Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32.
Cahaya bulan menyelinap masuk melalui celah tirai jendela yang terbuka, membuat Yubie terbangun dari tidurnya. Wanita itu mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadaran diri di tengah-tengah rasa nyeri yang melanda sekujur tubuhnya.
Pandangan Yubie lurus, memperhatikan siluet tubuh tegap seseorang yang berdiri di depan sana, tengah membelakanginya dan sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Itu adalah suaminya, Cakra. Entah siapa lawan bicara pria itu dalam sambungan telepon. Yubie tidak terlalu memikirkannya. Karena kini kepala Yubie malah sudah dipenuhi dengan bayang-bayang liar pergulatan mereka sebelumnya.
Netra Yubie menulusuri punggung lebar Cakra yang terbuka. Ya, suaminya itu saat ini tengah bertelanjang dada, dan hanya mengenakan celana jeans panjangnya. Dengan gagahnya Cakra seakan berdiri di bawah sinar bulan yang menerangi, dalam genggaman satu tangannya yang bebas, terdapat gelas wine yang sesekali ia mainkan. Sangat sexy, dan begitu menggoda di mata Yubie.
"Astaga, Yubie! Kenapa sekarang kau berwatak mesum!" rutuk Yubie dalam benaknya seraya menutupi wajahnya yang sudah memerah dengan selimut.
Yubie berusaha melenyapkan pikiran kotornya, ia kembali menyingkirkan selimut dan memperhatikan Cakra. Alih-alih bisa berpikir jernih, Yubie semakin tenggelam dalam potongan-potongan adegan panas mereka. Tubuh kekar itu lah yang sepanjang hari menindihnya dan membuat ia menjerit seperti orang gila. Bahu lebar itu penuh dengan bekas cakaran dan gigitan Yubie. Karena setiap kali Cakra memasukinya dengan sangat dalam, Yubie akan langsung mengimbanginya dengan melampiaskan pada punggung suaminya. Mereka benar-benar luar biasa. Meski baru pertama, tapi keduanya memiliki aura kuat dalam mengacak-acak tempat tidur.
"Haisss! Kau semakin tidak waras saja, Bie!!" rutuk Yubie lagi. Dan kali ini ia reflek menghempaskan kedua kakinya di atas kasur yang malah berakhir membuat ia meringis, menahan sesuatu yang perih. "Ssttt..."
Suara itu pun seketika berhasil mengambil perhatian Cakra. Ia berbalik dan memeriksa ke tempat tidur.
"Bie, kau sudah bangun?" tanya Cakra seraya mengakhiri teleponnya. "Sudah dulu, Vin. Kita lanjutkan nanti. Istriku sudah bangun."
Cakra menyimpan ponsel dan menegak habis minumannya sebelum mendekat pada istrinya. Ia meletakkan gelasnya di atas nakas dan berdiri di hadapan Yubie yang hampir seluruh tubuhnya masih terbungkus dalam selimut tebal. Kecuali, wajah imut asianya dan rambut panjang yang acak-acakkan tidak karuan.
Cakra sampai tersenyum dan menggeleng melihat penampilan istrinya. "Ini rambut, kenapa bisa sampai seperti ini?" Cakra merapikan rambut Yubie. Setengah badan pria itu naik ke tempat tidur. Sementara Yubie masih dengan posisinya yang berbaring.
Dari bawah, Yubie kembali bisa memperhatikan aset Cakra. Otot kencang dan petakkan roti sobek itu membuat Yubie menggigit bibirnya. Pagi tadi ia sudah puas menyentuh semuanya dengan jari-jemarinya. Tapi, kenapa sekarang ia masih ingin menyentuhnya lagi?
"Mau?"
Tiba-tiba suara Cakra membuat Yubie mendongak untuk melihat ke arah suaminya, tak lagi memperhatikan perut pria itu.
Wajah Yubie berubah memerah, ia langsung menggeleng kencang. Teramat malu mengakuinya.
"Maksudku, apa kau mau bangun?" Cakra menahan senyumnya. Ia tahu apa isi kepala istrinya itu yang dari tadi terus menatap tubuh atasnya dengan penuh damba. "Biar aku membantumu, Bie."
"Akhhh!! Tidak! Tidak! Aku bisa bangun sendiri, Bie!" Yubie bergegas bangun. Ia duduk di atas tempat tidur tanpa tahu kondisi dirinya sendiri.
