NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semburat Fajar dan Bara Cemburu

Udara pagi di perbukitan menyusup melalui celah jendela, membawa kesegaran yang kontras dengan kehangatan di dalam kamar utama The Dendra Foundation. Jarum jam belum menyentuh angka enam, namun Luna sudah membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah dekapan posesif dari lengan kokoh yang melingkari pinggangnya. Ia menoleh perlahan, mendapati wajah Isaac yang tampak begitu tenang dalam tidurnya. Guratan kelelahan yang kemarin terlihat jelas kini sedikit memudar, seolah tidur di samping Luna adalah obat yang paling mujarab.

Luna tersenyum tipis, sebuah perasaan syukur yang meluap-luap memenuhi dadanya. Ia memutar tubuhnya perlahan, membalas pelukan itu dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Ia menghujani wajah Isaac dengan ciuman-ciuman kecil penuh kasih sayang, mulai dari kening hingga rahangnya yang tegas.

Yakin bahwa suaminya masih terlelap dalam mimpi yang nyenyak, Luna memberanikan diri untuk berbisik. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Isaac, menyuarakan isi hatinya dengan nada bercanda yang sedikit nakal—sesuatu yang hanya berani ia lakukan jika ia mengira lawan bicaranya tidak mendengar.

"Mas... kau tahu tidak? Aku merasa sangat pengecut jika harus mengatakannya saat kau bangun," bisik Luna pelan, jemarinya memainkan kancing piyama Isaac. "Dulu aku selalu beralasan tidak ingin hamil karena ingin fokus mengurus lima belas anak panti. Tapi sekarang, melihatmu pulang dengan kondisi seperti kemarin, aku sadar... aku ingin memiliki bagian kecil dari dirimu yang tumbuh di dalam rahimku. Aku ingin kita memiliki anak biologis kita sendiri."

Luna terkekeh kecil, merasa geli dengan pengakuannya sendiri. "Beruntunglah kau sedang tidur, jadi kau tidak bisa menggoda wajahku yang memerah sekarang."

Namun, di luar dugaan Luna, sudut bibir pria yang dikiranya tertidur itu perlahan terangkat. Isaac tidak langsung membuka mata, namun sebuah senyuman penuh kemenangan tersungging di wajahnya.

"Oh, benarkah begitu, Istriku?" suara berat Isaac memecah keheningan pagi, terdengar sangat terjaga. Ia membuka matanya yang berkilat jenaka, menatap Luna yang langsung mematung karena terkejut. "Tampaknya kau baru saja masuk ke dalam jebakanku, Luna. Aku sudah bangun sejak kau mulai menciumi keningku tadi."

Wajah Luna seketika memerah sempurna, persis seperti dugaannya tadi. "Mas! Kau... kau pura-pura tidur?"

Isaac tertawa rendah, sebuah suara yang sangat dirindukan Luna. Ia membalikkan posisi mereka, memerangkap Luna di bawah kungkungannya dengan gerakan yang sangat tangkas meski tubuhnya belum pulih sepenuhnya. "Kenakalanmu pagi ini harus dibayar mahal, Nyonya Isaac. Jadi, kau benar-benar siap untuk memberikan 'adik' bagi anak-anak panti kita?"

Isaac membalas godaan Luna dengan kenakalan yang serupa, menghujani leher Luna dengan napas hangatnya yang membuat Luna kegelian sekaligus tersipu malu. Namun, di tengah suasana romantis yang baru saja terbangun, Isaac teringat akan sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak semalam.

Ia melepaskan kunciannya, lalu meraih ponsel Luna yang berada di meja nakas. "Bicara soal rahasia, ada sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal semalam. Pesannya terdengar sangat akrab."

Luna mengernyitkan keningnya, rasa bingungnya tampak sangat tulus. "Pesan? Dari siapa? Aku tidak merasa sedang menunggu pesan dari siapa pun di kota."

Mereka berdua duduk bersandar pada kepala ranjang, menatap layar ponsel yang menyala. Dengan persetujuan Luna, Isaac membalas pesan tersebut dengan nada formal: "Maaf, ini dengan siapa?"

Tak butuh waktu lama bagi lawan bicara di seberang sana untuk membalas. Sebuah nama muncul di layar, membuat suasana kamar yang hangat tiba-tiba mendingin seketika.

[Pesan Terbalas]

"Ini Adrian, Luna. Maaf jika aku mengganggumu pagi-pagi sekali. Apa kau lupa dengan sahabat lamamu ini?"

