NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan

Suasana di ruangan itu tetap gelap dan sunyi. Keheningan yang tertinggal setelah jabatan tangan mereka terasa tidak nyaman, penuh dengan ketegangan yang belum terselesaikan. Hanya hembusan napas mereka yang tidak beraturan dan suara kayu tua yang berderit karena perubahan suhu yang sesekali memecah kesunyian mencekam.

"Jadi... Apa rencanamu sekarang?" tanya Stella akhirnya. Suaranya pelan. Dia berdiri dengan kaku di tempatnya.

Iago tidak langsung menanggapi. Dia berbalik dengan gerakan yang tampak sangat berat, lalu berjalan kembali ke kursi kayu yang menjadi singgasana sementaranya di ruangan pengap ini.

Tubuhnya yang letih jatuh ke permukaan kayu yang keras dengan sebuah desahan kecil yang nyaris tak terdengar. Matanya yang setengah terpejam menyapu wajah Stella yang masih tegang dan penuh curiga, lalu beralih ke Otto yang berdiri di belakangnya.

"Untuk sekarang, tidak ada," jawabnya, tanpa sedikit pun keraguan.

Mendengar pernyataan polos dan mengecewakan itu, mata Stella membelalak. Napasnya tersendat sejenak di tenggorokan. Jari-jarinya yang tergenggam erat di samping tubuh mulai mengepal dengan kekuatan penuh, hingga buku-buku jarinya memutih seperti tulang. Getaran halus namun nyata menjalar dari pergelangan tangannya yang ramping.

"Ti-tidak ada?" ulangnya. "La-lalu, untuk apa semua ini? Untuk apa susah payah aku setuju bekerja sama dengan kalian?"

"Kembalilah ke Istana Valemira," perintah Iago dengan suara tetap tenang. "Jangan membuat dirimu terlihat mencurigakan atau berbeda setelah tiba di sana. Bertindaklah seperti biasa."

Perintah itu seperti memercikkan minyak tanah ke bara amarah yang masih membara di dada Stella. Tangannya yang tadinya hanya bergetar halus kini bergetar hebat tak terkendali, alisnya berkerut membentuk alur dalam di dahinya, dan rahangnya yang tegang terkunci erat hingga. Napasnya keluar pendek-pendek, kasar, melalui hidung yang kembang kempis.

"Dasar pria brengsek tak berguna..." sumpahnya dengan suara serak. "Setelah semua pengorbanan ini... semua risiko yang kuambil... yang kudapatkan hanyalah otak kosongmu?"

"Kau berharap aku bisa menyusun strategi tanpa informasi yang cukup?" tanya Iago balik, sedikit mengerutkan alisnya.

"Cih..." Stella memalingkan wajah dengan gerakan kasar.

Dengan gerakan penuh frustrasi, dia berbalik dan melangkah pergi menuju pintu gelap, jubahnya yang tebal berkibar di belakangnya. "Baiklah. Nikmati saja 'tidak ada rencana'-mu yang cemerlang itu di sini. Sementara aku, yang harus sibuk mengumpulkan 'informasi' sendirian."

Iago dan Otto hanya menyaksikan dalam diam punggung gadis itu yang dengan cepat menghilang ke dalam kegelapan koridor sempit. Setelah bayangannya benar-benar lenyap ditelan gelap, Iago memalingkan pandangannya yang kosong ke lantai berdebu. Dalam cahaya redup yang menyelinap masuk, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat lebih dalam dari sebelumnya.

Otto menarik napas pelan, bersiap untuk duduk di kursi yang tersisa, ketika tiba-tiba—

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki yang dikenalnya kembali terdengar dari lorong, cepat, tergesa-gesa, dan penuh kekesalan yang tak terbendung. Stella muncul kembali di ambang pintu dengan wajah memerah oleh campuran rasa malu yang luar biasa, frustrasi yang memuncak, dan kebutuhan praktis yang tak terbantahkan. Dia tidak menatap Iago sama sekali; fokusnya tertuju sepenuhnya pada Otto.