"Wah... Wah... Apa maksudnya itu? Memberiku undangan?" Cakra terkekeh melihat selimut yang menutupi tubuh polos istrinya kini tersingkap karena Yubie yang duduk dengan tiba-tiba.
Yubie jelas saja terkejut saat mengikuti ke mana arah pandang Cakra. Dengan panik ia langsung menarik selimut dan melilitkan hingga menutupi lehernya.
Cakra manyun, ia menyimpan satu tangannya dalam saku celana dan berkata, "Untuk apa juga susah-susah ditutupi. Aku sudah melihatnya, Bie. Bahkan sudah hapal ukurannya." Cakra membentuk tangannya di depan, sesuai dengan ukuran milik sang istri.
"Dasar mesum!"
Cakra terkekeh saat bantal tidur melayang cepat ke arahnya. Yubie yang sudah terlanjur kesal pada sang suami itu pun dengan impulsif beranjak dari tempat tidur. Namun, tungkai kakinya ternyata sama sekali tidak memiliki tenaga untuk berpijak. Yubie jatuh terduduk.
Cakra begitu terkejut melihat itu. Ia langsung meraih tubuh polos istrinya yang sudah meringis.
"Kakiku?!" ringis Yubie yang kehilangan tenaga di kedua kakinya. "Kenapa kakiku tidak bisa dipijakkan?"
"Masih keram, Bie. Sebenarnya kau mau ke mana? Biar aku yang membantumu."
"Aku mau mandi."
"Baiklah. Sekalian aku bisa menerima undangan terbukamu ini."
Yubie terlambat memahami ucapan Cakra. Tubuh polosnya sudah terlanjur berada dalam gendongan Cakra yang sumringah seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan macam-macam kamu, Bie!" Yubie sempat memperingati suaminya.
"Hanya satu macam!"
*
*
*
Sementara itu, di kediaman keluarga William, Lusy ternyata tengah menunggu kepulangan Kanny. Dinginnya malam tidak menjadi penghalang bagi bumil muda itu untuk menunggu suaminya di luar rumah.
Lusy begitu tidak sabaran. Ia ingin sekali tahu bagaimana suaminya sudah memberi pelajaran pada Kakak iparnya di perusahaan. Pasti seluruh karyawan William Group sekarang sudah tahu bahwa Cakra hanyalah seorang pelayan di club malam. Memikirkannya saja berhasil membuat Lusy tersenyum sinis dan puas.
Saat melihat mobil Kanny mulai memasuki halaman luas itu, Lusy bergegas mendekat. Ia menyambut kedatangan Kanny dengan banyaknya lontaran pertanyaan. Dan itu semua mengenai Cakra. Yang ternyata malah memancing emosi tak terduga dari Kanny.
"Diam!" bentak Kanny yang seketika membuat Lusy bungkam dan terperanjat. "Jangan menyebut Cakra! Cakra! Cakra sialan itu!"
Kanny terlihat sangat marah. Apalagi mendengar nama Cakra yang terus disebut oleh istrinya. Bayangan pakaian pria sialan itu dan Yubie yang berserakan di atas lantai masih begitu membakar di dalam kepala Kanny.
"Kau, apa-apaan sih, Kak! Kenapa kau membentakku?! Aku hanya bertanya bagaimana kau mempermalukan Kakak ipar di perusahaan!" Lusy tak kalah keras membalas suaminya.
Kanny hanya mengepalkan tangannya. Ia menutup pintu mobil dengan keras dan langsung meninggalkan Lusy begitu saja. Enggan berdebat dengan sang istri.
"Hei, Kak! Kak?!" Lusy berteriak memanggil Kanny yang berlalu begitu saja meninggalkan dirinya. "Kak Kan? Tunggu!"
Tapi, Kanny tetap masuk ke dalam rumah. Kepalanya sudah penuh dan panas dengan apa yang ia lihat hari ini di perusahaan. Tak ingin menambahnya lagi dengan suara bising Lusy yang mirip petasan.
sebelum tu mata si jadiin cilok jepret ma yubiee ,, 🤭🤣 ,, mending buru2 simpen di pegadaian ,, biar bermanfaatr dikit 🤣🤣🤭
author aj yg ikat sendiri yx ,,
semangat trus kak ,,
💪😄😄
kenapa selalu kupu-kupu yang di sebut? sungguh ketidak adilan yang sangat nyata 🥴😏