Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23. Satu Tempat Tidur
Ariel melihat Fira, malu-malu padanya, dia merasa tidak nyaman, berada dalam satu kamar dengan orang yang baru kita kenal memang canggung.
Walaupun sudah sah sebagai suami istri, namun tetap saja keduanya baru kali ini bertemu dan langsung nikah karena fitnah.
"Aku tidur diruang tamu aja ya, biar kamu tidur dikamar." Ujar Ariel karena tidak mau Fira tidak nyaman satu kamar dengannya.
Fira tidak menjawab, dia hanya diam sembari sibuk menyusun baju dari kopernya kedalam lemari.
Karena tidak aja jawaban dari Fira, Ariel mengambil selimut dan bantal, kakinya hendak melangkah keluar dari pintu, namun suara Fira menghentikannya.
"Mas, tidak usah keluar, aku tidak apa-apa, mas tetap dikamar." Cegah Fira.
"Tapi, kamu--" Ucapan Ariel terpotong karena Fira menyahutnya.
"Kita sudah berjanji sama Bapak dan Ibuk, kita menerima pernikahan ini, kalau mas tidur diluar, gimana kalau Bapak dan Ibuk bertanya?" Fira tidak mau Pak Imran dan Buk Siti nanti melihat Ariel tidur diruang tamu.
Gimana kalau nanti kalau Bapak dan Ibuknya bertanya, sudah pasti mereka berpikir, Fira yang mengusir Ariel dan tidak menerima pernikahan ini.
Ariel berpikir sebentar, yang dikatakan Fira itu benar, kalau dia tidur diruang tamu, Pak Imran pasti akan berpikir macam-macam.
"Baiklah, kalau begitu, aku tidur disini aja, kamu tidur disana." Ujar Ariel menunjuk ketempat tidur, sedangkan dirinya akan tidur dilantai.
Fira mengangguk, terserah Ariel mau tidur dimana, Fira tidak melarang asalkan jangan diluar. Jika Ariel tidur ditempat tidur,bagi Fira juga tidak apa-apa, karena hubungan mereka sudah sah dimata Agama.
Setelah merentangkan kasur lipat, Ariel langsung tidur, namun matanya tidak bisa terpejam karena Ariel tidak terbiasa dengan lampu yang masih menyala.
Ariel, menatap Fira yang masi sibuk dengan dengan pakaiannya, Ariel menatap lekat gadis yang barusan jadi istri dadakannya.
"Mau aku bantu?" tanya Ariel karena kasihan karena dari tadi belum selesai-selesai.
Fira membalikkan wajahnya menatap Ariel sebelum menjawab. "Tidak usah mas, ini udah mau selesai. Apa mas gak terbiasa tidur kalau lampu menyala?" Fira balik bertanya.
"Tergantung, tapi kalau kamu Belum selesai, tidak apa-apa." Jawab Ariel.
"Aku tidur ya ? Selamat malam." Ariel langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Fira yang masih sibuk dengan bajunya.
"Iya mas," Jawab Fira, kemudian gadis itu sibuk lagi dengan bajunya yang hanya beberapa helai lagi.
Tidak lama kemudian, Safira selesai dengan bajunya, dia bangkit dan berjalan kekamar mandi.
Setelah membersihkan muka, Safira kembali ketempat tidurnya, Safira merebahkan diri ditempat tidur yang sudah lama sangat dia rindukan.
"Kok, baunya lain, tapi wangi juga, wanginya damai." Gumam Fira saat tanpa sengaja mencium bantal yang dipakai oleh Ariel kemaren malam.
Safira memejamkan matanya, tubuhnya sejak dari tadi merasa sudah sangat lelah, tapi aneh, kenapa matanya tidak mau bekerja sama dengan tubuhnya, matanya tetap saja melek walaupun Safira sudah memaksanya terpejam.
Waktu terus berlalu, Safira masih melek, dia membalikkan tubuhnya menghadap Ariel tertidur.
Dia melihat tubuh Ariel menggigil, Safira bangkit dari pembaringan, dia menghampiri Ariel.
Safira membenarkan selimut Ariel, karena Safira mengira Ariel kedinginan akibat udara malam yang sejuk.
Tanpa disangka tangan Safira tidak sengaja tersentuh dengan pipi Ariel.
"Panas," gumamnya. Safira reflek menyentuh dahi Ariel, untuk memastikan apakah Ariel demam seperti dugaannya.
