Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menapaki pintu gerbang baru
Pagi itu, langit tampak cerah tanpa awan mendung. Halimah berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang berbeda dari biasanya.
Dia mengenakan gamis berwarna krem lembut dengan sulaman emas halus di bagian ujung lengan. Jilbab senada melingkar rapi menutupi dada, membuat wajahnya tampak lebih tenang namun memancarkan wibawa yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Cantik sekali, Non Halimah," puji Mbok Ayu pelan dari balik pintu. Matanya berkaca-kaca menahan haru. "Tuan Muda pasti bangga melihatnya."
Halimah tersenyum tipis, menyentuh perlahan kain jilbab di bahunya, "Terima kasih, Mbok. Tapi saya hanya berusaha tampil sopan, tidak lebih."
Belum lama berselang, terdengar ketukan di pintu. Pak Jamal memberi tahu bahwa kendaraan sudah siap di bawah.
Bersama-sama mereka menuju lobi apartemen, di mana sebuah mobil sedan hitam mewah sudah menunggu. Daffa sudah duduk di kursi belakang, mengenakan setelan jas berwarna gelap yang membuatnya tampak semakin berwibawa namun auranya tetap dingin.
Saat Halimah duduk di sebelahnya, Daffa melirik sekilas. "Kamu siap?" tanyanya singkat.
"Siap, Tuan Muda," jawab Halimah lembut.
"Panggil saja Daffa. Mulai hari ini, kita akan melangkah bersama, berdampingan saling ber genggaman tangan."
Halimah tersenyum lembut, mendengar kata yang tulus itu. "Baik, Daffa." ulangnya tanpa ragu.
Mobil melaju perlahan menuju kawasan perumahan elit tempat kediaman utama keluarga Surya berada.
Tanpa mereka sadari, mobil milik anak buah Albert mengikuti dari belakang.
Sepanjang jalan, Halimah menatap ke luar jendela, merenungkan betapa jauhnya ia melangkah dari kehidupan sederhana yang dulu dijalani dan dari rumah yang telah membuangnya.
Jantungnya berdegup kencang memikirkan pertemuan dengan keluarga Surya, terutama calon ibu mertuanya nanti. Halimah sudah diberitahu bahwa calon ibu mertuanya itu sangat membenci Daffa.
Sesampainya di depan gerbang tinggi yang dihiasi ukiran indah, mobil berhenti di halaman depan yang luas. Rumah itu tampak megah, kokoh, namun terasa dingin seperti tidak tersentuh hangatnya sinar mentari.
Daffa turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Halimah. Ia menawarkan lengannya. Halimah ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh lengan itu dengan ragu.
"Jangan takut," bisik Daffa pelan, "Kamu ada di sini karena aku yang memilihmu. Tidak akan ada yang berani menyakiti kamu selama ada aku bersamamu."
Kata-kata itu entah bagaimana memberi sedikit kekuatan pada Halimah.
Mereka melangkah masuk beriringan menuju ruang tamu utama yang luas dan penuh perabotan antik. Di sana sudah menunggu Abimanyu, Amanda, serta Ahmad dan istrinya juga tidak ketinggalan Wenny dan Winda.
Suasana mendadak hening saat mereka masuk. Mata semua orang tertuju pada Halimah, mengamati penampilannya yang sederhana namun terasa berkelas, tatapannya rendah hati namun tegas.
"Kakek," sapa Daffa tegas, lalu menunjuk ke arah Halimah, "Ini Nur Halimah. Dia calon istriku."
"Selamat datang di rumah utama, Nur Halimah," sapa ramah Abimanyu pada calon cucu mantunya itu.
Halimah menyambut uluran tangan Abimanyu dengan lembut. "Terimakasih, Kakek."
Amanda mengerutkan kening, menatap tidak suka pada Halimah. "Apa ini wanita yang kamu pilih untuk menjadi bagian keluarga Surya, Daffa?" menatap Halimah dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
Daffa melangkah maju, berdiri tepat di depan Halimah sengaja menghalangi tatapan merendahkan Amanda pada calon istrinya, "Ya, Mama. Nur Halimah, wanita yang aku pilih untuk menjadi istriku," jawabnya tegas.
Amanda tersenyum mengejek, terlihat dari caranya masih berusaha mengintimidasi Halimah.
"Mulai sekarang, jangan menatapnya dengan tatapan seperti itu, Mama!" tegas Daffa menatap tajam tepat kedua mata Amanda yang juga tidak mau kalah darinya.
Ahmad berdiri, menatap Halimah lekat-lekat. "Selamat datang, Nak Halimah. Om berharap kamu bisa menjadi istri yang bersedia mendampingi Daffa dalam susah dan senang."
"Terimakasih, Om." jawab Halimah pelan namun jelas. "Saya akan berusaha sebaik mungkin."
Wulan menyeringai sinis, menyenggol pelan lengan suaminya. "Jelas bukan dari kalangan kita," cibirnya. "Apa nanti tidak malu kalau berhadapan dengan rekan bisnis?" bisiknya dengan suara keras, sengaja supaya bisa di dengar langsung oleh Halimah.
Belum sempat Halimah membuka suara, Daffa sudah bersuara lebih dulu dengan nada lantang. "Keluarga Surya tidak berdiri karena gelar saja, tapi karena kerja keras. Dan Halimah punya pendidikan dan akhlak yang jauh lebih baik daripada orang lain yang saya kenal, Tante." sindiran Daffa tertuju pada Mamanya dan juga Wulan sendiri.
Perdebatan hampir saja terjadi, namun Abimanyu dengan cepat menengahi.
