Julian begitu orang memanggilnya di sekolah dan Bos Ian menjadi nama panggillannya jika di luar sekolah. Manusia terburuk yang pernah Lyin kenal. Manusia yang punya hobby melayangkan tinjunya bagi siapapun yang dia anggap bersalah. Siapa sangka pertemuan singkat mereka menjadi awal benih cinta tumbuh di hatinya. Apakah Lyin akan lepas darinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elfian Syera Nasution, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Balas Dendam Bunga
Matahari begitu terik hari itu, sinarnya terasa dapat membakar kulit. Keringat mereka sudah membanjiri rambut dan wajah mereka. Julian menatap Lyin dengan senyum tidak percaya.
" Benar kau melakukan itu" selidik Julian.
" Seperti yang kau lihat, dihukum berarti karena melakukan kesalahankan" Lyin berucap pelan.
Julian tersenyum geleng-geleng kepala diikuti oleh Dika. Seketika itu juga suara tawa mereka pecah di depan Lyin. Kali ini Lyin tidak kesal atau marah, bagaimanapun juga dia benar telah melakukan hal yang buruk dan melakukan.
" Kau baik-baik saja" tanya Juna tiba-tiba dan menatap Lyin perhatian.
" Itu bukan urusanmu, kau tahu sendiri siapa bilang dari masalah ini" potong Julian tidak membiarkan Lyin bicara.
" Seharusnya urus pacarmu jangan sampai berbuat begitu lagi, atau dia tahu sendiri akibatnya" tambah Julian menatap Olivia tajam.
Waktu sudah berlalu selama tiga puluh menit, butuh waktu setengah jam lagi agar hukuman mereka berakhir. Julian sudah masuk ke kelas diikuti orang Dika dan Juna. Bagaimanapun mereka tidak bisa terus disana sebab guru selalu mengawasi.
Julian sebenarnya enggan pergi dari sana, berharap dapat melakukan sesuatu untuk Lyin, tapi dia juga tidak ingin Lyin dapat masalah lagi hanya karena dirinya. Sebab sejak tadi guru sudah memperhatikannya. Julian menoleh kebelakang sekali lagi sebelum benar-benar hilang dari balik pintu.
Julian tidak fokus pada mata pelajaran yang sedang mereka hadapi. Raut wajah gelisah tampak begitu jelas di wajahnya. Sepuluh menit berlalu lagi, Julian bangkit dari duduknya dan permisi keluar ruangan.
Julian berlari menuju lapangan dan berdiri dihadapan Lyin. Lyin tampak lelah begitu juga dengan yang lainnya. Julian sengaja berdiri dihadapan Lyin agar bayangannya dapat menaungi Lyin yang sedang berlutut.
" Kenapa kau kembali, guru bisa marah" ucap Lyin pelan.
" Aku akan tetap disini, pura-pura saja tidak melihatku. Lagi pula Pak Darman sudah tidak ada" jawab Julian tidak ingin Lyin menolak niat baiknya.
" Aku tidak bisa pura-pura tidak melihatmu" ucap Lyin berharap Julian pergi.
" Kalau begitu tutup saja matamu"
Lyin menatap Julian yang mulai berkeringat. Lyin yakin punggungnya sudah memanas seperti kompor sekarang. Novia dan Olivia juga memandangi Julian terpesona. Siapapun ingin diperlakukan seperti itu.
Tepat lima menit sebelum waktu hukuman berakhir, Pak Darman melihat Julian dan memanggilnya keruangan. Lyin dan yang lainnya mencoba bangkit, tapi lutut mereka kram dan kesemutan. Terpaksa harus duduk dulu sambil meluruskan kaki.
" Jangan harap setelah kejadian ini kau bebas dekat dengan Juna" ucap Olivia setelah merasa dia bisa berdiri sekarang.
Lagi-lagi Novia ingin membalas Olivia tapi dihentikan oleh Lyin. Olivia pergi dengan gaya congkaknya. Novia membantu Lyin berdiri. Lyin menatap ruang konseling ingin tahu apa yang akan terjadi pada Julian, tapi Novia terus memaksanya masuk kelas dahulu jika tidak ingin ditambahi hukuman lebih berat.
...****************...
" Kau tidak bisa berbuat seenaknya di sekolah ini, sekolah kita punya aturan" terang Pak Darman.
" Saya cuma ingin membantu orang yang sedang kesulitan pak, jika bapak ingin menghukum. Ya silakan saja" jawab Julian tidak takut.