"Steve," panggilnya dengan suara yang jauh lebih kecil daripada yang dia harapkan bisa keluar dari mulutnya. "Tolong... Aku... aku tidak bisa melihat apa-apa di lorong itu. Gelap sekali, dan aku lupa arah."

Mendengar permintaan yang dipaksakan keluar dengan susah payah itu, sudut bibir Otto berkedut hampir tak terlihat, membentuk sesuatu yang mirip senyuman kecil yang langsung dia sembunyikan. Tanpa berkata-kata, dia mengangguk patuh dan berjalan mendekatinya. "Mari, Tuan Putri. Saya antar sampai ke luar."

Sementara itu, Iago sama sekali tidak memberikan reaksi apa pun. Dia hanya menutup matanya yang lelah, membiarkan kepalanya yang berat bersandar di kursi kayu yang dingin dan kasar.

Keruntuhan Cirland... Pikiran Iago mulai mengembara jauh, menelusuri kembali memori percakapannya dengan Otto selama seminggu terakhir. Otto bilang... aku ingin Organisasi IV mengendalikan negara ini. Menggunakan perselisihan antara Kerajaan dan Gereja sebagai alat.

Pikiran tentang ambisi masa lalunya menimbulkan denyut-denyut sakit yang tumpul namun dalam di pelipisnya. Dia menghela napas panjang. Perlahan, dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju semburat cahaya pucat dari celah jendela.

Di sanalah dia berdiri, membiarkan sinar tipis yang penuh dengan debu beterbangan itu menyapu wajahnya yang pucat. Dia menutup matanya lagi. Dunia di balik kelopak matanya tidak lebih gelap daripada ruangan ini, dan di dalam kegelapan itu, pikirannya terus berputar.

Aku lelah. Sangat lelah. Keputusanku dulu... menghapus ingatanku sendiri... itu adalah langkah yang sangat ceroboh. Dia diam sejenak. "Sial," gumamnya.

Lalu, di tengah kekacauan pikirannya yang terus berputar seperti roda pedati yang macet di lumpur, tiba-tiba munculah wajah-wajah lain, hangat dan asing. Yuki, dengan rambut merahnya yang berkobar seperti api, tatapannya yang awalnya penuh kewaspadaan dan curiga lalu perlahan berubah menjadi kehangatan yang tulus.

Edward, dengan tawanya yang ceria dan polos, yang mampu mengisi setiap sudut rumah kayu kecil itu dengan kehidupan dan tawa. Kenangan-kenangan kecil, sederhana, namun begitu hangat bagaikan secangkir teh di musim salju—obat sementara yang menenangkan bagi pikirannya yang kacau balau.

Aku harap mereka tak ikut campur dalam semua ini.

Detik bergulir perlahan menjadi menit dalam keheningan total. Hanya ada kegelapan, semburat cahaya pucat yang tak mampu menghangatkan, dan kesunyian yang begitu dalam hingga menekan gendang telinga.

Suasana di sini sangat kontras dengan kehidupan beberapa hari lalu, di mana yang dia dengar adalah deru angin di cerobong asap, tawa lepas Edward, dan gemerisik Yuki yang sibuk menyiapkan makanan di dapur kecil. Di sini, di ruang penjara pribadinya ini, yang dia dengar hanyalah suara napasnya sendiri yang berat dan deru darah di telinganya.

Perlahan, tanpa bisa ditahan dan tanpa bisa dicegah, sebuah tetesan air mata yang panas merayap keluar dari sudut matanya yang tertutup rapat, membasahi garis pipinya yang pucat dan dingin.

Keheningan setelah kepergian Stella terasa lebih berat, lebih hampa, lebih menyesakkan. Dan dalam kekosongan yang mencekik itu, kelelahan Iago merayap naik seperti air pasang yang tak terbendung, perlahan-lahan menenggelamkannya. Bersamaan dengan itu, datanglah bisikan itu—suara yang sudah lama dia takuti, namun di saat-saat terlemah seperti ini, juga dia nantikan, muncul dari kedalaman dirinya yang paling gelap.

