Anggrek Maharani mendapatkan kejutan yang menyakitkan pada hari ulang tahunnya ke -24.
Sebuah undangan pernikahan dari Kekasihnya dan sahabat Anggrek. Dua orang yang bermain api dibelakang Anggrek selama ini. Dua orang yang tega mengkhianati ketulusan Anggrek.
Anggrek tercampakkan oleh kekasihnya, dikhianati sahabatnya.
Mampukah Anggrek bangkit kembali dari kehancuran hatinya akibat pengkhianatan ini?
Ketika kesedihan dan rasa sakit 'diselamatkan' oleh sebuah video viral. Sebuah keberuntungan yang membuka jalan dalam penyembuhan sakit hati Anggrek.
Keberuntungan tidak terduga untuk Anggrek yang tidak pernah 'dianggap' karena tidak menarik dalam standar masyarakat.
Bisakah Anggrek membuka hati kembali..?
Ikuti kisah Anggrek dalam menjalani kehidupan setelah terpuruk akibat pengkhianatan.
IG : aksara_azuraone
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kau Membayangi ku Selalu
Jangan pernah jadikan kata-kata pedas seseorang sebagai jerat yang membelenggu dirimu untuk maju
Jadikan dia sebagai busur yang membuat mu mundur untuk sesaat lalu melambung tinggi menuju target yang ingin dicapai
Caption Anggrek hari ini dalam foto hitam putih di feed sosial media. Sebuah motivasi yang mudah ditulis tapi tidak mudah dilaksanakan.
*********
Hidup adalah pilihan jika dari dulu Aku terpaku pada kata-kata kasar, bodyshamming, pengkhianatan Adi dan Cahya maka akan terjerat pada suatu tempat, tak kuasa melangkah bahkan sekedar bergeser.
Aku memang masih beruntung berada dalam keluarga penuh kasih. Mereka lah cahaya yang menerangi ketika bayangan gelap memeluk diri.
Mensyukuri anugrah yang ada membuat langkah yang berat terasa sedikit ringan.
Hari ini dalam pagi yang mendung aku sudah tiba di Miepa. Bersama Andi membuka rolling door ruko. Menyiapkan diri untuk menjemput rejeki.
Orang-orang yang memuntahkan kata-kata kasar jelas tidak menanggung biaya hidupmu maka mencoba untuk melupakan atau berdamai pada setiap kata yang terlontar memang tidak mengurangi sakit dalam sekejap tetapi membantu untuk melangkah menikmati hari.
"Rika mana, Ndi?." Aku bertanya pada Andi yang sedang menyiapkan handsoap di depan ruko.
"Ada dibelakang, Bu."
"Kamu sudah selesai? kalau sudah ikut aku ke belakang ya." Dengan cekatan Andi merapikan ember besar berkran dan handsoap untuk cuci tangan lalu mengikuti langkah ku.
Mata ku mendadak silau seakan melihat highlighter raksasa. Rika menggunakan atasan yang identik dengan warna stabilo. Roknya berwarna kuning, untung saja dia memakai sepatu putih bersih serta masker berwarna sama. Rika belum menggunakan apron khas Miepa sebagai seragam pegawainya.
"Pagi, Kak Anggrek." Dia selalu menyapa ku 'kakak' selagi pegawai yang lain memanggil 'Ibu'. Aku tidak mempermasalahkan hal ini karena baik kakak atau ibu semua menunjukkan bahwa mereka menghargai aku.
"Pagi juga Rika, Andi. Aku mau menyampaikan ke kalian jika ada temanku bernama 'Bian' yang kalian sudah tahu kan orangnya. Beritahu saja kalau aku gak ditempat. Tolong sampaikan juga ke anak-anak lain yang belum tiba."
"Baik Bu, Siap laksanakan." Andi memberi gaya hormat. Dipikirnya aku tiang bendera disambut tawa Rika. Aku tidak mengambil pusing dengan tingkah mereka karena manut tidak bertanya alasannya sudah cukup membuat aku senang.
"Kalau Kak Adiwarna?" Rika menanyakan sambil menggoyangkan kepalanya. Cepol duanya mengingatkan ku pada sailormoon. Dia memang memiliki tampilan unik sehingga menonjol dibandingkan pegawai lainnya.
