Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tangan Ketiga
18 Juni 2025. Pukul 20.00 WIB.
Apartemen Alina, Jakarta.
Koper Alina sudah terbuka di atas tempat tidur. Dia sedang memasukkan baju-baju untuk perjalanan ke Surabaya besok pagi. Tiket kereta eksekutif Argo Bromo Anggrek sudah ada di dalam aplikasi ponselnya.
Alina bertekad. Dia akan mencari "Miko". Dia akan menyisir setiap sudut Pelabuhan Tanjung Perak sampai menemukan pria berkumis yang menulis puisi di koran itu.
TAK.
Bunyi itu menghentikan gerakan tangan Alina yang sedang melipat kemeja.
Dia menoleh ke meja kerja. Mesin tik Remington yang sudah membisu selama enam bulan itu... baru saja bersuara.
Jantung Alina melompat kegirangan. "Arya?"
Dia berlari mendekat. Apakah Arya berhasil mendapatkan mesin tiknya kembali? Apakah dia menyusup ke gudang polisi?
Alina membungkuk melihat kertas yang sudah dia pasang sejak lama sebagai "jaring penangkap".
Huruf yang tercetak di sana terlihat ragu-ragu. Tekanannya tidak merata—kadang terlalu keras sampai kertasnya nyaris bolong, kadang terlalu lemah sampai tintanya samar. Ini bukan ketikan Arya yang berirama staccato dan percaya diri.
> M a s A r y a . . .
> A p a k a h d i n g i n d i s a n a ?
>
Darah Alina berdesir.
Mas Arya.
Arya tidak pernah menyebut dirinya sendiri "Mas" saat mengetik. Dan dia tidak pernah bertanya "apakah dingin" pada dirinya sendiri.
Ini orang lain.
Ingatan Alina melayang pada email Prof. Hendrik.
Sarsinah.
Wanita itu... tunangan yang ditinggalkan Arya... dia membeli mesin tik ini.
Alina menutup mulutnya dengan tangan. Dia merasa seperti sedang mengintip privasi orang lain. Sarsinah sedang mencoba berkomunikasi dengan arwah Arya, mengira mesin tik ini bisa menyampaikan rindu ke alam baka.
Dan ironisnya, dia benar. Pesannya sampai ke "alam lain"—yaitu masa depan.
Di kertas itu, tulisan berlanjut. Lambat. Penuh jeda.
> Saya beli mesin ini di Pasar Baru kemarin, Mas.
> Uangnya dari jual kalung emas Ibu.
> Saya cuma mau belajar nulis. Siapa tahu kalau saya pintar nulis kayak Mas, Mas bakal mau ngobrol sama saya lagi, walau cuma lewat mimpi.
>
Air mata Alina menetes. Ketulusan wanita ini begitu menyakitkan. Dia menjual kalung ibunya hanya untuk membeli benda bekas yang pernah disentuh Arya.
Sarsinah mengetik lagi.
> Mas... orang-orang bilang Mas mati dimakan buaya.
> Tapi saya kok nggak percaya ya?
> Hati saya bilang Mas masih hidup. Mas cuma pergi jauh.
> Mas... kalau Mas baca ini... tolong kasih tanda. Apa saja.
>
Alina terpaku.
Ini berbahaya.
Sarsinah punya firasat kuat. Jika Alina diam saja, Sarsinah mungkin akan terus mencari, terus berharap, dan menghabiskan hidupnya dalam penantian sia-sia. Padahal sejarah mencatat dia seharusnya menikah dengan guru desa tiga tahun lagi (1934).
Jika Sarsinah terus mengejar bayangan Arya, dia tidak akan bertemu guru desa itu. Silsilah keluarganya akan berubah. Cucu-cucunya di masa depan tidak akan pernah lahir.
Alina harus melakukan sesuatu. Dia harus mematikan harapan itu, demi kebaikan Sarsinah sendiri.
Tapi sebagai siapa?
Jika dia menjawab sebagai Arya: "Aku masih hidup", Sarsinah akan nekat mencarinya.
Jika dia menjawab sebagai Alina: "Halo, saya dari masa depan", Sarsinah akan pingsan atau mengira dia hantu jahat.
Alina menarik napas panjang. Dia harus bersandiwara. Dia harus menjadi "suara hati" atau mungkin... malaikat pencabut harapan.
Alina meletakkan jarinya di atas tuts. Dia mencoba meniru gaya bahasa Melayu lama yang kaku, berbeda dengan gaya Arya.
> Sarsinah...
>
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
mau marah ke orang yang sedang kasmaran itu kog yo ndak tega😄.
cinta kadang membuat orang bodoh dan ahh ...sudahlah.
Sarsinah, terimakasih berkat kenekatanmu mesin itu kembali bertemu pemiliknya.
Bagaimana rasanya jika nanti kamu ikut membaca semua kata cinta Arya untuk Alina?
mungkin nanti ini jalan keluar terbaik, meski harus babak belur hatimu Sarsinah.
Lanjutkan sejarah bahwa kau bahagia dengan Sudiro, punya putra putri dan cucu.
Yakinlah kebahagiaan itu di ciptakan sarsinah ,bukan datang sendiri.
doktrin dirimu, doktrin otakmu bahwa kau akan bahagia meski awal berlayar akan banyak ombaknya
masa lalu yang tua tak mau mengalah begitu saja.
masa depan yang muda ngotot mempertahankan sesuatu yang ghoib.
Cinta memang suatu kekuatan maha dahsyat.
Beruntungnya Arya di cintai dua wanita cerdas di masanya.
Atas dasar cinta ,tindakan kecil menimbulkan kecerobohan.
kecurigaan dan rasa yang masih membara mencoba mencari jawaban.
Semoga perang rasa ini ,tidak membunuh ketiganya dalam kehampaan .
kehancuran dan terbongkarnya kedok "mati" ala Arya dan di sutradarai Alina🤣
hayooo kira2 dengan cara apa supaya alur sejarah tidak berubah drastis dan masih berjalan di rel yang benar.
kerinduan yang terasa hendak berkarat.
naluri perempuan yang kadang terkesan hebat.
Yang tercinta ,susah payah menyembunyikan identitas.
Yang mencinta kalang kabut mencari cara untuk bisa berkomunikasi.
Bertemu dengan beban yang mencuat
rindu yang terpaksa di padam kan ,demi sebuah hati yang lain.
kerumitan baru segera muncul ,apakah alina rela memberitahu sarsinah bahwa arya masih hidup??
menunggu kelanjutannya thor
hidup berjalan sesuai realita, menikah ,punya anak cucu dan bahagia di usia senja adalah impian semua makhluk hidup, termasuk Arya sekalipun mungkin tak dapat bersama .
bagaimana jadinya kalau ,si mata satu tidak membunuh dengan menembak? tapi menikam dengan belati tajam dan berkarat? terjadi tetanus justru akan efektif mencabut nyawa ...
Meski rumit tapi semangat lah mengobrak abrik takdir yang coba kalian lawan. ..
semoga takdir mau berbaik hati ,membelokkan sekian detik nasib Raden mas Arya ...
dan jalinan lintas dimensi ini ikut abadi di abad beda
rasa takut kehilangan itu wajar adanya
hari2 kosong ,tiba-tiba terisi dan ketika akan habis masa nya ,maka hati lah yang bicara
tak peduli logika diantara ada dan tiada tapi kau terasa nyata.
salah kah jika ada harapan untuk bisa bersama, walau itu mustahil
Semua memenuhi rongga dada ,hingga sesak mendera