Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Pengkhianatan
Malam itu ada sebuah desa kecil di lereng perbukitan terlihat begitu gemerlap, meskipun hanya diterangi lampu obor. Seorang gadis cantik menari dengan gemulai membuat puluhan mata menatap takjub ke arahnya. Sri Sundari gadis manis yang menjadi pujaan para jejaka desa menunjukkan sebuah tari apik yang membuat semua orang berdecak kagum padanya.
Dari kejauhan seorang pemuda kurus dengan penampilan lusuh tak berkedip menatapnya, dia adalah Joko teman sekaligus sahabat dekat Sri. Jantungnya selalu berdegup kencang saat menatap netra gadis manis itu. Namun sayangnya ia tak punya keberanian untuk menyatakan perasaannya. Wajar saja, Sri adalah putri seorang kuwu sedangkan Joko hanya putra seorang petani miskin.
Sri segera menghampirinya saat ia turun dari panggung. Saat Joko hendak menyampaikan sesuatu kepadanya, Ibu Sri datang mendekat.
"Nduk, ada yang mau ketemu?" ucap wanita itu lembut
"Siapa?" Sri menjawab dengan nada penasaran
"Mas Anggoro dan putranya?"
"Agung, mau apa dia ketemu sama aku, sama bapaknya lagi!"
Sri tampak ketus. Ia tampak tak suka saat mendengar Agung ingin menemuinya.
"Ya, mau membicarakan pernikahan kalian toh, dia mau melamar kamu!"
Wajah Sri seketika memerah mendengar ucapan sang Ibu. Bukan hanya Sri Joko justru merasakan tubuhnya tiba-tiba lemas. Seperti ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya hingga ia merasakan sakit saat mendengar wanita pujaan hatinya akan dilamar oleh seseorang.
Namun ia berusaha tegar dan menyembunyikan ekspresi sedihnya. Ia bahkan membantu membujuk Sri agar mau pulang untuk menemui Agung.
"Temui dia dulu, kalau nanti kamu mau terima atau tidak kan bisa dibicarakan baik-baik, yang penting pulang dulu ya. Temui dia!" bujuk Joko dengan senyuman yang di paksakan
Ada gurat kesedihan saat melihat tatapan kecewa Sri. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Yowes kalau kamu mau nya gitu!" sahut Sri dengan nada kesal
Gadis itu segara berbalik dan meninggalkannya.
"Suwun yo le, kowe memang paling iso mbujuk Sri," ucap Lasmi sumringah
Malam itu Joko tak bisa tidur, ia terus memikirkan ucapan Lasmi. Lamaran Agung membuat pikirannya terus bergulat hingga membuatnya terjaga sepanjang malam.
"Le, kamu gak tidur??"
Suara Pranyoto membuat Joko langsung tersadar dari lamunannya.
"Gak bisa tidur Pak," jawabnya singkat
"Kenapa??"
"Bapak bisa gak bikin Sri suka sama aku, atau keluarga nya suka sama aku??"
"Itu sih gampang le, emangnya kenapa??"
"Sri mau di lamar sama Agung, aku gak terima Pak. Bapak kan tahu aku suka sama Sri, jadi aku gak mungkin membiarkan Sri kawin sama Agung, berandalan kampung yang sok jagoan itu!"
Pranyoto terkekeh mendengar jawaban putra semata wayangnya.
"Bapak bisa saja melakukan semua yang kamu minta, bagi bapak itu adalah perkara yang mudah. Tapi pertanyaannya, pernikahan yang di dasari dengan pelet itu tidak akan berakhir bahagia, bapak buktinya," Pranyoto menerawang
Lelaki tua itu mengambil sebuah rokok linting kemudian menyalakannya.
"Ibu??"
Pranyoto mengangguk pelan.
"Kalau memang Sri itu jodoh kamu, meskipun dia mau dinikahin dengan siapapun pasti gagal, dia bakalan jadi istri kamu, kalaupun dia memang bukan jodoh kamu berarti ada yang lebih baik dari dia untuk kamu,"
"Mana ada yang mau sama aku, udah jelek, kerempeng miskin lagi!" jawab Joko mendengus kesal
"Lah memangnya Sri mau sama kamu??" Pranyoto balik bertanya
"Gak tahu, tapi... Cuma dia yang ngertiin aku, dan mau menerimaku apa adanya,"
"Hmm, nrimo bukan berarti tresno, kowe kudu paham le,"
Joko mengangguk, ia kemudian merebahkan tubuhnya.
