NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Pembersihan Kamar Utama

Langkah kaki Bagus terasa sangat mantap saat ia melangkah melintasi ambang pintu kamar tidur utama rumah Dedi. Setiap pijakan kakinya seolah membawa ketegasan iman yang tidak bisa digoyahkan oleh gertakan makhluk halus jenis apa pun. Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa luar biasa pengap dan dingin, dengan sisa aroma anyir busuk yang masih menempel pekat di udara. Dinginnya ruangan ini tidak normal, bukan seperti dinginnya mesin pendingin ruangan, melainkan hawa es yang menusuk langsung ke dalam sumsum tulang dan membawa aura kematian yang mencekam. Di sudut tempat tidur, Ratna duduk bersila dengan tubuh yang membungkuk kaku menahan gemetar ketakutan, sementara Dedi setia mendampingi di sisi kanan istrinya dengan raut wajah penuh kepasrahan. Dedi terus berzikir di dalam hatinya, mencoba menguatkan jiwanya sendiri demi menjadi sandaran bagi sang istri yang tampak begitu rapuh.

"Pak Dedi, Mbak Ratna, pejamkan mata kalian rapat-rapat dan kunci rasa pasrah seutuhnya kepada Allah," bimbing Bagus dengan nada suara yang sangat dalam, tenang, namun memancarkan wibawa spiritual yang kokoh. Ucapan Bagus bagaikan perintah mutlak yang langsung dipatuhi oleh keduanya. Merapatkan kelopak mata, Dedi dan Ratna mencoba memutus komunikasi indra mereka dengan dunia luar, memfokuskan seluruh sisa energi batin mereka pada satu titik kepasrahan kepada Sang Pencipta.

Bagus kemudian mengambil posisi berdiri tegak di bagian tengah ruangan, tepat menghadap ke arah kaca jendela tempat penampakan jin bermata merah semalam muncul. Kaca jendela itu tampak sedikit berembun, seolah menyimpan memori kelam dari teror yang sempat merobohkan mental penghuni rumah ini. Pemuda berjaket ojol itu menarik napas pendek dengan sangat plong, membuang seluruh ego pertahanannya, lalu mulai merapalkan untaian ayat suci pembongkar sihir dengan nada yang bergetar penuh penekanan batin yang matang. Setiap untaian ayat yang keluar dari bibirnya bukan sekadar ucapan lisan, melainkan manifestasi gelombang iman yang berdenyut kuat, menggetarkan dimensi gaib yang ada di sekeliling mereka.

Seketika itu juga, atmosfer di dalam kamar tidur utama tersebut mendadak berubah menjadi sangat gerah dan panas membara. Gesekan antara energi murni dari doa Bagus dan energi kotor kiriman dukun ilmu hitam menciptakan turbulensi udara yang sangat hebat. Udara yang awalnya dingin menyengat, kini seolah-olah bergolak hebat laksana air raksa yang mendidih. Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi Dedi dan Ratna, meskipun mata mereka terpejam, mereka bisa merasakan gelombang panas yang berputar-putar mengitari tubuh mereka. Di dalam pandangan mata batin Bagus, ia melihat segumpal kabut hitam pekat yang meliuk-liuk kasar di sudut plafon kamar, mendadak bergerak turun dan mengamuk hebat menolak untuk dibersihkan. Kabut hitam residu magis dari Ki Demang itu memanifestasikan diri membentuk visualisasi bayangan samar seekor kuda liar berkepala hitam yang menggeram beringas di udara. Makhluk gaib itu meringkik tajam, menunjukkan taring-taring bayangannya seolah siap menerkam Bagus untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya.

BRAAAKKK!

Pintu lemari pakaian berbahan kayu di dalam kamar itu mendadak terbuka dan tertutup sendiri dengan sangat keras, disusul oleh suara getaran halus dari kaca jendela yang seolah-olah hendak pecah berkeping-keping akibat benturan energi spiritual yang terjadi di dalam ruangan hampa tersebut. Gantungan baju di dalam lemari saling beradu menghasilkan suara gemerincing yang bising, berpadu dengan suara gesekan dinding yang seolah bergerak merapat. Manifestasi kemarahan makhluk hitam itu semakin menjadi-jadi karena jalur energinya mulai terhimpit oleh frekuensi doa. Ratna yang mendengar kegaduhan mistis itu langsung menjerit tertahan, mencengkram erat lengan baju Dedi dengan air mata ketakutan yang mengucur deras. Tubuhnya berguncang hebat, egonya sempat goyah dan ingin membuka mata karena didera rasa penasaran yang bercampur dengan kengerian yang teramat sangat.

"Jangan dibuka mata kalian! Tetap pasrah penuh kepada Sang Pemilik Jiwa!" seru Bagus dengan suara yang menggelegar lantang, mengunci fokus batinnya tanpa ada rasa takut sedikitpun. Suara Bagus bertindak sebagai jangkar yang mengikat kembali jiwa Ratna dan Dedi yang sempat terombang-ambing oleh badai kepanikan.

