NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jadi Dilamar Atau Enggak?

Setibanya Dena di tangga lobby depan, lalu berbelok kanan untuk naik ke lorong kelas paling depan.

"Ekhm!"

Seorang gadis tiba-tiba terdengar berdehem pelan sambil nyenderan santai di salah satu pilar sebelah papan pengumuman.

"Yang tadi itu pacar lo ya..."

"Yang katanya Raja dari sebagian para siswa? Ganteng juga," ujar orang itu yang dari suaranya. Bau parfumnya. Postur tubuhnya. Dan luka memar di sudut pelipis itu? Tidak salah lagi.

Dena langsung berhenti. "Lo?"

"Yang kemarin lo rendem di bak mandi. Gue harap lo nggak lupa," tukasnya sembari menoleh ke arah Dena lalu tersenyum sinis.

Dena reflek melotot, nyaris terjingkat saat gadis yang berada tepat di hadapannya ini ternyata dia.

"Hah? Ini elo? Yang culun kemarin?" kagetnya sambil menatap gadis itu dari pangkal rambut hingga ujung sepatu.

Tapi?

Gadis itu jadi benar-benar terlihat berbeda ketika sebelumnya sempat Dena bully habis-habisan.

Dari yang sebelumnya wajah gadis itu terlihat sangat culun dengan poni rendahnya yang sampai hampir menutupi setengah wajah. Dan di hari itu dia memakai seragamnya juga yang rapi jali kayak orang bener sambil megangin permen gulali.

Hari ini? Rambutnya jadi dicat warna-warni ,persis seperti warna permen kapas yang seringkali dijual di pasar malam.

Norak? Iya, tapi cukup berani untuk ukuran seorang siswi SMA, dan yang paling berbeda bukan terletak di penampilannya saja, tapi terletak pada gaya bicaranya.

Gaya serta cara bicaranya yang jadi lebih lugas! Dan Dena lantas berkedip-kedip lama kayak orang kelilipan sewaktu denger gadis itu bicara.

"Lo beda banget dari yang kemarin?"

Gadis itu tersenyum—sekilas, nyaris tidak terlalu tampak.

"Karena yang kemarin itu cuma fatamorgana yang gue sengaja. Dan ini adalah realitanya. Grimona Almika Yubel, kenalin, adiknya Alvaro," ujarnya santai sambil mengunyah permen karet rasa semangka.

"Dan ..." Mika tiba-tiba mendekat ke telinga Dena. "Calon adik ipar lo," bisiknya pelan.

Lagi-lagi Dena dibuat melotot, dan jantungnya sontak berdegup dengan lebih kencang. Dena jadi celingukan.

"Lo tau?" lirihnya.

Mika mengangguk, cukup sekali tapi hal itu justru membuat Dena semakin waspada.

"Tentu! Dan menjadi satu-satunya yang tau!" sahutnya masih saja sinis.

Kini Dena mengerti! Almika adalah adiknya Alvaro. Ya sudah pasti dia tau sesuatu yang meskipun sedang dirahasiakan oleh sang kakak.

"Nanti malam lo mau dilamar kan?" tanyanya.

Dena menelan ludahnya kasar. "Kenapa emangnya?"

"Nggak apa-apa. Cuma ngingetin aja," sahut Mika.

Dena menghela napas. Bola matanya berputar penuh lalu menatap malas je arah Mika. "Nggak usah lo ingetin juga gue udah pasti inget! Lagian mana bisa gue ngelupain wajah kakak lo!" dengusnya.

Mika tertawa kecil. "Oh gitu? Bagus deh kalau lo nggak lupa," sahutnya sembari menatap Dena seperti sedang menilai sesuatu—yaitu penampilannya.

Di mata Mika, Dena itu punya wajah yang cantik alami, orangnya juga wangi. Kulitnya pun putih bersih, dan sudah pasti bertekstur lembut. Serta pula Dena ini memiliki feature wajah proporsional, yang kalau dipoles dikit aja mungkin akan terlihat jauh lebih sempurna.

