NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:38.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Perlahan, garis jingga mulai muncul di ufuk timur. Suara ayam berkokok di sekitar rumah Sheila menandakan bahwa hari yang menentukan telah tiba. Sheila terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia menatap kopernya yang berdiri tegak di dekat pintu, seolah siap menemaninya menembus ketidakpastian.

​Di dapur, ia mendengar suara ketukan pisau dan aroma nasi goreng buatan Bunda. Air mata Sheila nyaris jatuh, namun ia menahannya. Ia harus kuat. Hari ini ia harus menjadi sosok Sheila sang juara untuk terakhir kalinya di depan umum, sebelum ia menghilang menjadi Sheila sang ibu di kota yang jauh. Bukan lagi gadis pembuat onar.

​Ia melangkah menuju sang Bunda dengan kebaya yang sedikit longgar.

​"Bunda." panggil Sheila.

​"Sudah siap sayang? Sarapan dulu ya?"

​Sheila hanya mengangguk.

​Sheila menarik kursi di meja makan, menghirup aroma nasi goreng buatan Bunda Rini yang begitu melekat di ingatannya. Setiap denting sudu dan garpu terasa seperti hitung mundur menuju keberangkatannya. Ia menatap Bundanya yang sedang menata piring dengan wajah penuh kebanggaan.

​"Makan yang banyak, sayang. Hari ini kamu bakal berdiri lama di atas panggung. Anak Bunda harus kelihatan paling cantik dan segar." ucap Rini sambil mengusap lembut bahu Sheila.

​Sheila memaksakan satu suapan masuk ke tenggorokannya yang terasa sesak. "Iya, Bun. Nasi goreng Bunda selalu yang terbaik. Sheila pasti bakal kangen banget sama masakan Bunda di sana." ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

​Rini memperhatikan penampilan putrinya dari atas sampai bawah dengan dahi berkerut. "Kebaya kamu kelihatan agak longgar di pinggang, sayang. Apa kamu kurusan karena capek belajar?" tanya Bunda dengan nada khawatir.

​Sheila tersentak, namun dengan cepat ia menata ekspresinya. Ia menarik kain kebayanya sedikit agar terlihat seperti model yang memang sengaja dibuat longgar. "Ah, ini kan model baru, Bun. Sheila sengaja biar gak sesak pas pakai toga nanti." kilah Sheila sambil tersenyum tipis. Di dalam hati, ia bernapas lega karena Bundanya tidak menaruh kecurigaan lebih jauh.

​"Ya sudah, selesai makan kita langsung berangkat ya. Bunda gak sabar lihat kamu pakai toga." kata Rini dengan mata yang berbinar bahagia.

​Mobil taksi online sudah menunggu di depan rumah. Sheila mengambil tas kecilnya, namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di ambang pintu kamarnya. Ia menatap kamar itu—tempat segala tangis, ketakutan, dan doanya tercurah selama beberapa bulan terakhir.

​Sementara itu di aula sekolah, suasana sudah sangat ramai. Balon, bunga, dan alunan musik pengiring wisuda memenuhi ruangan. Devano sudah berdiri di sudut aula, jauh dari teman-temannya yang sibuk berfoto. Ia mengenakan toga lengkap, namun auranya begitu dingin dan terasing.

​Matanya terus terpaku ke arah pintu masuk aula. Saat sosok Sheila muncul bersama Bundanya, jantung Devano seakan berhenti berdetak. Sheila terlihat begitu anggun dengan kebaya longgarnya, namun di mata Devano, Sheila terlihat begitu rapuh sekaligus kuat.

​"Lo cantik banget hari ini, Sheil. Dan maafin gue karena hari terindah lo harus terkenang dengan luka yang gue tanam." gumam Devano sambil meremas topi toganya.

​Devano memberi kode pada asistennya yang berdiri tak jauh dari sana. "Pastikan semua berkas pengiriman barang Sheila ke luar kota sudah aman. Jangan sampai ada yang tertinggal. Dan satu lagi... siapkan buket bunga tanpa nama untuknya nanti."