"Adiwarna jarang mencari ku. Bisa diatasi." Aku berkata santai walau tidak dalam hati. Desiran itu masih ada ketika bibir menyebutkan namanya.
"Seharusnya Adiwarna juga karena dia berbahaya." Bang Ipul dari pojokan tiba-tiba nimbrung. Aku tidak heran kalo Bang Ipul tahu Adiwarna pasti tiap hari nongkrong di dapur sama ibu-ibu bagian dapur Miepa jadi dapat bahan ghibah.
"Ih Bang Ipul sok tau." Rika berjalan ke arah jejeran apron sedangkan Bang Ipul melangkah kembali ke dapur. Andi mengikuti langkah Rika menuju apron.
Awal berdiri Miepa aku memberikan seragam pada pegawai tapi karena cara mencuci tiap orang beda jadi ada seragam pegawai yang masih cerah dan ada yang lecek. Akhirnya ku putuskan menyamakan apron polyster sebagai seragamnya.
Beberapa kali gawai ku berbunyi, notifikasi pesan hijau dari Bian juga panggilan telpon yang ku abaikan. Aku mencoba untuk tidak menjawab walau suara hati ku gatal menyuruh membuka pesan hijau tersebut
Seharian aku mondar mandir dari Miepa dan dua cabang lainnya. Ada keluhan konsumen mengenai rasa dari cabang satu lagi padahal bumbu yang ada masih menggunakan resep Bang Ipul. Itulah sense of taste yang membedakan orang yang meraciknya walaupun memiliki bumbu yang sama.
Aku harus bolak balik menjadi 'kang icip'. Cabang yang dekat dengan rumah Adiwarna ini lah yang pegawainya masih belum bisa menyamakan rasa khas Miepa. Berkali-kali harus diajarkan dan hari ini rasa yang ku inginkan mulai pas.
Ketika kembali lagi ke cabang utama Miepa. Aku melihat mobil Doni terparkir di parkiran. Aku masuk ke dalam Miepa mencari Doni, Netra ku menangkap Doni dan wanita separuh baya yang masih cantik di usianya. Mamanya Doni ternyata dia beneran berkunjung bersama Mamanya.
Aku menyalami Mama Doni. Mereka masih menunggu pesanan yang datang.
"Tante sudah lama tidak bersua dengan Anggrek. Terakhir sebelum Doni pindah ke Bandung ya? kelas tiga SMP kalau enggak salah." Berhubung kami angkatan lama jadi kelas tiga SMP sama dengan kelas 9 sekarang.
"Iya bener Tante kami sama teman- teman lain naik angkot ke bandara untuk mengantar Doni. Dia kan dulunya idola SMP."
Doni nyengir mendengar perkataan ku. Aku bicara jujur sebagai atlet karate yang sering membawa kemenangan bagi sekolah dan juga anggota grup band populer di jaman kami dulu. Doni tetap low profile. Dia selalu ramah kepada setiap anak.
"Iya cuma pas gedenya kurang mujur." Ada suara lemah Mama Doni sepertinya perkataanya merujuk pada pernikahan muda Doni yang tidak berlangsung lama. Aku memilih diam hanya tersenyum menanggapinya.
"Anggrek sekarang sudah memiliki usaha ya. Pintar kamu ya. Ini Tante beli frozen pentol sama bumbu bekunya tapi kata kasir mu diambil nanti biar gak lama mencairnya."
"Oh iya Tante itu tambahan varian dari jualan Anggrek sekalian sama keripik pedasnya, jus lemon juga ada kalau cabang lain kami menambahkan es campur tapi di cabang utama tidak ada es campur."
Lancar sekali mulut ku berpromosi seakan itu refleks alami ketika ada yang bertanya sedikit saja produk Miepa. 'Kang Jualan' refleks tancap promosi.
"Wah banyak juga ya kalau Tante suka pentol frozennya yang sering di bawa Doni dan dia cerita Anggrek teman sekolahnya yang jualan. Frozen food gini emang mempermudah Ibu-ibu kayak Tante ini."
"Iya Tante rencananya Anggrek mau menambahkan frozen food selain pentol frozen mungkin nugget dulu tapi terbatas sama dapur."