"Dia demam, apa karena dia tidur dilantai?" tanyanya pada diri sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan," Safira diam sesaat memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Mas, mas, mas Nazriel." Safira menggoyang-goyangkan tubuh Ariel yang menggigil.
"Dingin." Lirih Ariel dengan mata yang masih terpejam.
"Mas, pindah ya, tidur ditempat tidur aja." Ujar Safira. Namun tidak ada jawaban dari Ariel, Ariel hanya menggigil.
Safira segera menyibak selimut Ariel, dan membangunkan Ariel, dipapah tubuh Ariel keatas tempat tidur.
Setelah itu Safira segera mencari obat pereda demam. Setelah ketemu obat yang mengandung parasetamol itu, dia langsung meminumkannya pada Ariel.
"Mas, tunggu sebentar ya ? aku mau mengambil air hangat dulu sebentar." Tidak cukup hanya memberi obat, Safira juga mengambil air hangat untuk mengompres Ariel.
Safira mengompres Ariel dengan telaten, sesekali dia mengecek apakah demam Ariel sudah dah menurun.
"Alhamdulillah, panasnya sudah menurun, mas tidur aja disini, biar aku yang tidur dibawah." Ujar Safira hendak melangkah, namun tangannya di tahan oleh Ariel.
"Jangan pergi, jangan pergi." Pinta Ariel dengan mata yang masih tertutup.
Safira membalikkan tubuhnya, dia sedikit gugup karena tangannya genggam oleh Ariel, padahal dia tadi sudah memeluk Ariel saat membawa Ariel ketempat tidur.
"Kenapa aku gugup, kenapa jantungku juga berdetak sangat kencang, padahal aku tidak apa-apa saat membawanya ketempat tidur." Gumamnya.
"Iya mas, aku akan tetap disini, tidur lagi ya, semoga besok pagi panasnya udah hilang." Ujar Safira duduk di tepi tempat tidur.
Mata Safira sudah mulai mengantuk, dia sudah tidak bisa menahannya lagi, matanya Teresa sudah sangat berat.
Safira akhirnya tidur disisi Ariel,keduanya tidur dalam satu ranjang.
Keesokan pagi, Ariel membuka matanya, wajah Safira yang tertutup cadar menyambut paginya.
Ariel menatap lekat bola mata Safira yang terlihat begitu indah.
"Matanya sangat indah, kulit putih, bersih dan lembut, tapi kenapa dia tidur masih memakai cadar, apa dia takut memperlihatkan wajahnya padaku, atau jangan-jangan wajahnya jelek, dan giginya mancung." Gumam Ariel mengira-ngira.
"Semalam dia sangat cekatan merawat ku, terimakasih, aku akan mencoba menerima dan mencintaimu, aku tidak peduli walaupun wajah kamu jelek." Ariel merasakan sesuatu dalam hatinya, apa lagi saat tadi malam Safira merawatnya.
Safira menggeliat, karena sudah saatnya dia bangun untuk menunaikan kewajibannya.
Ariel yang melihat Safira menggeliat, dia langsung menutup matanya kembali, pura-pura masih tertidur.
Safira membuka matanya, dia terkejut saat melihat wajah Ariel yang hanya berjarak beberapa inci saja dengannya.
Namun dia langsung bisa menguasai ingatannya, dia ingat semalam Ariel sakit dan dia sendiri yang membawanya ketempat tidur.
Safira menatap wajah Ariel yang terlihat damai dan tampan walaupun saat tertidur.
Safira menyentuh lembut pipi Ariel, dia mengagumi wajah lelaki yang sekarang sudah menjadi suaminya.
"Kamu sangat tampan, semoga aja kita bisa bersama untuk selamanya, walaupun kita dipertemukan dengan cara seperti ini." Gumam Safira.
Namun gumamnya tadi jelas dapat didengar oleh Ariel, karena Ariel tidak beneran tidur.
Aku juga berharap seperti itu, walaupun aku belum melihat wajah mu." Ucap Ariel dalam hatinya.
Safira menempelkan punggung tangannya di dahi Ariel, untuk memeriksa kondisi Ariel yang tadi malam demam.
"Alhamdulilah, sudah tidak panas lagi." Lirihnya. kemudian Safira turun dari tempat tidur. Dia bergegas kekamar mandi.
Safira mengambil wudhu setelah itu, dia langsung kembali kekamar, namun Safira melupakan sesuatu.
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..