​Acara wisuda berlangsung begitu khidmat. Satu per satu prosesi dilewati hingga tiba saat yang paling dinantikan: pembacaan lulusan terbaik. Nama Sheila Putri menggema di seluruh penjuru aula, memecah keheningan dengan tepuk tangan yang meriah.

​Bunda Rini menyeka air mata bahagianya saat melihat Sheila melangkah anggun menuju podium. Di barisan belakang, Devano berdiri mematung. Napasnya tertahan dan matanya tidak berkedip menatap sosok di atas panggung yang kini memegang mik dengan tangan sedikit gemetar.

​"Kemenangan sesungguhnya," suara Sheila terdengar tenang namun penuh penekanan, "bukanlah tentang apa yang kita dapatkan dari sebuah persaingan atau taruhan. Tapi tentang bagaimana kita bertahan hidup setelah kehilangan bagian terpenting dari diri kita."

​Devano tersentak. Ia tahu kalimat itu ditujukan khusus padanya. Kalimat itu adalah tamparan keras di balik prestasi yang gemilang.

​"Terima kasih untuk luka yang mendewasakan, dan terima kasih untuk mereka yang memaksaku untuk berdiri lebih tegak di tengah badai." tutup Sheila sambil membungkuk hormat ke arah audiens, namun matanya sama sekali tidak melirik ke arah Devano.

​Setelah turun dari panggung, seorang petugas aula menghampiri Sheila dan memberikan sebuah buket bunga mawar putih yang sangat besar dan cantik. Tidak ada kartu ucapan, hanya ada sebuah pita hitam yang mengikatnya dengan rapi.

​"Dari siapa, Pak?" tanya Sheila bingung.

​"Maaf dek, pengirimnya tidak ingin disebutkan namanya." jawab petugas itu lalu pergi.

​Sheila menatap bunga itu. Aroma parfum yang samar dari kelopak mawar itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini dari Devano. Tanpa ragu, Sheila memberikan bunga itu kepada seorang adik kelas yang kebetulan lewat. "Ambil saja, aku tidak butuh beban tambahan." ucapnya dingin, membuat Devano yang menyaksikan dari jauh merasa hatinya baru saja dicabik-cabik.

​Acara belum sepenuhnya usai, namun Sheila sudah memberi kode kepada Risma. Ia menarik Bundanya menjauh dari kerumunan orang yang ingin mengajak berfoto.

​"Bun, kita harus segera ke stasiun sekarang. Keretanya berangkat satu jam lagi, Sheila gak mau terlambat." bisik Sheila setengah panik.

​"Tapi sayang, acaranya bahkan belum ditutup." protes Bunda Rini lembut.

​"Sheila capek, Bun. Sheila mau istirahat di kereta saja. Ayo, mobilnya sudah menunggu." desak Sheila.

​Risma membantu membawakan tas kecil Sheila, sementara koper-koper besar sudah lebih dulu dikirim secara anonim ke alamat tujuan. Saat Sheila melangkah keluar pintu aula, ia sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat Devano berdiri di kejauhan, menatapnya dengan tatapan "selamat tinggal" yang paling menyakitkan.

​Suara peluit kereta api terdengar memekik di peron. Bunda Rini memeluk Sheila dengan sangat erat, tidak menyadari bahwa di balik kebaya itu, ada nyawa baru yang juga ikut berpamitan.

​"Jaga diri baik-baik, Nak. Bunda akan selalu menunggu teleponmu." isak Bunda Rini.

​"Pasti, Bun. Sheila sayang Bunda." Sheila mencium tangan ibunya lama sekali, menyerap kehangatan yang akan sangat ia rindukan. Ia kemudian berpaling kepada sahabat setianya. "Aku pamit ya Ris! Titip Bunda dan kamu jaga diri baik-baik, sampai jumpa."

​"Kamu juga baik-baik ya di sana Sheil. Kalau lagi libur, aku akan ke sana." bisik lirih Risma sambil menahan tangis.

