NovelToon NovelToon
FROZEN DAWN

FROZEN DAWN

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Kutukan
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Noulmi

Krystal, reinkarnasi Naga Es yang melupakan 98 kehidupan lamanya, tumbuh menjadi putri terbuang Kekaisaran Aethermoor. Dibuang ke Istana Aquamarine sejak usia tiga tahun oleh ibu yang dimanipulasi sihir, ia ditemani Mira dan dilindungi Eros—Dewa Nafsu yang menjadikannya calon istrinya. Kecantikannya memikat, namun hatinya rapuh akibat trauma penolakan. Ia membangun Proyek LadyBug untuk menghancurkan Ratu Seraphina dari dalam, merekrut para jenius terbuang sebagai senjata rahasia. Ketika Eros menolaknya demi kesucian, egonya hancur; ia nekat memeluk Hyal hingga batuk darah, menyadari racun berkat sang kakaklah yang menyiksanya. Kini di tanah Herkimer, Krystal bangkit—lebih dingin, lebih licik, dan bertekad menggulingkan takhta dengan tangannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2. Bayang-Bayang di Bawah Cahaya

Pintu ek raksasa berukir lambang naga terbuka perlahan. Gemuruh langkah kaki bergema, menandai dimulainya prosesi sakral.

Ayahku, Kaisar Athanasius melangkah pertama. Jubah merahnya yang bersulam benang emas tampak berkibar pelan, memancarkan aura kewibawaan. Di sisinya, berjalan Felix, Putra Mahkota dari permaisuri Celestia. Pemuda itu tampan dengan senyum tipis yang terlatih sempurna, namun matanya dingin—mata seorang politisi muda yang sudah tahu tempatnya.

Di belakang mereka, Permaisuri Celestia dan Ibuku—Ratu Seraphina melangkah berdampingan. Namun, kontras di antara keduanya begitu mencolok. Celestia tersenyum anggun, sementara Seraphina tampak tegang, meski ia berusaha mempertahankan ekspresi tenang. Di lengannya, tertidur pulas bayi berambut putih itu. Ia dibungkus kain beludru biru tua bertatahkan mutiara, terlihat seperti permata paling berharga di kekaisaran ini.

Dan di barisan paling belakang... ada aku.

Sialan. Aku tidak pernah digendong oleh ibuku. Tidak juga oleh Kaisar. Aku selalu berada dalam dekapan seorang ibu asuh tua bernama Martha, wanita yang wajahnya datar tanpa emosi, seolah-olah ia hanya membawa bungkusan barang, bukan darah daging kerajaan. Pakaianku sederhana, berwarna putih polos tanpa hiasan, sangat berbeda dengan kemewahan yang menyelimuti bayi berambut putih.

Aula Utama Kekaisaran Aethermoor malam itu bukan sekadar megah tapi juga menyilaukan. Ribuan lampu kristal menggantung dari langit-langit setinggi entah berapa kaki, memantulkan cahaya prismatik ke setiap sudut ruangan. Lantai marmer putih dipoles hingga licin bak cermin, memantulkan gaun-gaun sutra para bangsawan dan kilau pedang para ksatria penjaga. Udara dipenuhi aroma bunga lili putih dan wewangian mahal, namun bagiku, udara itu terasa berat dan sesak.

Aku menatap punggung-punggung para bangsawan yang membungkuk hormat saat prosesi lewat. Hatiku berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena firasat buruk yang menusuk ulu hatiku. Ini dia, batinku. Momen di mana takdir mulai menenun jebakan baru.

Kami tiba di depan singgasana. Utusan dari Kekaisaran Suci, seorang pria tua berjubah perak dengan tongkat kayu suci di tangan, telah menunggu. Matanya tertutup kain putih, simbol bahwa ia melihat kebenaran jiwa, bukan rupa fisik.

Upacara pemberkatan dimulai. Musik organ pipa mengalunkan nada rendah yang khidmat.

Utusan tersebut mendekati Ratu Seraphina. Dengan gerakan hati-hati dan penuh penghormatan, ia mengambil bayi berambut putih itu dari pelukan sang Ratu. Bayi itu tidak menangis. Ia justru membuka mata birunya yang jernih, menatap utusan itu dengan ketenangan yang tidak wajar untuk ukuran bayi.

Utusan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, menuju cahaya lampu kristal utama. Cahaya itu seolah merespons, bersinar lebih terang dan hangat, memandikan tubuh kecil bayi berambut putih dalam aurora keemasan.

