"Jadi kamu melangsungkan pernikahan di belakangku? Saat aku masih berada di kota lain karena urusan pekerjaan?"
"Teganya kamu mengambil keputusan sepihak!" ucap seorang wanita yang saat ini berada di depan aula, sembari melihat kekasih hatinya yang telah melangsungkan pernikahan dengan wanita lain. Bahkan dia berbicara sembari menggertakkan gigi, karena menahan amarah yang menyelimuti pikirannya saat ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
“Apa kalian berdua bersekongkol?”
Suara Mery terdengar pelan tapi jelas, memecah kesunyian di teras samping rumah. Gavin yang sejak tadi duduk sendirian di kursi taman, menghadap kolam renang yang airnya berkilau terkena pantulan lampu malam, menoleh. Di tangannya, ponsel yang tadi sempat ia pegang langsung ia letakkan di meja kecil.
Mery berdiri di sampingnya, membawa dua gelas minuman dingin. Wajahnya tampak lebih santai dibandingkan saat di meja makan, meski masih menyimpan rasa penasaran yang belum terjawab.
“Siapa?” tanya Gavin sambil menerima salah satu gelas dari tangan Mery.
“Kamu dan ayah mertua,” jawab Mery lugas, lalu ikut duduk di kursi taman di samping Gavin.
Gavin terkekeh pelan. Ia meneguk minumannya sebelum menjawab. “Bukan hanya kami berdua. Semua orang di rumah ini memang bersekongkol.”
Mery mengangkat alis. “Untuk apa?”
“Untuk mendukungmu,” jawab Gavin tanpa ragu.
Mery terdiam sejenak. “Kenapa?” tanyanya lagi, kali ini suaranya lebih lirih.
“Kami tahu kamu satu-satunya yang terbaik untuk Arya,” ucap Gavin tenang, seolah itu adalah kesimpulan yang sudah lama ia pegang.
“Oh ya?” Mery menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis, setengah tidak percaya.
“Hm, tentu saja,” jawab Gavin mantap.
Mery memandang ke arah kolam, memperhatikan bayangan lampu yang bergoyang di permukaan air. “Lalu bagaimana denganku?” tanyanya perlahan.
“Apa dia juga yang terbaik untukku?”
Gavin ikut menatap ke depan, tidak langsung menjawab. “Kalau soal itu, tanyakan pada hatimu sendiri,” katanya akhirnya.
“Yang pasti, kami semua tahu satu hal. Kamu sudah berhasil membuat Arya tersenyum dan menjadi dirinya sendiri.”
Mery terdiam. Dadanya terasa hangat mendengar kalimat itu. “Apa kalian sesayang itu pada Arya?” tanyanya lagi.
“Tentu saja,” jawab Gavin.
“Dia memang tidak pandai mengekspresikan perasaan, tapi sejak kecil dia selalu memikul banyak hal sendiri.”
Hening sejenak menyelimuti mereka. Angin malam berhembus pelan, membuat dedaunan di sekitar kolam berdesir lembut. Mereka berdua menikmati minuman masing-masing sambil menatap langit yang gelap dengan taburan bintang tipis.
“Gavin,” ucap Mery memecah keheningan.
Gavin menoleh. “Ya?”
“Apa… aku boleh tanya sesuatu?” Mery terlihat sedikit ragu.
“Tentu saja.”
Mery menarik nafas pelan. “Apa… apa dulu Arya pernah membawa Hany ke rumahnya?” Nada suaranya terdengar gugup, seolah pertanyaan itu memiliki bobot yang tidak kecil.
“Tidak pernah,” jawab Gavin tanpa berpikir panjang.
Baru saja Gavin hendak menambahkan sesuatu, langkah kaki terdengar mendekat. Maya, adik Arya, muncul dari arah pintu dengan tangan menyilang di dada.
“Meskipun mereka sudah berhubungan lama,” ucap Maya ikut menyahut.
“Kak Arya masih tahu mana yang pantas dan mana yang tidak.”
Mery menoleh pada Maya, mendengarkan dengan seksama.
“Bahkan mereka jarang bergandengan tangan,” lanjut Maya.
“Paling kalau kencan ya makan, atau belanja barang-barang mewah saja.”
Ia mendengus kesal. “Wanita itu sering sekali menghabiskan uang Kak Arya.”
Gavin terkekeh. “Nah, itu sudah dijawab lengkap.”
Maya duduk di kursi kosong di dekat mereka. “Kak Arya dari dulu memang ingin punya rumah sendiri setelah menikah,” katanya lagi.
“Jadi dia benar-benar menyiapkannya. Rumah itu hanya jadi rumah singgah kalau Kak Arya benar-benar lelah atau harus lembur. Selebihnya… dia selalu pulang ke sini.”
“Kak Mery bisa tanya ke siapa pun di rumah ini,” tambah Maya.
Mery tersenyum kecil. “Ah, tidak perlu. Penjelasan dari kalian berdua saja sudah cukup.”
Ia menatap mereka bergantian, lalu berkata. “Tapi… bisakah kalian merahasiakan semua obrolan kita malam ini?”
Gavin dan Maya saling pandang, lalu menjawab bersamaan, “Oke.”
Mereka bertiga tertawa kecil.
Maya kemudian menepuk tangan Mery pelan. “Santai saja, Kak. Di rumah ini, Kakak bukan tamu.”