Ia menyatakan bahwa keputusan Daffa sudah final sesuai syarat wasiat. "Mulai hari ini, Halimah diizinkan tinggal di rumah ini, tidak ada yang boleh merasa keberatan."
Semua orang terdiam. Mereka ingin protes, tapi tentu tidak bisa melawan titah dari kepala keluarga Surya di barisan tertinggi itu.
Halimah pun diantarkan ke kamar yang ada di lantai atas di sebelah kiri yang terpisah jauh dari kamar Daffa. Namun dekat dengan kamar Amanda.
Setelahnya, Daffa pergi ke kantor, Kakek berangkat ke luar kota untuk pemeriksaan rutin kesehatannya. Ahmad dan Wulan beserta anak-anaknya juga sudah kembali ke rumah mereka.
Siang ini, setelah merasa bosan berdiam diri di kamar, Halimah berjalan pelan berusaha mengenali lingkungan sekitar rumah. Namun, tidak sengaja ia berpapasan dengan Amanda di lorong belakang.
"Kamu pikir dengan menjadi istri Daffa, kamu bisa hidup bergelimang harta?" tegur Amanda dingin. "Jangan mimpi. Kamu harus tau, Daffa menikahi kamu hanyalah sebagai syarat agar dia mendapatkan warisan. Setelah itu, dia akan membuang kamu." ucap Amanda yang mengira Halimah tidak tau tujuan dari pernikahan ini.
Halimah menunduk hormat. "Maaf, Mama. Sungguh saya bahkan tidak berani untuk bermimpi apa-apa. Saya hanya ingin menjadi istri yang baik untuk Daffa."
"Mama!" cibir Amanda mencemooh, "Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Menggelikan!"
"Maaf, Nyonya." ulang Halimah dengan nada tenang.
Amanda tertawa kecil. "Lihat dirimu! Kamu sangat tidak pantas berada di rumah ini Halimah.... Perempuan kampungan sepertimu tidak selevel dengan keluarga ini." ejeknya menatap rendah pada Halimah.
Halimah tetap diam dan tenang, ia tidak membalas amarah itu. Lagi pula, ia juga sudah terbiasa diperlakukan seperti ini, bahkan lebih buruk dari ini.
Halimah tersenyum tipis, sekilas nasihat Mbok Ayu terlintas di kepalanya.
"Jangan menjawab Nyonya Amanda ya, Non. Diam saja, dengarkan saja apa yang dia katakan. Juga, jangan menangis. Itu hanya akan membuat Nyonya Amanda semakin merendahkan Non Halimah." ujar Mbok Ayu tadi malam.
Selain itu, Halimah juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi membuang-buang air mata demi orang yang tidak menghargainya.
Halimah melanjutkan langkahnya perlahan menjauh dari Amanda yang masih menatapnya penuh dengan kebencian.
Namun, belum sempat Halimah melangkah lebih jauh, seseorang memukul tengkuk belakangnya. Tubuh Halimah jatuh tersungkur di rerumputan halaman belakang. Pelipisnya membentur bebatuan yang tajam.
"Bawa wanita ini segera, jangan sampai meninggalkan jejak!" perintah Amanda pada dua orang pria bertubuh tinggi tegap yang siap membawa tubuh Halimah. Mereka anak buah Albert Lee.
"Baik, Nyonya."
Sebelum insiden ini, tentu anak buah Albert dengan bantuan Amanda, sudah mengamankan situasi dengan mematikan CCTV rumah, sehingga mereka bisa membawa Halimah pergi tanpa meninggalkan sedikitpun jejak.
Sore itu, Daffa pulang dan langsung mencari keberadaan Halimah di kamarnya. Sejak di kantor, ia sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Benar saja, kamar itu kosong. Daffa memanggil semua pelayan dan penjaga rumah, meminta mereka mencari keberadaan Halimah. Namun, nihil, Halimah hilang tanpa jejak.
"Kenapa harus berlebihan seperti ini, sih? Biarkan saja wanita itu pergi. Lagi pula, dia memang tidak pantas tinggal di rumah ini." celetuk Amanda berakting seakan ia juga baru pulang dan baru mendengar kabar bahwa Halimah tidak ditemukan di sekitar rumah.
"Apa yang anda lakukan pada Halimah?!" teriak Daffa menarik kerah blouse Amanda kuat.
"Daffa!" teriak Abimanyu yang baru pulang dan mendapati adegan yang sangat tidak diharapkannya. "Walau bagaimanapun dia Mama kamu..." Abimanyu melerai kemarahan Daffa terhadap Amanda.
Perlahan Daffa melepaskan genggamannya pada Amanda. Meski ia tahu, wanita itu dalang di balik menghilangnya Halimah.
"Amanda, apa kamu terlibat dengan menghilangnya Halimah?" selidik Abimanyu.
Amanda mendengus kesal. "Papa pikir aku kurang kerjaan, sehingga aku harus bersusah payah membujuk wanita itu untuk pergi dari rumah ini?" jawab Amanda dengan nada lembut namun menusuk.
Daffa menendang sofa di depannya cukup keras sebelum pergi untuk mencari keberadaan Halimah. Ia bertambah yakin, Amanda memang dalang dibalik menghilangnya Halimah.
Bersambung....
...Hai hai 👋 👋 😀...
...Jangan lupa ya, tinggalkan jejak kalian kalau sudah membaca cerita ini. Like, komen atau berikan hadiah 😁🤭 karena itu akan menjadi semangat buat Author terus menulis cerita ini....
...Semangat dan sehat selalu ya untuk para pembaca kesayangan Author 🤗✌️🥰...