Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12
Tiga bulan di pesisir telah mengubah fisik Arkan. Kulitnya yang dulu putih bersih kini kecokelatan terbakar matahari, tubuhnya lebih tegap, dan sorot matanya lebih tajam.
Ia turun dari mobil jemputan di depan kantor pusat dengan langkah gagah. Di tangannya, ia menggenggam plakat penghargaan sebagai Manajer Proyek Terbaik Tahun Ini atas keberhasilannya menyelamatkan proyek pesisir yang nyaris mangkrak.
Arkan merasa telah menebus dosanya pada perusahaan dan secara tidak langsung, pada Kinanti. Ia melangkah masuk ke lobi, menghirup aroma AC yang mewah, merasa bahwa ia akhirnya pantas kembali ke dunianya yang dulu.
"Pak Arkan, selamat atas kepulangannya," sapa resepsionis dengan hormat yang tulus.
Arkan mengangguk. "Terima kasih. Apakah Ibu Kinanti ada di ruangannya?"
"Ada, Pak. Beliau sedang menunggu Anda."
Arkan masuk ke ruang kerja Kinanti. Ia melihat istrinya duduk di sana, tetap anggun, tetap berkuasa. Arkan meletakkan laporan final dan plakatnya di meja. "Aku sudah menyelesaikan semuanya, Kin. Sesuai janjiku."
Kinanti menyesap kopinya, menatap plakat itu sekilas. "Kerja bagus, Arkan. Aku sudah mengembalikan akses kartu kreditmu, meski limitnya masih di bawah pengawasanku. Dan posisimu sebagai Direktur Utama kini resmi kukukuhkan kembali."
Arkan mengembuskan napas lega. "Terima kasih, Kin. Sekarang... aku ingin menjemput Alana. Aku ingin membawa dia ke tempat yang layak sebelum dia melahirkan."
Kinanti tersenyum, jenis senyum yang membuat bulu kuduk Arkan merinding. "Menjemputnya? Silakan, Arkan. Kalau kamu bisa menemukannya."
Arkan memacu mobilnya menuju motel murah yang terakhir kali disebutkan Kinanti dalam pesan singkatnya beberapa bulan lalu. Hatinya berdebu oleh rasa bersalah.
Ia sudah menyiapkan skenario, ia akan menyewa apartemen mewah, memberikan Alana biaya persalinan terbaik, dan meminta maaf karena telah mengabaikannya.
Namun, saat ia sampai di motel Mawar Indah yang kusam itu, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Alana? Perempuan hamil yang tinggal di kamar 204?" tanya penjaga motel sambil menggaruk kepalanya. "Oh, dia sudah pergi hampir tiga minggu yang lalu, Pak."
"Pergi ke mana?!" bentak Arkan.
"Saya tidak tahu. Dia diusir karena tidak bisa bayar sewa lagi. Barangnya yang sedikit itu diletakkan di pinggir jalan. Saya dengar dia pingsan dan dibawa warga, tapi tidak tahu dibawa ke mana."
Arkan berlari kembali ke mobilnya. Ia menelepon orang tua Alana. Suara Pak Handoko terdengar dingin di seberang sana.
"Jangan cari Alana di sini, Arkan. Kami tidak punya anak bernama Alana lagi. Dia sudah mati bagi keluarga ini sejak dia memilih pria yang tidak berguna seperti kamu."
Arkan memukul kemudi mobilnya. Ia baru menyadari, selama ia menikmati kedamaian di pesisir dan pujian dari Kinanti, Alana sedang berjuang sendirian di selokan kehidupan. Dunia Alana sudah runtuh, dan Arkan adalah orang yang memegang palunya.
Malam itu, Arkan pulang ke rumah utama dengan wajah hancur. Di meja makan, Kinanti sudah menunggu dengan hidangan mewah buatan Bi Ijah. Ada aroma sup iga yang hangat, namun bagi Arkan, ruangan itu terasa seperti ruang interogasi.
"Duduklah, Arkan. Kamu terlihat sangat berantakan," ujar Kinanti tenang.
"Di mana dia, Kin? Kamu tahu, kan? Kamu selalu tahu segalanya!" suara Arkan bergetar.
Kinanti meletakkan sendoknya dengan pelan. "Aku memang tahu. Aku melihatnya saat dia diusir dari motel itu. Dia tampak sangat menyedihkan, Arkan. Memegangi perutnya yang besar sambil menyeret satu koper rusak. Dia mencoba meneleponmu, tapi kamu kan sedang sibuk menyelamatkan perusahaan, jadi ponselmu mati, bukan?"
Arkan memejamkan mata. Rasa sakitnya tak tertahankan. "Kamu membiarkannya? Kamu punya semua uang di dunia ini, Kin! Kamu membiarkan dia terlantar di jalanan saat mengandung anakku?"
