𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32 - LANGKAH PERTAMA
Pagi itu, Vhiena berdiri di depan cermin kamarnya lebih lama dari biasanya. Seragam putih abu-abu yang ia kenakan terasa sedikit berbeda. Bukan karena ukurannya berubah, melainkan karena maknanya. Kelas 3 atau Tahun terakhir. Tahun yang akan menentukan banyak hal—bukan hanya kelulusan, tetapi juga arah hidup.
Ia merapikan kerah seragamnya, mengikat rambutnya rapi ke belakang. Wajahnya tampak tenang, namun di balik mata coklatnya ada getar kecil yang sulit ia sembunyikan.
Vhiena menoleh ke dinding Foto besar itu ada di sana. Rizuki berdiri di sampingnya, formal dan dewasa, seolah mengawasinya dalam diam. “Aku berangkat,” katanya pelan pada foto itu.
Ia meraih tas sekolahnya dan melangkah keluar kamar, Hari Pertama Kelas 3. Di ruang tamu rumah, Ayu dan Lala sudah menunggu. “Kelas 3, Nyonya Masa Depan,” goda Ayu sambil tertawa kecil.
Vhiena tersenyum. “Jangan lebay.”
Namun Lala memperhatikan Vhiena lebih seksama. “Kamu kelihatan… beda,” katanya jujur.
Vhiena sedikit terkejut. “Beda bagaimana?”
“Lebih tenang,” jawab Lala. “Kayak orang yang sudah tahu mau ke mana.”
Vhiena tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil.
Di dalam hatinya, ia tahu—ketenangan itu datang dari satu janji sederhana: Rizuki akan selalu memberi kabar.
Gerbang sekolah terlihat ramai. Siswa kelas 3 berbondong-bondong masuk dengan ekspresi beragam—tegang, antusias, ada juga yang tampak acuh.
Saat bel masuk berbunyi, Vhiena duduk di bangkunya. Kelas baru, guru baru dan juga Tantangan baru. Namun saat ia membuka buku pertamanya hari itu, ponselnya bergetar pelan di dalam tas. Ia tidak membukanya langsung, Ia sudah tahu siapa.
Di sela waktu istirahat pertama, Vhiena akhirnya membuka ponsel.
Rizuki: Hari pertama kelas 3, Semoga berjalan lancar.
Vhiena tersenyum tanpa sadar.
Vhiena: Baru jam pertama, tapi aku baik-baik saja, Kamu?
Rizuki membaca pesan itu di ruang rapat lantai 95 Gedung Cakrawala.
Ruangan luas itu dipenuhi suasana serius. Meja panjang dengan layar transparan di tengahnya menyala menampilkan peta-peta wilayah, data sosial, dan grafik ekonomi, Namun di tengah semua itu, satu pesan kecil membuat ekspresinya melunak.
Rizuki: Aku juga baik, Fokus saja hari ini.
Vhiena: Aku akan berusaha.
Rizuki mengunci layar ponsel pertamanya. Waktunya kembali ke dunia yang tidak pernah ia ceritakan pada Vhiena.
Rizuki mengumpulkan orang-orang kepercayaan nya Di dalam ruang rapat, hanya ada Keira, Mira, dan tiga orang direksi senior—orang-orang yang sejak awal mengetahui siapa Rizuki sebenarnya.
Tidak ada basa-basi Rizuki langsung duduk di ujung meja, sikapnya tenang namun tegas. Tatapannya menyapu satu per satu orang di ruangan itu. “Kita mulai,” ucapnya singkat.
Keira mengangguk, mengaktifkan layar utama. “Seperti yang Anda minta,” kata Keira, “kami sudah mengumpulkan data kota-kota pinggiran dengan karakteristik serupa Ravelin.”
Peta digital menampilkan beberapa titik menyala. “Kota-kota ini memiliki tingkat pengangguran tinggi, minim fasilitas pendidikan, dan infrastruktur dasar yang tertinggal,” lanjut Mira.
