𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9 - HUJAN YANG TAK SAMPAI KE LANGIT CAKRAWALA
Langit kota masih kelabu pagi itu, namun hujan tidak turun.
Di sisi barat kota, di sebuah apartemen tinggi yang berdiri sunyi dan eksklusif, seorang pemuda berdiri menghadap jendela kaca besar. Tirai otomatis terbuka perlahan, memperlihatkan pemandangan kota yang mulai sibuk—jalan raya, gedung-gedung kaca, dan kilatan cahaya matahari yang memantul di antara bangunan tinggi.
Rizuki berdiri diam.
Tidak mengenakan seragam sekolah hari ini.
Tidak membawa tas.
Tidak ada ekspresi remaja di wajahnya.
Ia mengenakan kemeja hitam polos, jas abu gelap tanpa dasi, dan jam tangan tipis dengan desain sederhana namun jelas bukan barang murah.
Rambut hitam wolfcut-nya disisir rapi ke samping, memperlihatkan garis rahang tegas dan tatapan mata biru yang kini jauh lebih dingin dibanding saat ia bersama Vhiena.
Hari ini, ia bukan siswa kelas tiga SMA. Hari ini, ia adalah dirinya yang lain.
“Tidak masuk sekolah hari ini,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Ponselnya tergeletak di meja, Tidak ada notifikasi.
Tidak ada chat dari Vhiena—dan ia sengaja tidak membuka aplikasi pesan sama sekali.
Rizuki menghembuskan napas panjang.
“Aku tidak boleh mencampuradukkan ini.”
GEDUNG CAKRAWALA – PUSAT KOTA
Sebuah mobil hitam tanpa logo perusahaan melaju memasuki jalur bawah tanah, jalur independen Gedung Cakrawala, gedung tertinggi dan termegah di pusat kota. Tidak ada papan penunjuk umum. Tidak ada petugas keamanan yang menyapa.
Gerbang baja terbuka otomatis setelah sistem biometrik mengenali satu-satunya identitas yang berhak.
Parkir khusus Rizuki.
Mobil berhenti di slot eksklusif, terpisah jauh dari area parkir direksi lainnya. Tidak ada satu pun karyawan yang tahu kapan Rizuki datang atau pergi. Bahkan para direksi senior pun hanya bisa menunggu panggilan.
Rizuki turun dari mobil dengan langkah tenang.
Tidak ada pengawal, Tidak ada asisten di sisinya. Ia tidak membutuhkan itu.
Setelah memarkirkan Mobil ia berjalan menuju lift. Lift pribadi terbuka begitu ia mendekat. Tidak ada tombol. Tidak ada kartu akses. Sistem membaca keberadaannya.
Tujuan: Lantai 99.
Lift melaju tanpa suara.
Rizuki menatap pantulan dirinya di dinding kaca lift. Wajah yang sama, usia yang sama—namun aura yang sepenuhnya berbeda.
“Di dunia ini,” pikirnya, “aku tidak boleh ragu.”
LANTAI 99 – RUANGAN RIZUKI
Pintu terbuka langsung menuju sebuah ruangan luas dengan desain elegan dan mewah.
Dinding berlapis panel kayu gelap berpadu dengan kaca yang cukup luas transparan menghadap kota. Meja kerja besar dari marmer hitam berada di belakang kaca itu dengan kursi kulit ergonomis. Tidak ada foto keluarga. Tidak ada hiasan berlebihan.
Di ujung dekat pintu sebelah ruangan rizuki terdapat sofa dan meja dengan hiasan simpel yang tampak minimalis, namun jelas itu bukan barang murah.
Di ujung lain tampak rak buku yang terbuat dari kayu dengan pintu kaca desain terbaik dari luar negeri yang berjajar rapi dan buku yang tersusun rajin, Minimalis, Tegas dan Sunyi.
Rizuki mengeluarkan ponsel ke 2 nya, ponsel yang hanya untuk urusan bisnis, dan menghubungi asisten nya Mira.
Mira berusia 2 tahun lebih muda dari rizuki. namun di balik usia muda nya, dia bukan seorang anak remaja biasa. pikiran nya jauh melampaui orang-orang dewasa.
Lalu beberapa saat Mira naik ke lantai 99, masuk ke ruangan rizuki dengan akses khusus yang hanya bisa di akses asisten rizuki, dan direktur pelaksana.
Mira menekan bel, lalu pintu itu membuka secara otomatis, senyap tanpa suara.
Mira melangkah masuk lalu berdiri di sisi depan rizuki namun mira mengambil jarak cukup jauh dengan tablet di tangannya. Pintu kembali menutup.
Perempuan muda dengan setelan formal merah maroon itu menunduk ringan.
“Selamat pagi, Tuan Rizuki.”
