Naya, hidup dalam bayang-bayang luka. Pernikahan pertamanya kandas, meninggalkannya dengan seorang anak di usia muda dan segudang cibiran. Ketika berusaha bangkit, nasib mempermainkannya lagi. Malam kelam bersama Brian, dokter militer bedah trauma, memaksanya menikah demi menjaga kehormatan keluarga pria itu.
Pernikahan mereka dingin. Brian memandang Naya rendah, menganggapya tak pantas. Di atas kertas, hidup Naya tampak sempurna, mahasiswi berprestasi, supervisor muda, istri pria mapan. Namun di baliknya, ia mati-matian membuktikan diri kepada Brian, keluarganya, dan dunia yang meremehkannya.
Tak ada yang tahu badai dalam dirinya. Mereka anggap keluh dan lemah tidak cocok menjadi identitasnya. Sampai Naya lelah memenuhi ekspektasi semua.
Brian perlahan melihat Naya berbeda, seorang pejuang tangguh yang meski terluka. Kini pertanyaannya, apakah Naya akan melanjutkan perannya sebagai wanita sempurna di atas kertas, atau merobek naskah itu dan mencari kehidupan dan jati diri baru ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black moonlight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Kita
Pagi itu, Naya tiba di ibu kota. Langit mendung, seolah memantulkan perasaan yang bergemuruh di hatinya. Langkahnya pelan saat keluar dari stasiun, dan sorot matanya kosong — seperti ada beban tak kasat mata yang terus membebaninya.
Brian sudah menunggunya di lobi sebuah kantor militer. Pria itu tampak rapi dengan kemeja putih polos, dasi hitam, dan jas abu-abu. Terlalu formal, terlalu dingin — seperti hubungannya dengan Naya.
“Kita langsung mulai,” katanya tanpa basa-basi, suaranya datar.
Naya hanya mengangguk. Mereka berjalan berdampingan, tapi rasanya seperti dua garis lurus yang tak pernah bersinggungan.
Seharian itu, mereka disibukkan dengan proses administrasi pernikahan militer: tanda tangan dokumen resmi, pengisian data, hingga sesi foto bersama. Semuanya berlangsung cepat, hampir mekanis, tanpa ada ruang untuk percakapan pribadi di antara mereka.
Namun, bagian yang paling melelahkan bukanlah itu.
Itu adalah wawancara kelayakan.
Sebuah ruangan kecil dengan dinding abu-abu. Di hadapan mereka duduk dua orang petugas militer — seorang pria paruh baya bernama Letkol Satria, dan seorang wanita muda bernama Kapten Laras.
Letkol Satria membuka berkas mereka, menyesap kopi hitamnya sebelum mulai bertanya. “Baik, ini wawancara untuk memastikan bahwa pernikahan kalian tidak hanya sesuai aturan, tetapi juga memiliki dasar yang kuat. Kami tidak mau ada pernikahan yang hanya formalitas.”
Brian dan Naya saling melirik sekilas. Ada jeda singkat sebelum Brian mengangguk.
“Silakan, Pak,” ujar Brian, suaranya berat.
Letkol Satria melirik Naya. “Sejak kapan kalian mulai menjalin hubungan?”
Brian membeku. Naya menelan ludah.
“Sekitar… beberapa bulan lalu,” jawab Brian hati-hati.
“Bulan keberapa?” Kapten Laras menyelipkan pertanyaan, ekspresinya tajam.
Naya membuka mulut, tapi tak ada suara keluar.
Brian langsung menyahut, “Tiga bulan lalu.”
Naya hanya mengangguk lemah, mengikuti jawaban Brian.
Letkol Satria mengetuk-ngetuk pulpen di meja. “Bagaimana kalian pertama kali bertemu?”
Brian mengatur napasnya. “Kami bertemu di sebuah seminar nasional di ibu kota. Naya datang bersama temannya, Lisa. Saya kebetulan hadir karena acara itu juga mengundang beberapa perwakilan dari rumah sakit tempat saya bekerja.”
Petugas itu mencatat sesuatu, lalu menatap Naya. “Apa hal pertama yang membuatmu tertarik pada Brian?”
Jantung Naya mencelos.
Tertarik? Kapan?
Naya mengatur ekspresinya, berusaha terlihat setenang mungkin. “Brian pria yang bertanggung jawab… dan realistis.”
Kapten Laras menyipitkan matanya. “Realistis?”
Naya tersenyum kaku. “Ya. Dia selalu berpikir logis dan mengambil keputusan yang masuk akal.”
Brian menatap Naya sekilas. Ada sesuatu dalam jawaban itu yang terdengar… kosong.
“Bagaimana kalian menyelesaikan konflik selama ini?” Letkol Satria bertanya lagi.
Keduanya terdiam.
Brian menjawab, “Kami biasanya membicarakannya secara dewasa.”
Naya hanya mengangguk lagi.
“Benarkah?” Letkol Satria menaikkan alis. “Kalian tidak terlihat seperti pasangan yang terbiasa membahas banyak hal bersama.”
Jantung Naya makin berdebar.
Kapten Laras melanjutkan, “Apakah kalian sudah membahas soal masa depan? Misalnya, soal tempat tinggal, rencana memiliki anak, dan bagaimana membangun rumah tangga?”
