NovelToon NovelToon
Fajar Di Gerbang Hijau

Fajar Di Gerbang Hijau

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar di Gerbang Hijau Bab 16: Pengkhianatan di Balik Rembulan

Malam itu turun dengan kesunyian yang mencekam namun damai, seolah-olah semesta sedang memberikan ruang bagi Valaria untuk merayakan keberhasilannya. Kerja sama yang baru saja ia jalin dengan pihak radio dan surat kabar adalah langkah besar yang tak pernah terbayangkan oleh gadis desa mana pun. Di dalam rumah yang remang-remang, di bawah kerlip lampu minyak yang menari ditiup angin malam, Valaria tidak membiarkan matanya terpejam.

Jari-jemarinya menari lincah di atas kertas buram yang permukaannya sedikit kasar. Ia sedang merenda diksi, mengubah gagasan-gagasan liar di kepalanya menjadi bait-bait puisi dan narasi cerita yang memukau. Ada sesuatu yang unik dalam tulisannya; ia menggabungkan keindahan fiksi dengan kepingan pengetahuan dari kehidupan masa lalunya pengetahuan yang seharusnya belum ada di zaman ini.

Semangatnya membara, menghapus sisa-sisa lelah yang menggelayuti bahu. Ia terus menulis tanpa henti, tenggelam dalam samudera kata-kata, hingga jam dinding tua berdentang pelan menunjukkan waktu telah jauh melampaui tengah malam.

Sekitar pukul dua dini hari, ketika rasa kantuk mulai menyerang dengan hebat, Valaria memutuskan untuk mengambil jeda. Dadanya terasa sesak oleh aroma asap lampu minyak, dan ia merasa butuh menghirup udara segar agar pikirannya kembali jernih.

Ia melangkah keluar rumah dengan perlahan. Di luar, jalanan desa tampak seperti parit hitam yang gelap gulita. Tidak ada obor yang menyala, hanya cahaya rembulan pucat yang menyaring di sela-sela dedaunan. Namun, saat ia mendongak, matanya terpaku. Langit malam itu adalah sebuah mahakarya yang agung. Ribuan titik cahaya perak bertaburan di atas kanvas hitam pekat, berkilau seperti berlian yang tumpah.

Angin malam yang berembus dingin membelai kulitnya, membawa aroma embun yang bercampur dengan wangi bunga kamboja dari kejauhan. Valaria bersandar di tiang kayu rumahnya, memejamkan mata sejenak. Ia merasakan kedamaian yang asing sekaligus nyaman. Segala kekhawatiran tentang bisnis dan masa depan seolah hanyut dibawa angin dingin yang menusuk tulang.

Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap.

Dari sudut matanya, Valaria menangkap sebuah gerakan cahaya yang tidak biasa di kejauhan. Cahaya itu bukan berasal dari lampu minyak rumah warga, juga bukan kunang-kunang. Itu adalah cahaya kecil yang fokus, bergerak-gerak seperti sorot lampu senter yang sengaja ditutupi sebagian agar tidak mencolok.

Rasa penasaran yang besar mendadak bangkit, memicu adrenalinnya. Dengan langkah seringan kucing, Valaria mulai mendekati sumber cahaya itu. Ia bergerak sangat hati-hati di dalam kegelapan, memastikan kakinya tidak menginjak ranting kering yang bisa memicu suara.

Sumber cahaya itu berasal dari balik semak-semak lebat di pinggiran hutan kecil, tak jauh dari batas ladang singkong. Saat Valaria mengintip dari balik batang pohon besar yang melindungi tubuhnya, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di sana, di bawah pohon rindang yang gelap, dua sosok manusia berdiri berdekatan. Damian, pemuda yang pernah mengisi ruang di hatinya, tengah bersama Laksmin. Laksmin dikenal di desa sebagai wanita yang cerdik, bermulut manis, namun memiliki reputasi licik jika menyangkut keuntungan pribadi.

Awalnya, Valaria mengira ia akan menyaksikan sebuah adegan romantis yang terlarang. Namun, begitu telinganya menangkap percakapan mereka, rasa terkejutnya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

Laksmin tertawa kecil, suara genitnya terdengar seperti desisan ular di telinga Valaria. "Kau tahu, Sayang? Gorengan Valaria hari ini benar-benar ludes. Gadis itu memang pintar mengolah singkong. Ide tepungnya itu... menurutku jenius."

