NovelToon NovelToon
Di Ujung Asa

Di Ujung Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Baim

Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

    Hesti tertawa sambil mulutnya ditutupi telapak tangan. Dia khawatir suara tawanya akan membangunkan Alif. Tapi dia tidak bisa menahan tawanya, merasa lucu dengan cerita Amira.

    "Benar-benar sahabat ngga ada akhlak. Temennya lagi susah, bukannya prihatin, bantuin kek, nyari solusi kek, ini malah ngakak."Amira sangat kesal dengan sahabat satunya itu. Di lagi dia membutuhkan dukungan, malah dirinya ditertawakan oleh Hesti.

     "Jadi sekarang udah jadi Ibu-ibu pengangguran ceritanya?"Tanya Hesti, setelah menghentikan tawanya. Tapi senyum lebar masih dia perlihatkan.

     Amira mendengus. Tapi tidak membantah.

     "Syukur deh kalau gitu. Aku ikut seneng akhirnya. Bapaknya Alif memang Ayah yang sangat saaaaaayang sama anaknya. Cinta sama istrinya...wahhh hebat, hebat. Ayah dan suami idaman."Cerocos Hesti, masih dengan tawanya.

     "Apaan kamu Hes. Nggak lucu tau."

     Ruangan yang tidak terlalu luas itu, terasa sunyi seketika. Amira dan Hesti sama-sama terdiam.

     "Gimana kalau kamu jualan online saja Mir. Kamu bakalan nggak merasa capek. Kamu juga bisa ngurusin Alif, di rumah. Modalnya cuma pulsa."Hesti akhirnya memberi ide.

     Amira menatap Hesti, sambil otaknya berpikir.

    "Jualan online seperti apa?"Tanya Amira. Sepertinya belum paham.

     "Jualan produk lah. Emangnya kamu mikir mau jualan apa?"

     "Puukk..." Amira memukul paha Hesti dengan kuat.

    "Kenapa mukul aku sih?"Bentak Hesti, melotot Amira marah.

    Amira menjepit bibir Hesti, saking gemesnya. Mengakibatkan bibir Hesti terlihat seperti paruh bebek.

     Hesti menyentak tangan Amira, hingga jarinya terlepas dari bibirnya .

     "Isss...apaan sih."

     Hesti mengusap bibir. Yang sedikit perih.

     "Suara mu tuh loh, anak ku jadi bangun."

      Dan benar saja. Saat pandangannya jatuh kebawah, kedua bola mata kecil milik Alif, terbuka lebar, menatap ke atas, tepatnya menatap Hesti.

      "Aduhhh..gantengnya Bunda Eti, udah bangun ya. Maaf Bunda ya sayang, suara Bunda bangunin Alif ya."

      "Huueek, huueek."

      Amira menjulur lidahnya ke luar. Berpura-pura muntah mendengar Hesti yang selalu menyebut dirinya dengan Bunda pada Alif.

      "Tuh lihat Ibu mu Lif..sebentar lagi Alif punya dedek bayi."

      "Hesti."

      "hahahaha...."

      Hesti tertawa keras. Di ikuti Alif, yang sudah duduk di atas kasur. Bocah itu tertawa sambil bertepuk tangan, dia begitu gembira, seakan mengerti dengan perkataan Bundanya.

     "Tuh lihat, kayaknya Alif juga seneng mau punya adik."

     Hesti tersenyum puas. Melihat wajah Amira yang sudah berubah warna, seperti kepiting rebus.

     "Alif seneng ya, mau punya adik cewek?"

     Alif menjawabnya dengan bertepuk tangan.

     "Nda, nda.."Celoteh Alif, diiringi tawa cerianya.

     "Uluh, uluh...anak gantengnya Bunda, begitu senengnya mau punya adik ya."

    Hesti terus mengerjai Amira. Alif cuma tertawa.

    "Hesti, apaan sih kamu. Adik, adik. Adik dari Hongkong."

    "Ohhhh, jadi Ibu sama Ayahnya Alif, cetak adiknya Alif di Hongkong ya. Kapan ke Hongkong nya Bu? Haneymoon ya? Waduhh...kejauhan cetaknya Bu."Seloroh Hesti, senyum-senyum penuh arti.

     Amira makin kesal. Wajahnya bertambah merah.

     "Ada apa nih...kok ramai amat."

     Suara seseorang di depan pintu, mengagetkan Amira dan Hesti. Hesti seketika menghentikan tawanya. Keduanya menoleh ke depan pintu. Ternyata ada seorang wanita muda menggendong anaknya dangan selembar kain jarik berdiri di depan pintu.

     "Ehhh..ada Mbak Ratih, ayo Mbak mari masuk!"

     Amira bangkit dari atas lantai, melangkah menuju pintu. Alif pun tidak mau kalah. Dengan gesitnya dia berdiri, berlari mengikuti Ibunya.

     "Ita, Ita, Bu, Ita."Panggilnya menunjuk ke arah Mbak Ratih, yang menggendong putrinya, Chinta, yang di panggil alif dengan Ita.

