Dania dan Alvin menjalani pernikahan palsu, kebahagiaan mereka hanya untuk status di media sosial saja, pelarian adalah cara yang mereka pilih untuk bertahan, di saat keduanya tumbuh cinta dan ingin memperbaiki hubungan, Laksa menginginkan lebih dari sekedar pelarian Dania, dan mulai menguak satu demi satu rahasia kelam dan menyakitkan bagi keduanya,
Apakah Dania dan Alvin masih bisa mempertahankan rumah tangganya? Atau memilih untuk menjalin dunia baru?
Ikuti kisah cinta Dania dan Alvin yang seru dan menengangkan dalam cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noesantara Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 Lawan Atau Kawan
Klinik begitu ramai, banyak orang datang untuk konsultasi, area parkir tampak penuh oleh kendaraan bermotor dan mobil. Suasana di dalam pun tak jauh berbeda, banyak telepon berdering, suara bercakap tentang berbagai keluhan, bahkan beberapa pasangan menunggu antrian.
Dania begitu lega, karena pemandangan ini sesuai dengan keinginannya. Namun di satu sisi ada kesedihan ikut merong-rongnya karena semua kesuksesan ini tidak lepas dari peran Pak Dhanu, beberapa koleganya menjadi bagian penting dari klinik tersebut.
Kondisi inilah yang ingin dilepas oleh Dania secara perlahan, walaupun perempuan itu memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan dengan Alvin, namun dia tak ingin selalu di bawah kendali Ayah Mertuanya, dia ingin punya kuasa sendiri.
Jam di handphone menunjukkan pukul 13.00, Dania membuka pintu ruang konsultasi, langkahnya seakan terhenti melihat Adwin sudah ada di dalam, melihat beberapa bunga Lidah Mertua yang tumbuh subur.
“Baru beberapa minggu nggak ke sini, ternyata sudah banyak yang tumbuh,” Suaranya tenang namun menyiratkan pesan mendalam, nada bicaranya berbeda dengan terakhir keduanya bertemu.
“Bunga bisa menjadi penyeimbang antara hati dan pikiran, maka dari itu kami selalu merawatnya dengan baik,” kata Dania yang masuk menaruh laptopnya di meja.
“Silahkan duduk, Pak!” kata Dania yang mempersilahkan Adwin duduk.
Tak lama.kemudian, seorang OB datang membawakan minuman dan beberapa camilan, dia taruh semuanya di meja. Semerbak teh jasmine tercium, memberikan rasa tenang, terutama bagi Dania setelah kejujurannya dihadapan Alvin, walau belum sepenuhnya.
“Formal sekali?” canda Adwin yang mulai duduk.
“Ini di kantor, jadi saya harus profesional,” kata Dania yang mulai membuka laptopnya.
“Bisa kita mulai?” lanjut Dania.
“Baik, sebenarnya saya kesini bukan untuk konsultasi, melainkan ingin membicarakan sesuatu kepada Anda,” kata Adwin yang membuka handphonenya.
Jari-Jari Adwin menari di layar, mencari satu artikel yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk diberikan ke Dania. Lelaki itu menaruh handphonenya dan mendorong ke arah Dania, dengan beberapa kali anggukan, tangan kanannya memberikan pertanda untuk melihat dengan seksama.
Dania memicingkan matanya, sebuah judul tertulis, “Dalang Kematian Putri adalah Alvin,” seakan mengingatkan akan memori yang akan selalu membekas dalam benaknya dan sulit lupa.
Nafasnya mulai tak beraturan matanya tetap fokus pada layar itu, “Ada apa dengan foto ini?”
“Itu adalah potongan sebuah artikel, Anda tahu siapa yang menulisnya?” tanya Adwin yang mengambil kembali handphone tersebut.
Dania menggelengkan kepala, sudah sejak lama dia mencari tahu siapa penulisnya tetapi tak kunjung ketemu. Semuanya begitu rapat, sehingga sulit untuk menembusnya, siapapun orangnya tidak akan mungkin mengetahuinya.
“Laksa,” kata Adwin yang melirik Dania.
“Darimana Anda tahu?” tanya Dania mencoba menginterogasi.
Dalam benak perempuan itu, tidak terlalu mengejutkan kalau Laksa adalah penulisnya. Karena dia bisa membuat media heboh, terlebih ilmu jurnalistiknya sangat bagus dan kuat, “Namun, apa motifnya?” kata Dania dalam hati.
“Saya dari Rumah Sakit, menjenguk Ibu Kandhi, dan tanpa sengaja saya melihat judul artikel tersebut di laptop Laksa, beruntung saya bisa foto dulu.” kata Adwin yang meminum tehnya.