Rizuki mengangguk singkat.
“Pagi Mira.”
Tak lama kemudian, terdengar bel lainnya. Lalu pintu itu membuka lagi.
Keira, Direktur Pelaksana Bluesky Corporation, melangkah masuk. Aura kepemimpinan kuat terpancar dari setiap langkahnya.
keira berusia 2 tahun lebih muda dari rizuki. sama seperti mira. keduanya ibarat pinang di belah dua.
“Semua direksi senior sudah siap di ruang konferensi internal,” ujar Keira tenang. “Seperti instruksi Anda, tanpa dokumentasi digital.”
“Baik,” jawab Rizuki singkat. “Kita mulai sekarang.”
RAPAT INTI BLUESKY CORPORATION.
Ruangan konferensi lantai 95 hanya dihadiri lima orang.
Direksi senior strategi global
Direksi senior operasional internasional
Direksi senior system & inovasi
Asisten rizuki mira
Dan Direktur pelaksana Keira.
Tidak ada yang berani berbicara sebelum Rizuki duduk.
Setelah ia mengambil tempat di ujung meja, barulah rapat dimulai.
Direksi senior strategi global membuka laporan.
“Produksi kuartal ini naik Lima belas persen, namun ada tekanan dari regulator wilayah utara.”
Rizuki menyilangkan jari.
“Solusi.”
“Kami siap mengalihkan sebagian operasi ke wilayah timur.” lanjut ucap direksi itu.
“Disetujui,” kata Rizuki tanpa ragu. “Pastikan tidak ada konflik tenaga kerja, dan Utamakan Kesejahteraan Pekerja dan keluarga nya."
Baik Pak. " Ucap direksi senior itu Dengan badan sedikit membungkuk
Direksi senior operasional internasional melanjutkan.
“Ekspansi institusi pendidikan berjalan sesuai target. Namun ada isu kualitas tenaga pengajar.”
Rizuki menatapnya tajam. Dan menucap kan kalimat tegas.
“Standar tidak boleh turun. Pendidikan adalah fondasi. Evaluasi ulang semua kepala sekolah, dan juga sarana prasarana Semua sekolah milik kita.
Termasuk adakan Pelatihan pendidikan ekstra kepada Tenaga pengajar kita. "
“Baik, Tuan.” jawab direksi itu.
Direktur system & inovasi berbicara hati-hati.
“Ada pergerakan modal mencurigakan dari kompetitor.”
“Biarkan,” ujar Rizuki. “Kita tidak bereaksi emosional. Pantau saja.”
Keira memperhatikan semuanya dengan seksama. Ia tahu, di balik usia muda Rizuki, keputusan-keputusan ini menyangkut nasib ribuan orang.
SEMENTARA ITU – DI DUNIA LAIN
Di sisi timur kota, Vhiena duduk di bangku kelasnya.
Hari ini terasa… aneh.
Rizuki tidak datang.
Tidak ada pesan pagi.
Tidak ada balasan.
Vhiena menatap ponselnya berkali-kali, lalu menghela napas dan memasukkannya kembali ke tas.
“Kenapa aku jadi begini…” gumamnya pelan.
Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama, Rizuki sedang menandatangani keputusan bisnis bernilai Puluhan Trilliun.
Dua dunia.
Satu orang.
Dan jarak yang tidak terlihat.
KEMBALI KE LANTAI 99
Rapat selesai.
Para direksi senior berdiri, menunduk hormat, lalu keluar satu per satu.
Hanya tersisa Rizuki, Keira, dan Mira.
Mira maju selangkah.
“Ini ringkasan laporan harian Anda, Tuan.”
Rizuki menerima tablet itu.
“Terima kasih.”
Keira menatapnya sejenak, lalu berkata,
“Anda terlihat… lebih diam hari ini.”
Rizuki mengangkat pandangannya.
“Apakah itu masalah?”
Keira tersenyum tipis.
“Tidak. Saya hanya memastikan Anda baik-baik saja.
Rizuki terdiam sesaat.
“Ada hal-hal yang… harus tetap dipisahkan.”
Keira tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu batasnya.
“Jika tidak ada agenda tambahan,” lanjut Keira, “saya akan kembali.”
“Silakan.” jawab rizuki dengan mata yang masih melihat angka dan data.
Keira dan Mira keluar, meninggalkan Rizuki sendirian di ruangan luas itu.
Rizuki berdiri, menatap kota dari ketinggian lantai 95 tempat rapat internal dengan direksi senior berlangsung tadi.
Hujan mulai turun di kejauhan.
Namun tidak satu tetes pun menyentuh kaca di hadapannya.
“Vhiena…” bisiknya pelan.
Hari ini ia memilih dunia ini.
Namun ia tahu, pilihan seperti ini tidak bisa selamanya.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/