"Dengan saksi para Dewa dan leluhur," suara Utusan itu bergema, kuat dan jelas hingga ke sudut aula yang paling jauh. "Mulai hari ini, Bintang Kecil Kekaisaran, pembawa harapan dan cahaya, akan diberi nama..."

Jeda sejenak menciptakan ketegangan yang mencekam.

"...'Hyal Athanasius Aethermoor'."

Tepuk tangan gemuruh meledak di seluruh aula. Sorak-sorai pujian terdengar dari ribuan tamu. Nama 'Hyal' berarti Cahaya Murni dalam bahasa kuno. Nama tengah 'Athanasius' diambil dari Kaisar, sesuai tradisi putra kerajaan. Itu adalah nama yang agung, nama yang ditakdirkan untuk memimpin.

Namun, bagi diriku, dunia seketika berhenti berputar.

Hyal?

Darahku membeku. Jantung mungilku berdegup keras hingga terasa sakit.

Apa? Hyal? Nama itu... lagi-lagi nama itu?

Ingatan akan kematian-kematian dikehidupanku sebelumnya menyerbu masuk. Api yang membakar kulit. Pedang yang menembus dada. Tatapan dingin Hyal di detik-detik terakhir hidupnya. Dalam sembilan puluh delapan kehidupan sebelumnya, Hyal selalu menjadi penyebab akhir tragisnya. Entah sebagai musuh, sebagai saudara yang terkutuk, atau sebagai alat takdir yang kejam.

Apa bahkan di kehidupan kali ini pun aku akan menderita karenanya?

Rasa panik menguasai diriku. Tanpa sadar, air mata panas membanjiri mataku. Aku tidak bisa menahan diri. Tangisanku pecah, keras dan memilukan, membelah keheningan sisa setelah tepuk tangan reda.

"Waaaaa! Waaaaa!"

Suara tangisan terdengar sumbang di tengah suasana sakral. Para tamu mulai berbisik-bisik. Beberapa menatapnya dengan jijik, lainnya dengan kasihan yang merendahkan.

Ratu Seraphina menoleh. Tatapannya bukan khawatir, melainkan tajam dan menusuk. Mata ungu gelap itu menyorotku dengan intensitas yang membuat bulu kudukku berdiri. Tatapan itu berkata: Diamlah. Jangan mempermalukan kami.

Aku tercekat. Insting bertahan hidupku seketika mengambil alih. Aku menahan napas, menghentikan tangisan itu secara paksa, meski isak tertahan masih membuat bahuku bergemetar. Aku menunduk, menyembunyikan wajah basah air mataku di dada ibu asuh yang acuh tak acuh.

Utusan Kekaisaran Suci tidak tergoyah. Ia meletakkan Hyal kembali ke pelukan Seraphina terlihat sangat hati-hati, lalu berbalik menuju barisan belakang. Langkahnya lambat, berat. Ia mendekati Martha, ibu asuhku.

Tanpa banyak bicara, Utusan itu mengambilku dari gendongan Martha. Genggaman tangan tua Utusan itu kasar namun stabil. Aku diangkat ke udara, sama seperti Hyal tadi.

Namun, tidak ada cahaya keemasan yang menyambutku. Lampu kristal di atas kepalaku tetap bersinar biasa, dingin dan pucat. Hening menyelimuti aula. Tidak ada tepuk tangan antisipasi. Hanya desiran napas ribuan orang yang menunggu.

Utusan menatap mataku dengan tatapan aneh. Sejenak, aku merasa seperti sedang diadili. Apakah Utusan itu bisa melihat kutukan di dalam jiwaku? Bisakah ia melihat kepingan Permata Naga di jantungku?

"Dengan saksi para Dewa," ucap Utusan itu, suaranya kali ini terdengar lebih datar, tanpa gema kebanggaan seperti saat menyebut nama Hyal. "Mulai hari ini, Tuan Putri Kekaisaran akan diberi nama..."

Aku menahan napas.

"...'Krystal Seraphina Aethermoor'."

Nama itu, nama yang sama saat aku masih menjadi naga dan dibeberapa kali kehidupanku sebelumnya.

'Krystal' berarti kejernihan dan kekuatan. 'Seraphina', nama ibuku, disematkan sebagai nama tengah sesuai tradisi putri kerajaan. Namun, cara pengucapannya terasa hambar. Seperti formalitas belaka. Seperti tanda terima barang kiriman yang terlupakan.

