Adult Action Romance
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan unsur dewasa. Mohon kebijakan Anda dalam membaca Novel ini.
Rain memilih mendekam dalam penjara agar dia bisa melupakan cinta pertamanya, cinta yang tak akan pernah bisa dia dapatkan kembali. Setelah 5 tahun menahan dirinya, dia dihadapkan dengan situasi dimana dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga seorang wanita yang tak sengaja dia temui di penjara.
Keputusannya untuk menjaga wanita itu karena sebuah janji nyatanya menyeretnya ke masalah yang lebih besar. Belum lagi dosanya dimasa lalu belum juga tuntas tertebus.
Apakah Rain bisa menghadapi semua orang yang ingin menjatuhkannya? bisakah dia menjadi dirinya yang baru atau kembali menjadi dirinya yang lama? ataukah dia bisa kembali mencinta?
---
Warning! 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 - Aku ingin tahu kenapa dia mencari masalah denganku?
Bianca membuka matanya perlahan, kepalanya pusing sekali hingga dia kesulitan membuka matanya yang terus saja ingin menutup kembali, buram awalnya dia melihat sekelilingnya, melihat tempat yang luas bernuansa putih yang cukup menyilaukan matanya, apakah dia sudah mati?
Bianca mencoba untuk mengingat, terakhir kali saat dia ingin tidur, Bianca mendengar pintu kamarnya terketuk, dia lalu segera membukanya dan tiba-tiba dia disergap oleh 3 orang pelayan yang memang dari awal tak pernah menyukainya, mereka menyeretnya membawanya ke suatu tempat, lalu memintanya meminum minuman yang rasanya sangat pahit dan menusuk hidungnya dan terakhir kali dia ingat, seseorang dari mereka memukul perutnya, lalu setelah itu dia tak ingat apapun lagi, apa hanya dengan begitu dia bisa mati? Kenapa begitu mudah? Padahal penyiksaan yang sebelumnya jauh lebih sakit dan dia tetap saja hidup.
Mengingat apa yang baru saja terjadi padanya membuat kepalanya kembali pusing dan perutnya mual, dia mencoba melihat tubuhnya, namun saat melihat seorang pria yang duduk di dekatnya, Bianaca langsung panik dan tanpa menunggu lama bangkit terduduk mencoba menjauh dari pria yang masih samar dia pandang wajahnya. Membuat gestur tubuh bertahannya, meringkuk ketakutan.
Rain baru saja selesai memeras kembali air hangat yang baru saja diganti oleh Lisa, Rain ingin meletakkannya di perut Bianca saat dia melihat wanita itu mulai sadar dan bergerak, Bianca tampak mengerjapkan matanya berulang kali, tampak begitu kesusahan hanya untuk membuka matanya, dia masih terlihat linglung, namun yang membuat Rain kaget, saat Bianca tiba-tiba terduduk panik ketika melihat ke arahnya, wajah ketakutannya terlihat jelas, Rain sampai mengerutkan dahinya, apakah sebegitu menakutkannya dia?
Bianca mengerjapkan matanya beberapa kali lagi hingga dia akhirnya bisa dengan jelas melihat siapa yang ada di depannya, Bianca memandang wajah diam itu, secercah semangat terlihat di matanya, bahkan dia sendiri tak menyadari akan hal itu, namun perasaannya yang tadi takut dan juga kaget langsung tenang melihat mata indah itu. Dia mengendurkan sikap bertahannya.
Sesaat mata mereka bertemu, saling tertaut tanpa bisa terpalingkan. Rain yang pertama kali mengakhir senyap di antara mereka berdua. Tangan Rain menjulur ingin memberikan handuk yang bahkan tak hangat lagi rasanya. Namun karena hal itu Bianca menjadi kembali awas melihat pergerakan Rain, walau dia tahu Rain tidaklah seperti pria itu, namun Bianca cukup punya trauma ketika seorang ingin menyentuh tubuhnya.
"Ini untuk lukamu, Dokter bilang untuk mengompresnya," ujar Rain perlahan mencoba memberikan penjelasan kenapa dia melakukan itu pada Bianca, masih bisa melihat jelas sorot mata trauma di wajah Bianca.
Bianca melirik ke arah handuk itu, melihat perutnya yang sedikit tersingkap, melihat itu dia segera menutupnya, tak ingin membuat Rain jijik melihat tubuhnya yang penuh luka.
"Terima kasih, Aku akan melakukannya sendiri," ujar Bianca mengambil handuk itu dari tangan Rain, Rain hanya bisa diam, mengamati wajah Bianca, membuat Bianca menjadi sedikit salah tingkah karenanya, baru kali ini dia melihat Rain menatapnya seperti itu.
"Apa masih sakit?" Tanya Rain lagi walau masih dengan nada datar, namun siapapun yang mengenalnya akan kaget dengan kelembutan yang terasa dalam kata-kata itu. Bianca pun terperangkap oleh suara itu.
