menjadi sukses dan kaya raya tidak menjamin kebahagiaanmu dan membuat orang yang kau cintai akan tetap di sampingmu. itulah yang di alami oleh Aldebaran, menjadi seorang CEO sukses dan kaya tidak mampu membuat istrinya tetap bersamanya, namu sebaliknya istrinya memilih berselingkuh dengan sahabat dan rekan bisnisnya. yang membuat kehidupan Aldebaran terpuruk dalam kesedihan dan kekecewaan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni Luh putu Sri rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Setelah dengan susah payah Lilia menghabiskan sarapannya yang hampir seperti porsi seorang gladiator, Lilia bersandar di sandaran kursi meja makan dengan susah payah, perutnya membuncit dari balik seragam sekolahnya karena terlalu kenyang.
"Haaa... Lilia kenyang." Katanya hampir menyerah.
"Itu artinya kau suka masakan Papa, kan?" Tanya Aldebaran santai seolah tak terjadi apapun.
Aldebaran berdiri dan membereskan piring dan peralatan makan di atas meja, dengan gerakan yang terukur ia meletakan piring di wastafel sebelum ia menyalakan keran air. Air mulai mengalir dan membasahi jari-jarinya yang kokoh. Ia menggulung lengan kemejanya lebih tinggi hingga ke sikut dan membuat lengannya lebih terekspos dari sebelumnya.
Tanpa sadar, Lilia yang masih duduk di meja makan, memperhatikan lebih banyak dari yang seharusnya. Gadis itu memandangi Aldebaran yang membelakanginya saat pria itu sedang mencuci piring, bahunya yang lebar dan postur tegapnya mampu mencuri perhatian gadis itu. Lilia merasakan perasaan yang asing mulai merayap di sudut hatinya. Hal sederhana yang sebelumnya jarang ia perhatikan kini mencuri perhatian gadis itu.
"Papa..." ucapnya pelan, nyaris berbisik lebih terhadap dirinya sendiri. Saat itu Lilia memperhatikan lengan Aldebaran yang terbentuk oleh kerja kerasnya selama ini, setiap guratan dan lekukan adalah hasil dari kerja kerasnya mendirikan perusahaan yang kini menjadi raksasa bisnis yang menguasai hampir seluruh sektor bisnis. Namun di balik pencapaian brilian yang ia raih dalam bisnis yang tak pernah orang lain sadari, Aldebaran berusaha menekan iblis dalam hatinya yang selalu mencoba menguasai dirinya.
Kemudian Lilia mengambil gelasnya yang masih penuh dengan susu dan meneguknya dengan canggung, pandangan gadis itu diam-diam masih terkunci pada Aldebaran—tubuh pria itu kini berhasil mencuri perhatian gadis itu. Hal yang dulu jarang ia perhatikan dari ayah angkatnya, namun kini entah bagaimana matanya tertuju pada setiap lekuk dan tonjolan otot di tubuh pria itu. Cara dia meletakan piring di rak piring, cara tangan dan jari-jarinya basah oleh air, itu terlihat terlalu memikat.
Dan ingatan saat Aldebaran menciumnya dan bagaimana pria itu menyentuhnya mulai menyeruak kembali ke pikiran Lilia, dan mengirimkan sensasi yang membuat bulu kuduk meremang dan jantung berpacu semakin cepat setiap kali ia mengingat kejadian itu—ciuman yang menuntut dan membutuhkan.
Tanpa sadar, lidahnya yang kecil dan merah muda menjilati pinggiran gelas yang masih menempel di bibirnya saat ia mengingat ciuman itu, seolah ingin menghidupkan kembali momen itu.
"Selesai! Ayo, Papa akan mengantarmu ke sekolah, Sayang." kata Aldebaran, memecah keheningan, sontak, membuat Lilia tersentak kaget dan tersedak susu yang ia minum hingga terbatuk.
"UHUK! UHUK!"
"Sayang! Kau baik-baik saja?" Aldebaran dengan sigap langsung mendekati Lilia yang masih terbatuk karena tersedak, dengan cepat ia mengambil tisu untuk membersihkan tumpahan susu di bibir gadis itu. "Lain kali minumnya pelan-pelan!" dengan hati-hati Aldebaran mengelap bibir mungil Lilia.
Tak sengaja, tatapan mereka saling bertemu, untuk sesaat Aldebaran terpaku melihat mata besar Lilia yang menatapnya saat mereka saling bertatapan. Aldebaran menelan ludah dengan susah payah ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Gerakan tangan pria itu lembut dan nyaris sensual, tanpa sadar Aldebaran menatap bibir kecil dan lembut itu terlalu lama. Dari balik permukaan tisu yang tipis, Aldebaran merasakan samar hangat kulit Lilia yang lembut dari balik permukaan tisu, sentuhan kecil itu memicu sesuatu dalam dirinya, mendesak ingin mengklaim bibir mungil yang lembut dan manis itu sebagai miliknya. Namun, Aldebaran menahan diri untuk kan melakukannya.
Jari-jari pria itu bertahan lebih lama dari yang di butuhkan di bibir mungil Lilia yang sedikit terbuka seperti kuncup bunga mawar. Sadar dengan sentuhannya yang terlalu lama, Aldebaran berdeham dan dengan segera ia menarik tangannya. "A-ayo! Papa akan mengantarmu ke sekolah." Kata Aldebaran, ia berusaha keras mengendalikan hasrat yang mulai mengambil alih tubuhnya hanya karena sebuah sentuhan kecil. Ia mengalihkan pandangannya dan berdiri canggung di dekat Lilia, ia berusaha mengendalikan keinginannya meski tubuhnya berteriak.
