Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membangun Tahta Baru
Udara pagi di perkebunan Desa Mawar terasa begitu manis. Hari ini bukan sekedar hasil panen biasa, melainkan hari dimana sejarah baru keluarga Pak Hadi dicatatkan. Laporan keuangan di tablet milik Azura menunjukkan angka yang sempat membuat Farhan tidak bisa tidur semalam : Empat Miliar Rupiah. Sebuah angka fantastis dari hasil panen raya perdana yang terintegrasi sempurna dengan sistem peternakan.
Minggu pagi, setelah sarapan bersama yang penuh kehangatan, Azura meminta semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga rumah mewah mereka. Ada aura serius namun menenangkan di wajahnya.
Mas Farhan, " Panggil Azura lembut, memecah kesunyian. " Hari ini, aku sudah mengambil kembali seluruh modal awal yang ku keluarkan. Dan mulai detik ini, perkebunan di Desa Mawar beserta seluruh isinya, secara resmi kuserahkan kepadamu. Ini milikmu sepenuhnya,Mas."
Farhan tertegun, matanya seketika berkaca-kaca. "Ra.. Ini terlalu besar. Tanpa dirimu, perkebunan ini tidak akan bisa berjalan."
Azura tersenyum, lalu menyerahkan sebuah map dokumen penting. "Aku tidak pergi, Mas. Aku hanya mengubah posisiku. Aku sudah mendaftarkan sistem saham investasi. Aku tetap pemilik modal di belakang layar, tapi Mas adalah direktur utamanya. Aku ingin Mas punya kebanggaan sendiri sebagai seorang pria, dan sebagai seorang ayah untuk Rafa."
Farhan memeluk adiknya dengan erat. Rasa syukur membuncah di dadanya karena Azura telah mengembalikan harga diri dan wibawanya yang telah dulu sempat hancur.
Tidak berhenti di situ, Azura beralih kepada sang Bapak. Pak Hadi yang dulu hanya mengharap sawah orang lain, kini sawah seluas 15 hektar miliknya sendiri. Azura telah menyulapnya menjadi pertanian modern dengan teknologi traktor terbaru dan sistem irigasi otomatis.
"Bapak tidak perlu lagi memukul cangkul sampai punggung sakit," ucap Azura sambil menggenggam tangan Pak hadi. "Sawah ini, di tambah lahan yang baru ku beli di Desa Teratai, adalah tanggung Jawab Bapak. Aku ingin Bapak jadi pelopor pertanian modern di kabupaten kita."
"Azura... bapak tidak pernah bermimpi bisa punya sawah seluas ini," bisik Pak Hadi haru. ada keraguan dihati. " Tapi usia bapak tidak muda lagi, apakah Bapak mampu?"
"Tentu Bapak bisa," sahut Azura mantap. "Semua yang bekerja di pertanian sawah tidak ada batasan usia selama mereka mau bekerja jujur dan telaten. Untuk urusan administrasi dan mesin, Azura sudah siapkan tenaga ahli yang akan membantu bapak."
Ibu Sulastri pun tak luput dari perhatian. Ia ditunjuk sebagai pembina produksi di galeri kerajinan. " Tapi ingat ya,Bu. Galeri buka setiap hari, tapi untuk produksi hanya Senin sampai Kamis. Ibu dan warga tidak boleh terlalu lelah, kecuali kalau ada pesanan besar baru kita lembur," tambah Azura yang disambut anggukkan setuju ibunya. Sedangkan Alya bagian penjualan, menerima orderan dan dengan temannya tiga orang teman Alya.
"Ini rasa seperti mimpi. Dalam sekejap kita bisa melewati semua proses perih ini. Ingat, kita jangan pernah lupa bersyukur," nasihat Pak Hadi kepada keluarganya.
Tiba-tiba, suara Fikri memecah suasana haru itu. "Lalu kalau semua sudah diserahkan ke Mas Farhan, Bapak ,dan ibu .. Kak Azura sendiri kerja apa sekarang?"
"Kak Azura nggak perlu kerja capek-capek lagi, Fik. Kan sudah banyak duit. Tiap bulan tinggal duduk manis, uang dari perkebunan masuk sendiri ke rekening. Ya kan,Kak? Kak Azura ini sekarang janda Kaya Raya nomor satu di kecamatan kita, tapi di KTP masih perawan." Sahut Alya sambil tertawa kecil.
Seluruh ruangan pecah oleh tawa, tapi Farhan belum mau berhenti di situ saja. Ia memperbaiki posisi duduknya dengan Rafa dipangkuan Farhan, lalu menatap Azura dengan tatapan jahil. "Nah, bicara soal 'Janda Kaya', Mas pikir-pikir... kebun sudah ada yang urus, sawah sudah ada Bapak, rumah sudah Megah. Apa tidak ada niat mencari asisten pribadi? Mas lihat, pengusaha muda di kota banyak loh yang mulai mencari kontak mu Azura."
