Lucifer Azrael — Raja Dunia Bawah berkedok pengusaha. Sadis, dingin, mustahil disentuh. Tuhan pun seolah dia tantang.
Florence Beatrix — gadis panti yang seharusnya mati setelah jadi saksi transaksi gelapnya. Tapi Lucifer melanggar aturan: dia mengurung Florence di pulau pribadinya.
"Selamat datang di kurunganmu, Florence Beatrix. Di sini, aku adalah Tuhan."
Di pulau tanpa jalan keluar, Florence benci sekaligus takut. Tapi perlahan dia lihat retaknya: Lucifer selalu menatap salib di lehernya terlalu lama. Raja Dunia Bawah yang kejam, ternyata hafal ayat Mazmur karena masa lalu yang dia kubur dalam darah.
Ini bukan kisah cinta manis. Ini tentang gadis panti yang berdoa di kurungan mewah, dan mafia yang mulai bertanya apakah neraka miliknya bisa ditukar dengan surga di mata Florence
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa Sefia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utang nyawa
Seminggu setelah demam itu, Florence sudah bisa jalan lagi.
Tubuhnya masih lemas, tapi mata coklatnya sudah nyala lagi. Menyala benci, curiga, dan... sesuatu yang lain yang dia tolak akui.
Lucifer tidak muncul selama dia sakit. Hanya dokter, pengawal, dan makanan hambar yang dikirim. Tepat seperti yang dia bilang: Aku benci ngurus orang sakit. Buang-buang waktu.
Sampai hari ini.
Florence duduk di teras, memandangi laut. Mawar di vas kamarnya sudah diganti. Bukan sama Lucifer. Sama pelayan. Mawar baru, merah, segar. Pesannya jelas: Barang rusak sudah diganti baru.
“Sehat?”
Suara itu bikin bulu kuduk Florence berdiri. Lucifer. Kemeja hitam, celana hitam, jam tangan miliaran. Dia duduk di kursi seberang tanpa diundang. Di tangannya ada tablet, layar menyala. Grafik, angka, laporan.
Florence tidak jawab. Dia genggam salibnya erat.
Lucifer tidak peduli. Dia geser tablet ke depan Florence. “Lihat.”
Di layar: tagihan rumah sakit. Nama: Florence Beatrix. Total: $287,450. Rinciannya lengkap — dokter 24 jam, obat impor, infus, bahkan biaya helikopter standby kalau dia kritis.
“Dokter. Obat. Waktu orang-orangku.” Lucifer menatapnya datar. “Semua ada harganya di duniaku. Termasuk nyawa.”
Jantung Florence jatuh. Ini dia.
“Kamu... mau aku bayar?” suaranya tercekat.
Lucifer menyender. Mata birunya dingin. “Kamu punya uang? Panti asuhanmu bahkan ngos-ngosan bayar listrik.”
Penghinaan itu disengaja. Untuk ngingetin Florence siapa yang berkuasa.
“Jadi, kita pakai sistemku.” Lucifer mengunci layar tablet. “Utang nyawa dibayar nyawa. Kamu hidup karena aku. Artinya waktumu, tenagamu, tubuhmu... punyaku. Sampai aku bilang lunas.”
Florence menggigit bibir sampai berdarah. “Aku bukan barang.”
“Kemarin kamu bilang kamu mawar layu,” Lucifer mengingatkan kejam. “Sekarang kamu mawar baru. Mawar baru harus berguna. Kalau tidak, buat apa aku siram?”
Dia berdiri. “Mulai hari ini, kamu ikut aku. Ke mana pun aku pergi. Kamu lihat duniaku. Kamu belajar aturanku. Itu cicilan pertama utangmu.”
"Kantor Neraka"
Hari pertama ‘cicilan’. Lucifer bawa Florence ke kantor pribadinya di vila. Ruangan penuh layar monitor, brankas, dan peta dunia dengan pin merah.
Florence disuruh duduk di sofa, diam. Lucifer rapat dengan anak buahnya, bahas pengiriman, wilayah, pengkhianat. Kata ‘bunuh’, ‘habisi’, ‘bersihkan’ keluar dari bibir Lucifer semudah dia ngomong ‘kopi’.
Tapi di tengah rapat, Lucifer tiba-tiba berhenti. Dia melirik Florence. Gadis itu pucat denger pembahasannya.
Tanpa kata, Lucifer melepas jasnya, melempar ke pangkuan Florence. “Dingin. Pakai.”
