NovelToon NovelToon
Monokrom

Monokrom

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Sci-Fi / Anak Genius
Popularitas:569
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Bertahan atau melangkah pergi?

Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?

Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

00^05

Bertamu dalam ruang sempit tidak membuat diri merasa sungkan karena telah merepotkan tuan rumah, hanya karena sebuah keingintahuannya yang sulit untuk di pendam dalam batin. Memberanikan jiwa melangkah masuk melewati jalanan berbatu, tanpa uluran tangan dari orang terdekat.

Tanpa peduli ketidaksukaan pada sang tuan rumah akan kehadirannya yang sangat terang-terangan bertamu. Tidak peduli dengan kebencian yang ada pada diri sang tuan rumah akan tingkah lakunya di masa lalu. Karena untuk saat ini, sang tamu hanya ingin memastikan jika musuh sangat pantas di jadikan sekutu. Walau pada akhirnya, pengkhianatan akan kembali terulang.

"Apa tidak ada tempat lain, ibu membawaku keluar rumah?" Sedikit kesal gadis itu melontarkan perkataannya, saat berada di depan salah satu toko yang berjejer rapi di tempat itu. Membuang napas gusar, dengan rasa dongkol yang luar biasa.

"Kenapa harus kesini? Aku sangat membenci anak pemilik toko ini."

"Ibu harus menemui seseorang terlebih dahulu." Jawab sang ibu dengan sangat rendah, untuk tidak menarik suasana buruk yang ada di dalam jiwa putrinya itu. "Dan jaga bicara mu itu. Mungkin saat ini kau tidak menyukai orang itu, tapi kau tidak akan tahu. Bisa jadi, dia akan membantu mu di saat semua orang menjauhimu."

"Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak akan menerima bantuan darinya. Dan apa sesusah itu ibu datang sendiri untuk menemui orang itu? Kenapa aku harus menemani ibu? Itu sangat-sangat menyebalkan." Terus saja kalimat kasar keluar dari mulut sang gadis, sungguh merasa kesal. Karena waktunya yang seharusnya gadis itu manfaatkan untuk belajar, kini malah berada di tempat yang tidak ingin gadis itu kunjungi.

"Kau harus bersikap baik, tanpa mengacau. Kau mengerti? Jika sampai kau bersikap tidak sopan, ibu akan memberi mu hukuman saat di rumah nanti." Penuh peringatan wanita itu mengatakannya sebagai argumen terakhir bersama putrinya sebelum masuk ke dalam toko yang di penuhi oleh berbagai jenis bunga.

Tanpa melupakan lengkungan simpul tanpa adanya kebencian ataupun keraguan, wanita itu menyapa seorang pekerja yang dengan cepat membalasnya dengan sangat sopan.

"Apa nyonya ingin membeli bunga? Jika iya, bunga seperti apa yang diinginkan nyonya. Saya akan membantu nyonya." Tanya sang pekerja dengan sangat lembut. Karena atasan tidak pernah mengajari untuk tidak bersikap sopan kepada seorang pelanggan.

"Aku datang kesini bukan untuk membeli bunga, aku ingin bertemu dengan pemilik toko ini. Apa dia ada disini?" Ungkap sang wanita yang tidak melunturkan senyumannya sedikit pun.

Pelayan itu mengangguk kecil dengan ber'oh'ria, dan pandangan tidak sengaja melihat ke arah seorang gadis yang terlihat tengah mengamati satu di antara beberapa bunga di sana.

"Saya akan panggilkan ibu untuk nyonya." Balas sang pelayan.

"Terima kasih." Akhir wanita itu, melihat kepergian sang pelayan untuk memanggilkan tuan rumah. Sebelum beralih pada putrinya. "Apa yang kau lihat?"

"Bunga." Cepat gadis itu sembari mengalihkan pandangannya untuk membalas tatapan sang ibunda.

Wanita itu mengangguk kecil.

Gadis itu berbalik, mendekati sang ibu sembari menyisir surai panjangnya ke belakang. "Kenapa ibu ingin bertemu dengan pemilik toko ini? Apa ibu mengenalnya?"