Bianca menggeleng pelan, melihat wajah pria yang sebenarnya lebih menyesakkan dadanya karena memacu jantungnya berdetak lebih keras dan menahan napasnya seolah hanya sampai tenggorokannya, Rain mengangguk kecil, cukup senang mendengarkan apa kata-kata Bianca.
"Baiklah, masih terlalu pagi, istirahatlah lagi," ujar Rain yang merasa Bianca masih butuh istirahat, lagi pula jika dia terus di sana, rasanya dia akan bingung harus bertindak apa, memandang mata indah Bianca yang tampak sendu sejujurnya hal itu membuatnya takut, takut tak ingat untuk melepaskan dirinya.
"Rain," suara lembut Bianca membuat Rain yang baru saja ingin berdiri meninggalkan wanita itu, urung melakukannya.
"Hm?" Hanya itu jawaban dari Rain.
"Maafkan aku ... " kata Bianca, banyak yang ingin dia katakan, banyak yang ingin dia utarakan pada pria ini, berminggu-minggu dia menyiapkan diri seandainya diberikan kesempatan untuk bertemu dan juga diperbolehkan berbicara dia akan mengatakan penyesalannya, memberitahu apa alasannya melakukan hal itu, Namun saat kesempatan itu tiba, semua tak bisa dia keluarkan, serasa semua hal yang akan dia katakan pada Rain, hilang seketika, dia bahkan tak tahu harus mulai dari mana.
Rain menatap wajah Bianca yang tampak menundukkan wajahnya, bulu matanya yang lentik menutupi bola matanya yang tampak bergerak-gerak, benar-benar berusaha agar mencari kalimat yang tepat agar Rain tak lagi salah paham padanya.
"Aku ... " kata Bianca lagi mencoba sekali lagi untuk bisa mengucapkan kata-kata itu.
"Lebih baik aku tidak tahu kenapa? Biarkan seperti ini saja, aku telah menghukummu karena itu tak perlu lagi meminta maaf padaku, Istirahatlah, jika perlu padaku, aku ada di luar," ujar Rain sambil menatap tajam pada Bianca. Bukan dia tak ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Bianca, tapi dia tahu hal itu akan kembali membuka luka Bianca, Rain jelas tahu apa yang sudah dilakukan oleh Drake, Bianca melakukannya pasti karena ada sesuatu yang memaksanya melakukan hal itu.
Bianca menggigit bibirnya, melihat sejenak pria yang menatapnya sebelum Rain kembali melangkah meninggalkannya, Bianca hanya terpaku melihat apa yang terlah dilakukan oleh Rain. Dia melihat ke arah tangannya, handuk basah yang sudah cendrung dingin karena terpengaruh suhu ruangan Rain yang dingin, Bianca mengerutkan dahinya, apa Rain yang mengopres lukanya selama ini? Dia menyingkap bajunya, melihat bekas basah dan juga lebab di perutnya yang menurutnya sangat menjijikkan. Entah kenapa rasa sedih malah muncul dalam dirinya. Selama dia hidup hanya sedikit orang yang berbuat baik padanya, membayangkan bahwa Rain merawat lukanya saja walaupun dia tak tahu apakah itu benar atau tidak, membuatnya sangat terharu.
"Tuan," sapa Ken saat melihat akhirnya Rain keluar dari kamarnya, sama dengan Tuannya, Ken pun belum tidur sama sekali malam ini.
"Aku minta penjagaan untuknya, siapkan satu asisten wanita untuk seluruh keperluannya, perintahkan pada koki untuk membuatkan sup, pasti dia merasa mual karena meminum alkohol itu," kata Rain yang memikirkan semua yang diperlukan oleh Bianca.
"Baik Tuan," ujar Ken yang hanya bisa menurut saja.
"Ken, aku ingin tahu semua yang dilakukan Drake dan apa yang membuatnya mencari masalah padaku," perintah Rain lagi saat dia menuju kamar tamu.
"Aku akan memberitahu pada Anda secepatnya," jawab Ken lagi.
"Lakukan dengan baik dan jangan sampai dia curiga," ujar Rain.
"Ya, Tuan."
"Satu lagi, hubungi Luke dan tanyakan, apakah dia sudah membuat wanita itu keluar dari tempatku? Katakan padanya aku tidak ingin melihat wanita itu ada lagi di apartemenku saat aku pulang nanti," Kata Rain sebelum dia menutup pintu kamarnya untuk sekedar beristirahat.
Ken hanya menghela napasnya, ternyata pelatihannya selama dalam militer tak jauh beda ketika dia menjadi asisten pribadi Rain, sama-sama menguras tenaga dan juga waktunya.
ternyata mirip Jared, Johan dalam mencintai. tulus
hah....
woilahh buat gue ajaa/Shy/