​Saat Sheila melangkah naik ke gerbong, ia tidak melihat bahwa di balik pilar stasiun nomor lima, Devano berdiri diam dengan kacamata hitam menutupi matanya yang sembab. Ia melihat kereta itu mulai bergerak perlahan, membawa pergi wanita yang ia cintai sekaligus ia hancurkan.

​"Pergilah, Sheil. Hiduplah di tempat di mana namaku tidak lagi menyakitimu." bisik Devano saat kereta menghilang di tikungan rel.

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Pelajaran buat perempuan kalo jatuh cinta seadanya aja. Jgn tllu buta apalg ngoyo. Krna kalo Qt jatuh ujung2nya playing victim. Pdhal salah diri sdri, jatuh buta2. Ok....
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Sheila : Carilah AQ...

Vano : Ogah. Bidadari surga jauh LBH cantik darimu.


Diriku: Justice Prevail... 😅😅😅🤣🤣🤣
Jing_Jing22: orang mah melow dong kak🤧 bab terakhir ini🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Bnr2 dah buta smua...
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
AQ perempuan ya. Tapi kadang suka Amazed sama perempuan modelan Sheila ini. Kalo dr awal dia gak menyerahkan dirinya ke Vano, kan gak bklan kejadian kek gini ya. Sekalipun ada tipu daya taruhan dll. Kalo mmg dia kuat pendiriannya dan sllu mau dgrin pendapat Risma, belajar dr pengalaman perempuan lain, gak akan kejadian jg kan. Tapi kan egonya sbnrnya yg menjatuhkan dia. Dan ujung2nya sibuk menyalahkan Vano. Mmg Vano salah dgn taruhannya dll. Tapi tetep aja, gak akan kejadian kalo dr awal Sheila kukuh bertahan gak ngikutin kemauan si Vano. Logisnya gitu lho. Cm kalo jalan pake rasa tanpa logika ya pasti buta2 kek gitu. Ujung2nya Denial, sibuk menyalahkan org lain tanpa berkaca. Agak kesel sbnre sama tokoh Sheila ini.
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Sheila terlalu buta mata & hati. Vano tllu larut dlm ego remaja yg buta segalanya.
🇮🇩 SaNTy 🇵🇸
Cinta & Luka susah utk berjalan bersama.
Melepas LBH baik drpd terluka dlm diam.
Kadang kesel sama keBegoan karakternya.
Kadang benci sama egoisnya pra karakternya.
Tapi kembali LG, semoga kisah sprti ini gak ada didunia nyata.
Semangat terus menulisnyaaaaa...
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Bagus banget asli.
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸
Bagus banget ceritanya. Kata2nya jg tersusun rapi. Kok sepi ya. Semangat lah Thor. Maafkan diriku yg terbiasa membaca tanpa ngeLike. Semoga ada waktunya membaca ulang & ngeLike.
🇮🇩 M i K u R 🇵🇸: Semangat...!!! AQ merinding excited bc Arjuna dr bbrp akunku.
Jgn down. Asli tulisanmu bagus.
total 4 replies
Jingle☘️
luar biasa
☕︎⃝❥Haikal Mengare
😭 Kasian banget 🤧, Wanita pelecehan tetap gak bisa lolos padahal dia korban😭
CACASTAR
sweet banget dengan memberikan surat pada ibunya.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
berontak ajaa bapakmu biar kapok semua
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
nah harus tegas sheila udah ada arkan ini
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
kan dia cuma obsesi ke sheila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
siapa iya yang ditlfn smaa arkan
penasaran saya🤭
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
kasian nuga diana jadi batu loncatan wkwkwk😭🤣
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
untung aada arkan kalau ga da celaka kamu sheila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
terllau egois si sheila ga mikir mateng dlu mau pergi
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
wkwkwk belum tau ajaa kehebatan arkan 🤣
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🧡⃟ᴢʜᴀͫɴᷲɢ ᴊɪᴊᴜɴ²◌ᷟ⑅⃝ͩ●
astag jadi kelakuan si bayu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!