     Gadis kecil yang ada di dalam gendongan Mbak Ratih, tertawa kegirangan melihat Alif. Dia meronta-ronta, ingin di turunkan.

     "Bu..Lif."

     "Iya sabar, Ibu turunkan."

     Mbak Ratih membuka kaian yang dililitkan pada anaknya. Lalu dengan perlahan dia menurunkan anak gadisnya, berpijak di atas lantai.

    Ketiga orang dewasa itu pun tertawa melihat tingkah lucu dan polos kedua bocah itu, yang saling berpelukkan, dengan melompat-lompat kegirangan.

        .

......................

    Akhirnya yang di pilih Amira untuk bekerja di rumah, dengan berjualan secara langsung. Katanya dia tidak bisa jualan secara online seperti ide Hesti. Pasalnya dia tidak bisa menggunakan ponsel pintar. Karena sejak dulu, Amira tidak memiliki ponsel. Ponsel jadul yang dia punya sekarang ini, dibelinya sejak mendapatkan gaji pertamanya, sewaktu bekerja sebagai karyawan di salah satu mini market.

    Kini keduanya sedang duduk di kos Amira. Alif sedang berada di kos Mbak Ratih, yang bersebelahan dengan kos-nya Hesti. Bocah itu, ingin ikut sewaktu Mbak Ratih dan anak gadisnya yang seumuran Alif, berpamitan pulang.

    "Aku nggak paham dengan jualan yang begituan Hes..kamu tau sendiri kalau aku nggak pernah punya HP yang seperti kalian. Jadi bagaimana aku tau cara gunakannya. Jadi aku milih jualan kue secara langsung aja. Mau coba-coba dulu. Jualnya nanti pada tetangga tetangga aja. Mbak Ratih juga nanti mau bantu jual. Aku juga nggak tau jualnya seperti apa. Do'ain ya Hes, semoga semuanya berjalan dengan lancar."

     "Iya aku do'akan semoga jualan kamu laris manis. Banyak pembelinya.Terserah kamu aja bagaimana yang terbaik menurut mu. Yang penting nggak kerja lagi di luar rumah. Aku juga sependapat dengan suami mu. Kasihan Alif, kalau kamu keseringan bawain dia. Kalau pas aku lagi libur sih nggak masalah, aku dengan senang hati jagain dia."

    "Ehhh ngomong-ngomong, emangnya kamu mau jualan apa?"Tanya Hesti, bingung sendiri. Masalahnya Amira sedari tadi belum memberi tahu kalau dia mau jualan apa.

    "Menurut kamu, jualan apa ya yang cepat laku?"

    "Yassalam...jadi kamu ini belum ada ide mau bikin jualan apa Amira?"Hesti menepuk jidatnya berkali-kali.

    Amira menggeleng kepalanya perlahan. Wajahnya dibikin sesedih mungkin.

    "Hadehhh."Hesti menghembuskan napasnya.

    "Lebih baik kamu nggak usah ngapa-ngapain. Duduk manis di rumah aja, kelonin Alif. Bukan kewajiban mu mencari nafkah. Biar suami mu yang menghidupi kalian. Toh itu tanggung jawabnya dia."

     "Hesti, Kamu tau sendiri kehidupan aku seperti apa dulu. Jadi mana bisa aku cuma duduk diam aja kelonin Alif di rumah. Yang bener aja kamu. Sahabat macam apa kamu itu, nggak bisa ngasih ide."

       Hesti kembali mendesah. Tidak habis pikir dengan Ibu muda satu ini. Bagaimana bisa, mau jualan tapi tidak tau, mau jualan apa.

    "Bukan aku nggak mau ngasih ide, aku pikir kamu udah punya gambaran mau bikin jualan apa. Seperti jualan donat, atau kue-kue basah jajan pasar, atau gorengan, atau apalah terserah kamu. Tapi nyatanya belum ada sama sama sekali, lah..piye to kalau gini."Ucap Hesti, yang terlalu kesal dengan Amira.

     Amira mendengus. "Aku memang nggak tau Hes, gimana sih kamu. Emangnya kamu kira aku dulu-dulunya pernah jualan apa? Aku ini pekerja kasar Hes...kamu sendiri tau itu."Amira tak kalah kesal dari Hesti.

      "Hahhhh...malas ngomong sama kamu. Nggak usah jualan aja kalau gitu. Bikin repot aja. Aku mau balik. Lama-lama ladenin kamu, bisa senewen aku."

     "Jangan gitu dong Hes."

     Amira memegang tangan Hesti, mencegah sahabatnya itu untuk pergi. Amira jadi bingung sendiri. Otaknya benar-benar buntu saat ini.

Bersambung......

1
tanpa nama
Dsni perannya amira trlalu bodoh, trllu lemah. Udah bener d belain suami, mlah bersikap bodoh.
Jd gmes bcanya bkin emosi

Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya
tanpa nama
Smngt nulis kryanya thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!