Demi membalas kehancuran masa depan putranya oleh Ratu Komunitas yang tak tersentuh, seorang mantan konsultan branding melakukan balas dendam sosial dan intelektual dengan meruntuhkan reputasi musuhnya di mata para ibu elit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yukipoki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Anak Yatim Dijadikan Tumbal
Udara pagi di apartemen Nadia terasa pengap, meski jendela terbuka lebar. Bukan karena panas, melainkan karena kepastian yang semakin menekan dadanya.
Serangan pengalihan perhatian itu berhasil. Nadia tahu persis bagaimana Kirana bekerja—wanita itu tidak pernah menunggu api membesar. Ia selalu memadamkan bara sekecil apa pun dengan air paling kejam yang ia punya: pengorbanan orang lain.
Isu dana yayasan, legalitas lelang, e-mail anonim yang mengguncang tidur malamnya, dan kecurigaan suami tentang proyek Ciledug—semuanya membuat Kirana berada di posisi terdesak. Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya refleks Kirana adalah membersihkan citra dengan cara paling brutal.
Nadia menatap layar laptopnya tanpa benar-benar membaca. Ia sudah tahu ke mana arah langkah Kirana selanjutnya.
Citra Kirana sebagai Kurator Kebaikan di Komite Sekolah adalah mahkota rapuh yang disangga oleh rasa kagum, iri, dan ketakutan ibu-ibu lain. Dan seperti semua penguasa, Kirana tidak akan ragu menghancurkan bidak terlemah demi menyelamatkan ratunya.
Rizky.
Nama itu melintas di kepala Nadia seperti bayangan anaknya sendiri dua tahun lalu.
Anak yatim piatu dengan prestasi akademik bersih, tanpa orang tua berpengaruh, tanpa jaringan sosial. Anak yang aman untuk dikorbankan.
Nadia memejamkan mata sesaat. Ada rasa sesak yang muncul—bukan ragu, melainkan kemarahan yang terlalu lama ia tahan. Kirana akan memilih jalan ini. Dan ketika itu terjadi, ia akan meninggalkan jejak yang tidak bisa dibersihkan.
Pagi itu, ponsel Nadia bergetar.
Pesan suara dari Rina.
Nada suara Rina bergetar, tidak dibuat-buat. “Bu Nadia… Ibu Siska menelepon saya semalam. Dia menangis. Benar-benar menangis.”
Nadia tetap diam, membiarkan rekaman itu berlanjut.
“Dia bilang… dia dipaksa memilih. Kirana bilang, kalau Siska masih ingin mempertanyakan keputusan Komite, dia harus keluar. Komite atau persahabatan mereka. Siska memilih persahabatan. Sekarang dia sendirian. Semua ibu menjauhinya. Dia merasa… dihancurkan.”
Rekaman berakhir dengan helaan napas panjang Rina.
Nadia menyandarkan kepalanya ke kursi. Untuk sesaat, rasa bersalah mencoba menyusup. Ibu Siska bukan monster. Ia hanya pengecut yang dulu memilih diam saat Aksa dihancurkan.
Namun Nadia sudah belajar satu hal penting: sistem yang jahat tidak pernah runtuh tanpa korban.
Ia menyingkirkan rasa itu dengan dingin.
Ibu Siska adalah bagian dari mesin yang menggiling anaknya. Kini mesin itu berbalik arah.
Nadia membalas dengan pesan singkat, suaranya dikontrol sempurna.
“Rina, dengarkan saya baik-baik. Anda harus mendekati Ibu Siska. Tapi jangan bawa nama saya.”
Beberapa detik berlalu. Lalu Rina mengetik, “Apa yang harus saya katakan?”
“Katakan ini,” balas Nadia. “‘Lihat apa yang Kirana lakukan pada kita saat kita sedang lemah. Dia tidak setia pada siapa pun. Kalau kita diam, kita akan jadi korban berikutnya.’ Biarkan Siska menyimpulkan sendiri.”
Nadia tahu, Ibu Siska yang marah adalah bahan bakar. Ibu Siska yang setia hanyalah perisai Kirana.
Setelah itu, Nadia menunggu.
Ia tidak perlu menekan Kirana. Wanita itu akan bergerak sendiri.
Sore harinya, Grup WA Elite Moms akhirnya berbunyi.
Nama Kirana Widjaja muncul di layar.
Pesannya singkat, dingin, dan dibungkus bahasa moral yang rapi.
