Gimana jadinya kalau kau harus menikah dengan muridmu sendiri secara rahasia?? Arghhh, tidak ini gak mungkin! Aku hamil! Pupus sudah harapanku, aku terjebak! Tapi kalau dipikir-pikir, dia manis juga dan sangat bertanggung-jawab. Eh? Apa aku mulai suka padanya??!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Ternyata....
Risa akhirnya keluar dari kamar. Ia berjalan dengan perasaan campur-aduk saat melihat Rio bersama Ibunya. Rasanya ia seperti sedang berjalan ke meja penghakiman. Tapi semua itu tetap harus ia lalui.
"Selamat sore Tante," ucap Risa begitu berdiri di sana dan mengulurkan tangan ke arah wanita yang sedang duduk di sebelah Rio.
Ibunya Rio tak menjawab, tapi ia tetap menerima uluran tangan Risa sambil memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu Kepala sekolah di Bina Nusantara 'kan ya??" Tanya wanita itu memulai percakapan yang malah menyinggung soal status.
"Eh, iya, itu benar," jawab Risa yang merasa sedikit aneh dengan pertanyaan itu.
"Masih ingat sama saya?" Tanyanya kemudian.
"Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Tanya Risa balik dengan kening yang mengerut.
"Kamu pernah menolong saya dan anak saya waktu belanja di minimarket, waktu dompet saya dijambret seseorang, ingat tidak?" Puspa mulai menceritakan kejadian yang pernah ia alami beberapa bulan lalu.
Risa terdiam, ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian tersebut.
"Itu loh, waktu kamu ngehajar malingnya pakai karate, hiattt!" Puspa malah memperagakan gerakan bela diri secara acak dengan bersemangat.
"Oooh, iya saya ingat sekarang! Astaga, ternyata Ibunya Rio?" Risa akhirnya ingat dan menatap wanita itu dengan perasaan takjub.
"Dunia ini ternyata sempit ya!" Balas Puspa gak kalah heboh dari Risa. Sementara Dewi hanya bisa menatap ke arah Rio yang sedang berusaha memalingkan wajah agar tak melihat Risa.
"Saya gak menyangka kita akan dipertemukan lagi dalam keadaan seperti ini," ucap Puspa yang malah kelihatan seneng.
"Ah ya, saya juga gak mengira...." Risa merasa sedikit canggung.
"Rio, kamu kenapa diam saja dari tadi?" Puspa yang menyadari sejak tadi putranya hanya diam langsung menoleh, "kamu sedang apa? Kenapa kamu malah melihat ke arah pintu??" Tanya Puspa keheranan.
"Rio gak apa-apa, Bu. Ibu ngobrolnya terusin aja sama Bu Risa...," jawab Rio dengan leher kaku gak mau belok ke arah yang lain.
"Kamu kenapa sih, Rio?"
Puspa yang masih belum tahu dengan ngidam anehnya Rio langsung menarik baju pemuda itu dan menempelkan kedua tangannya di wajah Rio, memaksanya untuk melihat ke arah yang sebaliknya.
"Bu, ja-jangan...!" Rio panik berusaha mencegah tapi terlambat, ia sudah terlanjur melihat ke arah ibunya dan Risa persis ada di belakangnya.
"Jangan kenapa sih?" Tanya Ibunya lagi.
"Uff...." Rio reflek menutup mulutnya.
"Hah, kamu kenapa Rio?" Alis wanita itu bertaut saat melihat keanehan dari sikap Rio.
"Bu, Rio mau ke kamar mandi sebentar," ucapnya yang udah gak tahan.
Puspa akhirnya melepaskan kedua tangannya dari wajah sang putra yang langsung berdiri dari tempat duduk dan berlari cepat ke kamar mandi.
"Rio, dia kenapa...?" Tanya Puspa yang mengalihkan pandangan kepada Dewi dan Risa secara bergantian.
"Eh itu, anak Ibu kayaknya dia ngidam. Soalnya setiap lihat muka Risa dia bakalan muntah," jawab Dewi sambil menahan tawa. Risa hanya memasang wajah kecut.
"Oh ya? Hahahahahaha!" Puspa malah ngakak kenceng.
Dewi yang melihat Puspa tertawa akhirnya pun ikut mentertawakan hal tersebut juga. Akhirnya dia punya temen buat diajak ngetawain bareng kelakuan anak dan menantunya.
"Astaga, sama persis sama almarhum Ayahnya," ujar Puspa yang kemudian tersenyum.
"Oh ya? Jadi suami Ibu kayak begitu dulu?" Sekarang Dewi yang heboh.
