NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - MUTASI TERAKHIR

Arkhon melihat maut dalam sepasang mata merah Kaelan. Pistol kimia di tangannya bergetar hebat. Ia tahu, memohon nyawa pada monster yang ia ciptakan sendiri adalah kesia-siaan mutlak.

"Kau ingin ingatanku? Kau ingin kebenaran?" Arkhon tertawa gila, suaranya pecah menjadi lengkingan histeris. "Kebenaran itu akan membakarmu dari dalam, 07!"

Tanpa ragu, Arkhon memutar pistol itu ke arah dadanya sendiri. Bukannya peluru, pistol itu menyuntikkan sebuah tabung berisi cairan hitam pekat yang berdenyut—Serum Primordial, esensi murni dari tanaman Bunga Hitam yang belum pernah diuji coba pada manusia hidup.

"ARGHHHHHHHH!"

Tubuh Arkhon seketika meledak dalam transformasi yang mengerikan. Tulang-tulangnya retak dan memanjang, kulitnya berubah menjadi hijau gelap sekeras kulit kayu purba. Akar-akar berduri keluar dari mulut dan matanya, melilit seluruh tubuhnya hingga ia berubah menjadi monster hibrida setinggi tiga meter. Otot-ototnya membengkak dengan kekuatan yang sanggup meremukkan baja.

Kaelan terpaksa melompat mundur saat gelombang energi busuk menyapu ruangan.

"KAE-LAAANNN!" raung Arkhon. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan geraman yang berasal dari dalam rongga dada yang penuh akar.

Monster Arkhon menghantam lantai, menciptakan retakan besar yang menjalar hingga ke balkon. Dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya, ia menerjang. Cakar akarnya yang dipenuhi racun korosif menyambar udara, hanya terpaut beberapa inci dari leher Kaelan.

Kaelan menarik kedua belati hitamnya. "Bahkan sebagai monster, kau tetaplah sampah."

Teknik Bulan Dingin: Tebasan Angin Beku.

Kaelan meluncur di antara celah akar monster itu, menebaskan belatinya ke sendi kaki Arkhon. Namun, logam meteorit itu terpental. Kulit kayu Arkhon telah bermutasi menjadi lapisan zirah organik yang mampu menyerap energi dingin.

"Percuma!" Arkhon menghantamkan tinjunya ke dinding, meruntuhkan sebagian atap benteng. "Di dalam tubuh ini, racunmu adalah makananku!"

Kaelan menyadari bahwa energi dingin biasanya akan diserap oleh tanaman. Ia harus mengubah strateginya. Ia menyimpan belatinya dan menarik Benang Perajut Jiwa, namun kali ini ia tidak mengalirkan Qi es. Ia memejamkan mata, memanggil sisa-sisa amarah dan rasa sakit dari tujuh tahun kegelapannya.

Energi di sekeliling Kaelan berubah. Hawa dinginnya menjadi begitu pekat hingga berubah menjadi "Es Hitam"—energi yang tidak hanya membekukan fisik, tetapi juga membekukan sel-sel kehidupan (Vitalitas).

"Sutra Rembulan: Penjara Jiwa Hitam."

Kaelan menari di udara, melilitkan benang-benangnya ke setiap dahan dan akar yang tumbuh dari tubuh Arkhon. Setiap kali benang itu menyentuh kulit kayu monster itu, asap hitam keluar, menandakan vitalitas Arkhon sedang disedot paksa.

Arkhon meronta, mencoba memutuskan benang itu dengan kekuatannya, namun semakin ia bergerak, semakin dalam benang itu mengiris masuk ke jantung organiknya.

"Kau bukan lagi tanaman, Arkhon. Kau hanyalah kayu mati yang menunggu untuk patah," bisik Kaelan.

Kaelan menarik sepuluh jari tangannya secara bersamaan.

KRAKKK!

Seluruh tubuh raksasa Arkhon membeku seketika dalam lapisan es hitam yang pekat. Akar-akarnya pecah menjadi serpihan debu. Dalam detik-detik terakhirnya, kesadaran manusia Arkhon kembali sejenak. Matanya menatap Kaelan dengan horor.

"Mereka... Aliansi... mereka mencari 'Gerbang Rembulan'..." ucap Arkhon dengan suara lirih sebelum kepalanya retak dan hancur menjadi debu es.

Kaelan berdiri di tengah puing-puing ruangan yang kini sunyi. Arkhon telah tiada. Namun, kata-kata terakhirnya—Gerbang Rembulan—meninggalkan tanda tanya baru yang jauh lebih besar.

Hanzo muncul di balkon, terengah-engah dengan pedang urumi yang berlumuran darah hijau. Ia menatap tumpukan debu yang dulunya adalah Arkhon.

"Kau benar-benar menghancurkannya sampai ke sel terakhir, ya?" Hanzo mendengus, lalu membungkuk untuk mengambil sebuah chip logam kecil yang tersisa di antara debu es tersebut. "Kesepakatan selesai. Aku punya datanya, dan kau punya balas dendammu."

Kaelan menatap langit malam dari balkon benteng yang hancur. "Ini belum selesai, Hanzo. Gerbang Rembulan... apa itu?"

Hanzo terhenti, wajahnya berubah serius. "Jika kau benar-benar ingin tahu, kita harus pergi ke Kota Takhta Langit. Tapi peringatan untukmu, Bocah: di sana, kau bukan lagi predator. Kau adalah umpan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!