"Anakmu?" Kinanti tertawa kecil, suara tawa yang sangat merdu namun mematikan. "Dia juga anak dari wanita yang menghancurkan rumah tanggaku, Arkan. Ingat, aku sudah memberinya cek sepuluh juta. Dia saja yang terlalu bangga, atau mungkin terlalu bodoh karena cek itu hilang saat dia dipalak preman di sekitar motel."
Arkan tersentak. "Dipalak? Dia terluka?"
"Entahlah. Aku hanya mendengar laporan bahwa ada wanita hamil yang dibawa ke rumah sakit daerah tanpa identitas. Tapi saat aku menyuruh orang mengeceknya pagi ini, dia sudah kabur dari bangsal karena takut ditagih biaya pengobatan."
Keesokan harinya, Arkan mencoba melacak seluruh rumah sakit daerah dan panti asuhan, namun hasilnya nihil. Alana hilang seperti uap. Di sisi lain, tekanan pekerjaan dari Kinanti tidak berhenti.
"Arkan, ada rapat penting dengan investor dari Singapura jam sepuluh. Kamu harus hadir. Penampilanmu harus sempurna," perintah Kinanti lewat telepon.
"Aku tidak bisa, Kin! Alana mungkin sedang melahirkan di pinggir jalan!"
"Pilih, Arkan. Kamu pergi mencari wanita yang mungkin sudah tidak ingin melihatmu lagi, atau kamu hadir di rapat ini dan mempertahankan tahtamu?" suara Kinanti mendingin. "Jika kamu tidak hadir, aku akan menganggap kamu mengundurkan diri. Dan kamu tahu artinya? Seluruh biaya untuk Alana akan kuhentikan saat ini juga."
Arkan tertegun. "Jadi... Kamu mencarinya?"
"Tentu saja. Aku ingin memastikan bayimu aman. Tapi aku hanya akan memberikan informasi itu jika kamu tetap menjadi Direktur yang patuh. Jadi, pilih mana? Cinta atau tahta?"
Arkan meremas ponselnya. Ia akhirnya bercermin, mengenakan jas mahalnya, menyisir rambutnya yang rapi, dan memakai jam tangan pemberian Kinanti. Ia memilih tahta.
Ia melangkah ke ruang rapat dengan hati yang mati, sadar bahwa ia telah menjadi budak di dalam penjara emas yang dibangun oleh istrinya sendiri.
Sore hari, setelah rapat selesai dan investor merasa puas, Kinanti masuk ke ruangan Arkan. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat kecil ke meja.
"Itu alamatnya," kata Kinanti.
Arkan langsung menyambar amplop itu. "Di mana dia?"
"Dia ada di sebuah rumah kontrakan kecil di pinggiran kota. Seorang bidan desa merawatnya. Dia melahirkan tiga hari yang lalu, Arkan. Seorang bayi laki-laki."
Mata Arkan berkaca-kaca. "Laki-laki? Dia... mereka sehat?"
"Bayinya sehat. Tapi Alana... dia mengalami depresi berat. Dia menolak menyusui bayi itu. Dia terus menggumamkan namamu dan namaku dengan penuh kebencian." Kinanti berjalan menuju jendela, menatap pemandangan kota. "Pergilah. Temui mereka. Tapi ingat, jangan berani-berani membawanya kembali ke rumah ini atau memberinya uang sepeser pun tanpa izin dariku."
Arkan segera berlari menuju alamat tersebut. Namun, apa yang ia temukan jauh lebih mengerikan dari bayangannya. Di sebuah rumah sempit yang pengap, ia melihat Alana duduk di pojok ruangan dengan tatapan kosong. Bayinya menangis di atas tikar, namun Alana tidak bergeming.
"Alana..." panggil Arkan pelan.
Alana menoleh. Namun tidak ada cinta di matanya. Hanya ada ketakutan dan kegilaan. "Pergi! Pergi! Kamu orang suruhan Kinanti, kan? Kamu mau mengambil bayiku untuk diberikan padanya, kan?!" teriak Alana histeris.
Arkan mencoba mendekat, namun Alana meraih pisau dapur kecil di dekatnya. "Jangan sentuh kami! Arkan sudah mati! Kinanti membunuhnya!"
Arkan berdiri mematung di ambang pintu. Ia telah kembali dengan prestasi, ia telah kembali dengan kekayaan, namun wanita yang melahirkan anaknya kini tidak mengenalinya lagi.
Di rumah utama, Kinanti duduk tenang sambil membaca buku, tahu bahwa penderitaan Alana yang baru saja dimulai adalah nina bobo paling indah untuk membalas dendamnya yang sempurna.
...----------------...
**To Be Continue** ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
apalagi Arkan gk bisa move on Dr Alana.