Bukankah kau sendiri yang memilih jalan ini? Suara itu muncul begitu saja. Namun, getarannya yang dalam membuat bulu kuduknya meremang.

Iago tidak bereaksi. Tidak ada kepanikan, tidak ada kegugupan, tidak ada keraguan seperti dulu saat pertama kali suara itu muncul. Dia tetap diam membatu, matanya terpejam rapat, menyerap cahaya minim itu.

Ingatlah, bisikan itu melanjutkan. Akulah kamu, dan kamulah aku. Kita tak terpisahkan.

"Ada banyak hal yang aku ragukan dalam hidupku," ucap Iago akhirnya, hanya untuk dirinya sendiri dan entitas di dalam kepalanya. "Tapi satu hal yang tidak pernah kuragukan adalah..." Dia perlahan membuka matanya yang basah. "Aku adalah diriku sendiri. Iago Verbal. Di masa sekarang. Di sini, di ruangan ini."

Apa maksudmu dengan semua itu, Iago? goda suara itu. Jika kau menolak diriku, maka secara otomatis kau sedang menolak dirimu sendiri. Di masa kapan pun, kita tetaplah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

"Aku bukan menolak keberadaanmu," bantah Iago. Dia mengangkat tangannya, mengusap jejak air mata di pipinya yang dingin dengan punggung jari. "Aku menerimamu."

Huh? Suara itu terdengar sangat terkejut, untuk pertama kalinya kehilangan sedikit kendali dan nada dinginnya. Apa maksudmu?

"Tapi hanya sebagai cermin," lanjut Iago, suaranya semakin jelas. Entah kenapa, pernyataan itu seperti mantra yang langsung mengakhiri suara itu, membungkamnya untuk selamanya.

Tak lama setelah percakapan batinnya yang melelahkan itu berakhir, langkah kaki yang familiar terdengar dari koridor. Otto kembali ke ruangan, berhenti tepat di ambang pintu. Matanya, yang telah lama terbiasa dengan kegelapan, langsung dengan mudah menemukan tuannya yang masih berdiri membelakangi, sosok kaku yang terpaku di semburat cahaya pucat dari jendela.

"Ada apa, Master?" tanya Otto.

"Tidak ada apa-apa."

Otto mengangguk pelan, meski tuannya tidak bisa melihatnya. Dia berdiri di sana beberapa saat, mengamati dengan saksama lekuk punggung Iago yang tegang. Sebuah desahan lega keluar dari bibirnya. "Master, saya ingin bertanya sesuatu, kalau boleh."

"Silakan, Otto."

"Apakah... benarkah Anda belum memiliki rencana sama sekali?" Pertanyaan itu meluncur dengan berani, dan Otto segera merasakan ketegangan di udara berubah drastis.

Dia tahu betul itu pertanyaan yang sangat blak-blakan, mungkin bahkan terlalu berisiko dan bisa dianggap lancang. Tapi dia harus tahu. Dia perlu memahami dengan jelas arah yang akan dituju tuannya, agar dia bisa mengabdikan seluruh jiwa dan raganya dengan tepat, tanpa keraguan.

Iago tidak langsung menjawab. Keheningan yang panjang merangkak perlahan di antara mereka, diisi hanya oleh suara debu-debu halus yang jatuh dan desisan angin dingin dari luar. Kemudian, dengan gerakan yang tampak sangat lelah, Iago berbalik dan berjalan kembali ke kursinya, tubuhnya yang ringkih terjatuh di atasnya. "Aku memang tak punya rencana saat ini. Setidaknya, untuk saat ini."

"Gadis itu," kata Otto dengan hati-hati, melangkah masuk dan duduk di kursi kayu lain yang berhadapan langsung dengan Iago. "Putri Stella Valemira... dia sudah memutuskan untuk mempercayai Anda, Master. Memberikan kepercayaannya yang begitu berharga. Begitu juga saya, dari dulu sampai sekarang."

Iago mengangkat kepalanya perlahan, tatapannya yang tajam menembus langsung ke relung jiwa Otto. "Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Otto?"