*************
Pagi itu Sri tampak gelisah menunggu di depan gerbang sekolah. Beberapa orang temannya menyapanya namun ia tak menghiraukannya. Ia terus terpaku menatap parkiran sepeda. Wajahnya tampak gusar saat tak menemukan apa yang di carinya.
"Belum datang juga, apa dia sakit ya??" Sri meremas-remas tangannya
" Selamat Pagi calon istri,"
Agung melambaikan tangannya dengan wajah sumringah.
Sri buru-buru bergegas pergi saat melihat pemuda itu mendekat kearahnya.
"Loh, kok malah pergi!"
Agung buru-buru berlari mengejarnya. Lelaki itu meraih lengan Sri. Gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan Agung, namun pemuda itu semakin kuat mencengkram lengannya.
"Kamu itu calon istriku, gak boleh nolak kalau ku gandeng!" seru Agung menatapnya dengan senyuman penuh kemenangan
Setibanya di depan kelas semua siswa tertegun melihat keduanya.
"Wah beneran Sri akan menikah dengan Agung, beruntung sekali dia ya,"
"Iya, dapat suami kaya, tampan, populer, jagoan lagi!!"
Terdengar riuh para siswi perempuan membicarakan keduanya membuat Agung semakin angkuh.
Tidak lama Joko sampai di kelas. Sri langsung melepaskan tangan Agung dan duduk di samping Joko.
"Kenapa terlambat, kamu sakit??" tanyanya khawatir
Joko hanya menggeleng.
"Terus??"
"Gak popo, cuma gak bisa tidur jadi kesiangan bangunnya," jawab Joko
Sri menatapnya sedih. Ia berpikir jika Joko susah tidur karena perjodohan nya. Ia semakin merasa bersalah dan berkali-kali minta maaf hingga membuat Agung kesal. Ia langsung menarik kasar Sri menjauh dari Joko. Tentu saja hal itu membuat Sri semakin kesal padanya. Sri langsung memarahinya membuat Agung semakin naik pitam.
"Kamu ini apa-apaan sih, jangan-jangan kamu sudah di pelet sama Si Joko, makanya sampai segitunya belain dia!" tandas Agung membuat bola mata Sri nyaris keluar.
"Jangan sembarangan ngomong kamu!" seru Sri
"Semua orang tahu kalau Bapak dan Kakek Joko itu adalah Dukun, jadi wajar saja. Lagipula mana ada sih cewek cantik yang mau sama cowok jelek dan miskin kaya dia, kalau bukan karena pelet!" jawab Agung
"Dan satu lagi, Kamu tahu gak kalau ibunya Joko itu pergi meninggalkan Joko karena peletnya sudah hilang!" imbuhnya
Wajah Joko menegang. Tangannya mengepal namun ia berusaha menahan emosinya yang mulai meletup-letup.
"Kenapa, kamu gak terima!" seru Agung sengaja memancing kemarahan Joko.
Joko berusaha mengatur nafasnya, dadanya semakin panas. Ucapan Agung membuatnya benar-benar kesal hingga ingin meninjunya. Namun baru saja ia akan melayangkan pukulannya, kaki Joko lebih dulu mengenai perutnya.
Joko terjungkal. Suara teriakan siswi perempuan membuat suasana semakin gaduh. Beberapa siswa keluar mencari aman, dan melaporkan kejadian itu kepada Guru.
Joko babak belur di hajar Agung dan kawan-kawannya. Sri tak bisa bergeming karena Agung menyuruh anak buahnya untuk menahan gadis itu.
Tidak lama seorang guru datang melerai mereka.
Joko dan Agung di bawa ke ruang guru. Agung terus bersikeras jika ia melakukan semuanya karena Joko yang memulainya.
Dengan arogan Agung bahkan menelpon ayahnya yang seorang camat untuk datang ke sekolah.
Joko terancam di keluarkan dari sekolah karena berurusan dengan anak Camat. Satu-satunya saksi yang bisa menyelamatkannya adalah Sri. Namun Joko tak mau melibatkan wanita yang di cintai nya itu. Hingga Sri membuat sebuah pengakuan yang mengejutkan.
"Joko yang memulainya??" ucap Sri dengan wajah datar
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃
lalu kamu mau apalagi lhooo Joko ???
kenapa kamu masih aja belum merasa puas👉👈
jaadiiii.... secara tak langsung Maryati juga ikutan menelan darah itu donk😱😱😱
selama 2 bulan, mata kanan Joko mengeluarkan darah lalu dokter juga udah memvonis jika matanya Joko membusuk😭😭😭
tentu aja hal ini yang membuat Maryati semakin sedih
kenapa mata kanan Joko terus-menerus mengeluarkan darah saat barusan dilahirkan 👉👈