"Hanya sebatas nama, tapi ibu ingin menanyakan suatu hal. Jika kau bosan disini, kau bisa singgah di coffe shop sebelah toko ini." Bukannya sang ibu mengusir putrinya, akan tetapi, wanita itu tidak ingin Yuna terus bertanya dan mendatangkan api amarah pada jiwanya.

"Seharusnya ibu katakan sejak tadi, agar aku tidak merasa panas di tempat seperti ini." Balas Yuna dengan senyum kecilnya. Dan tanpa menunggu timpalan dari Diandra. Gadis itu memutar tumit untuk keluar dari toko bunga yang sangat nyaman bagi banyak orang, tidak termasuk Yuna.

Meniup udara dengan langkah terhenti tepat di depan toko hanya ingin melihat sekelilingnya sebentar, sebelum kembali melangkah ke arah di mana coffe shop berada. Saat itu juga kedua netranya tidak sengaja bertemu dengan milik seseorang yang tengah berjalan berlawanan arah dengan Yuna.

"Kenapa takdir terus saja mempertemukan ku dengan gadis itu? Apa tidak ada orang lain selain, Anna?" Gerutu Yuna yang kini menghentikan kedua kakinya tepat di depan coffe shop, tanpa mengalihkan pandangannya dari Anna. Karena sang empu juga berhenti tepat di hadapan Yuna dengan menuntun sepeda city bike-nya.

"Bukankah kota ini begitu kecil? Sampai kita bertemu lagi." Cetus Yuna dengan nada yang sangat tidak bersahabat.

"Oh, setiap hari kita akan bertatapan muka. Karena kita berada di daerah yang sama." Tanggap Anna, yang tidak menyimpan kebencian sedikit pun terhadap Yuna. Karena mau bagaimana pun, Anna akan menganggap Yuna sebagai teman sekolahnya.

"Itu yang membuat ku ingin cepat lulus dari sekolah." Rasa kesal terus saja singgah di benak Yuna, yang entah kenapa sangat sulit mengontrol emosi pada dirinya.

"Itu masih sangat lama sekali, karena kita baru saja memasuki tahun kedua ajaran baru. Kau harus sabar menunggu hal itu. Tapi, apa kau yakin, jika setelah lulus nanti kau tidak akan bertemu lagi dengan ku?" Tidak begitu cepat Anna memberi respon, dengan sudut bibir yang sedikit tersungging. Dan hal itu semakin membakar benak Yuna.

"Itu memang masih lama. Tapi, tak bisakah kau mengambil jurusan lain selain sastra bahasa? Atau tidak, bilang lah pada wali kelas jika kau ingin pindah kelas. Karena aku sangat muak melihat wajah mu." Pinta Yuna yang jauh dari dugaan. Tidak peduli akan perkataannya yang melukai perasaan lawan bicara.

Dan untungnya, Anna dapat menahan diri untuk tidak mudah terpengaruh akan mantra sihir yang baru saja Yuna cetuskan. Anna memang tidak begitu mengenal Yuna, tapi Anna tahu, jika Yuna memiliki hati yang baik. Dia tipe manusia yang keras di luar, tapi lembut di dalam.

"Kenapa harus aku? Kenapa tidak dirimu saja? Apa karena, diriku ini murid beasiswa? Atau, kau takut jika posisimu ku gantikan?" Sangat rendah Anna mengatakannya.

Diam sejenak tidak langsung memberi tanggapan. Yuna melipat kedua tangannya di depan dada. Pandangan setia menatap netra bulat milik Anna. "Jika kau sadar kau murid beasiswa. Apa kau sangat pantas mengatakan hal itu padaku? Dan, aku tidak takut sama sekali. Karena kau bukan saingan ku."

"Tidak hanya diriku yang sadar, kau pun juga sangat sadar. Jika diriku bukan sainganmu. Jadi untuk apa kau menyuruhku pindah kelas? Dan kenapa kau senang sekali menggertak ku?" Sebenarnya Anna tidak ingin menanggapi perkataan Yuna. Hanya saja, Anna tidak ingin melihat Yuna terus-menerus merendahkannya.