" Julian, kamu juga sudah kelas XII tolong jangan berbuat banyak masalah lagi, sebenarnya saya bersyukur akhir-akhir ini kamu jarang berbuat masalah, tapi hari ini kamu bertingkah lagi" Pak Darman merasa kecewa.
" Saya cuma ingin membantu pak" ulang Julian lagi.
" Kamu saya hukum membersihkan seluruh kaca jendela kantor besok pagi, kamu beruntung sekarang waktunya jam pulang" ucap Pak Darman.
" Baik Pak, saya permisi" Julian meninggalkan ruangan tanpa penyesalan. Dia hanya tidak bisa berdiam diri melihat Lyin menderita sedang dia bisa membantu.
Julian mengambil tasnya dari tangan Dika yang sudah menunggunya di depan ruangan konseling. Dika tersenyum sambil menepuk bahu Julian.
" Kau memang panutan bro" ucapnya tulus.
" Panutan apaan, kau ingin dihukum juga" balas Julian merasa di ejek.
" Panutan untuk mendapatkan hati wanita" ucap Dika sambil tertawa.
Mereka berjalan menuju parkiran bersama. Julian mencari keberadaan Lyin yang tidak muncul dari tadi.
" Lyin sudah pulang Ian, tadi kami sempat bertemu dan dia bilang terimakasih" ucap Dika yang menyadari temannya sedang mencari Lyin.
" Kau serius"
" Iya, aku serius, dia tidak bisa menunggu katanya mungkin karena kelelahan dihukum" ucap Dika yang khawatir pada Novia setelah menyadari perkataannya.
Julian dan Dika meninggalkan parkiran, melaju dengan sepeda motornya. Julian sempat melihat Bunga bersama gerombolan laki-laki di pinggir jalan dekat gerbang, tapi dia menghiraukannya.
...****************...
Bunga melipat kedua tangan dibawah dadanya dengan senyum liciknya. Semua orang di dekatnya memandang kepergian Julian dengan tatapan membunuh.
" Kalian kenal diakan, dia adalah orang yang pernah menghabisi kalian"
" Cih" ucap salah seorang merasa jijik melihat Julian.
" Aku sudah susah payah mencari tahu tentang kalian dari orang-orang hanya untuk memberi tahu kalian cara untuk balas dendam" ucap Bunga licik.
" Kalian pasti ingat dong, saat kalian sekolah disini dan dihajar habis-habisan oleh Julian hanya karena kalian berani melawan dia" tambah Bunga semakin memanasi mereka.
" Brengsek, bagaimanapun dendam harus dibalaskan" ucap seorang lagi.
" Tapi bos, kurasa percuma saja melawan dia kita bakal kalah bos" ucap seorang tidak percaya dapat mengalahkan Julian mengingat bagaimana Julian menghajar mereka dulu.
" Kau banci" sebut seseorang lagi merasa kesal.
" Tenang saja, kalian ingat gadis berambut hitam panjang tadi dengan temannya tadi, sekarang dia orang yang jadi pusat perhatian Julian. Dia dapat melakukan apa saja jika menyangkut gadis itu" Bunga tersenyum girang atas apa yang telah dia sebut barusan.
" Kalian paham maksudku, Kalian bisa saja menyanderanya atau berbuat apa saja, tapi ingat jangan bawa namaku. Sekalian saja lakukan hal yang sama dengan temannya juga, sebab Dika menyukainya" tambah Bunga sambil tersenyum senang.
" Janganlah bos, itu kriminal bos" ucap seorang yang tadi.
" Julian juga berbuat kriminal sama kalian semua, ingat gak" tambah Bunga kesal dengan ucapannya yang dia dengar barusan.
" Kalian bisa menyusun rencana mulai sekarang kalau tidak suka rencanaku, ini bonus untuk kalian no hp korban" ucap Bunga sambil berlalu dari gerombolan menakutkan itu.
Bunga tersenyum penuh arti setelah berhasil menghasut semua orang itu. Dia yakin rencana balas dendamnya akan berjalan sesuai rencana. Tidak sia-sia dia menghabiskan waktu untuk mencari informasi tentang musuh Julian. Walau dia suka Julian dia juga ingin Julian tahu akibat karena telah meremehkannya.
Bunga tahu dia suka akan Julian, tapi dia juga ingin balas dendam pada Julian karena sudah berani mempermalukannya di depan Lyin, orang yang paling dia benci di dunia ini sejak dia tahu Julian menyukai gadis itu.
Bersambung...
My Bad Boy up lagi nih.
Dukung author dengan cara like, komen, dan vote untuk menyemangati author.
Selamat membaca.
Salam hangat dari author.
di cerita
Ten Years Later
dan
lyric of love
saling dukung terus thor