Di Aethermoor, nama adalah identitas dan takdir. Nama tengah laki-laki berasal dari ayah (simbol otoritas), nama tengah perempuan dari ibu (simbol garis keturunan dan ikatan emosional). Dengan nama 'Seraphina' di tengahnya, seharusnya aku memiliki ikatan kuat dengan ibuku.

Namun kenyataannya? Ikatan itu terasa seperti tali yang siap ditarik dan diputus kapan saja.

Setelah upacara selesai, pesta perayaan dimulai. Musik orkestra kembali mengalun, pelayan membawa nampan berisi minuman anggur terbaik dan hidangan mewah. Para bangsawan, jenderal, dan diplomat dari negara tetangga mulai membentuk antrean untuk memberi salam kepada keluarga kerajaan.

Aku berada di pangkuan Martha di sisi ruangan yang agak terpencil, sementara Hyal berada di pusat perhatian, dipeluk bangga oleh Kaisar Athanasius.

Satu per satu tamu mendekat.

"Selamat, Yang Mulia Kaisar! Pangeran Hyal terlihat sangat kuat. Aura cahayanya luar biasa," ucap seorang Duke sambil membungkuk dalam-dalam.

"Terima kasih," jawab Kaisar dengan senyum lebar.

Tamu berikutnya, seorang Countess, mendekati Ratu Seraphina. "Yang Mulia Ratu, Pangeran Hyal benar-benar anugerah. Semoga ia membawa kejayaan abadi bagi Aethermoor."

Seraphina tersenyum, kali ini senyuman itu tulus. "Terima kasih, Nyonya."

Aku mengamati dengan mata setengah terpejam, pura-pura tidur. Aku menunggu. Menunggu giliran seseorang untuk menghampiriku, atau setidaknya, mengakui keberadaanku.

Seorang Baron muda melewati tempatku. Aku sedikit membuka mata, berharap mendapat setidaknya sebuah anggukan. Namun, Baron itu bahkan tidak menoleh. Matanya terkunci pada Hyal yang sedang tertawa kecil di ujung sana.

Menit berganti menjadi jam. Puluhan, lalu ratusan tamu telah memberikan ucapan selamat. Mereka semua memuji Hyal. Mereka semua berdoa untuk Hyal. Mereka semua seolah-olah lupa bahwa ada bayi lain yang lahir di hari yang sama, dari rahim yang sama.

Aku merasa kesal, merasa dingin. Bukan dingin suhu ruangan, tapi dingin kesepian yang menusuk tulang.

Apakah aku telah menyinggung Ratu? batinku bertanya-tanya, rasa bingung bercampur marah. Aku hanya menangis. Bayi normal pun menangis. Kenapa hukuman sosial ini begitu cepat datang?

Aku menatap Hyal dari kejauhan. Bayi berambut putih itu sedang bermain dengan jari-jari Kaisar, dikelilingi oleh cinta dan kekaguman. Hyal tampak bahagia. Atau mungkin, itu hanya topeng? entahlah, akutidak tahu. Yang aku tahu, kehadiran Hyal selalu membawa bayangan hitam disetiap kehidupanku.

Kenapa mereka memperlakukan aku sangat berbeda dengan Hyal?

Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku. Apakah karena aku anak kedua? Tidak, Felix saja, yang bukan anak kandung Seraphina, masih diperlakukan dengan hormat sebagai Putra Mahkota. Apakah karena aku perempuan? Tidak, sejarah Aethermoor mencatat beberapa Permaisuri yang sangat dihormati.

Lalu, apa?

Aku menelan ludah, rasa pahit menjalar di lidah. Pandanganku kembali tertuju pada sosok kecil berambut putih itu.

Oh.... Hyal...

Sebuah kebencian dingin, asing namun akrab, mulai tumbuh di dasar hatiku. Kebencian yang bukan sepenuhnya milikku, tapi warisan dari sembilan puluh delapan nyawa sebelumnya.

Aku jadi membenci nama itu.

Setiap kali nama itu disebut, ingatan akan rasa sakit, pengkhianatan, dan kematian muncul. Setiap kali ia melihat wajah itu, ia melihat akhir dari dirinya sendiri.

Aku selalu saja menderita dan mati jika berurusan dengannya.

1
Jasa Curhat
waktu antara hyal memohon dan bulan purnama pertama tidak sinkron
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!