NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

​BAB 33: "Syariat Cinta: Benih yang Tumbuh di Atas Ridha"

​Malam semakin larut di Kediri, namun cahaya lampu di ruang tengah kediaman Zain masih menyala redup. Setelah melaksanakan salat Isya berjamaah yang khusyuk, suasana rumah terasa begitu sakral. Shania baru saja melipat sajadahnya, sementara Zain masih duduk bersila, jemarinya lincah memutar butiran tasbih kayu gaharu yang mengeluarkan aroma wangi alami.

​Shania mendekat, lalu duduk di atas karpet, tepat di samping suaminya. Ia memperhatikan garis wajah Zain yang tampak tenang di bawah pencahayaan lampu temaram. Kisah-kisah tentang awal penciptaan manusia yang diceritakan Zain sejak kemarin benar-benar mengubah cara pandang Shania tentang pernikahan mereka.

​"Mas," panggil Shania pelan.

​Zain menghentikan gerakan tasbihnya, lalu menoleh.

"Belum mengantuk, Shania?"

​"Belum. Aku masih kepikiran tentang Syits dan bagaimana Nabi Adam mendidik keturunannya. Bagaimana caranya mereka tetap harmonis setelah kejadian tragis antara Qabil dan Habil? Maksudku... bagaimana cara Nabi Adam membangun kembali kepercayaan dalam keluarganya?"

​Zain menyimpan tasbihnya ke dalam saku jubah, lalu mengubah posisi duduknya agar lebih santai menghadap istrinya.

"Itu pertanyaan yang sangat dalam, Sayang. Itulah yang disebut dengan 'Syariat pertama'. Nabi Adam tidak hanya mendidik mereka dengan kata-kata, tapi dengan keteladanan."

"​Warisan Ilmu dan Rahasia Kepemimpinan"

​"Shania," Zain memulai dengan suara yang berat namun menyejukkan. "Tahukah kamu bahwa sebelum Nabi Adam wafat, beliau memanggil Syits secara khusus? Beliau tidak mewariskan emas atau tanah yang luas, karena saat itu bumi memang milik mereka. Beliau mewariskan lima puluh shuhuf atau lembaran wahyu yang berisi aturan hidup, termasuk cara beribadah dan cara memperlakukan sesama manusia."

​Zain menatap jemari Shania yang sedang memainkan ujung mukenanya.

"Nabi Adam, mengajarkan kepada Syits bahwa kepemimpinan dalam keluarga atau masyarakat bukan tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling taat kepada aturan Allah. Itulah yang membuat keturunan Syits kelak menjadi orang-orang yang berilmu. Mereka tidak lagi menggunakan batu untuk menyelesaikan masalah, melainkan menggunakan wahyu."

​Shania manggut-manggut.

"Berarti, kuncinya adalah ilmu ya, Mas? Tanpa ilmu, kita mungkin akan tersesat seperti Qabil."

​"Benar. Dan yang lebih romantis lagi, Shania... Nabi Adam dan Ibunda Hawa menunjukkan bahwa dalam duka yang paling dalam sekalipun, seorang suami dan istri harus tetap menjadi satu tim. Mereka tidak saling menyalahkan atas kematian Habil. Mereka justru semakin erat memeluk sisa keluarga yang ada. Mereka menanam benih baru, menjaga Syits dengan penuh cinta agar tragedi itu tidak terulang."

"​Pernikahan Silang: Ujian Ketundukan Hati"

​Zain kemudian sedikit berdehem, wajahnya menunjukkan ekspresi serius namun ada binar jenaka di matanya.

"Kembali ke soal pernikahan silang yang sempat kita singgung. Kamu tahu kenapa Allah memberikan aturan itu saat itu?"

​Shania menggeleng.

"Kenapa, Mas? Kenapa tidak boleh dengan kembaran sendiri?"

​"Untuk menguji ketaatan manusia pada batas-batas yang ditetapkan Allah. Secara naluri, mungkin Qabil merasa kembarannya lebih cantik dan lebih cocok. Tapi syariat berkata lain. Di situlah cinta diuji—apakah cinta kita berdasarkan nafsu 'liar' yang ingin memiliki segalanya, atau cinta yang terbelenggu oleh mahar ketaatan pada Allah?"

​Zain meraih tangan Shania, menggenggamnya dengan lembut.

"Sama seperti kita. Mungkin di luar sana banyak hal yang terlihat menarik secara kasat mata. Tapi bagi seorang mukmin, keindahan yang paling hakiki adalah apa yang telah Allah halalkan untuknya. Sebagaimana Habil menerima Iqlima dengan tulus karena itu adalah perintah Allah, meskipun hal itu memicu pertentangan besar dengan Qabil. Di sisi lain, Qabil diuji untuk menerima Labuda, namun ia menolaknya karena lebih mengikuti keinginan matanya sendiri. Di situlah letak keberkahan, Shania—bukan pada siapa yang paling indah menurut pandangan kita, tapi pada siapa yang telah Allah halalkan untuk kita. Ketampanan atau kecantikan fisik bisa memudar, tapi ketenangan hati karena taat pada aturan-Nya akan abadi."