Ia tahu sekeras apapun ia mencoba menahan diri dari perasaan yang tidak pantas ia rasakan terhadap Lilia—putri angkatnya semakin kuat pula keinginannya untuk memiliki putrinya hanya untuk dirinya. Aldebaran tahu ia harus menelan semua rasa dan keinginannya mentah-mentah demi menjadi sosok ayah yang Lilia butuhkan selama ini, menjadi ayah yang bertanggung jawab dan memenuhi keinginannya seperti sebagai ayah pada umumnya di luar sana.
"A-ayo, Sayang kau sudah terlambat." kata Aldebaran gugup, dengan buru-buru ia menyambar jasnya yang tergantung di kursi dan tas kerjanya, dengan terburu-buru Aldebaran keluar dari apartemennya meski terlihat jelas sebenarnya ia menghindari kontak dengan Lilia yang lebih terasa seperti ujian hidup dan mati.
"I-iya..." jawab Lilia gugup, ia merasa jantungnya berdegup kencang ketika sentuhan lembut dari jari Aldebaran yang menekan bibirnya, sampai-sampai ia harus merasakannya dengan tangannya sendiri. Tanpa ia sadari rona merah di pipinya menyebar hingga ke telinga.
Lilia masih duduk di meja makan dengan kepala tertunduk dalam, bukan karena takut melainkan karena hal yang lebih besar yang takut ia akui, tangannya dengan lembut meremas ujung rok sekolahnya, jantungnya berdetak semakin cepat.
"Apanya yang salah..." Gumamnya, perasaan bingung mulai mencengkram hatinya. "Kenapa Lilia merasa seperti ini? Dia... Ayah Lilia, kan?" Ia tahu tidak akan pernah bisa mengatakan hal ini pada Aldebaran, sadar Aldebaran adalah ayah angkatnya, pria yang sudah merawatnya dan melindunginya selama 9 tahun terakhir.
Pandangannya beralih pada Aldebaran yang baru saja keluar dari apartemennya. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi, ia meremas rok sekolahnya lebih erat seolah sedang mencari pegangan dari perasaanya yang masih terombang-ambing.
"Lilia sungguh menyukai Papa... Lilia harus bagaimana?" Batinnya, meski Lilia tahu ini salah, namun, ia tak bisa berbohong saat ia mulai jatuh cinta pada Aldebaran—ayah angkatnya. "Jika Lilia bilang... Nanti bagaimana kalau Papa marah? Bagaimana kalau Papa menolaknya."
"Lilia, Sayang! Cepat nanti terlambat ke sekolah!" Panggil Aldebaran dari luar kamar apartemen.
Sontak, panggilan Aldebaran itu mengejutkan Lilia dan membuyarkan pikiran gadis itu.
"I-iya." Jawabnya lalu bergegas mengambil tas sekolahnya dan menyusul Aldebaran.
Aldebaran mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan, baik Lilia ataupun Aldebaran tak saling bicara, pandangan pria itu terfokus pada jalanan di depannya, sementara itu Lilia yang sedang membaca buku, namun sesekali pandangan gadis itu teralihkan ke luar jendela mobil, tampak ia tak fokus dengan buku pelajarannya, samar rona merah muda perlahan menyebar di pipinya.
Dengan lembut ia menempelkan jari-jarinya yang mungil dan ramping di dadanya, ia merasakan jantungnya masih berdetak kencang hal yang jarang ia rasakan.
"Kenapa Lilia jadi seperti ini, sih?" Tanya dalam hati, merasa panik sendiri dengan perasaannya yang tak karuan.
Tanpa gadis itu sadari, Aldebaran yang menyadari gerak-gerik Lilia yang tak seperti biasanya mulai angkat bicara. "Sayang, ada apa?" Tanya Aldebaran berusaha tetap tenang dan mencoba terdengar seperti seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab.
"Ti-tidak apa-apa, Papa. Lilia baik-baik saja." jawab gadis itu gugup , ia berusaha agar terdengar normal.
Namun sepertinya, Aldebaran menyadari kegugupan gadis itu. "Ada apa? Apa kau sakit? Wajahmu merah begitu. Kau demam?" tanya Aldebaran, ada nada khawatir di kata-katanya.
Pertanyaan Aldebaran yang biasanya terdengar biasa kini di telinga Lilia seperti pertanyaan yang menuntut. Aldebaran mengulurkan tangannya dan tiba-tiba menyentuh lembut dahi Lilia. Sontak saja sentuhan sederhana itu membuat rona merah muda di pipi gadis itu semakin menyebar dan bukan ke telinga saja bahkan rona merah itu kini menyambar hingga ke lehernya membuat wajahnya mirip seperti kepiting rebus yang terlalu matang.
"Sayang sebaiknya kita ke dokter wajahmu—"
"Ti-tidak apa-apa Papa, Lilia baik-baik saja! Lilia akan tetap ke sekolah." ucapnya, Lilia berusaha menutupi rona merah yang sudah menjalar hingga ke leher dengan menutupi wajahnya dengan buku sambil menahan rasa panas yang nyaris meledak di wajahnya.
"Lilia baik-baik saja... Hanya saja..." Lilia masih menyembunyikan wajahnya di balik buku pelajarannya, kepalanya menunduk, ia mengalihkan pandangannya dari Aldebaran, berusaha mengurangi kontak mata seminimal mungkin.
Aldebaran yang merasa sedikit aneh dengan sikap Lilia pagi ini tak bisa menahan rasa penasarannya. "Ada apa sayang kau bisa cerita sama Papa, Sayang." Bujuknya.
"Lilia... Lilia hanya memikirkan orang yang Lilia suka..." Ucap gadis itu pelan, nyaris berbisik namun cukup keras untuk Aldebaran dengar.
Bersambung.....