NovelToon NovelToon
Istri Bodoh Tuan Mafia

Istri Bodoh Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Mafia / Roman-Angst Mafia / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 PENASARAN

Zidan mengerutkan alis mencoba mengingat tentang siapa itu Riko.

"Riko? Setahuku itu saudara dari Dirga. Tapi kalau tidak salah Riko dan istrinya meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan mobil. Dan anak mereka katanya mengalami trauma berat hingga dianggap tidak waras."

Kael menatap layar tablet itu sekali lagi. Ia memperbesar foto Seyna kecil, lalu menatap dalam-dalam sorot matanya yang polos.

"Jadi, gadis itu… anak dari Riko Damar. Bukan dari Dirga," gumam Kael perlahan, nadanya merendah tapi sarat dengan rasa ingin tahu yang dalam.

Zidan menatap bosnya lewat kaca spion, ekspresinya mulai heran.

"Kenapa, Tuan? Ada yang salah?"

Kael tidak menjawab seketika. Ia hanya menatap layar, menekan beberapa ikon, mencari lebih dalam. Setiap berkas, setiap catatan medis, setiap laporan keuangan yang terhubung dengan nama Seyna Damar ia buka satu per satu.

Namun di antara barisan data yang teratur itu, Kael menemukan sesuatu yang janggal akun saham, dokumen perusahaan, serta hak waris besar yang semuanya tercatat atas nama Seyna Damar.

"Menarik…"ucap Kael sambil menyipitkan mata.

"Gadis bodoh ini ternyata mewarisi seluruh kekayaan keluarga Damar sebelum kedua orang tuanya meninggal. Tapi sejak mereka mati, semua dokumen warisannya berhenti dilacak. Tidak ada transaksi, tidak ada aktivitas finansial, seolah semuanya disembunyikan."

Zidan melirik sekilas ke arah Kael yang te gah asyik memainkan tab itu.

"Disembunyikan? Maksud Tuan, oleh siapa?"

Kael menatap layar beberapa detik lagi, lalu menutup tab itu perlahan dan bersandar di kursi mobilnya. Tatapannya tajam menembus kaca, melihat bayangan gedung-gedung malam kota yang memantulkan cahaya lampu.

"Siapa lagi kalau bukan keluarga yang merawatnya? Dirga dan Reni."

Zidan terdiam. Ia tahu nada suara itu dingin, datar, tapi menandakan satu hal yang tidak biasanya tuannya lakukan yaitu Kael mulai tertarik akan sesuatu.

"Jadi gadis yang dianggap bodoh itu," lanjut Kael pelan.

"Mungkin bukan sekadar korban. Ada sesuatu yang disembunyikan keluarga Damar. Dan aku benci kalau ada sesuatu yang disembunyikan di hadapanku."

Zidan hanya mengangguk cepat. "Apakah Tuan ingin saya lanjutkan penyelidikan?"

Kael menatap lurus ke depan, senyum tipis terbentuk di sudut bibirnya.

"Ya. Cari tahu semua tentang Seyna Damar. Riwayatnya, rumahnya, siapa saja yang tinggal bersamanya. Aku ingin tahu… kenapa gadis itu berani menatapku seperti seseorang yang tidak takut mati."

Suasana mobil kembali sunyi, hanya suara mesin yang terdengar halus. Namun di dalam pikirannya, Kael masih memutar ulang kejadian di pesta tadi tatapan mata Seyna, senyumnya yang samar, dan ciuman singkat yang membuatnya kehilangan kendali sejenak.

"Seyna Damar…" Kael menatap ke luar jendela, matanya menyipit menembus gelap malam.

"Kau siapa yang bahkan tidak takut denganku?apa benar kau bodoh atau ada suatu hal yang kau sembunyikan."

....

"Sialan, kenapa pertunanganku dengan keluarga Wicaksana di batalkan," teriak Alisha di ruang tengah sambil melempar semua barang disana.

Pagi yang tenang kala itu, berubah menjadi amukan karena kekesalan Alisha atas pembatalan pertunangannya secara sepihak.

"Segera!panggilkan Seyna!" teriak Alisha sambil menyuruh pelayan yang sedari tadi mengamati.

Salah seorang pelayan segera menaiki tangga menuju ke arah kamar Seyna, Seyna yang di dalam kamar mendengar ketukan hanya menghela napas dan meminta Risa untuk membukakan pintu itu.

Pelayan itu segera masuk kedalam, menarik tangan Seyna yang sedang melukis.

"Cepat!Kau dipanggil Nona Alisha!" ucap pelayan itu tidak sopan sambil menarik narik tangan Seyna hingga beberapa catnya terjatuh.

"Lepaskan...lepaskan...kamu jahat jahat..lepaskan," teriak Seyna mencoba melepaskan genggaman tangan itu.