"Buat nugget dalam skala terbatas Anggrek, memperkenalkan dulu kepada konsumen. Doni bisa membantu menyediakan ayam segarnya. Dia sekarang mengelola peternakan ayam." Aku melirik ke arah Doni.
"Iya Anggrek, paman ku yang tinggal dekat kakek mu kan memiliki usaha peternakan ayam dan rumah potong. Beliau tidak mempunyai anak yang bisa meneruskan usahanya jadi saat aku dikampung beliau menawarkan untuk mengelolanya."
"Doni ini dari kuliah sambil bekerja juga Anggrek. Begitu tamat dia diterima di perusahaan tetapi karena cerai dan pindah ke sini jadi belum ada pekerjaan selain mengurus tempat gym." Mama Doni menimpali.
Pembicaraan kami berlanjut ke kerjasama antara aku dan Doni. Dia sebagai pemasok ayam untuk nugget homemade ku.
Seminggu setelah pertemuan dengan Doni dan Mamanya. Aku mulai merekrut dua pegawai untuk membuat nugget karena jumlah nugget yang ku jual belum banyak maka tidak membutuhkan banyak pegawai.
Nugget homemade ku laris manis sepertinya banyak ibu-ibu yang membutuhkan bahan masakan yang mudah diolah tetapi aku belum bisa menambahkan stok nugget.
Doni baru akan beranjak pulang setelah mengantarkan pesanan ayam potong di rumah. Dia sudah memasuki mobil pickup ketika aku memberikan satu bungkus berisi soes buah.
"Kamu mau mencoba test pasar ya? Mau jualan soes buah." Aku tergelak merasa tersindir apa saja menjadi jualan.
"Ya enggaklah hari ini kebanyakan melihat tutorial memasak tiba-tiba pengen mencoba salah satu resep."
"Makasih ya Anggrek. Kayaknya enak."
"Iya titip salam sama tante ya."
"Baik Anggrek nanti ku sampaikan."
"Hati-hati Doni ya." Aku melambaikan tangan dan memandang pickup itu sampai menghilang di persimpangan. Doni yang dulunya merupakan siswa populer sekarang rutin mengantar pesanan ayam kepada semua pelanggannya. Kehidupan menentukan arah sendiri. Dia memang pemuda cakap dan sepertinya seorang ayah yang baik.
Doni memang ngotot mengantar sendiri untuk 'memperkenalkan' dirinya kepada pelanggan. Usaha ternak ayam itu memang telah jatuh kepadanya. Paman dan Bibi Doni telah mempercayai sepenuhnya pada Doni.
Aku baru berbalik hendak melangkah masuk ketika tubuhku menubruk seseorang. Mata ku menelusuri dada, leher lalu seraut wajah dingin dengan bibir terkatup rapat.
"Sudah lama tidak bertemu Anggrek ya."
"Bian."
"Iya aku Bian bukan Doni. Nomormu sudah ganti sampai tidak membalas pesan dan menjawab panggilan telpon ku? Tumben juga sekarang jarang di Miepa." Dia menyindir ku.
Suara itu begitu dingin diucapkan satu persatu secara perlahan tapi pandangan Bian mengatakan sebaliknya. Apakah aku salah menilainya? Seperti ada rindu terkekang di dalamnya.
Angin sore yang berhembus berpadu dengan mendung bergelantungan diatasnya membuat tubuh ku sedikit gemetar kalau saja mata ku tidak melihat mobil tua antik di depan rumah. Mungkin ku kira pria dihadapan ku hantu tiba-tiba saja muncul.
Sekarang aku merinding dengan suara dan aura Bian. Otakku berpikir harus menyiapkan diri untuk menyusun kata. Bukankah ada pepatah mengatakan wanita termasuk makhluk pandai bicara. Apakah pepatah itu berlaku untuk menghadapi pria ini.
Mari buktikan...
***********
Kemarin di minimarket author mendengarkan lagu lama Dewa 19 sepertinya cocok untuk Bian. 😂.
Kamu seperti hantu
Terus menghantuiku
Ke mana pun tubuhku pergi
Kau terus membayangi aku
Salahku biarkan kamu
Bermain dengan hatiku
Aku tak bisa memusnahkan
Kau dari pikiranku ini
Gimana readers cocokkah 😉😉
plus lah enjoy , fokuss sama usaha .kalo udah ada mAh jodoh g kemanaaa
good job👍👍