Gavin mengangguk setuju. “Anggap saja rumah ini juga rumahmu.”
Mery menunduk sejenak, menahan emosi yang tiba-tiba mengembang di dadanya. Ia benar-benar merasakan kehangatan yang utuh. Bukan basa-basi, bukan tuntutan, melainkan penerimaan.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
Di teras samping rumah itu, di bawah langit malam yang tenang, Mery akhirnya bisa merasa, bahwa ia sudah diterima menjadi bagian dari keluarga besar tersebut.
***
“Kenapa kamu melakukan itu?”
Baru saja pintu rumah tertutup rapat di belakang mereka, suara Arya langsung memecah keheningan. Nada suaranya ditekan, tertahan sepanjang perjalanan pulang, dan kini tumpah tanpa sisa.
Sejak meninggalkan rumah orang tuanya, Arya memang nyaris tidak berkata apa-apa. Ia menyetir dengan rahang mengeras, genggaman tangannya pada setir terlalu kuat, sementara Mery memilih diam, menatap lurus ke depan. Padahal tadi, orang tua Arya sempat dengan hangat meminta mereka berdua untuk menginap. Permintaan itu ditolak Mery dengan senyum sopan dan alasan sederhana, yaitu di luar rencana, juga karena mereka datang dengan dua mobil. Tidak ada perdebatan saat itu. Namun Arya tahu, penolakan itu hanya memperpanjang bara yang sudah menyala di dadanya.
Begitu sampai rumah, Arya tak lagi menahan diri. Mery yang semula hendak melangkah naik ke lantai dua berhenti di anak tangga pertama. Ia berbalik perlahan. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya berubah tajam.
“Melakukan apa?” tanyanya datar.
“Kenapa kamu menyetujui bulan madu itu?” tegas Arya, langkahnya maju satu langkah, suaranya meninggi.
Mery menuruni kembali anak tangga, kini berdiri sejajar dengan suaminya.
“Hanya bulan madu,” jawabnya singkat.
“Kenapa kamu heboh sekali?”
“Sejak kapan kita merencanakan bulan madu?” Arya membalas cepat.
“Kenapa kamu bicara seolah-olah itu memang sudah kita bahas? Di depan semua orang pula!”
Mery terkekeh kecil, tapi tidak ada tawa di matanya. “Lantas aku harus bicara apa?” tanyanya, nada suaranya mulai mengeras.
“Apa aku harus bilang kalau Arya tidak pernah memikirkan bulan madu, karena terlalu sibuk menyenangkan hati pacarnya?”
Kalimat itu menghantam Arya tepat di dada. Wajahnya memucat seketika. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.
“Apa seperti itu yang kamu mau?” lanjut Mery tegas, menatap Arya tanpa berkedip.
Arya menelan saliva. Tenggorokannya terasa kering. Malam itu, ia tidak punya jawaban.
“Asal kamu tahu ya, Arya,” ucap Mery, suaranya kini lebih rendah, tapi justru terdengar lebih tajam.
“Semua yang aku lakukan tadi semata-mata untuk menjaga marwahmu di hadapan keluargamu.”
Ia melangkah satu langkah maju. “Menjaga marwah pernikahan kita.”
Arya reflek mundur setengah langkah, punggungnya hampir menyentuh dinding.
“Kamu sendiri,” lanjut Mery,
“Apa yang kamu lakukan?”
Arya terdiam. Tatapannya turun, lalu naik lagi, tapi tetap tanpa kata.
“Kamu bukan anak TK,” kata Mery dingin.
“Kalau kamu tidak suka dan tidak nyaman, kamu bisa bilang langsung tadi di depan orang tuamu. Bukan mengomel di belakang seperti ini.”
Ia kembali melangkah maju, membuat jarak di antara mereka semakin sempit. Arya mundur lagi, kali ini jelas terlihat gugup.
“Sama halnya dengan pernikahan kita.” Suara Mery bergetar tipis, bukan karena ragu, tapi karena emosi yang ia tekan kuat-kuat.
“Kalau saja kamu menolak sejak awal, aku tidak akan terjebak dalam pernikahan sandiwara yang rumit ini.”
Mery menatap Arya lurus. Wajahnya benar-benar serius, tanpa senyum, tanpa basa-basi. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh.
“Camkan itu, Arya!”
Glek.
Suara Arya menelan ludah terdengar jelas di ruang yang kini terasa terlalu sunyi. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Seluruh amarahnya runtuh, digantikan rasa bersalah yang berat dan menekan.
Mery tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dengan gerakan tegas, menaiki tangga menuju lantai dua. Langkahnya cepat, penuh emosi yang belum sepenuhnya reda.
Arya tetap berdiri di tempatnya, mematung. Tatapannya mengikuti punggung Mery hingga sosok itu menghilang di balik sudut tangga. Dadanya terasa sesak.
Sepertinya ia baru, wanita yang ia nikahi bukan sekedar peran dalam sandiwara, melainkan seseorang yang juga terluka.
“Biarkan saja dia merasa bersalah pada dirinya sendiri. Agar dia bisa berpikir. Enak aja main salah-salahin aku,” gerutu Mery sembari melepas semua aksesorisnya di depan meja rias.
Mery menatap lurus ke arah cermin sembari tersenyum. “Mari kita lihat Arya, siapa nantinya yang akan menjadi pemenang.”