"Dulu waktu hamil Rio, Papanya juga sama kayak gitu, lucu banget deh!"
Akhirnya kedua wanita itu malah saling ngobrol dan bahas masa lalu dengan suami masing-masing. Risa di situ cuma bengong kayak nyamuk.
"Malah jadi nyamuk gue di sini!" Ujarnya dalam hati merasa terabaikan karena emaknya asik sendiri sama tante Puspa.
Risa kemudian diam-diam melipir dari ruangan tersebut tanpa disadari oleh Dewi maupun Puspa yang kayaknya udah asik tenggelam nostalgia.
"Fiuh..., bisa-bisanya mereka enggak sadar kalau gue udah gak ada di situ," ucap Risa geleng-geleng.
Risa kemudian berbalik hendak ke kamar, namun ia dikejutkan oleh Rio yang sedang berdiri di balik tembok dekat kamar mandi.
"Bikin kaget lu!" Ujar Risa dengan setengah berbisik. "Ngapain lu malah di sini?" Tanya Risa dengan heran melihat Rio yang hanya mengintip.
"Gua gak pernah liat Ibu gua bisa ketawa lepas kayak tadi...," jawab Rio yang sebenarnya terharu saat melihat ibunya bener-bener bisa tertawa kencang, "sekarang dia kayaknya nyaman banget ngobrol sama Tante Dewi...," lanjutnya dengan pandangan yang tak lepas dari ibunya.
"Sama sih...." Risa menghela napas dan ikut menatap ke arah ibunya sendiri, "gue juga gak pernah liat nyokap gue kayak sekarang...."
Untuk sesaat keduanya terdiam dan sama-sama memperhatikan wajah bahagia kedua wanita yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ngomong-ngomong, lu udah gak mual liat muka gue?" Tanya Risa baru sadar.
"Hah? Oh iya juga ya...." Rio malah kaget sendiri.
"Seriusan?" Risa bertanya lagi untuk lebih memastikan.
Risa kali ini menempelkan kedua tangannya pada sisi kiri dan kanan wajahnya Rio, seakan meminta pemuda itu untuk lekat menatapnya. Dia hanya ingin tahu, apa pemuda itu beneran udah gak merasa mual atau ingin muntah lagi??
Namun, kejadian ini ternyata disalah artikan oleh Dewi dan Puspa yang entah sejak kapan ada di belakang mereka.
"Ternyata kamu ke sini buat ambil kesempatan ya, Risa?" Ibunya Risa udah cengar-cengir aja di belakang.
Risa yang kaget langsung melepaskan tangannya dan nengok ke belakang.
"Ya ampun, enggak begitu kok maksudnya!" Risa berusaha menepis kesalahpahaman.
"Gak apa-apa, kok," ujar Puspa sambil mengulum senyum. "Udah, lanjutin aja, Rio emang begitu, dia suka malu-malu kalau gak dipancing, udah terusin." Puspa malah ikutan ngedukung.
"Apaan sih??" Rio sama Risa berucap hal yang sama dalam hati.
"Ya udah yuk, kita jangan ganggu kesenangan anak muda!" Dewi akhirnya mengajak Puspa ke dapur dan melanjutkan obrolan mereka yang udah random kemana-mana (yah, namanya juga emak-emak ya).
"Enggak bakalan deh gue nyium lu!" Ujar Risa begitu Dewi dan Puspa berlalu ke dapur.
"Siapa juga yang berharap?" Balas Rio cuek.
"Pokoknya soal perjanjian kita, jangan sampai mereka berdua tau, gue gak mau kena masalah dan rencana gagal," ucap Risa yang tiba-tiba mengingatkan Rio soal perjanjian nikah kontrak mereka.
Meski agak kesal tapi Rio setuju. Dia gak mau merusak kebahagiaan tante Dewi dan ibunya sendiri yang kayaknya lagi hepi banget.
"Iya, gua juga tau. Tenang aja lah, mereka gak bakal tau soal itu," balas Rio memberi jaminan kepada Risa kalau dia bakal tutup mulut.
"Kayaknya kita harus mulai mikirin alasan kalau kita cerai nanti deh," ujar Risa yang kayaknya serius sudah berpikiran ke arah situ.
"Apa gua bener-bener se-gak berharganya banget ya, sampe mau dibuang begitu aja sama dia??" Batin Rio merasa miris sendiri.
Gimana kelanjutan kisah pernikahan kontrak mereka? Alasan apa yang nanti bakal dibuat Risa dan Rio buat mereka cerai nanti? Gimana reaksi Dewi dan Puspa kalau tau kedua anaknya hanya nikah kontrak?
.
.
.
BERSAMBUNG....