Rizuki menyilangkan jari-jarinya di atas meja. “Itulah target kita,” katanya pelan namun pasti. Salah satu direksi senior mengerutkan kening. “Dengan hormat, Tuan Rizuki… ini bukan langkah yang biasa diambil korporasi sebesar Bluesky. Keuntungan jangka pendeknya—” “Akan kecil,” potong Rizuki tanpa nada keras. “Tapi dampak jangka panjangnya besar.”
Ia berdiri, Langkahnya pelan saat berjalan mendekati layar. “Kota-kota ini bukan beban,” katanya. “Mereka hanya belum diberi kesempatan.”
Ruangan hening.
“Melalui anak perusahaan Bluesky,” lanjutnya, “kita bangun infrastruktur dasar: sekolah, fasilitas kesehatan, pabrik manufaktur skala menengah. Kita serap tenaga kerja lokal. Kita latih mereka.”
Keira menambahkan, “Pengawasan sistem tetap di tangan Anda, Tuan Rizuki.” “Benar,” jawab Rizuki. “Tidak ada pihak ketiga. Tidak ada sponsor luar. Kendali penuh ada di saya.” Beberapa direksi saling berpandangan. Ini bukan proyek biasa Ini misi.
Dunia yang Terlupakan
Rizuki kembali duduk. “Negeri ini terlalu lama membiarkan kota-kota pinggiran menjadi angka statistik,” katanya. “Kita akan ubah itu.”
Salah satu direksi senior akhirnya berbicara. “Dan jika ini gagal?”
Rizuki menatapnya lurus. “Maka itu kegagalan saya,” jawabnya tenang. “Bukan Bluesky. Bukan kalian.”
Tidak ada lagi pertanyaan disitu. Keputusan sudah dibuat.
Vhiena dan Hari yang Baru
Di sekolah, Vhiena mengikuti pelajaran dengan penuh fokus. Ia mencatat, bertanya, menjawab ketika diminta.
Ayu dan Lala sesekali meliriknya. “Kamu serius banget hari ini,” bisik Ayu.
Vhiena tersenyum. “Aku cuma ingin melakukan yang terbaik.”
Saat jam istirahat kedua, ponselnya kembali bergetar.
Rizuki: Jangan lupa makan siang.
Vhiena: Kamu terlalu perhatian.
Rizuki: Itu kebiasaanku.
Vhiena tertawa kecil, lalu membalas,
Vhiena: Aku senang kamu masih seperti ini, meski sibuk.
Rizuki membaca pesan itu di ruangannya, sendirian setelah rapat selesai.
Rizuki: Tidak ada kesibukan yang lebih penting dari menjaga orang yang berarti.
Vhiena membaca itu berulang kali. dia menyembunyikan kebahagiaan nya. meski mereka terpisah jarak.
Misi Dimulai
Di Gedung Cakrawala perintah mulai dijalankan. Keira mengoordinasikan tim strategis. Mira mengatur alur laporan dan komunikasi internal. Sementara Rizuki—sendiri di ruangannya—mengamati semuanya.
Peta-peta kota pinggiran terpampang di layar. Data sosial, grafik tenaga kerja, dan rencana pembangunan awal mulai tersusun.
"Ini baru permulaan." ucap nya dalam hati. Namun bagi Rizuki, setiap langkah kecil hari itu adalah fondasi dari sesuatu yang jauh lebih besar. Bukan hanya untuk Bluesky, Bukan pula hanya untuk bisnis. Tetapi untuk orang-orang yang selama ini tidak pernah didengar.
Dan—tanpa mereka sadari—semua ini juga berakar dari satu percakapan sederhana di Avermont. Dari cerita Vhiena tentang sahabatnya. Tentang kota asal ayahnya.
Rizuki menutup layar.. Ia mengambil ponsel pertamanya.
Rizuki: Hari pertamamu bagaimana?
Vhiena: Melelahkan… tapi aku senang. Terima kasih sudah menyemangati aku.
Rizuki: Itu tugasku.
Vhiena tersenyum, menatap foto Rizuki di meja belajarnya.
Di dua tempat berbeda, dua dunia yang berbeda— Mereka melangkah maju Bersama.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/