Setelah pertanyaan tajam itu diucapkan, jantung Otto berdegup kencang sekali, suaranya bergema begitu keras di telinganya sendiri bagai genderang perang yang ditabuh di antara tulang rusuknya. Dia bisa merasakan darahnya berdesir panas di pelipisnya.

"Kau ingin aku segera mulai merencanakan sesuatu, secepatnya?" tanya Iago lagi.

"Bu-bukan begitu maksud saya, Master," kata-kata Otto tersendat-sendat. "Saya hanya... tak ingin melihat Putri Stella kecewa. Atau bahkan kehilangan kepercayaannya yang baru saja kita dapatkan dengan susah payah. Itu bisa menjadi sangat berbahaya bagi kita semua."

Iago terdiam untuk waktu yang lama. Ini bukan diam yang kosong atau hampa, melainkan diam yang bermuatan penuh, menggantung berat di udara antara mereka.

"Dengarkan baik-baik apa yang akan kukatakan, Otto. Aku ingin kau tetap setia mengikuti semua perintahku. Meskipun di saat-saat tertentu kau merasa ragu."

Setiap kata jatuh bagai butiran-butiran es yang keras dan tajam ke lantai kayu yang berdebu, memenuhi seluruh ruangan dengan getaran dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

"Apa kau sanggup melakukan itu, Otto?"

"Y-ya, Master," jawab Otto tanpa ragu lagi, meskipun suaranya masih bergetar hebat. "Saya bisa melakukan itu, Master."

Melihat keteguhan baja di bawahannya, itu Iago hanya terdiam sejenak. Lalu, sangat perlahan, sudut bibirnya yang tipis terangkat sedikit. "Duduklah. Kita perlu bicara lebih lanjut."

Otto menurut tanpa basa-basi.

"Aku menghargainya, Otto. Semua pengorbanan dan kesetiaanmu." Ia diam sejenak. "Penaklukan hati Putri Stella tak akan pernah berhasil tanpa usaha kerasmu selama lebih dari seminggu ini."

Pujian tulus itu menusuk dada Otto, bukan dengan rasa sakit, tetapi dengan kehangatan yang begitu membara, sebuah kepuasan yang dalam dan sangat langka yang membanjiri seluruh tubuhnya. Setelah menjalani hari-hari yang penuh dengan ketegangan, momen-momen keraguan yang menggerogoti, dan rasa khawatir yang terus-menerus menggelayuti pikirannya, inilah hadiah yang paling ia idam-idamkan lebih dari apa pun di dunia ini: pengakuan yang tulus dari tuannya.

"Terima kasih, Master," bisik Otto dengan suara bergetar oleh emosi, senyum kecil yang begitu tulus akhirnya muncul di wajahnya. "Saya bersyukur dan merasa terhormat."

"Sekarang," lanjut Iago. "Aku punya tugas baru untukmu."

"Tentu, Master. Tugas apa itu?"

"Mulai saat ini ," ucap Iago, "terimalah tawaran dari Gereja Cahaya itu. Dekati mereka dengan segala cara. Bangun kepercayaan mereka sepenuhnya."

Mata Otto membelalak. Wajahnya yang baru saja rileks dan penuh kehangatan seketika berubah drastis menjadi topeng keseriusan yang keras dan tegang. Rencana Iago menggema di kepalanya. Berpura-pura membangun aliansi dengan Gereja Cahaya? Tugas itu bukan hanya sulit; itu adalah sebuah misi yang berbahaya.

Bilah-bilah cahaya pucat dari celah jendela perlahan bergeser seiring waktu, menyoroti partikel-partikel debu yang berputar-putar dengan lambat seperti galaksi-galaksi kecil di tengah kegelapan, sebelum akhirnya dihisap kembali oleh bayangan-bayangan yang menunggu dengan sabar.

Suara Iago telah memotong keheningan dengan begitu tajam, dan di ruangan yang hening itu, rencana itu kini menggantung di udara.

Otto menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba menjadi sangat kering. Dia menarik napas dalam-dalam.

"Baik, Master. Akan saya laksanakan."

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!