Azura langsung mendelik. "Mas Farhan! jangan mulai, ya. Asisten pribadi sudah ada, Mba Nella dan Pak Wahyu," sahut Azura mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ih maksud Mas Farhan itu pendamping hidup, Kak! Kak Azura cantik begini, sukses pula. Kalau Mas Dimas lihat kakak sekarang, mungkin dia bakal sujud-sujud minta balik."
"Uhuk! Jangankan sujud, mungkin dia bakal pingsan lihat saldo di rekening Kak Azura," Celetuk Fikri yang ikut-ikutan.
Pak Hadi berdehem, suaranya terdengar berwibawa. " Farhan benar. Tapi kali ini, bapak tidak akan sembarangan memberi restu. Siapa pun yang mau mendekati putri-putri bapak, harus melewati ujian mental dan fisik dulu! Pertama, ilmu agamanya harus kuat, kedua ilmu bela diri, setidaknya dia harus bisa menahan serangan bapak atau Farhan. Ketiga harus mau berkerja keras. Dan yang paling penting, harus baik kepada orang kecil!"
Alya langsung memprotes. "Yah, Bapak... Syaratnya banyak sekali! Itu mau cari menantu atau mau cari tentara sekaligus ustadz? Bisa-bisa Alya jomblo seumur hidup kalau standarnya setinggi itu."
"Lah baik jomblo daripada salah pilih orang lagi, Al," sahut Farhan santai.
Tiba-tiba Fikri angkat bicara dengan wajah serius. "Kalau Fikri nanti, standarnya beda lagi."
Semua mata tertuju pada si bungsu. "Memang kamu mau yang seperti apa,Fik?" tanya ibu Sulastri penasaran.
Fikri mau cari istri yang lulusan pondok pesantren," jawab Fikri mantap.
Semuanya seketika tercengang, ruang tamu mendadak hening selama beberapa detik.
" Fikri ingin istri Fikri paham agama jadi mendidik anak-anak bisa bersama, dan juga bila salah satu ada melakukan kesalahan bisa saling mengingatkan," kata fikri
Farhan tertawa terbahak-bahak. "Heh, Bocah! Kamu itu baru kelas 1 SMA, sudah mikirin kriteria istri sampai sedalam itu!"
"Tahu ini Fikri, kerjakan dulu tugas matematikamu di kamar!" goda Alya sambil tertawa riang
Fikri hanya nyengir tanpa dosa. "Kan sedia payung sebelum hujan, Kak. Masa kalah sama Kak Azura yang strateginya sampai sepuluh langkah ke depan."
Setelah Tawa mereda, Pah Hadi menatap anak-anaknya dengan lembut. " Bapak menetapkan syarat tinggi bukan ingin mempersulit kalian. bapak hanya ingin kalian bahagia. cukup sekali Bapak melihat air mata kalian jatuh karena orang yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi penindas."
Tenggorokan pak Hadi tampak naik turun menahan haru. "Bapak tidak butuh menantu kaya raya. Harta bisa dicari, lihatlah Azura sekarang. Tapi Bapak butuh laki-laki yang punya hati dan harga diri. Bapak tidak ingin ada anak-anak bapak yang tersakiti, terabaikan, apalagi terhina dalam sebuah pernikahan."
Ibu Sulastri diam-diam menyeka sudut matanya dengan ujung hijab, sementara Azura merasakan dadanya sesak oleh rasa sayang kepada bapaknya. Ia tahu, kata-kata itu adalah bentuk penebusan rasa bersalah pak Hadi karena dulu gagal melindungi Azura dari Dimas.
"Pernikahan itu tempat pulang, bukan tempat perang," lanjut pak Hadi lagi. " jadi, selama bapak masih bernapas, bapak akan pastikan pintu rumah ini hanya terbuka untuk mereka yang benar-benar tulus kepada kalian."
Azura memegang tangan bapaknya. "Terima kasih, pak. Kami janji tidak akan mengecewakan bapak lagi."
Kehidupan pun berlanjut dengan warna baru, Alya kini bersemangat kuliah menggunakan mobil sendiri. Setiap Jumat sore, Pak Hadi tetap mewajibkan mereka latihan fisik dan bela diri. Di sela itu, Azura mulai memantau perusahaan properti yang ia rintis bersama Alya dan suami Sari yang sudah berjalan tiga bulan.
Sambil menatap dari jendela ruang kerjanya, Azura berguna pelan, Eskalasi bisnis keluarga sudah stabil. Sekarang, saatnya Azelena kembali ke panggung dunia bisnis yang sesungguhnya."