NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Menjadi Ibu Susu Anak Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami

​Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
​Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.

​Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KEMILAU AQIQAH DAN CEMBURU SANG ARSITEK KECIL

Pagi di kediaman Arkananta di Sentul biasanya tenang, namun hari ini suasana berubah menjadi festival kecil. Tenda-tenda putih dengan hiasan bunga melati dan mawar segar berdiri anggun di halaman luas. Hari ini adalah perayaan aqiqah Nirmala Salsabila Arkananta. Arlan, yang biasanya hanya peduli pada efisiensi operasional, kali ini turun tangan langsung memastikan setiap porsi kambing guling dan nasi kebuli memiliki standar kelezatan bintang lima.

"Dante, pastikan area parkir untuk tamu dari panti asuhan dan mahasiswa UMS dibedakan jalurnya agar tidak macet," instruksi Arlan sambil menyesuaikan letak kopiah hitamnya di depan cermin.

Dante mengangguk, namun matanya melirik ke arah sudut ruangan. "Arlan, sepertinya ada satu 'tamu VIP' yang sedang melakukan aksi mogok makan."

Arlan menoleh. Di atas sofa beludru biru, Leon duduk bersedekap. Wajahnya ditekuk, bibirnya maju beberapa sentimeter, dan ia menolak memakai baju koko kembarannya dengan Arlan.

Di sampingnya, sebuah robot plastik tergeletak tak berdaya.

"Leon? Jagoan Ayah kenapa belum siap-siap?"

tanya Arlan sambil berlutut di depan putranya.

"Bunda tadi lupa cium Leon," gumam Leon pelan, matanya berkaca-kaca. "Bunda cuma cium Adik Mala terus. Adik Mala mandi lama, Bunda di sana. Adik Mala pakai baju, Bunda di sana. Leon mandi sendiri, tidak ada yang lihat."

Arlan tertegun. Ia menyadari satu hal yang luput dari protokol "Ayah Siaga"-nya: Cemburu Saudara Kandung. Selama seminggu terakhir, perhatian seluruh isi rumah memang tersedot sepenuhnya pada bayi mungil yang baru lahir itu.

Arlan menghela napas, ia duduk di lantai di depan Leon, mengabaikan celana kainnya yang mahal.

"Leon, dengar Ayah. Kau tahu kenapa kita mengadakan pesta besar hari ini?"

Leon menggeleng pelan, masih enggan menatap ayahnya.

"Hari ini kita ingin mengenalkan Adik Mala pada dunia. Tapi, Adik Mala itu masih kecil. Dia belum bisa jalan, belum bisa makan sendiri, apalagi membangun menara balok sehebat kau. Dia butuh bantuan Bunda untuk semuanya," Arlan memegang bahu Leon. "Tapi kau? Kau adalah Kapten di rumah ini. Bunda tidak melupakanmu, Bunda hanya sedang melatih prajurit baru supaya nanti bisa sehebat Kakak Leon."

Mata Leon mulai melirik Arlan. "Prajurit baru?"

"Iya. Dan Kapten harus memakai seragamnya sekarang, karena tamu-tamu ingin melihat siapa yang menjaga Nirmala hari ini," Arlan menyodorkan baju koko putih bersih itu.

Perlahan, Leon meraih baju itu. Gengsi kekanak-akannya mulai luntur oleh sebutan 'Kapten'. "Tapi nanti Bunda harus cium Leon sepuluh kali. Tidak boleh kurang."

"Sepakat. Ayah yang akan hitung," Arlan tersenyum lega.

Pesta aqiqah itu berlangsung hangat. Arlan dan Arumi tidak mengundang pejabat tinggi atau rekan bisnis minyak yang kaku. Tamu utamanya adalah anak-anak dari panti asuhan asuhan Yayasan Salsabila, para dosen UMS, dan penduduk sekitar Sentul.

Arumi tampil anggun dengan kaftan berwarna nude, menggendong Nirmala yang tertidur lelap dalam balutan kain sutra putih. Setiap kali tamu mendekat untuk mendoakan, Arumi selalu menyempatkan diri menarik Leon ke sampingnya.

"Ini Leon, Kakaknya Nirmala. Dia yang menjaga Adik setiap malam," ucap Arumi bangga kepada setiap tamu.

Leon, yang sudah kembali ceria, berdiri tegak dengan dada membusung setiap kali namanya disebut. Ia merasa memegang tanggung jawab besar. Sesekali ia mengusap dahi adiknya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Nirmala adalah kristal yang bisa pecah kapan saja.

"Hati-hati, Paman Dante," tegur Leon saat Dante mendekat untuk melihat bayi itu. "Adik sedang mimpi. Jangan berisik."

Dante hanya bisa tersenyum simpul. "Siap, Kapten. Saya hanya lewat."

Di tengah acara, muncul perdebatan kecil yang lucu di antara para tamu—termasuk Raka dan Sarah.

"Lihat hidungnya, itu pasti hidung Arlan. Tegas dan mancung," ujar Raka sambil memotret bayi itu untuk dokumentasi yayasan.