Sedangkan pelayan itu tidak peduli, dan malah semakin kuat menarik tangan Seyna. Hingga Risa segera menepis tangan itu, agar Seyna tidak kesakitan.

"Bisa pelan pelan tidak?kau selalu saja seenaknya memangnya kalau dia menyuruhmu, kau bisa memperlakukan nona Seyna seenaknya," ucap Risa tegas.

"Sudahlah ayo cepat!" ucap pelayan itu sambil menatap sinis ke arah Risa.

Seyna hanya mengikuti langkah kaki dari pelayan itu, langkahnya tenang. Hingga sampailah mereka di ruang tengah, Alisha yang melihat Seyna segera menampar wajah itu dengan kasar.

"Dasar jalang! Beraninya kau merusak hari pertunanganku!" teriak Alisha.

Seyna hanya diam, ia tidak ingin melawan dan hanya menunduk ketakutan.

"Aku..tidak melakukan..apa apa," ucapnya pelan.

"Dasar gadis bodoh, tidak melakukan apa apa terus siapa yang melempar lukisan itu, lagi pula itu adalah lukisan mu!" teriak Alisha.

"Aku...aku tidak tahu," ucap Seyna lirih sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Alisha yang sudah terbakar amarah, tak lagi peduli dengan raut ketakutan Seyna. Gadis itu melangkah cepat dan menghantam kedua lengannya ke arah tubuh Seyna, membuat Seyna terjatuh ke lantai marmer yang dingin.

"Dasar gadis sial! Karena kau, pertunanganku hampir batal! Semua orang melihat lukisan terkutuk itu!" bentak Alisha, matanya merah menahan emosi.

Seyna meringkuk di lantai, tubuhnya gemetar. Ia memegangi lengannya yang kini mulai memar akibat pukulan bertubi-tubi itu.

"Aku… aku tidak tahu… aku tidak…" suaranya nyaris tak terdengar, bergetar di antara tangis yang tertahan.

Namun Alisha tak berhenti. Ia menendang sisi bahu Seyna, membuat gadis itu kembali tersungkur.

"Bohong! Lukisan itu lukisanmu! Kau pasti ingin mempermalukanku di depan keluarga Wicaksana, kan? Dasar orang gila!"

Seyna hanya bisa meringkuk, menutupi kepala dengan kedua tangannya. Air matanya menetes membasahi lantai, tapi tak ada satu pun yang berani menolongnya. Para pelayan hanya menunduk, pura-pura sibuk agar tidak ikut terseret amarah sang putri keluarga Damar.

"Alisha! Cukup!" suara keras terdengar dari arah tangga. Reni berjalan cepat dengan wajah tegang, diikuti oleh Dirga yang terlihat gusar.

Reni segera menarik tangan Alisha yang masih hendak memukul Seyna lagi.

"Berhenti sekarang juga!" tegur Reni dengan nada rendah tapi tajam.

"Kau mau wajahnya lebam dan keluarga Wicaksana melihatnya seperti itu?"

Alisha menoleh dengan nafas terengah, namun masih melotot ke arah Seyna yang terkapar lemah di lantai.

"Tapi, Maa! Gadis ini—"

"Tidak ada tapi!" potong Reni tegas.

"Keluarga Wicaksana akan datang sebentar lagi, mereka ingin bertemu denganmu dan Seyna. Apa kau ingin membuat mereka berpikir keluarga kita jahat kepadanya?"

Dirga ikut menimpali dengan nada dingin dan datar.

"Sudah cukup Alisha. Kau tahu akibatnya kalau calon besan kita tersinggung."

Alisha mengepalkan tangan, menahan emosi yang belum juga reda. Ia hanya bisa menatap Seyna dengan pandangan penuh kebencian sebelum akhirnya melepaskan napas kasar dan melangkah pergi sambil menendang ujung gaunnya dengan kasar.

"Dasar gadis pembawa sial," desisnya pelan sebelum benar-benar pergi dari ruangan.

Begitu suasana sedikit tenang, Reni menatap Seyna yang masih terduduk lemah di lantai.

"Risa!" panggilnya keras.

Risa yang sejak tadi menunggu di lantai atas segera berlari turun, wajahnya langsung berubah cemas melihat keadaan nona mudanya.

"Cepat bawa dia ke kamarnya. Pastikan tidak ada satu luka pun yang terlihat sebelum keluarga Wicaksana datang. Aku tidak mau ada masalah lagi."

Risa segera memapah Seyna yang tampak lemas, sementara tatapan Reni menajam menatap gadis malang itu.

"Dan kau, Seyna…" katanya dingin sebelum berbalik.

"Kalau sampai ada hal memalukan terjadi lagi, bahkan Rayyan pun tidak akan segan segan kita pukuli."

....

MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH

Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!

1
Bu Dewi
seru, lnjut lagi kak.. hehehhehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!