Kali ini, hening lebih panjang.
Naya berusaha tersenyum. “Kami sedang memikirkannya.”
Brian menimpali, “Kami sadar ada banyak hal yang harus kami diskusikan setelah pernikahan nanti.”
Letkol Satria memperhatikan mereka dengan seksama, matanya tajam. “Naya, kamu sadar kalau menikah dengan anggota militer memiliki konsekuensi? Brian akan memiliki jadwal kerja yang ketat, dan terkadang harus bertugas jauh dari rumah. Apakah kamu siap?”
Naya mengangguk kecil. “Saya sadar, Pak.”
“Dan kamu, Brian,” Letkol Satria melanjutkan, “Kamu tahu bahwa menikahi Naya berarti juga menerima kehadiran Sean, anaknya. Apakah kamu sudah siap menjadi ayah sambung?”
Brian terkesiap.
Untuk sesaat, waktu seperti melambat.
“Saya… akan belajar,” jawabnya pelan.
Kapten Laras menyelidik. “Hanya belajar?”
Brian meremas tangannya di pangkuan. “Saya tidak akan lari dari tanggung jawab.”
Kedua petugas saling bertukar pandang. Ada ketegangan yang tak bisa diabaikan di ruangan itu.
Akhirnya, Letkol Satria menutup berkas mereka. “Baik. Jawaban kalian akan kami pertimbangkan. Saya harap kalian benar-benar memikirkan masa depan kalian — karena pernikahan militer bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.”
Naya dan Brian hanya mengangguk, meski di dalam hati mereka masing-masing bertanya-tanya: apa benar mereka punya masa depan?
Malam itu, setelah semua prosedur selesai, Naya terpaksa menginap di rumah keluarga Brian karena besok mereka harus menjalani sesi foto prewedding.
Suasana di rumah terasa canggung. Wisnu sibuk dengan urusannya yang tak lepas dari ponsel, memastikan semua proses administrasi hingga acara di hari H nanti berjalan lancar. Ratna duduk diam di ruang tamu, matanya kosong — mungkin masih sulit menerima bahwa putranya akan menikah dalam keadaan seperti ini.
Setelah makan malam singkat yang lebih terasa seperti formalitas, Brian dan Naya akhirnya duduk berdua di teras rumah. Ini pertama kalinya mereka bicara tanpa ada orang lain.
“Naya,” suara Brian pelan, nyaris bergetar.
Naya menatap lurus ke depan, memeluk tubuhnya sendiri. “Saya mau kita bicara soal setelah menikah.”
Brian menghela napas. “Oke. Gimana ?”
“Saya tinggal jauh dari sini. Saya kuliah dan kerja di kota disana. Dan… Saya punya Sean.”
Brian mengangguk, menatap kosong ke langit malam. “Saya tahu.”
“Jadi… apa kita akan tinggal di sini? Apa saya harus pindah?” suara Naya bergetar, menahan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di hatinya.
Brian terdiam sesaat. “Saya tidak memaksamu untuk pindah, tapi seperti tadi yang disampaikan saat wawancara. Bukankah kamu sendiri yang menjawab siap mendampingi saya ?" Brian tersenyum meremehkan.
“Kak Brian .." Naya menatap pria itu dalam-dalam. “Saya nggak bisa ninggalin Sean. Dia hidup saya. Saya nggak mungkin tinggal di sini dan membiarkan dia tumbuh tanpa saya."
Brian meremas pelipisnya. “Saya ngerti.”
“Tapi saya juga sadar, Kamu punya hidupmu sendiri. Kariermu, keluargamu. Sedang saya dan Sean hanya akan jadi beban baru buat kamu Kak. "
Brian menegang. Kata-kata Naya menusuk jauh ke dalam hatinya.
“Saya nggak pernah bilang kamu beban,” jawabnya lirih.
“Tapi kamu merasa begitu,” balas Naya cepat.
Hening.
Akhirnya, Brian menunduk, menatap kedua tangannya. “Saya nggak tahu gimana cara jadi suami buat kamu, atau ayah buat Sean. Saya cuma tahu kita harus menikah”
Air mata hampir lolos dari mata Naya, tapi ia cepat-cepat menahannya. “Saya cuma mau kejelasan, Kak Brian. Setelah ini… saya harus tahu ke mana saya kan melangkah.”
Brian menarik nafas panjang, lalu memejamkan matanya sesaat. Kepalanya berpikir ke waktu yang akan datang, masalah ini saja belum tuntas sudah harus memikirkan lagi yang jauh belum terjadi.
"Saya tidak akan mengekang, membatasi atau mengatur mu Naya. Kamu bisa menentukan pilihan mu sendiri. Ikut saya ataupun tidak, bagi saya tidak ada pengaruhnya." Jawab Brian acuh.
"Baiklah !" Jawab Naya kini nadanya agak meninggi.
geuleuh...laki kurang peka udah di kasih enak berulang kali, masih aja mempertanyakan perasaan.
Gas keun ka Author jgn kasih kendor
harus'y si pria entu duluan 😁
V takapalah heheee
Lanjut ka Author ttp semangat 💪
Lanjut ka...