Damian menyahut dengan nada bangga yang merendahkan, suara yang dulu terdengar hangat bagi Valaria, kini terasa memuakkan. "Tentu saja ludes. Karena ide itu sebenarnya dariku. Aku sering mendengarnya bergumam tentang rencana bisnis singkongnya saat kami masih bersama. Jadi, aku memberikannya sedikit 'sentuhan' dan menyebarkannya lebih dulu padamu dan beberapa orang pasar. Biarkan saja si Valaria polos itu merasa bangga. Toh, dia tidak tahu apa-apa. Yang penting, kita yang meraup untung besar dari ide dasarnya, bukan?"

Valaria terpaku. Dengkulnya terasa lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dihisap keluar dari pori-porinya. Ini bukan sekadar pengkhianatan romantis; ini adalah pencurian intelektual, pengkhianatan bisnis, dan penghancuran kepercayaan yang paling keji.

Namun, ada yang aneh. Valaria tidak berteriak. Ia tidak menangis. Sebuah kekecewaan yang sangat dalam dan dingin meresap ke dalam hatinya, memadamkan amarah yang seharusnya meledak. Ia merasakan ketenangan yang menakutkan ketenangan seorang pemangsa yang baru saja melihat mangsanya berbuat salah. Wajahnya datar, matanya yang biasanya hangat kini berubah menjadi sepasang kristal es yang beku.

Ia tetap di sana, bersandar di balik pohon besar, mendengarkan setiap detail rencana mereka. Ia membiarkan kebencian itu meresap, bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk memperkuat tekadnya.

"Kau harus lebih sering membawakanku uang, Damian," desak Laksmin lagi. "Supaya aku bisa membeli lebih banyak singkong dan terus menjual dengan harga yang lebih murah daripada kedai keluarga Valaria. Kita harus mematikan bisnisnya sebelum dia berkembang."

"Tenang saja, sebentar lagi kita akan menguasai pasar," tawa Damian terdengar rendah dan serak. "Biarkan saja mereka bekerja keras menyediakan bahan dasarnya, kita yang akan memanen hasilnya."

Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Valaria merasa sudah cukup. Ia telah mendengar semua pengakuan yang ia butuhkan. Tanpa membuat suara sekecil pun, ia berbalik dan berjalan kembali ke rumah. Langkahnya perlahan namun pasti, diiringi emosi yang telah membeku menjadi tekad baja.

Saat mendekati pintu depan, ia melihat bayangan seseorang. Itu adalah ayahnya yang berdiri dengan raut wajah khawatir.

"Valaria? Dari mana saja kau jam begini, Nak?" tanya Arjun cemas.

Valaria terdiam sejenak. Matanya yang dingin menatap sang ayah, membuat Ayah sedikit mengernyit karena merasakan aura yang tidak biasa dari putrinya.

"Masuk, Ayah. Aku perlu bicara," jawab Valaria dengan suara pelan namun sangat serius.

Mereka duduk di bangku kayu di ruang tengah yang remang. Valaria tidak membuang waktu. Ia menceritakan setiap kata, setiap detail pencurian resep yang dilakukan Damian dan Laksmin. Ia mengatakannya dengan nada datar, tanpa emosi eksplosif, yang justru membuat ceritanya terdengar jauh lebih mencekam bagi siapa pun yang mendengar.

Ayah terpukul. "Damian... aku tidak menyangka pemuda itu sepicik itu." Ada luka mendalam dalam nada suara Ayahnya telah menganggap Damian seperti anaknya sendiri.

Ibu yang terbangun karena suara mereka, ikut mendengarkan dari ambang pintu kamar. Wajahnya pucat pasi. "Ya Tuhan, Valaria. Dia mencuri ide kita? Bagaimana kita bisa bersaing jika modal kita sedikit dan mereka menjual lebih murah? Kita bisa rugi besar."

Valaria menatap mata ibunya dengan sorot yang penuh janji tersembunyi. "Kita tidak akan bersaing dengan cara lama, Bu. Justru karena ini, aku akan mengubah strategi. Kita tidak akan lagi hanya menjual gorengan di kedai. Aku ingin kita menjual tepung singkong murni langsung ke pasar sebagai bahan baku."

Ayah dan ibunya saling pandang, bingung. Selama ini, mereka hanya tahu cara menjual makanan jadi.

"Kenapa tepung?" tanya Arjun.