Tapi? Dari segi penampilan, Dena ini kacau banget, kayak anak gadis yang nggak pernah keurus—acak-acakan.

Mulai dari lengan seragamnya yang dilinting ketinggian, lalu memakai kaus kaki dengan warna yang kontras dengan sepatunya. Apalagi dalam hal memakai aksesoris, Dena ini bisa-bisanya pede banget pake anting yang cuma di sebelah kuping.

Kalung? Jangan harap. Apalagi jam tangan yang terlilit di pergelangan tangan... dulu sih sempat punya, tapi dua-duanya udah dijual Dena demi uangnya ia pinjamkan ke Dyo.

"Ntar malem lo nggak bisa dandan lebih rapi apa?" cibir Mika sedikit nyinyir.

"Dandan rapi?"

"Iya! Minimal jangan bikin malu kakak gue di depan Mama lah!" kata Mika.

Akan tetapi Dena yang tidak suka penampilannya mendapat komentar, apalagi oleh Mika yang baru dikenalnya. Dena sontak menatapnya kesal dan hampir mencengkram erat kerah baju Mika.

Untungnya Mika segera mundur satu langkah, dan langsung terhindar dari amarah Dena yang sedang menjadi-jadi.

"Penampilan gue bukan urusan lo! Suka-suka gue lah nanti malam mau berpenampilan kayak gimana!" sembur Dena sambil melotot.

"Lo nggak berhak ngatur!" tegasnya lagi seraya menunjuk wajah Mika, persis di depan dahi.

Mika mengatur napasnya. Begitu ia tau kalau Dena lagi marah ternyata serem. Sehingga Mika yang sebelumnya ingin membalas sekarang jadi udah terlanjur malas.

"Yaudah lah," sahut Mika bersedekap dada. "Kalau begitu sampai ketemu nanti malam ya, dan jangan lupa sebaiknya lo siap-siap ..." katanya, tapi dari kalimat Mika yang seolah tidak selesai, ia seperti sengaja memberi jeda.

Dena menyipitkan mata.

"Siap-siap untuk dilamar?" lirih Dena menekan suaranya sepelan mungkin.

Mika tidak menjawab saat gadis itu justru memberinya sebiji permen karet.

Awalnya Dena enggan menerima, tapi pada akhirnya ia mau walau sambil menatap terheran-heran.

"Bukan! Tapi siap-siap untuk hal lain yang lebih besar," kata Mika.

Dena mengernyit, "Untuk hal yang lebih besar?"

"Untuk kehilangan posisi lo sebagai ratu di sekolah ini," jelas Mika pada akhirnya.

Namun, bukannya Dena paham, ia justru semakin tidak mengerti. "Gue bukan Ratu, dan apa-apaan maksud lo?"

"Bukan apa-apa... tapi?" Mika menatap ke area sekitar, ke arah para siswi yang sejak tadi terus menyapa Dena dengan cukup segan ketika lewat di depan mereka.

"Tapi apa?"

Mika lalu berbalik badan membelakangi Dena, "Tapi, cara lo sama temen-temen lo ngebully mereka itu udah ketinggalan zaman," katanya sambil jalan perlahan.

"Kayak... perundungan di zaman peralihan. Keren enggak, kuno iya. Dan sebaiknya lo berhenti!" sambung Mika.

Alis Dena reflek bertaut, menatap punggung Mika yang semakin lama semakin menjauh darinya.

"Berhenti?"

Dena juga langsung garuk-garuk kepala. "Lo ngomong apa sih? Sumpah, gue beneran nggak ngerti!"

Mika melangkah lebih pelan, lalu sambil tetap jalan ia melanjutkan perkataannya.

"Lo nggak perlu ngerti."

"Sederhananya... mulai hari ini Harina harus punya tata surya yang baru!" sahut Mika sejenak berhenti.