"​Kediri dan Kenangan yang Kita Tulis"

​Zain membawa Shania berdiri, mengajaknya menuju jendela besar yang menghadap ke arah pesantren. Di kejauhan, hanya ada kegelapan pohon-pohon bambu dan lampu-lampu kecil dari asrama santri.

​"Coba lihat ke sana," tunjuk Zain. "Pesantren ini dibangun di atas fondasi ilmu. Aku ingin rumah tangga kita juga begitu. Aku bukan Nabi Adam, dan kamu bukan Ibunda Hawa yang diciptakan langsung dari tulang rusuk yang suci. Kita berdua adalah manusia biasa yang penuh noda. Tapi, selama kita memegang 'lembaran-lembaran' ilmu yang sama, insya Allah kita tidak akan tersesat di padang pasir kehidupan."

​Shania menyandarkan kepalanya di bahu Zain. Aroma parfum sandalwood suaminya bercampur dengan aroma dingin angin malam Kediri.

"Kadang aku takut, Mas. Aku takut sifat 'liar'-ku muncul lagi, sifat manjaku yang berlebihan, atau sifat keras kepalaku."

​Zain mengecup dahi Shania dengan lembut dan lama.

"Jangan takut. Tugasku adalah menjadi 'pawang' bagi keliaran itu dengan cara yang paling lembut. Mahar yang kuberikan padamu bukan hanya seperangkat alat salat dan emas, tapi janji di depan Allah untuk selalu menuntunmu. Jika kamu mulai 'liar' menjauh dari jalan-Nya, aku akan menarikmu kembali dengan tali kasih sayang, bukan dengan kekerasan."

"​Kuis 'Shuhuf Cinta'"

​Setelah suasana menjadi sangat intim dan penuh haru, Zain tiba-tiba melepaskan pelukannya sedikit dan menatap Shania dengan mata yang menyipit—tanda bahwa jiwa "Ustadz Jahil"-nya sedang bangkit.

​"Nah, bicara soal warisan wahyu dan syariat... sepertinya kita butuh satu kuis terakhir untuk menutup malam ini agar tidurnya lebih nyenyak."

​Shania tertawa kecil, sudah hafal dengan kebiasaan suaminya.

"Apa lagi pertanyaannya, Mas Zain yang terhormat?"

​Zain memasang pose berpikir yang sangat serius.

"Syits mewarisi ilmu dari Nabi Adam untuk menjaga keharmonisan bumi. Nah, pertanyaannya: Jika suatu saat nanti kita dikaruniai putra yang wajahnya sangat mirip denganku tapi sifatnya 'jahil' dan suka bertanya seperti umminya, apakah kamu akan mewariskan ilmu 'sabar menghadapi suami' kepadanya, atau justru ilmu 'bagaimana cara memenangkan perdebatan dengan gaya Shania'?"

​Shania langsung mencubit lengan Zain dengan gemas.

"Mas Zain! Itu sih namanya meledek aku! Kalau nanti anak kita mirip Mas, aku akan ajarkan dia ilmu 'Gombalin Ummi' supaya aku tidak bisa marah kalau dia nakal. Dan yang pasti, aku akan ajarkan dia bagaimana cara mencintai istrinya nanti sepertimu—yang selalu punya jawaban bijak di balik setiap pertanyaannya."

​Zain tertawa terbahak, suara tawanya memecah kesunyian malam. Ia menarik Shania kembali ke dalam dekapan hangatnya, menyelimuti tubuh istrinya dengan pelukan yang memberikan rasa aman luar biasa.

​"Jawaban yang sangat diplomatis. Baiklah, muridku. Sepertinya kamu sudah lulus bab 'Awal Mula'. Sekarang, mari kita istirahat. Esok pagi masih banyak 'lembaran' kehidupan yang harus kita tulis bersama di pesantren ini."

​Shania tersenyum dalam kegelapan, merasa sangat bersyukur. Di dunia yang luas ini, ia telah menemukan "Jabal Rahmah"-nya sendiri di sebuah kota kecil bernama Kediri, di dalam pelukan seorang pria yang tidak hanya mencintainya, tapi juga mendidik jiwanya.

​"Mas," bisik Shania sesaat sebelum mereka menuju peraduan.

​"Hmm?"

​"Terima kasih sudah membelenggu keliaranku dengan mahar yang begitu indah... mahar berupa iman."

​Zain tidak menjawab, hanya sebuah senyuman tulus yang terpancar di wajahnya sebelum ia mematikan lampu, membiarkan malam menjaga kisah cinta mereka dalam lindungan doa yang tak putus-putus.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
Tri Rusmawati
sabarr zain...sabaarrr🤣🤣🤣
kartini aritonang
sukaaa ceritanya, bikin adem, banyak ilmunya . semangat thor..💪..lanjuutt
Saniaa96: makasih udah suka. semoga ada manfaatnya. 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
total 1 replies
Indah Agustini 383
terimakasih udah nulis cerita yg sangat baguss dan banyak ilmu yg bisa didapat 😍
sehat-sehat kakak penulis cerita inii❤️❤️
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!