“Kenapa Anda mengatakan ini kepada saya?” tanya Dania yang mulai menaruh curiga.
“Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa berita ini hanya pendapat pribadi bukan kejadian sebenarnya,” ucap Adwin.
“Mengapa Anda bisa berpikir seperti itu?” celetuk Dania yang seakan tidak percaya.
“Saya sempat mencari tahu kasus itu, ada petunjuk kecil yang mengatakan kalau yang membuat mobil.Alvin hilang kendali adalah Putri,” kata Adwin.
“Lalu, siapa dalang sebenarnya?” tanya Dania, matanya mulai berkaca-kaca tetapi dia masih mampu menahan kesedihannya.
“Itu yang masih jadi misteri, anak buahnya saya masih sulit menyelidikinya,” kata Adwin yang mengambil korek dan memainkannya.
Dania sempat terdiam, dia masih berusaha mencerna dengan apa yang terjadi. Nuraninya sempat tak percaya kalau Laksa membuat berita bohong itu, dia merasa lelaki itu cukup berbahaya, namun tak bisa dijadikan lawan atau kawan sepenuhnya.
“Saya dengar Anda ingin memulai hidup baru?” tanya Adwin yang memutar pot bunga kecil di depannya.
“Darimana Anda mendengarnya?” kata Dania yang menyilangkan kakinya.
“Saya punya banyak pasang mata dan telinga, jadi saya tahu semuanya,” jawab Adwin.
Seketika jantung Dania berdebar, dia mungkin telah salah langkah dengan mengajak kerja sama Laksa dan Adwin untuk menghancurkan Pak Dhanu. Kini kebimbangannya mulai muncul terlebuh Adwin dan Laksa bukanlah orang sembarangan.
“Anda sekarang di posisi kawan atau lawan?” kata Dania dengan nada yang menusuk.
“Kawan atau Lawan? Pertanyaan itu harusnya kamu tanyakan ke Laksa,” jawab Adwin yang kembali menatap sorot mata perempuan itu.
Ada perasaan berbeda yang dirasakan oleh lelaki itu, hanya saja dia sudah menjadi milik perempuan lain. Dia tidak ingin menyakiti salah satu atau keduanya, lebih baik diam dan selalu menjaga daripada berdampingan tetapi membuat nangis.
“Dulu, kakakmu pernah melakukan hal yang sama kepada Alvin,” lanjut Adwin yang mulai menyilangkan kakinya.
“Lalu?” tanya Dania penasaran.
“Dia tidak jadi melakukannya karena ada alasan lain, sejujurnya saya benci,” kata Adwin yang melihat ke langit-langit.
“Tetapi saya sudah tahu mengapa Alvin sangat beruntung,” lanjut Adwin.
Adwin kemudian menceritakan bagaimana dulu dirinya yang frustasi karena Putri. Hingga akhirnya tanpa sengaja berhubungan dengan istrinya, keduanya mempunyai anak tetapi, Adwin menyuruh untuk menggugurkannya.
Putri yang tahu sempat menampar lelaki itu dan memintanya untuk bertanggung jawab, hingga akhirnya lelaki itu menikah dengan rasa terpaksa, setelah Putri meninggal dia mencoba fokus ke hubungannya tetapi sangat sulit sehingga kondisinya seperti sekarang ini.
“Sejujurnya saya masih menyimpan rasa dengan Putri dan dia tahu, makanya hubungan kami retak,” katanya yang menundukkan kepala seakan menyesal dengan apa yang terjadi.
Dania menghela nafas panjang, dia benar-benar tidak menyangka bahwa semua ini berawal dari Putri, dan sekarang masih berlanjut bahkan keadaannya semakin sangat rumit.
“Anda ingin bercerai dengan istri Anda?” kata Dania yang mencoba memahami situasi Adwin saat ini,
“Tidak, saya hanya ingin meneruskan apa yang dikatakan Putri, bahagia dengan istri saya dan melindungi kamu,” kata Adwin.
“Saran saya, jangan pisah dulu, dan lebih dekat Pak Dhanu, agar bisa menguak semuanya,” lanjut Adwin.
“Bagaimana caranya?”tanya Dania.
Adwin tak menjawabnya, dia justru menghabiskan teh itu, lalu berdiri dan bersiap.untuk pergi, “Tunggu saja dulu, saya yakin kamu bisa memainkan peran ini dengan baik,” Adwin berpamitan, ketukan sepatunya terdengar nyaring, membawa Dania dalam ketakutan.
Nafasnya kini perlahan mulai terhimpit, dia pegang dua kepalanya, dan mencoba untuk berpikir, apakah semua rencananya ini benar atau justru membuatnya semakin terpuruk dan melupakan balas dendam, “Siapa yang harus aku percaya?”