, lo duduk dulu di situ. Gua cari slot kosong," kata Dedik.
Gua duduk di kursi 12A, samping jendela. Gua ngerasa lega banget sampe gua lupa satu hal penting.
Begitu gua mau ngeluarin HP buat story Instagram, gua baru sadar... tas kecil gua yang isinya paspor, tiket, dan dompet... nggak ada di tangan gua.
"Ded! Ded!" gua narik baju Dedik yang lagi berusaha masukin ranselnya ke rak di baris 20.
"Apa lagi, Rey? Gua lagi ngitung pusat gravitasi tas ini biar nggak jatuh nimpa kepala orang!"
"Paspor gue... paspor gue nyelip di koper pink tadi nggak ya?" tanya gua panik.
Dedik langsung diem. Dia nginget-nginget kejadian pas kita bongkar koper tadi. "Gak mungkin. Tadi kan lo pegang pas kita check-in."
Gua bongkar semua kantong jaket denim gua. Kosong. Gua bongkar daster rangkap dua gua. Kosong. Terus gua inget... tadi pas di ruang tunggu, gua sempet minjem ransel Dedik buat nyari tisu.
"DED! Paspor gue ada di dalem ransel lo! Di bawah ulekan!"
Dedik melotot. "Lo gila?! Ranselnya udah gua kunci pake gembok angka dan udah gua tumpuk di paling pojok rak baris 20! Dan sekarang orang-orang udah penuh di lorong!"
"Gimana dong? Bentar lagi take off! Nanti pas nyampe Singapura gua nggak bisa keluar!" gua mulai mau nangis beneran.
Dedik ngehela napas, dia benerin kacamatanya yang udah buram gara-gara keringet dingin. "Oke, dengerin gua. Gua bakal ke belakang lagi. Gua bakal pura-pura mau ngambil obat."
"Lo diem di sini, jangan bertingkah aneh yang bikin pramugarinya curiga kita teroris."
Dedik berjuang ngelawan arus orang yang lagi masuk ke pesawat. Dia kena sikut, kena tabrak tas, tapi dia tetep maju demi sebuah paspor yang kejepit batu andesit.
Gua ngelihatin dari jauh dengan perasaan bersalah yang amat sangat.
Sepuluh menit kemudian, Dedik balik dengan muka pucat dan napas tersengal-sengal. Dia duduk di sebelah gua (kursi 12B), terus dia naruh paspor gua di pangkuan gua tanpa ngomong apa-apa.
"Ketemu?" tanya gua pelan.
"Ketemu. Tapi pas gua narik ranselnya tadi, ulekannya sempet geser dan kena tangan gua," dia nunjukin jari telunjuknya yang agak memar.
"Logikanya, Rey... paspor itu harusnya ditaruh di tempat dengan aksesibilitas tinggi, bukan di bawah beban mineral lima kilo."
Gua megang tangannya yang memar, terus gua tiup pelan. "Sori ya, Ded... lo emang partner terbaik sedunia."
Dedik diem sebentar, terus dia nyenderin kepalanya di sandaran kursi. "Gua nggak butuh pujian, Rey. Gua cuma butuh lo janji satu hal."
"Apa?"
"Nanti pas nyampe Singapura, jangan pernah suruh gua bawa ulekan itu lagi kalau kita mau pindah apartemen. Cukup sekali ini gua ngerasain gimana rasanya jadi kuli angkut batu internasional."
Gua ketawa, dan pelan-pelan pesawat mulai pushback. Di bawah sinar matahari pagi, pesawat kita terbang menuju Singapura. Gua ngelihat ke jendela, ngelihat tanah air yang makin mengecil.
Gua tau, di Singapura nanti, drama kita nggak bakal berhenti di sini. Tapi selama ada Dedik yang bisa ngubah ulekan batu jadi "alat kalibrasi mineral", gua yakin kita bakal baik-baik aja.
"Ded," panggil gua pas pesawat udah stabil di ketinggian.
"Hm?" dia udah merem, kayaknya capek banget.
"I love you. Pake banget. Nggak pake logika."
Dedik nggak buka mata, tapi gua liat sudut bibirnya keangkat dikit. "I know, Rey. Secara statistik, gua juga nggak punya pilihan lain selain sayang sama lo. Tidur sana, perjalanan kita masih jauh."
Gua nyender di bahu dia, dengerin deru mesin pesawat yang menurut Dedik frekuensinya adalah white noise yang sempurna buat tidur. Singapura, here we come!