"Dan gue yang akan jadi mataharinya," lanjutnya jelas, tapi?

Dena masih saja tidak dapat mengerti maksud Mika. "Tata surya? Matahari? Apa sih? Lo lagi ngebahas langit?"

Mika acuh tak acuh, dan terus melangkah seolah enggan lebih memperjelas maksud perkataannya.

Dena menyeringit, terheran-heran dengan sikap Mika hingga membuatnya berkata dalam hati.

"Nih, permen kapas maunya apa sih?"

Dan begitu punggung ramping Mika sudah tak tampak. Bahu Dena tiba-tiba dicolek dari belakang.

"Dena!"

Itu suara Rola, yang sudah pasti sepaket bersama Micin yang lagi sibuk ngaca benerin bandana, biar makin kece katanya.

"Abis ngobrol sama siapa lo? Kayak serius banget?" tanya Rola.

Dena tersentak.

"Hah? Nggak ngobrol sama siapa-siapa kok," jawabnya.

"Lah, terus yang tadi itu siapa?" Rola terlihat curiga.

"Yang mana?" Dena berlagak tidak tau.

"Yang kece, yang rambutnya warna-warni kayak pelangi." Giliran Micin ikut nimbrung sambil melirik ke arah di mana Mika menghilang.

"Target baru ya?" Micin naik-naikin alis, tapi Dena buru-buru merangkul keduanya.

"Bukan!"

"Terus siapa?

"Bukan siapa-siapa. Udah, ah! Ayo buruan masuk ke kelas!" ajak Dena tanpa berpikir lama sontak menyeret kedua sahabatnya.

Rola dan Micin ya nurut aja, daripada mereka kena jambak, kan malu banget dilihat tetangga kelas.

Sementara itu dari seberang gedung kelas di lantai yang paling atas. Mika memandang mereka dengan senyuman khas sinisnya. Ketika di detik yang sama juga, ada hasrat menggelora—sekolah ini harus berputar di orbitnya.

"Mereka itu lucu ya ... kira-kira bakal nurut nggak ya kalau gue ajak main?" gumamnya sambil menekan nomor kontak kakaknya di log panggilan. Saat ia tiba-tiba teringat ada hal yang harus ia laporkan.

Tidak butuh waktu lama, telpon lantas tersambung, dan suara Alvaro juga langsung terdengar di seberang udara.

"Kenapa pagi-pagi nelpon? Ban mobil lo bocor lagi?" tanya Alvaro.

"Hih! Enggak!"

"Ketilang polisi? Bilang sama gue, lo ketilangnya di daerah mana?"

"Hih! Bukan!"

"Bukan juga? Oh ... yaudah, kalau gitu gue matiin ya," sahut Alvaro terdengar ogah-ogahan.

"Eh ntar dulu! Main mati-matiin aja!" tahan Mika.

Alvaro menguap-nguap, "Iya ada apa? Buruan ngomong, gue ngantuk!"

"Kakak bangun dulu! Masak kalah sama ayam tetangga yang udah pergi nyari makan! Malu ih!" kata Mika.

Alvaro menggeliat. "Kalau gue belum bangun, terus sekarang lo lagi ngomong sama siapa? ... ondel-ondel?" sahutnya yang justru malah semakin terdengar malas, dan Mika pun jadi tambah jengah.

"Dia ternyata nggak kabur, Kak," kata Mika to the point, daripada ondel-ondel itu semakin marah-marah.

"Ayam tetangga?"

Mika menghela napas, berat. "Kok ayam tetangga! Bukan ayam, tapi Dena! Calon istri lo tuh!"

"Dena?"

"Dia berangkat," ulang Mika.

Alvaro sontak melek, lalu berkata dengan nada tegas ke sang adik tersayang.

"Awasi terus! Dan pastikan Dena jangan sampai benar-benar kabur!" pintanya sambil kucek-kucek mata.