"Karena kita bisa memproduksi dalam jumlah banyak sekaligus. Jika hanya menjual olahan matang, kita membuang waktu dan tenaga untuk menggoreng sepanjang hari. Jika kita menjual tepungnya sebagai bahan baku premium tepung murni yang diproses dengan cara kita kita akan mendapat untung lebih cepat. Dan yang paling penting, Ayah, itu jauh lebih sulit untuk mereka tiru. Mereka bisa meniru bentuk gorengan kita, tapi mereka tidak bisa meniru kualitas bahan baku yang kita rahasia-kan."

Ayah mengangguk perlahan, mulai memahami visi putrinya. "Ide bagus. Kita harus selalu berpikir selangkah lebih maju dari para pencuri itu."

"Selain itu," lanjut Valaria, matanya menyala oleh percikan ide baru yang lebih segar. "Aku ingin menjual sesuatu yang sama sekali belum ada di desa ini. Kue dari kacang hijau yang sudah disangrai, dicampur dengan gula halus. Bentuknya seperti kue mochi kecil yang lembut. Manis, lembut, dan cocok untuk mengembalikan tenaga orang-orang setelah bekerja di sawah."

"Kacang hijau? Kita belum pernah membuatnya, Nak," ujar Retri ragu.

"Justru karena belum pernah ada, kita harus memulainya, Bu. Kita punya sisa kacang hijau di gudang. Pagi ini, kita akan bereksperimen. Kita tidak bisa diam saja membiarkan kecurangan menghancurkan kita. Kita harus membalas dengan kreativitas yang tidak bisa mereka kejar."

Keluarga itu akhirnya sepakat. Semangat baru meledak di dalam rumah kecil itu, mengalahkan dinginnya malam.

Pagi harinya, saat udara kembali sejuk dan embun masih menempel di pucuk daun, Valaria membiarkan kedua orang tuanya pergi ke pasar untuk menjual sisa olahan dan mencari bahan tambahan. Ia memilih tinggal di rumah, namun bukan untuk beristirahat.

Valaria berjalan ke lahan sawah kecil di samping rumah. Ia membawa beberapa umbi kentang yang ia beli kemarin. Dengan cekatan, ia menggali lubang-lubang kecil di tanah yang gembur. Ia memutuskan untuk menanam kentang sebagai diversifikasi hasil bumi. Ia tahu kentang tumbuh lebih cepat dan hasilnya bisa lebih stabil daripada singkong di musim tertentu.

Di sekeliling desa, aktivitas pertanian mulai ramai. Para petani pergi ke sawah dengan harapan baru karena bibit padi dari pemerintah telah tiba. Ada suasana kebersamaan di udara, namun bagi Valaria, dunia kini terasa sedikit berbeda. Ia menatap hamparan sawah hijau di kejauhan dengan tatapan yang tajam.

Pencurian ide oleh Damian memberinya pelajaran paling berharga: dalam bisnis dan kehidupan, kecerdasan harus dibarengi dengan kewaspadaan. Sambil menekan tanah di atas umbi kentang yang baru ia tanam, Valaria berbisik pada dirinya sendiri, suaranya hilang ditelan angin pagi.

"Kalian mungkin bisa mencuri ideku yang sekarang, Damian. Tapi kalian tidak akan pernah bisa mencuri otak dan semangat yang melahirkannya. Tunggu saja... permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."

1
lin sya
ya smga aj kebaikan valaria suatu saat gk dibls air tuba sm laksmin tkutnya pas ekonomi dia dan kluarga nya terangkat krn rasa kemanusian gk bikin nimbulin sft iri lgi dimasa depan, krn perjuangan valaria buat bikin byk usaha itu proses nya panjang, smgat Thor 👍💪
Moh Rifti
next
Wanita Aries
makin seru thor
Wanita Aries
kyknya buat kentang mustofa aja valeria kn jaman itu blm byk tau😁
Wanita Aries
bukannya ria udh tau kl itu suruhan laksmin ya
Dewiendahsetiowati
semoga Laksmin cepat dapat karma
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Wanita Aries
bagus ria lawan dgn gebrakan lain ke laksmin
Lili Inggrid
semangat
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
Moh Rifti
up
Wanita Aries
lhoo kok gaje harusnya dendam ke damian lah bukan ke valeria
Wanita Aries
makin seruuuu
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
semangat terus thor
Wanita Aries
wahhh makin sukses ria
Wanita Aries
mantap thor
Wanita Aries
gak bosen bacanya
Wanita Aries
suka ceritanya
Wanita Aries
keren thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!