"Tidak, matanya itu mata Arumi. Teduh dan sedikit bulat," bantah Sarah. "Lagipula, mana mungkin Arlan yang kaku itu bisa menurunkan kelembutan seperti ini."

Arlan yang mendengar itu hanya berdehem. "Dia Arkananta. Tentu saja dia mirip aku dalam hal kecerdasan."

Arumi menyenggol lengan suaminya. "Kecerdasan mungkin dari kau, Arlan. Tapi sifat keras kepalamu jangan sampai turun ke dia.

Cukup Leon saja yang kalau mau apa-apa harus pakai negosiasi kontrak."

Semua orang tertawa. Leon yang merasa namanya disebut, mendongak. "Leon mirip Ayah karena Leon kuat! Adik Mala mirip Bunda karena cantik!"

Jawaban polos Leon itu menutup perdebatan dengan tawa haru. Di momen itu, Arlan menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak aset yang ia miliki, melainkan pada keharmonisan di meja makan dan tawa anak-anak di halaman.

Saat acara hampir selesai, seorang pria tua yang merupakan salah satu penerima beasiswa pertama Yayasan Salsabila angkatan lama (sebelum universitas berdiri) datang mendekat. Ia membawa sebuah bungkusan kecil berisi kerajinan tangan dari kayu jati.

"Pak Arlan, Nyonya Arumi... ini tidak seberapa. Tapi ini adalah ukiran doa dari desa kami untuk putri kecil Bapak," ucap pria itu dengan tulus.

Ukiran itu berbentuk bunga Salsabila yang sedang mekar, dengan nama 'Nirmala' terukir indah di tengahnya. Arumi menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Inilah alasan mengapa mereka berjuang membangun institusi pendidikan dan kesehatan: untuk melihat senyum tulus dari orang-orang yang telah bangkit dari keterpurukan.

"Terima kasih, Pak. Ini adalah hadiah paling berharga yang kami terima hari ini," ucap Arumi tulus.

Malam harinya, setelah semua tamu pulang dan tenda-tenda mulai dibongkar, suasana rumah kembali tenang. Nirmala sudah tidur di boksnya yang wangi aromaterapi lavender. Arlan dan Arumi sedang beristirahat di sofa ruang tengah.

Leon, yang seharusnya sudah tidur, diam-diam berjalan berjinjit menuju kamar bayi. Ia membawa sebuah mainan robot favoritnya—robot yang tadi pagi sempat ia abaikan karena cemburu.

Ia meletakkan robot itu di samping boks bayi Nirmala.

"Adik Mala... ini robot Leon yang paling hebat. Dia bisa jaga Adik kalau Ayah dan Bunda sedang tidur," bisik Leon pelan. "Leon tidak marah lagi. Tapi besok, Adik harus cepat besar ya, supaya bisa Leon ajari cara buat menara dari balok. Kita akan buat menara yang paling tinggi sampai ke awan."

Arlan dan Arumi yang memperhatikan dari balik pintu yang terbuka sedikit, saling berpandangan.

Arlan merangkul pinggang istrinya, merasa bahwa tugasnya sebagai kepala keluarga telah berhasil pada tahap yang paling krusial: membangun kasih sayang.

"Ternyata negosiasi dengan Leon lebih mudah daripada negosiasi dengan Victoria, kan?" goda Arumi.

"Jauh lebih mudah," jawab Arlan sambil mencium pelipis Arumi. "Dan jauh lebih memuaskan."

Di bawah langit Sentul yang damai, babak baru kehidupan mereka telah dimulai. Tanpa senjata, tanpa konspirasi, hanya ada satu keluarga kecil yang mencoba memberikan arti bagi dunia, satu langkah sederhana dalam satu waktu.

1
Ariany Sudjana
wah mimpi apa penjual rujak di pasar ketemu dengan pembeli yang sangat mengutamakan higienis 😂😂
Liza Syamsu
keren, alur cerita jelas, arlan CEO yg karakter nya pemimpin sejati
Liza Syamsu
ini seperti membaca trailer film action, bagus thor semangat walaupun yg like bisa dihitung pakai jari
Liza Syamsu
bagus banget ini karakter arlan ayo like yg sdh baca
Liza Syamsu
kenapa Victoria ingin menghancurkan leon dan arlan,apa arlan bukan anak kandung Victoria
Liza Syamsu
jangan sampai thor biar terbukti dulu leon anak arumi nanti baru konflik, bukannya brm sdh diamankan oleh arlan kno bisa dgn siska lagi
Nur Janah
haddeehhhhh...Siska dan Bram lg
Liza Syamsu
sumpah ini cerita nya bagus kenapa yg like sedikit, came on kawan jika sdh baca dilike dong
Ariany Sudjana
setuju dengan Dante, saat situasi tidak menentu, kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan, waspada terus Arumi
awesome moment
jgn tll baik hati. waspada tu perlu. bohing adalah akar smua masalah
Nur Janah
kan udah pake keamanan militer paling canggih Thor kok si Bram masih bisa tau
Nur Janah
buktikan PD Arlan Arumi bahwa bram penghianat
Nur Janah
ada bau" penghianat nih
Nur Janah
kyknya seru ceritanya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!