Jas itu kebesaran, bau mint dan bahaya. Tapi hangat. Florence mau nolak, tapi mata biru itu ngasih ancaman: Bantah \= mati.
Dia pakai. Rapat lanjut.
Kenangan Florence: Itu pertama kalinya dia ngasih aku sesuatu tanpa aku minta. Tapi caranya... seperti ngasih selimut ke anjing biar tidak mati kedinginan dan tidak bisa jaga rumah.
Kenangan Lucifer: Dia menggigil. Mengganggu konsentrasi. Aset kedinginan itu tidak efisien.
Malam di Helipad
Minggu kedua. Lucifer harus ke New York, dadakan. Dia seret Florence ikut ke jet pribadi.
Di helipad, angin kencang. Rambut Florence berkibar, dia takut ketinggian.
Lucifer jalan duluan, naik ke helikopter. Baru sadar Florence diam di bawah, pucat.
Dia turun lagi. Tanpa ngomong, dia lingkarkan satu tangannya ke pinggang Florence. Menariknya rapat ke tubuh kekarnya.
“Tutup mata,” perintahnya di telinga Florence, biar kalah sama suara baling-baling. “Aku tidak akan jatohin barangku.”
Sepanjang naik, Florence merem, wajahnya nempel di dada Lucifer. Detak jantung Lucifer cepat. Marah? Atau apa?
Sampai di dalam, Lucifer langsung lepasin, duduk berjauhan. Seolah jijik.
Kenangan Florence: Pelukannya erat. Aman. Tapi habis itu dia buang aku kayak kuman. Aku cuma barang yang tidak boleh lecet sebelum sampai tujuan.
Kenangan Lucifer: Kalau dia jatoh, utangnya lunas terlalu cepat. Rugi.
Makan Malam Dipaksa
Malam ketiga. Lucifer makan malam di dining room. Steak, wine, lilin. Florence disuruh duduk di seberangnya. Lagi.
“Kamu tidak makan dari siang,” Lucifer tidak nanya. Dia tahu dari laporan pengawal. “Makan.”
“Aku tidak lapar,” jawab Florence pelan.
Pisau Lucifer berhenti motong steak. Dia angkat wajah. “Utang nyawa, Florence. Kalau kamu mati kelaparan, siapa yang bayar tagihan $287,450 itu? Hah?”
Dia ambil piring Florence, potong steak jadi kecil-kecil. Dorong piring itu balik ke Florence. Kasar.
“Makan. Sekarang. Itu perintah. Aku tidak ngulang.”
Florence makan dengan air mata. Benci.
Kenangan Florence: Dia tidak peduli aku lapar atau tidak. Dia peduli investasinya jangan mati konyol.
Kenangan Lucifer: Dia harus makan. Dia kurus. Aset kurus itu gampang sakit. Sakit \= biaya lagi.
Hari ini, kembali ke teras. Setelah Lucifer ngingetin utangnya.
“Jadi apa cicilan hari ini?” Florence akhirnya bersuara. Nada datar. Pasrah.
Lucifer menatapnya lama. Mawar baru di meja antara mereka. Segar. Merah.
“Hari ini...” Lucifer berdiri, melangkah ke samping Florence. Terlalu dekat. “Hari ini cicilannya adalah... kamu berhenti lihat aku seperti aku monster.”
Florence kaget. Menoleh.
“Karena kalau kamu terus lihat aku begitu,” bisik Lucifer, jemarinya mengangkat dagu Florence lagi, sama seperti di kapel dulu. Tapi kali ini tidak ada marah. Hanya dingin yang membingungkan, “kamu tidak akan pernah lihat... kalau monster ini yang nyelamatin kamu dari demam. Yang nyelimutin kamu. Yang mastiin kamu tidak mati.”
Jempolnya mengusap bibir bawah Florence. Pelan. Sangat pelan. Beda dari ciuman paksa kemarin.
“Tapi kamu benar,” lanjutnya, lepasin dagu Florence seolah jijik sama kelembutannya sendiri. “Kamu cuma barang. Barang yang... untuk sekarang, tidak boleh lecet.”
Dia berbalik, jalan pergi. Ninggalin Florence dengan jantung perang.
Kenangan Florence: Dia bilang aku barang. Tapi kenapa dia ingat aku tidak suka dingin? Kenapa dia motongin steakku? Kenapa tangannya gemetar waktu ngompres aku?
Kenangan Lucifer: Sialan. Kenapa bayar utang nyawa gadis ini... rasanya seperti aku yang berutang?
Utang nyawa dibayar nyawa. Tapi siapa yang sebenarnya jadi tahanan di sini?