"Ini lagi gue awasin," ucap Mika sambil merhatiin Dena dan teman-temannya.

"Yaudah bagus, pastiin juga dia jangan sampai lepas—"

"Ee...e..ee!" tahan Mika. "Enak aja main nyuruh-nyuruh!" potongnya.

"Kenapa? Lo nggak mau disuruh kakak lo?" dengus Alvaro.

"Bukan nggak mau, tapi kakak kasih sesuatu dulu ke gue! Baru gue awasin terus calon istri lo itu!" kata Mika.

Alvaro seketika memutar kedua bola matanya malas. Lagi-lagi di saat ia hendak menyuruh adiknya ternyata tidaklah pernah gratis. Yasudah, kalau sudah begini apa boleh buat.

"Lo mau apa? Bilang aja," tanya Alvaro.

"Es krim," jawab Mika.

"Es krim doang nanti gue beliin—"

"Tapi sekalian sama tokonya!" tukas Mika.

Alvaro langsung menggeram. "Harus sama tokonya juga?!"

"Udah harga pas! Tapi, kalau nggak mau ya udah, kakak cari istri yang lain aja sana!" dengus Mika.

Alvaro menghela napas, berat. Ingin sekali marah, tapi tetap saja lebih berat untuk menolak permintaan sang adik tercinta.

Beli toko es krim? Gampang itu mah...

"Oke!"

"Beneran?"

"Iya!"

Mika langsung tersenyum, sumringah kayak baru menang undian lotre di kantin sekolah.

"Nah, gitu dong! Pokoknya kakak tenang aja. Di sini Dena aman sama gue—"

Tut!

Alvaro memutus sambungan telepon itu karena kesal.

...***...

Kalau ada lomba orang yang paling nggak niat buat menikah sedunia. Dena pasti bakal jadi juara. Atau paling tidak jadi tiga besarnya lah.

Soalnya, di saat orang lain yang hendak menikah biasanya lagi seneng-senengnya karena sebentar lagi bakal melepas masa lajang, atau paling tidak minimal lagi terharu-haru karena bakal dilamar.

Hal semacam itu ternyata tidak berlaku untuk Dena, ketika gadis itu justru malah lagi melamun di dalam kamar mandi sambil jongkok main-mainin gayung.

Sesekali gayungnya Dena isi-in air lalu diletakkan secara terbalik di atas kepala, supaya air itu ngucur perlahan-lahan melewati wajahnya.

Katanya, buat ngademin pikiran yang lagi setengah kebakar, gara-gara terlalu dalam memikirkan kehidupannya setelah menikah nanti.

Tapi?

"Udah jam segini kok gue belum dijemput? Ini beneran nggak sih gue mau dilamar?" gumamnya sambil menenggelamkan gayung itu ke dalam air.

"Wah, jangan-jangan gue cuma lagi dikerjain nih!" Pikiran Dena semakin tidak jelas mengarah kemana.

Sambil berdiri setelah selesai buang hajat, Dena lalu melepas semua pakaiannya.

"Tapi, kalau emang nggak jadi, ya nggak apa-apa juga sih! Malah bagus, gue jadi nggak perlu takut Dyo bakal tau gue diem-diem udah nikah di belakangnya."

"Kan kasihan banget kalau Dyo sampai tau."

Satu gayung penuh berisi air lalu terangkat dari ember, banjur Dena guyurkan di atas bahu biar badannya sekalian ikut adem.

Akhirnya Dena benar-benar mandi sambil menge-pump sabun banyak-banyak, lalu ia gosokan ke seluruh lekukan di tubuhnya biar bersih sekaligus wangi.

Siapa tau, habis ini ia benar-benar akan dijemput.

Bukannya Dena berharap! Tapi untuk berjaga-jaga kalau ternyata memang jadi.

Akan tetapi, Dena mendadak berhenti ketika tubuhnya sudah penuh akan busa kecuali di area muka. Ia mendadak terpikirkan sesuatu.

