Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar digerbang Hijau 16
Malam itu terasa sunyi dan damai, menyambut Valaria setelah keberhasilannya menjalin kerja sama dengan pihak radio dan surat kabar. Di dalam rumah yang remang-remang, di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip, Valaria segera membuat beberapa puisi dan cerita baru. Jari-jemarinya menari di atas kertas buram, mengubah gagasannya menjadi diksi yang memukau.
Dia menggabungkan narasi fiksi dengan pengetahuan tentang apa yang sudah dia pelajari dari buku-buku lama dikehidupan sebelumnya, menghasilkan artikel yang unik dan menarik. Rasa lelahnya terhapus oleh semangat. Dia menulis tanpa henti, tenggelam dalam dunia kata-kata, hingga jam di dinding menunjukkan waktu yang sangat larut.
Sekitar pukul dua dini hari, ketika rasa kantuk mulai menyerang, Valaria yang menulis hingga larut malam memutuskan untuk mengambil jeda. Ia merasakan kebutuhan mendesak untuk menghirup udara segar.
Ia berjalan keluar rumah. Di luar, jalanan tampak gelap gulita, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang samar. Namun, langit di atasnya adalah sebuah mahakarya. Langit malam yang berbintang tampak indah berkilau, ribuan titik cahaya perak bertaburan di atas kanvas hitam pekat.
Angin malam yang berhembus dingin membelai kulitnya, membawa aroma embun dan bunga kamboja dari kejauhan. Valaria bersandar di tiang rumah, matanya terpejam sejenak. Dia merasakan perasaan damai dan nyaman yang jarang didapatnya. Kekhawatiran hari-hari sebelumnya seolah hanyut terbawa angin.
Namun, kedamaian itu segera terganggu.
Dari jauh, Valaria melihat sebuah cahaya yang tidak biasa. Cahaya itu tidak berasal dari rumah tetangga atau obor, melainkan cahaya kecil, seperti lampu senter yang disembunyikan.
Rasa penasaran yang besar mendorongnya. Perlahan-lahan, Valaria mendekat ke sumber cahaya itu, bergerak hati-hati di kegelapan, menghindari ranting kering yang bisa menimbulkan suara.
Sumber cahaya itu berasal dari balik semak-semak, di pinggir hutan kecil. Saat Valaria mengintip dari balik pohon besar, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya mencelos karena terkejut.
Damian, pemuda yang pernah ia cintai bersama dengan Laksmin wanita yang dikenal cerdik dan licik di desa sedang berduaan di bawah pohon rindang.
Valaria melihat sangat terkejut, bukan hanya karena pemandangan romantis yang seharusnya terlarang, tetapi karena apa yang mereka bicarakan.
Laksmin terdengar tertawa kecil, suaranya genit dan manja. "Kau tahu, cintaku, gorengan Valaria hari ini ludes. Dia benar-benar pintar mengolah singkong, ide tepungnya itu jenius."
Damian menjawab dengan nada bangga yang merendahkan. "Tentu saja ludes, Sayang. Karena ide itu sebenarnya dariku. Aku sering mendengarnya bergumam tentang rencana bisnis singkongnya, jadi aku memberikannya sedikit 'sentuhan' dan menyebarkannya lebih dulu padamu dan beberapa orang lain. Biarkan saja si Valaria itu merasa bangga. Dia kan polos. Yang penting, kita yang dapat untung besar dari ide dasarnya, bukan?"
Valaria terpaku. Dengkulnya terasa lemas. Bukan karena pengkhianatan romantis, tetapi pengkhianatan bisnis dan kepercayaan. Matanya yang biasanya hangat kini berubah menjadi beku.
Anehnya, Valaria mendengar itu tampak biasa saja di luar. Sebuah kekecewaan yang sangat dalam, dingin, dan menusuk, yang tidak memunculkan amarah eksplosif, tetapi ketenangan yang menakutkan. Wajahnya datar dan dingin.
Dia melangkah pelan, tanpa suara, dan bersandar di dekat pohon yang cukup besar untuk menyembunyikannya dari pandangan mereka. Valaria mendengarkan semuanya apa yang mereka katakan, setiap kata pengakuan dan rencana licik mereka, membiarkan kebencian itu meresap ke dalam dirinya.
"Kau harus lebih sering membawakanku uang, Damian. Agar aku bisa membeli lebih banyak singkong dan terus menjual dengan harga yang lebih murah daripada kedai keluarga Valaria," desak Laksmin.
"Tenang saja, sebentar lagi. Mereka sudah bekerja keras, biarkan saja mereka menyediakan bahan dasarnya, kita yang menjualnya," tawa Damian.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Valaria merasa cukup. Dia telah mendengar segalanya yang perlu dia dengar. Kekecewaan itu telah berubah menjadi tekad yang dingin.
Tanpa membuat suara sedikit pun, Valaria kembali ke rumah. Langkahnya yang perlahan dan pasti diwarnai oleh emosi yang membeku.
Saat ia berjalan mendekat ke rumah, dia melihat ada bayangan di depan pintu. Itu adalah ayahnya, Arjun. Ayahnya berdiri di depan pintu, tampak khawatir.
"Valaria? Dari mana saja kau pergi sepagi ini, Nak?" Arjun bertanya dengan nada sedikit cemas.
