Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Tidur Setelah Menjadi Suami
Sepuluh menit sudah Thea berdiri di depan kamar mandi. Namun, Sagara belum juga keluar dari dalam sana membuat Thea merasa kesal, ditambah Thea sudah mengantuk berat.
"Hua." Thea menguap lebar.
Gadis itu kembali berdiri tegak. "Lama banget sih tuh orang di kamar mandinya, ck!" Thea berdecak kesal. Sagara terlalu lama berada di dalam sana.
Door!
Door!
Door!
Suara pintu yang di gedor keras dari luar.
"Cepetan! Lo ngapain sih di dalem?" gerutu Thea. Gadis itu sudah tak bisa menahan ingin buang air kecil.
"Sebentar!" sahut Sagara dari dalam kamar mandi.
Beberapa detik kemudian akhirnya pemuda itu keluar dari dalam kamar mandi menggunakan piyama tidur yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Bugh!
Karena merasa ngantuk Thea tak bisa menahan tubuhnya sendiri sehingga dia jatuh kepelukan Sagara.
Mata Sagara dan Thea saling menatap satu sama lain. Wajah tegas Sagara dengan otot kekar, serta bola mata berwarna coklat pekat, berhasil membuat jantung Thea berdebar kencang, hingga gadis itu menelan ludahnya sendiri dengan kasar karena pesona Om kolot yang selalu dia panggil itu.
"Ngapain berdiri di depan pintu? Mau ngintip, ya?" bisik Sagara yang sengaja menggoda Thea.
Tersadar dari lamunannya, Thea segera mendorong tubuh kekar Sagara hingga dia menjauh darinya.
Thea mengangkat kedua alisnya sambil melotot tajam. "Amit-amit ngintip Om-om kayak Lo! Lo lama banget sih di dalem, sengaja ya? ngapain aja di dalem? Semedi!" cibir Thea dengan nada kesal.
Sagara tersenyum tipis mendengar ocehan Thea. "Kamu kok nggak sabaran banget sih, kenapa? Nggak sabar mau tidur bareng ya?" goda Sagara sembari menyeringai nakal.
Mata Thea seketika melotot tajam mendengar ocehan Sagara yang semakin ngawur. "Ish! Amit-amit deh, jangan mimpi! Tidur sana sama bantal! Enak aja Lo mau tidur bareng Gue! Inget ya, Gue setuju nikah sama Lo karena Papa, kalo aja Papa nggak sakit, Gue mana mau nikah sama Lo," ucap Thea lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Sagara hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Thea yang unik. Mungkin Thea lupa jika Sagara juga sedang menjaga hati seseorang, mana mungkin dia berniat macam-macam kepada Thea.
Setelah selesai dengan kamar mandi, Sagara lalu berkeliling melihat-lihat isi kamar Thea yang begitu rapi. Bahkan kamar gadis ini juga sangat bersih, bisa terlihat dari cara Thea menyusun rapi kamarnya, dari mulai tempat sampah khusus yang di letakan di samping bawah kasur, buku-buku yang tersusun rapi di rak yang sudah di sediakan disamping ranjang, bahkan bunga segar yang sengaja Thea pajang di atas mejanya, mencerminkan dia gadis yang teratur walaupun menurut penuturan sang Papa Thea adalah gadis pembangkang yang tak tahu aturan.
Sagara menatap setiap sudut kamar itu sambil tersenyum tipis. "Dia wanita yang cukup rapih ternyata, aku kira Thea hanya wanita manja biasa," gumamnya. Foto Thea dan Pak Jordan yang dipajang di sudut ruangan mempercantik ruangan tersebut.
Ceklek.
Thea keluar dari dalam kamar mandi.
"Heh, Lo ngapain di situ?"
Sagara langsung meletakkan kembali foto yang tadi dia pegang. "Aku cuma lagi lihat-lihat kamar kamu saja," sahut Sagara. Suaranya masih terdengar kaku dan baku. Padahal beberapa waktu yang lalu cowok kolot itu bisa berbicara santai saat sedang berbicara dengan wanitanya.
Melihat sikap Sagara yang membosankan sekaligus, brengsek, membuat Thea menyesal sudah menikahinya.
"Ck, ish!" Thea berdecak kesal.
"Kamu mau tidur sekarang?" tanya pemuda itu.
Thea memutar kedua bola matanya dengan malas sambil beranjak naik ke atas ranjangnya. "Menurut Lo? Ya, iya lah Gue mau tidur, emang mau ngapain lagi?" jawabnya ketus.
Sagara hanya mengangguk-anggukkan sedikit kepalanya, lalu berjalan menuju ranjang Thea.
"Oke kalau gitu." Sagara duduk di ujung ranjang, tepat di sebelah Thea.
Seketika tubuh Thea bergidik ngeri melihat om-om itu mendekat ke arahnya.
"Lo mau ngapain di sini?" tanya Thea sembari menyipitkan matanya.
Sagara membenarkan posisi duduknya. "Iya Aku juga mau tidur," jawabnya dengan santai.
Thea menghela nafas panjang sambil menggigit bibir bawahnya dengan wajah kesal. "Wah wah wah, maksud Lo, Lo mau tidur di sini gitu? Ngapain! Sana Lo tidur di sofa aja, kalau enggak tidur di bawah sana," ucap Thea sambil menunjuk ke arah lantai.