Walaupun ada rasa takut di benak Anna akan kalimat yang tercetus dari mulutnya kepada Yuna. Karena Anna tahu, gadis itu bisa melakukan apapun untuk dirinya. Tetapi, Anna harus menjaga harga dirinya. Jika pun ia berada di keluarga yang jauh berada di bawah keluarga Yuna.

"Kau lupa? Atau kau pura-pura tidak ingat? Jika bukan hanya diriku saja yang menggertak mu. Tapi kenapa perkataan mu itu seolah-olah hanya diriku saja yang menggertak mu. Padahal, padahal aku tidak pernah melukai fisikmu." Timpal Yuna. Gadis itu tidak akan menutup mulutnya, sampai lawan bicara mengakhiri argumennya. Karena, hidup Yuna di penuhi oleh kemenangan.

Saat itu juga seorang pemuda baik penuh kesopanan, dengan celemek yang melekat pada tubuhnya. abaru saja keluar dari dalam coffe shop dengan sekantong plastik sampah di tangannya. Kini disentakkan oleh dua penyihir yang membuat pemuda itu membuang napas pelan. Tahu apa yang tengah dua gadis itu lakukan, beradu mulut tanpa memikirkan betapa mengerikannya saling menyimpan rasa tidak suka.

"Bisakah kalian menyingkir? Kalian menghalangi jalan pelanggan tempat ini. Jika ayahku tidak mendapat penghasilan hari ini, apa kalian mau tanggung jawab akan kehidupan ku?" Cetus Aldi. Melihat kedua gadis itu secara bergantian. Berharap mereka dapat mengikuti kalimat yang keluar dari mulutnya.

Akan tetapi, tidak ada hasilnya sama sekali. Kedua gadis itu masih saja tidak bergeming sedikitpun. Mengabaikan perkataan dari Anna,   merasa frustasi sendiri jika sudah berhadapan dengan mereka.

Meniup udara, Aldi kembali melontarkan perkataanya. "Yuna, menyingkirlah." Pinta Aldi dengan nada rendah, agar gadis itu tidak merasa tersinggung.

"Bicaralah sopan saat bersama ku. Karena usia mu berada di bawahku." Sahut Yuna, membalas tatapan Aldi. Harus bersikap sabar saat menghadapi Yuna. Karena gadis itu sangat mudah menyampaikan amarahnya tanpa alasan.

"Minggir." Imbuh  yang ampuh membuat Aldi langsung memberi jalan untuk Yuna.

Masuk ke dalam tanpa mempedulikan dua insan yang masih berada di depan coffe shop itu dengan pikiran masing-masing. Sampai Aldi berani membuka suara untuk bertanya pada Anna.

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja." Jawab Anna sembari menatap mata milik Aldi.

"Kau tidak perlu memikirkan apa yang baru saja dikatakan Yuna padamu. Dia hanya__" belum juga Aldi menuntaskan perkataannya kini mulutnya terkatup akan selaan dari Anna.

"Aku tahu. Aku tidak akan mengambil hati, apapun yang dia katakan padaku. Karena itu salah satu sikapnya untuk bertahan, bukan?" Cepat Anna yang memotong kalimat dari Aldi.

"Jika pun seperti itu, aku merasa lega kau tidak mengambil hati akan perkataan Yuna. Gadis itu tidak seburuk apa yang ada di pikiranmu. Dia hanya tidak ingin, siapapun mengambil alih posisinya saat ini." Jelas Aldi yang bukan berarti berada di pihak Yuna.

"Apalagi seseorang yang kau kagumi." Sambung Aldi dalam hati. Karena entah kenapa Aldi tidak ingin Anna tahu, sedekat apa hubungan Yuna dengan Anrey. Jika pun ketidakinginan Aldi sangat mustahil tidak Anna ketahui.

1
Ros 🍂
hallo mampir ya Thor 💪🏻
M ipan
halo🌹 salam kenal
aytysz: haii, salam kenal jugaa🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!