Valaria terdiam sejenak. Matanya yang dingin memandang ayahnya. Dia tidak ingin berbohong.
Valaria tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Dia menunggu.
"Masuk, Ayah. Aku perlu bicara," katanya dengan suara pelan namun serius, yang membuat ayahnya mengernyit.
Hingga mereka masuk ke dalam rumah, duduk di bangku kayu di ruang tengah yang gelap. Valaria tidak membuang waktu.
Dia segera menceritakan semua yang dia dengar barusan. Setiap kata, setiap detail pencurian resep Damian dan Laksmin, diceritakannya dengan nada datar. Valaria tidak menangis, tidak berteriak, tetapi ketenangan emosinya justru membuat ceritanya terdengar lebih mencekam.
Ayahnya terkejut. "Damian... aku tidak menyangka dia sepicik itu.” Ada nada sakit hati dan kemarahan dalam suara Arjun.
Retri yang datang dari kamar karena suara Valaria yang tidak biasa juga ikut mendengarkan. Wajahnya pucat pasi saat mendengar cerita itu.
"Ya Tuhan, Valaria. Dia mencuri ide kita?" Retri menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana bisa mereka mencuri resep kita? Kita hanya punya sedikit modal, kalau begini terus kita akan rugi bukan."
Valaria menatap mata ibunya dengan sorot mata yang penuh janji. "Kita tidak akan bersaing dengan cara lama, Bu. Justru karena itu juga, aku ingin mencoba menjual tepung singkong ke pasar secara langsung."
Ayah dan ibunya saling pandang. Selama ini, mereka hanya menjual olahan matang.
"Kenapa tepung?" tanya Arjun, kebingungan.
"Karena kita membuat dengan jumlah banyak untuk sekali menggiling. Jika kita hanya menjual olahannya, kita membuang waktu dan tenaga. Jika kita menjual tepungnya sebagai bahan baku premium tepung singkong murni kita bisa mendapatkan keuntungan lebih cepat dan lebih besar, dan itu akan jauh lebih sulit untuk mereka tiru," jelas Valaria, nada suaranya tegas dan cerdas. "Mereka bisa meniru gorengan kita, tapi mereka tidak bisa meniru bahan baku kita."
Arjun setuju saja dengan ide Valaria. "Ide bagus, Nak. Kita harus selalu berpikir selangkah lebih maju."
"Selain itu," lanjut Valaria, matanya menyala dengan ide baru. "Aku juga ingin menjual sesuatu yang sama sekali baru."
Dia menjelaskan rencananya, "Aku ingin menjual kue dari kacang hijau yang sudah disangrai, dicampur dengan gula yang dihaluskan. Seperti kue mois atau moci kecil. Rasanya manis dan lembut, cocok untuk orang-orang yang lelah sepulang bekerja di sawah."
"Kacang hijau? Kita belum pernah membuat itu, Valaria," kata Retri, ragu.
"Aku tahu, Bu. Karena belum pernah mencoba, Valaria yang mengusulkan saja. Kita punya sedikit kacang hijau sisa di gudang. Kita akan coba pagi ini. Aku akan membeli sedikit gula halus dan bahan lain. Kita harus bereksperimen, Bu. Kita tidak bisa diam saja dan membiarkan kecurangan itu menghancurkan kita."
Keluarganya akhirnya setuju. Mereka akan mulai berburu bahan-bahan besok pagi. Di pagi harinya, udara kembali sejuk. Valaria sibuk dengan urusannya sendiri.
Valaria tidak pergi ke pasar bersama dengan orang tuanya kali ini. Arjun dan Retri pergi ke pasar tradisional untuk menjual sisa olahan dan sedikit tepung singkong percobaan, serta mencari bahan untuk kue kacang hijau Valaria.
Valaria tinggal di rumah karena sedang membersihkan lahan sawah kecil mereka yang berdekatan dengan rumah.
Dia mengambil kentang yang dibeli oleh Valaria kemarin. Sebagian dia masak untuk sarapan mereka, dan sebagian dia coba untuk ditanam di dekat rumah. Dia tahu, kentang bisa tumbuh cepat dan memberikan hasil yang lebih cepat daripada singkong. Dia harus mencari sumber makanan dan penghasilan yang beragam. Dia menggali lubang-lubang kecil di tanah yang gembur, menanam harapan di setiap umbi kentang.
Di sekeliling desa, aktivitas pertanian kembali ramai. Banyak orang pergi ke sawah untuk bertani dan menyiapkan lahan mereka. Ada suasana kebersamaan dan harapan di udara, karena mereka menyambut musim padi yang baru. Kegembiraan terbesar datang dari fakta bahwa bibit padi yang diberikan oleh pemerintah sudah tiba, memberikan jaminan panen yang lebih baik.
Valaria menatap sawah-sawah hijau di kejauhan. Kehidupan ini keras, tetapi penuh potensi. Pencurian resep dilakukan oleh Damian memberinya pelajaran penting, dia tidak boleh hanya fokus pada satu hal. Dia harus serbaguna, cerdas, dan selalu waspada.
Sambil menanam kentang, Valaria berbisik pada dirinya sendiri, "Mereka mungkin mencuri ide, tetapi mereka tidak akan pernah bisa mencuri otak dan semangatku. Tunggu saja, Damian. Permainan ini baru saja dimulai."