“Setelah meninjau kembali shortlist beasiswa tahun depan, Komite memutuskan untuk menggugurkan satu nama demi menjaga standar etika dan moral The Golden Bridge. Prioritas kita adalah integritas, bukan hanya prestasi.”
Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan.
Namun semua ibu tahu siapa yang dimaksud.
Nadia menutup matanya perlahan.
Rizky telah gugur.
Anak yatim itu dikorbankan bukan karena kesalahan, melainkan karena ia tidak punya siapa-siapa.
Nadia menarik napas panjang. Dadanya terasa berat, tetapi pikirannya justru semakin jernih. Inilah bukti yang ia butuhkan—bukti bahwa Kirana akan mengorbankan siapa pun, bahkan anak paling tak berdaya, demi mempertahankan ilusi kesempurnaannya.
Malam itu, Nadia membuka kembali folder Kirana.
Ia tidak lagi mencari celah kecil. Ia mencari pukulan mematikan.
Di antara ratusan dokumen, ia menemukan satu folder yang diberi label samar: “CB Project.”
Isinya membuat Nadia tersenyum tanpa humor.
Korespondensi dengan agen real estat di Bali. Vila mewah di Uluwatu. Dibeli atas nama yayasan berbeda—Yayasan Cendana Biru. Nama yang tidak pernah muncul dalam laporan resmi Yayasan Tangan Emas.
Dana pembelian ditarik bertahap dari “biaya operasional Komite.”
Markup venue. Pembatalan anggaran. Pengalihan perlahan, rapi, dan nyaris tak terlacak.
Kirana bukan hanya kejam. Ia pencuri yang sabar.
Nadia merasakan sesuatu di dadanya runtuh—bukan empati, melainkan ilusi terakhir tentang batas moral Kirana.
Tanpa ragu, Nadia menyusun e-mail anonim.
Bukan ke Kirana.
Ke pengacara keuangan suaminya.
Bahasanya kering, teknis, mematikan.
Tentang status kepemilikan vila. Tentang potensi pelanggaran pajak. Tentang reputasi keluarga Wijaya.
Nadia tahu, Bapak Wijaya tidak peduli pada anak yatim. Ia peduli pada nama baik dan angka.
Dua hari kemudian, rapat Komite berlangsung dalam suasana yang jauh berbeda.
Kirana hadir, tetapi tidak lagi memancarkan aura kemenangan. Riasannya tebal, senyumnya kaku. Matanya bergerak gelisah, seolah mencari musuh di setiap sudut ruangan.
Saat rapat hampir dimulai, ponselnya bergetar.
Wajah Kirana berubah pucat.
Ia berdiri. “Maaf, saya harus menerima ini.”
Ia keluar ruangan.
Bisikan langsung menyebar.
“Dia kenapa?”
“Masalah uang, mungkin.”
Nadia menatap Rina. Rina membalas dengan tatapan yang penuh arti.
Lima belas menit kemudian, Kirana kembali. Tangannya gemetar saat membuka map rapat.
Nadia tahu—saat itulah ia harus melangkah lebih jauh.
“Bu Kirana,” ucap Nadia lembut, seolah tidak tahu apa-apa. “Saya ingin mengusulkan satu ide untuk Gala Dinner.”
Kirana mengangkat wajahnya. Waspada.
“Bagaimana kalau kita membuat video profil sejarah The Golden Bridge? Tentang para pendiri. Supaya donatur tahu bahwa sekolah ini berdiri di atas fondasi yang kuat, bukan hanya satu figur.”
Itu bukan usulan.
Itu umpan.
Jika Kirana menolak, ia terlihat haus kuasa. Jika setuju, masa lalu busuk sekolah akan bangkit.
Kirana tersenyum tipis. “Ide bagus, Bu Nadia. Tapi masa lalu tidak relevan. Kita harus fokus pada masa depan.”
Nadia tersenyum sopan. “Justru kisah penyelamatan sekolah dari krisis itu heroik, Bu. Keberanian Anda dan suami mengambil alih kepemimpinan… itu cerita yang menginspirasi.”
Hening.
Kirana tahu, ia telah terpojok.
“Baik,” katanya akhirnya. “Anda yang urus.”
Nadia menunduk patuh.
Di dalam hatinya, ia tahu satu hal dengan pasti.
Gerbang sejarah telah terbuka.
Dan di baliknya, dosa Kirana menunggu untuk diseret ke cahaya.