Bagus memajukan tubuhnya satu langkah, mengulurkan kedua telapak tangan terbukanya lurus ke depan, lalu menghentakkan nafas energinya dengan kuat. Ia menyalurkan seluruh keyakinan imannya ke ujung-ujung jarinya, memanggil pertolongan mutlak dari jalur langit. Detik itu juga, lapisan tipis hawa panas pelindung spiritual yang melingkupi jasad Bagus seketika memancar cerah membelah kegelapan kamar. Gelombang cahaya doa yang murni itu melesat cepat, langsung menggulung dan membakar habis gumpalan kabut hitam yang sedang mengamuk di udara ruangan. Terjadi benturan kilatan energi tak kasat mata yang membuat suhu ruangan sempat memuncak ekstrem sebelum akhirnya meredup secara drastis.

Sebuah lolongan gaib yang sangat panjang, melengking sedih, dan memekakkan telinga batin terdengar menggema samar di dalam kamar sebelum akhirnya suara mengerikan itu perlahan-lahan lenyap menguap terbakar angin. Lolongan itu adalah jeritan kekalahan dari Jin kiriman Ki Demang yang kini hancur terurai, kehilangan bentuk dan kekuatannya karena tidak mampu menahan kesucian ayat-ayat Tuhan. Bersamaan dengan hilangnya suara tersebut, aroma busuk bangkai yang menyesakkan dada sejak semalam seketika sirna total, digantikan oleh hembusan hawa sejuk alami yang sangat damai memenuhi seisi rumah tinggal mereka. Kamar yang tadinya terasa seperti penjara bawah tanah yang pengap, kini mendadak terasa lapang dan dipenuhi oleh oksigen yang sangat segar.

Ratna mendadak menghela napas panjang dengan sangat plong, seolah-olah sumbatan beton tak kasat mata yang selama seminggu ini mengikat leher dan dadanya baru saja hancur lebur berserakan. Aliran energi di dalam tubuhnya yang sempat tersumbat oleh kiriman sihir kini kembali mengalir dengan lancar tanpa hambatan. Wajahnya yang semula pucat pasi laksana kertas, perlahan-lahan mulai memancarkan rona merah darah yang segar seiring dengan kembalinya sistem saraf kepalanya ke dalam kondisi normal. Trauma ketakutan akut yang mengunci jiwanya sejak semalam bener-bener telah luntur terkikis habis disapu bersih oleh kekuatan jalur langit. Segala beban berat, kepanikan tanpa alasan, dan bisikan jahat yang sempat merusak pikirannya hilang tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.

Ketika Bagus menyuruh mereka membuka mata kembali, kamar tidur utama itu terasa luar biasa terang, bersih, dan meneduhkan hati. Cahaya matahari siang yang menerobos masuk melalui celah jendela tidak lagi tampak buram, melainkan bersinar sangat jernih membasuh lantai kamar. Ratna menatap ke sekeliling ruangan dengan pandangan mata yang takjub, merasakan perbedaan energi yang sangat mencolok. Kamar ini kini telah kembali menjadi tempat bernaung yang aman dan suci. Ia lalu beralih menatap suaminya, Dedi, dengan sebuah pandangan mata yang sangat dalam sebuah tatapan penuh rasa bersalah, haru, dan rasa hormat yang murni yang sudah sangat lama tidak pernah ia tunjukkan lagi. Kesadaran baru muncul di benaknya; ia melihat suaminya bukan lagi sebagai sosok yang lemah, melainkan seorang pelindung yang rela menahan penderitaan demi menjaga keutuhan mereka.

"Mas Dedi... dada aku mendadak terasa sangat ringan, tidak pusing lagi," bisik Ratna dengan suara yang bergetar halus, air matanya menetes bukan lagi karena takut, melainkan karena rasa haru yang luar biasa besar. Ia menggenggam balik tangan Dedi dengan penuh takzim.

Bagus mengulas seulas senyuman bersahaja sembari menurunkan kembali kedua lengan jaket ojolnya. Karakter bersahajanya kembali terlihat, seolah ia tidak baru saja melakukan pertarungan spiritual yang mempertaruhkan nyawa. "Alhamdulillah, Mbak Ratna. Sisa energi negatif dukun tua itu sudah lebur hancur tak berbekas dari rumah ini. Tapi ingat, Mbak, Pak Dedi, kesembuhan ini hanyalah jembatan dari Tuhan. Sekarang saatnya kalian berdua bersama-sama menata kembali keharmonisan rumah tangga ini dengan cara yang saling menghargai tanpa ada lagi ego kesombongan materi yang memisahkan batin kalian."

“Ketika kesucian cahaya doa telah diturunkan untuk menghancurkan belenggu kegelapan di dalam rumah tinggalmu, maka seluruh jaring teror hitam akan lebur menjadi debu spiritual yang terbakar angin. Kembalilah merajut keharmonisan dengan ketulusan hati yang murni, karena benteng pelindung terkuat bagi sebuah keluarga adalah runtuhnya ego kesombongan di bawah naungan rida Sang Pemilik Semesta.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!