Adrian. Nama itu seolah menjadi pemantik api yang membakar ketenangan Isaac. Pria berambut cokelat, bertubuh tinggi, dan memiliki pembawaan yang selalu percaya diri. Adrian adalah sahabat lama sekaligus mantan rekan bisnis Luna yang kehadirannya di masa lalu—saat Isaac dan Luna baru saja dijodohkan—sempat menciptakan badai kecemburuan yang hebat di hati Isaac.

Isaac terdiam membisu, rahangnya mengatup dengan sangat keras hingga urat di lehernya menonjol. Sorot matanya yang tadinya lembut kini berubah menjadi tajam dan dingin saat menatap layar ponsel itu. Bayangan masa lalu tentang bagaimana Adrian selalu berusaha mencuri perhatian Luna kembali berputar di kepalanya.

Luna menyadari perubahan drastis pada suaminya. Ia melihat tangan Isaac yang menggenggam ponsel dengan sangat erat, seolah ingin meremukkan benda itu. Merasa khawatir, Luna segera memeluk lengan Isaac, mencoba meredam amarah yang mulai berkobar.

"Mas, dengarkan aku. Aku benar-benar sudah lupa tentang percakapanku dengannya di masa lalu. Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba menghubungiku lagi," ujar Luna dengan suara yang menenangkan. "Hapus saja percakapannya, blokir nomornya, lalu hapus kontaknya dari ponselku. Aku tidak butuh hubungan bisnis atau persahabatan apa pun dengannya jika itu membuatmu merasa seperti ini."

Isaac tidak menjawab, namun ia melakukan apa yang diminta Luna dengan gerakan yang sangat tegas. Ia memblokir kontak tersebut dan menghapus seluruh riwayat pesan dengan satu kali tekan. Meski begitu, aura dingin masih terpancar dari tubuhnya. Sisi posesifnya kembali bangkit dengan kekuatan penuh.

Ia meletakkan ponsel itu dengan sedikit kasar kembali ke meja nakas, lalu membuang muka, menatap ke arah jendela. Ia masih merasa tidak nyaman dengan fakta bahwa pria itu mencoba mendekati istrinya kembali saat ia sedang tidak ada di rumah.

Luna menatap profil wajah suaminya yang sedang merajuk itu. Bagi orang lain, wajah tegas Isaac mungkin menakutkan, namun bagi Luna, melihat suaminya cemburu buta seperti ini justru terlihat sangat menggemaskan. Ia tahu bahwa kecemburuan ini adalah manifestasi dari betapa besarnya rasa cinta Isaac padanya.

Luna mendekat, menyandarkan dagunya di bahu Isaac, lalu meliriknya dengan tatapan menggoda. "Wah, lihatlah arsitek hebat kita ini. Ternyata dia masih bisa dikalahkan oleh satu nama dari masa lalu?"

Isaac tetap diam, meski sudut matanya sedikit melirik ke arah Luna.

"Padahal semalam dia baru saja memenangkan proyek di Swiss dan Singapura," lanjut Luna sembari mencolek dagu Isaac. "Tapi sekarang, dia kalah hanya karena pesan teks dari pria berambut cokelat? Mas, kau terlihat sangat lucu jika sedang cemburu seperti ini."

"Aku tidak cemburu, Luna. Aku hanya tidak suka orang asing mengganggu ketenangan keluargaku," bantah Isaac dengan suara yang dibuat sedatar mungkin, meski ia tidak bisa menyembunyikan nada kesal di sana.

Luna tertawa kecil, ia memeluk leher Isaac dari belakang dan mencium pipinya berkali-kali. "Tentu saja kau cemburu, Mas. Dan aku sangat menyukainya. Itu berarti kau masih sangat mencintaiku, bukan?"

Isaac akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia menghela napas panjang, lalu berbalik dan menatap Luna dengan sorot mata yang kembali melunak, meski masih ada sisa-sisa bara di sana. Ia menarik Luna ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat posesif.

"Kau hanya milikku, Luna. Jangan pernah berikan ruang bagi siapa pun untuk masuk kembali, mengerti?" bisik Isaac dengan nada protektif yang mutlak.

"Hanya milikmu, Mas. Selamanya," jawab Luna tulus.

Pagi itu, drama kecil tentang masa lalu berakhir dengan sebuah pelukan yang lebih erat. Meski rasa cemburu masih tersisa sedikit di hati Isaac, namun ia sadar bahwa tidak ada ruang bagi Adrian atau siapa pun di dalam hati Luna yang kini telah penuh dengan namanya. Di bawah cahaya fajar yang semakin terang, mereka kembali merajut janji baru, mengabaikan gangguan dari luar demi menjaga keutuhan rumah yang telah mereka bangun dengan penuh perjuangan di atas bukit itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!