Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana perburuan liar : 34
Seperti dikejar-kejar hantu ataupun Anjing gila, mereka benar-benar bertindak membabi buta, menggunakan kaki, cangkul, bahkan Ahwaya berlutut, kedua tangannya mendorong tanah masuk ke dalam lubang.
Keringat jatuh ke atas tanah, ada juga sempat menetes pada raga Mayang, sebagai bukti betapa para temannya sangat berusaha menjaga anggota badannya agar tidak dijadikan santapan siluman Aul.
Tak ada salam perpisahan, pemakaman layak ditaburi bunga, dikenang kebaikan almarhumah, dibacakan doa, hanya penguburan jenazah secara kilat, terburu-buru.
Begitu timbunan tanah sudah tinggi seperti bagian sampingnya, kelima teman Mayang menginjak agar padat dan tidak digali lagi.
“Kamu yakin mereka tidak mencuri mayat Mayang dan gadis malang itu?” Aji ingin memastikan dan berusaha meyakinkan diri sendiri.
“Air sabun tadi adalah musuh mereka. Takkan mau makan daging terkontaminasi bahan kimia, maka dari itu pengawetan menggunakan metode lama dan alami!” Kanti melompat-lompat, napasnya terengah.
“Sudah cukup! Ayo bersiap!” Candra Kanti mengenakan sandal bertali biasa dipakai untuk naik gunung selain sepatu.
Tasnya digendong Sambara yang memakai kaos pas badan, celana jeans milik Aji, sepatunya punyanya sendiri.
Entah apa yang dibawa Abeer, tas parasut serbaguna milik Kanti diselempangkan pada punggung seperti ransel.
Aji sendiri menggendong ranselnya, mengeratkan tali sepatu agar tidak ada kejadian terinjak-injak membuatnya terjatuh.
Aya mengibas-ngibaskan tangan, menelisik penampilan dan memastikan siap untuk kabur.
“Ayo lari!!!” Kanti memimpin jalan, masuk ke dalam semak-semak menerobos tumbuhan rimbun yang sisi daun, ranting kecil menggores kulit lengan.
Mereka tinggal berlima, berlari tanpa menoleh ke belakang. Deru napas tersengal-sengal, suara detak jantung berlomba-lomba terdengar kencang. Keringat membasahi wajah dan merembes pada pakaian dikenakan.
Entah sudah berapa lama, salah satu dari mereka tersungkur dikarenakan kelelahan.
“Abeer!” Aya berteriak, dia berlari tepat di belakang si pemuda terjatuh.
Kanti berhenti, berbalik badan dan berlari ke arah mundur. Jiwa sosial tertanam berakar kuat dalam sanubarinya. Tidak egois berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Sambara dan Aji membantu Abeer bangun. Pemuda bermandikan keringat dan wajah kotor tanah bersandar di batang pohon kecil yang langsung tumbang.
Hahahaha ….
Dalam keadaan genting mereka tertawa melihat pohon roboh tertimpa punggung lebar Abeer.
Wajah-wajah letih, kelopak mata menghitam efek kurang tidur, sama-sama menyunggingkan senyum alakadarnya.
Kanti melepaskan tas yang sebenarnya untuk pergi ke pasar, dari punggung Abeer, lalu melebarkan pada bagian atas. “Astaga! Kamu nyuri makanan juga?”
“Beri aku buah jeruk. Tenggorokanku gatal,” pintanya pelan, tidak peduli dicap pencuri.
Aya yang penasaran ikut menggeledah tas Abeer. Ternyata ada empat buah Jeruk manis, Bengkong, Timun, Tomat, dan kacang tanah rebus.
“Ini.” Kanti membelah buah jeruk tanpa mengupas kulitnya, diberikan ke Abeer.
Tanpa mengucapkan terima kasih, langsung saja dikupas kulit jeruk, lalu memasukan ke dalam mulut.
“Leganya,” tenggorokan kering kembali segar.
