Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI BALIK JENDELA
Aroma karbol dan alkohol menyambut Keyra saat ia melangkah masuk ke klinik markas pagi itu. Meskipun lututnya masih sedikit kaku, salep dari Ghazali terbukti ampuh rasa perihnya sudah jauh berkurang. Ziva sudah sibuk merapikan botol-botol vitamin di rak, sementara beberapa prajurit tampak duduk mengantri untuk pemeriksaan rutin.
"Key, kamu sudah pakai salepnya?" bisik Ziva sambil menyikut lengan sahabatnya.
"Sudah. Mulutnya memang pedas, tapi obatnya lumayan juga," jawab Keyra pelan sambil mulai mengenakan jas snelli putihnya.
Baru saja Keyra hendak memeriksa pasien pertama, pintu klinik terbuka lebar. Bukan prajurit yang terluka yang masuk, melainkan Ghazali dengan langkah tegapnya yang khas. Kali ini ia tidak sendirian. Bastian dan Yudha mengekor di belakangnya, wajah mereka terlihat jauh lebih serius daripada kemarin.
"Petugas medis, siapkan stok obat-obatan darurat dan tandu cadangan sekarang," perintah Ghazali tanpa basa-basi. Matanya sempat melirik ke arah Keyra, memastikan gadis itu menjalankan tugasnya dengan benar.
"Izin, Kapten. Ada apa? Apa ada latihan tempur?" tanya Keyra, insting dokter masa depannya langsung siaga.
Ghazali tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah hutan dan perbukitan di belakang markas. Langit yang tadinya biru terang, kini perlahan tertutup awan hitam yang menggulung seperti ombak raksasa.
"Peringatan cuaca ekstrem. Badai besar akan menghantam wilayah ini dalam satu jam ke depan. Jalur akses di bawah tebing rawan longsor," jelas Yudha dengan suara rendahnya.
"Dan buruknya," Bastian menyela sambil memeriksa tablet di tangannya, "jalur masuk logistik baru saja terputus karena pohon tumbang di km 12. Kita akan terisolasi di sini sampai badai lewat."
Keyra menelan ludah. Terisolasi? Di pangkalan militer yang jauh dari peradaban kota?
"Lalu bagaimana dengan kami, Kapten? Harusnya kami pulang sore ini untuk mengambil perlengkapan pribadi," sahut Ziva dengan nada khawatir.
Ghazali berbalik, menatap mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tidak ada yang boleh meninggalkan markas. Seluruh gerbang ditutup demi keselamatan. Kalian akan tetap di sini."
Hujan mulai turun dengan deras, menghantam atap seng klinik dengan suara berisik. Angin kencang mulai melolong, membuat lampu di dalam ruangan sempat berkedip-kedip.
"Bastian, atur pemindahan mahasiswa magang ke Paviliun A. Barak mereka tidak akan tahan dengan angin sekencang ini," perintah Ghazali lagi.
"Siap, Kapten. Tapi... Paviliun A penuh untuk tim zeni yang baru datang, Ghaz," lapor Bastian setelah memeriksa catatannya.
Ghazali terdiam sejenak. Alisnya bertaut. Ia kembali menatap Keyra yang tampak sedikit pucat namun tetap berdiri tegak.
"Pindahkan mahasiswi perempuan ke Paviliun Perwira," ucap Ghazali akhirnya.
Keyra terbelalak. "Paviliun Perwira? Itu kan... tempat tinggal Kapten juga?"
"Di sana lebih aman dan memiliki generator cadangan yang stabil. Kamu dan Ziva akan menempati kamar tamu di paviliun saya," Ghazali berkata seolah-olah itu adalah hal paling biasa di dunia. "Di bawah pengawasan saya, setidaknya saya tahu kalian tidak akan membuat kekacauan di tengah badai."
Keyra ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia lebih baik tidur di klinik daripada harus berada di dekat pria kaku itu. Namun, dentuman petir yang menggelegar di luar sana membuat nyalinya sedikit menciut.
"Kenapa? Kamu takut, Calon Dokter?" tanya Ghazali dengan nada yang hampir terdengar seperti tantangan.
Keyra membusungkan dadanya, mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya. "Takut? Tidak ada dalam kamus saya. Saya cuma kasihan pada Kapten, karena ketenangan Kapten sebentar lagi akan berakhir."
Bastian tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, sementara Yudha hanya bisa menghela napas. Mereka tahu, badai di luar sana mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan "badai" yang akan terjadi di dalam paviliun Ghazali malam ini.
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....