Sagara yang tak terbiasa diperlakukan seperti ini tak bisa diam. Pemuda itu tersenyum tak percaya. "Gimana bisa aku tidur di bawah sana! Bisa-bisa badan saya remuk kalo harus tidur di lantai seperti itu," protes Sagara. Walaupun pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak, namun tetap saja pernikahan mereka sah di mata hukum dan agama. Lantas apa yang perlu dikhawatirkan oleh Thea?
Thea meraih satu bantal di sampingnya lalu menendang Sagara yang masih berdiam diri di ranjangnya.
Bugh.
"Ah, ngapain sih kamu!" teriak Sagara yang kesakitan karena terjatuh dari atas ranjang.
"Ya udah, kalo gitu Lo tidur di sofa aja sana," usir Thea sambil melemparkan satu bantal guling dan satu selimut miliknya.
Sagara memandang selimut dan guling yang dilempar Thea ke arahnya. Ini nggak bener, seharusnya dia tidur di atas ranjang bukan di sofa. Dengan tubuhnya yang tinggi, bagaimana bisa Sagara tidur di sofa kecil itu.
Sagara menghela nafasnya, lalu berdiri dan mendekat ke arah Thea untuk bernegosiasi. "Gimana kalo kita berbagi ranjang? Kita buat batas supaya kita nggak bersentuhan, gimana?" usul Sagara.
Thea tersenyum sumringah sambil membulatkan pupil matanya. "Wah, mimpi aja sana! Lo pikir kita lagi di dalem novel romansa gitu yang tiba-tiba nikah, tiba-tiba tidur seranjang, terus nggak sengaja pelukan eh ujung-ujungnya jatuh cinta deh! Norak!" teriak Thea sambil bergidik ngeri. Bisa-bisanya om kolot itu ingin tidur di ranjangnya, Thea tidak akan biarkan dia seenaknya di sini.
Karena usaha membujuk Thea gagal, dengan terpaksa sambil menghela nafas pelan Sagara beranjak dari ranjang Thea dan mengalah untuk tidur di atas sofa sesuai perintah istri kecilnya.
Thea tersenyum puas, sambil sedikit mengintip ke arah Sagara. "Siapa suruh Lo mau jadi suami Gue," gumam Thea sambil tertawa di dalam hatinya.
......................
Langit malam yang sunyi, kini mulai ramai dengan suara-suara adzan yang di kumandangkan dari berbagai arah.
Sagara yang sudah terbiasa bangun di saat subuh, kini dia mulai terbangun dari tidurnya.
Pemuda itu meraih ponsel miliknya dari atas meja untuk melihat jam di hpnya. "Sudah jam berapa sekarang?" gumam pemuda itu dengan suara khas seperti orang yang baru saja bangun tidur.
Melihat jam sudah menunjukkan waktu subuh, Sagara segera bangun dari tidurnya dan langsung melipat selimut serta merapikan tempat tidurnya.
Sagara adalah pria teratur, walaupun kesibukannya padat, namun sebagai seorang muslim dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya.
Saat Sagara hendak mengganti pakaiannya, dia melirik ke arah Thea yang masih tertidur pulas.
"Bagaimanapun sekarang dia sudah jadi istriku, mau tidak mau aku juga harus ajak dia melakukan kewajibannya," gumam Sagara. Pria itu bergegas mengganti pakaian, mengambil beberapa barang penting yang selalu dia bawa lalu menyimpan kembali koper miliknya setelah selesai.
Sagara berjalan ke arah Thea. "Thea, waktunya subuh, ayo bangun."
Beberapa kali Sagara mencoba membangunkan Thea, tapi ternyata Thea bukan tipe orang yang gampang saat dibangunkan. Butuh effort lebih jika Thea ingin bangun.
"Thea, Thea!"
Thea hanya sedikit bergerak.
"Hmm."
Sagara juga bukan pria yang terlalu sabar, ada sedikit rasa kesal saat istrinya tak juga mau bangun saat dibangunkan.
"Susah banget buat bangunin gadis ini!"
Akhirnya Sagara menyerah, dia tidak membangunkan Thea lagi dan memilih untuk mendirikan kewajibannya sendiri. Namun, saat Sagara hendak memulai sholat, tiba-tiba saja pintu diketuk dari arah luar.
Tok!
Tok!
Tok!
Sagara menoleh ke arah pintu, lalu berjalan untuk membukanya.
Saat pintu di buka, dia melihat sosok sang Nenek yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Nenek, ada apa ya, Nek?" tanya Sagara. Hari pertama tidur di rumah orang lain membuat Sagara merasa sedikit tak nyaman.
Nenek Samantha tak menjawab pertanyaan Sagara, sang Nenek hanya mengintip ke arah kamar ingin memastikan apakah cucunya sudah bangun atau belum. Dan benar saja, Thea masih berbaring pulas tidur di ranjangnya dengan nyaman.
"Kenapa kamu nggak bangunin istrimu itu?" tanya Nenek Samantha dengan wajah Datar.
Sagara harus menelan liurnya dengan kasar saat melihat ekspresi menakutkan dari sang Nenek.
Sagara tersenyum ramah. "Sudah saya coba bangunkan, Nek, tapi Thea sangat susah untuk di bangunkan." Lebih baik dia mencari aman daripada harus diomeli di waktu baik seperti ini.
Nenek Samantha berdecak kesal. "Membangunkan seorang gadis saja kenapa kamu tidak mampu? Lalu bagaimana kamu bisa menjaga cucuku nanti?"