“Aku sengaja nyuri buah-buahan, karena itu paling aman. Gak berani nyolong yang lain, takutnya terkontaminasi daging manu ….” ia tidak mau menyelesaikan kalimatnya. Rasa sedih kembali menyeruak.
“Apa gapapa kita istirahat sebentar disini?” Sambara mengedarkan pandangan, mengalihkan pembicaraan. Memeriksa hutan tidak ditanami banyak pohon, melainkan semak belukar, tumbuhan liar menjalar.
“Semoga saja aman. Aku juga gak hafal tempat ini. Bisa dibilang buta jalan,” aku Kanti jujur, ini pertama kalinya dia memasuki wilayah hutan terletak jauh dari belakang rumah bu Sasmi.
“Terus kita mau sembunyi dimana? Bisa jadi gak lama lagi langit bakalan berwarna kemerahan?” Aya mulai cemas.
“Sebentar. Tolong kalian jaga aku, tapi jangan diganggu!”
“Gak mau, Kanti! Terakhir kamu pingsan saat melakukan ritual atau apa itu, bersemedi ya? Tolong disaat seperti ini jangan buat aku tambah panik. Jantungku bakalan gak kuat!” tolak Aya tegas.
Iya juga sih, takutnya saat jiwanya menyusuri hutan ini, tiba-tiba disergap pria bermata biru. Bisa kacau semua. Nyawanya dan keempat temannya bakalan terancam. Kanti pun urung.
Mereka beristirahat sejenak, lalu kembali berjalan lebih jauh lagi memasuki hutan semak belukar.
***
Brak!
Suara pintu mobil dibanting memecah suasana sunyi hunian bu Sasmi.
“Kemana mereka? Apa tidur?” Tejo merasa heran, biasanya melihat salah satu calon mangsa. Abeer ataupun Sambara sering duduk di bangku kayu teras samping rumah dengan pakaian serba putih.
Bu Sasmi melangkah tergesa-gesa, hendak memeriksa bangunan indekos.
Widi berjalan lain arah, berniat masuk ke dalam rumah melalui pintu depan.
Namun langkah kaki mereka terhenti, hampir secara bersamaan berbalik badan mencari arah bunyi derap kaki menjejak lantai.
“Mereka sudah pergi!” wanita yang diperkenalkan sebagai si bisu, berdiri pongah pada lantai teras, tatapan matanya bengis.
Lilis dalam balutan gaun katun putih panjang sebetis, lengan sesiku, menatap penuh ketiga sosok memandang sungkan.
Pelan-pelan, bu Sasmi, Widi, Tejo – menekuk kaki depan mereka, tangan kiri bertumpu di atas lutut, posisi berlutut memberi hormat dengan kepala tertunduk.
“Aku membiarkan mereka melarikan diri. Agar perburuan liar segera bisa dilakukan setelah langit berubah warna kemerahan.” Bibir sebelah kiri tertarik ke atas menciptakan seringai keji. Bola mata hitam kelam berubah kemerahan dan menyisakan iris legam.
“Baik, Ketua!” seru ketiga anak buah pemimpin kawanan siluman Aul – Lilis yang menyamar menjadi wanita bisu, istri Tejo, demi menyembunyikan identitas asli, dan diam-diam mengamati, mengukur kekuatan calon korbannya.
“Persiapkan diri kalian! Dan juga para anggota lainnya! Malam ini kita berburu manusia dungu itu!”
.
.
Bersambung.
ngk rela Kanti sampai nikah SMA aksata
baru baca lg karya kak cublik yg ini, saking sibuk'y d dunia nyata
tapi...ada seseorang yg bisa nolong kanti....CUBLIK...lah orangnya
KAK CUB..please jangan sama set-an sesat ya
jahat banget..
kanti..ayo usaha..
ga rela kl.kanti pasangan sm harimau
berharap aya,pacarnya, ember ,aji bisa ingat lagi
siapa yg hapus ingatan mereka ber 3?
duh aku ko ya sebel banget sama aksata🙈
mereka bingung dengan perasaan mereka sendiri, merasakan sedih, kehilangan, dan menyayangi tanpa tau sebabnya.
kaya orang linglung