Cerita Mengenai Para Siswa SMA Jepang yang terpanggil ke dunia lain sebagai pahlawan, namun Zetsuya dikeluarkan karena dia dianggap memiliki role yang tidak berguna. Cerita ini mengikuti dua POV, yaitu Zetsuya dan Anggota Party Pahlawan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.K. Amrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Selanjutnya
Keheningan itu akhirnya dipatahkan oleh Kouji. Ia melangkah maju setengah langkah, wajahnya tegang namun sorot matanya kini lebih terfokus, seolah kepanikan perlahan digantikan oleh tekad.
“Kalau begitu…” suaranya terdengar berat namun stabil, “apa misi kita selanjutnya?”
Semua mata kembali tertuju pada Sena.
Sena menghela napas perlahan, lalu menegakkan punggungnya. Ada perubahan jelas dalam sikapnya, bukan lagi hanya sahabat atau anggota tim, melainkan seorang putri kerajaan yang memahami tanggung jawab besar di pundaknya.
“Misi kita selanjutnya sudah jelas,” katanya. “Kita akan menuju Kerajaan Suci Celestial. Negeri di selatan. Tanah para ras Angel.”
Beberapa anggota tim langsung bereaksi.
“Kerajaan Suci…?” Akari berbisik.
“Negeri Angel…?” Takeshi mengernyit.
Sena mengangguk. “Benar. Kita harus menemui Saintess Freya.”
Nama itu asing bagi hampir semua yang hadir.
Hajime sedikit memiringkan kepalanya. “Saintess? Jadi bukan High Priest?”
“Bukan,” jawab Sena. “Dia berada di atas itu.”
Ia melangkah ke tengah ruangan, suaranya tenang namun penuh wibawa.
“Aku akan jelaskan hierarki Kerajaan Suci Celestial agar kalian paham kenapa kita harus ke sana.”
Semua terdiam, mendengarkan.
“Di puncak tertinggi,” Sena mengangkat satu jari, “ada Dewan Sembilan Arch Angels. Mereka bukan hanya pemimpin spiritual, tapi eksistensi setengah ilahi yang menjaga keseimbangan dunia dari balik Celestial.”
Beberapa orang menelan ludah.
“Di bawah mereka,” lanjut Sena, “adalah Saintess. Mereka adalah penerima wahyu langsung dari Dewi Elysia. Saintess tidak harus berasal dari ras Angel, mereka bisa manusia, elf, atau ras lain… selama bukan Demon, Vampire, Dark Angel, atau Dark Elf.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Di bawah Saintess ada High Priest dan High Priestess, lalu Priest dan Priestess, dan yang paling bawah adalah Devotee, para hamba yang mengabdikan hidup mereka sepenuhnya pada kepercayaan.”
Kouji mengangguk pelan. “Dan Freya…?”
“Saintess Freya,” Sena menjawab dengan hormat yang jelas terdengar di suaranya, “telah menjabat selama seratus tahun.”
Reaksi spontan langsung muncul.
“Seratus tahun?!” Takeshi membelalakkan mata.
“Itu mustahil, ” Akari terhenti.
“Bagi manusia, iya,” Sena menyahut. “Tapi tidak bagi ras Angel. Elf, Demon, bahkan Vampire juga sama. Mereka menua sangat lambat. Freya masih terlihat seperti perempuan di usia awal dua puluhan.”
Hajime menghela napas pelan. “Jadi dia bukan hanya berpengalaman… tapi juga hidup di era yang jauh lebih lama dari kita.”
“Dan yang lebih penting,” Sena menambahkan, “jika The Void benar-benar akan bangkit, wahyu itu pertama kali akan turun kepadanya. Jika ada seseorang yang tahu apakah tanda-tanda kebangkitan The Void sudah muncul… maka itu Saintess Freya.”
Ruangan kembali hening, namun kali ini dipenuhi pemahaman, bukan ketakutan semata.
Sena kemudian menurunkan nada suaranya.
“Tapi ada satu hal yang harus kalian terima.”
Ia menatap ke arah Lisa dan Rey yang masih terbaring lemah, kemudian ke Yui dan Honoka.
“Lisa dan Rey jelas tidak bisa ikut. Luka mereka belum pulih, dan memaksakan perjalanan jauh hanya akan membunuh mereka.”
Tak ada yang membantah.
“Yui,” Sena melanjutkan, “meskipun sudah sadar, kondisinya masih sangat lemah. Teleportation hampir menghabiskan seluruh cadangan hidupnya.”
Yui tersenyum tipis, mencoba menyangkal, tapi Sena langsung menggeleng tegas.
“Dan Honoka…” suara Sena sedikit melunak. “Dia kehabisan mana sepenuhnya. Itu bukan sekadar kelelahan. Itu berbahaya.”
Honoka masih terlelap, napasnya pelan dan tidak stabil.
“Karena itu,” Sena menarik napas dalam-dalam, “aku hanya akan membawa lima orang bersamaku ke Celestial.”
Kouji langsung menatapnya. “Siapa saja?”
Sena mengalihkan pandangan ke Kouji. “Pemilihan orangnya aku serahkan padamu. Kau pemimpin lapangan.”
Kouji terdiam sejenak, lalu menatap satu per satu anggota tim. Matanya berhenti pada beberapa wajah dengan penuh pertimbangan.
“Aku ikut,” katanya tegas. “Sebagai Paladin.”
Ia menoleh ke Akari. “Aku butuh Fire Mage. Akari.”
Akari mengangguk tanpa ragu. “Aku siap.”
“Takeshi,” lanjut Kouji. “Kita butuh Tank.”
Takeshi tersenyum tipis. “Akhirnya perjalanan yang cocok buatku.”
“Hajime,” Kouji menatapnya serius. “Aku tidak mau bergerak tanpa otak tim.”
Hajime mengangguk pelan. “Aku akan pastikan kita tidak salah langkah.”
Terakhir, Kouji menoleh ke seorang gadis yang sejak tadi berdiri agak di belakang, matanya tajam dan waspada.
“Hana.”
Aoki Hana terkejut sesaat, lalu tersenyum tipis. “Scout, ya?”
“Ya,” jawab Kouji. “Kita masuk wilayah asing. Aku butuh matamu.”
Sena mengangguk puas.
“Komposisi yang tepat.”
Ia kemudian menambahkan dengan suara tenang namun penuh keyakinan, seolah mengunci keputusan itu dalam takdir.
“Hana sebagai Scout. Takeshi sebagai Tank. Kouji sebagai Paladin. Akari sebagai Fire Mage. Hajime sebagai Strategist.”
Ia lalu menyentuh gagang rapier di pinggangnya.
“Dan aku,” katanya pelan namun tajam, “Sena Sedressil. Putri kerajaan. Pengguna rapier.”
Tatapannya menyapu mereka semua.
“Perjalanan ke Kerajaan Suci Celestial bukan sekadar misi diplomatik,” ucapnya. “Ini adalah langkah pertama kita menghadapi sesuatu yang bisa menghancurkan dunia.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan sejak kita melangkah ke sana,” lanjutnya, “tidak ada jalan kembali ke kehidupan yang sama seperti sebelumnya.”