"Iya juga ya, kalau gue nggak jadi dinikahin, apa kabar nasib gue nanti? Gue jadi nggak bisa minta mahar gede dong!" Dena bengong.

"Atau malah yang paling buruknya, tuh Om-Om nyebelin justru malah bikin gue ketemu sama perempuan jalang pengincar warisan itu!" curiganya.

"Secara, Om Varo kan kenal sama dia!" Sekilas Dena langsung terbayang wajah menyebalkan ibu tirinya.

"Ihh, amit-amit! Nggak ah, jangan sampai!" Dena jadi komat-kamit sambil mengetuk-ngetuk dengkulnya.

"Lagi pula itu juga nggak mungkin!"

"Mana mungkin Om Varo sengaja mau menjebak gue atau udah kerja sama dengan perempuan jalang itu?"

"Memangnya ada untungnya buat Om Varo? Kenal gue juga enggak!"

Dena meyakini hal itu karena ia merasa Alvaro yang seorang CEO, seharusnya tidak mungkin sekurang kerjaan itu untuk bekerja sama dengan ibu tirinya, yang bahkan bukan siapa-siapa.

Dena kemudian menduga. "Alah! Palingan juga tawaran nikah yang kemarin itu cuma akal-akalan Om Varo doang, yang cuma kebetulan tau masalah gue, terus manfaatin itu buat ngerjain!"

Dena mendadak jengkel.

"Hm... Lucu lo, Om!" dengus Dena seraya kembali melanjutkan ritual mandinya sebelum hari semakin larut.

Byur!

...***...

Sesudah selesai, Dena berniat untuk segera keluar dari dalam kamar mandi sebelum tubuhnya menggigil kedinginan.

Di kondisi tubuhnya yang hanya dililit handuk tipis warna biru, biasanya cukup rawan bikin masuk angin.

Namun, baru satu satu langkah Dena keluar dari sana, langkah kecilnya mendadak terhenti.

Dena membeku—matanya membola, wajahnya langsung memerah.

Ketika tanpa Dena duga, dua orang pria asing dengan setelan rapi tiba saja sudah ada di dalam kamarnya, bahkan masuk tanpa kata permisi.

Dena menatapnya sekilas. Badan mereka tinggi besar dan kekar-kekar. Wajah mereka juga terlihat mirip satu sama lain.

Bedanya, salah satu dari mereka adalah seorang pria berambut pendek yang dicat berwana pirang. Pria itu terlihat berdiri tenang di dekat jendela.

Cetek!

Cetek!

Cetek!

Sementara pria yang satunya lagi adalah seorang pria berkacamata hitam, dengan rambut hitam panjangnya yang dikuncir rapi. Pria itu terlihat berdiri di dekat pintu sembari salah satu tangannya memainkan tutup korek api.

"Aaaaaaaa!" Dena kemudian berteriak sekencang-kencangnya sambil buru-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk bersembunyi—membanting pintu.

Brak!

Suara benturan itu mengagetkan dua pria asing yang tadi, kemudian mereka menoleh ke arah di mana tempat Dena bersembunyi dengan raut wajah tanpa ekspresi.

"Nona Dena?" Suara pria itu terdengar.

"Apakah itu Anda?" tanyanya.

Sesaat terjadi senyap, sampai akhirnya Dena bersuara.

"Iya, saya Dena. Tapi kalian ini siapa? Dan kenapa ada di dalam kamar saya?!" pekik Dena dari balik pintu.

"Kami ditugaskan Tuan kami untuk menjemput Nona," jawab pria berambut pirang.

"Tuan Alvaro, dan beliau sudah menunggu," imbuh pria yang satu.

Dari dalam Dena dapat mendengar kalimat itu. Sangat terdengar jelas, mereka barusan menyebut nama 'Alvaro'.

Dena sedikit tersentak lalu jadi berkedip pelan.

"Tuan Alvaro? ...Serius."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!