NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Bukan Orang Sembarangan

"Hancur sudah harapan kita, Seroja. Banyak tomat yang jatuh dan memar."

Suara Bagas bergetar menahan sedih. Pemuda delapan belas tahun itu terduduk lemas di atas daun-daun jati kering. Tangannya meremas rambut ikalnya. Di depannya, gerobak kayu tua mereka miring ke kiri. Salah satu rodanya terperosok ke dalam lubang yang sengaja ditutupi dedaunan.

Beberapa tomat besar menggelinding keluar dari keranjang. Buah-buah itu membentur batu kapur hingga kulitnya memar, membuat harganya langsung turun.

Danu masih berlutut di tanah. Otot lengan dan bahunya menegang saat menahan badan gerobak agar tidak terguling. Keringat membasahi wajah dan bajunya, tetapi ia tetap mengerahkan seluruh tenaganya supaya sisa tomat di dalam keranjang tidak ikut berjatuhan.

"Tahan sebentar, Mas Danu!" seru Seroja dari balik semak.

Ia berlari menghampiri mereka sambil membawa sebatang dahan jati yang lurus dan sebongkah batu gamping sebesar kepala orang. Seroja tidak panik. Otaknya sudah mencari cara mengeluarkan roda gerobak dari lubang.

Batu itu diletakkannya di dekat roda yang terperosok. Lalu ujung dahan jati diselipkan ke bawah as roda, sementara bagian tengahnya ditumpukan di atas batu hingga menjadi pengungkit.

"Mas Bagas, bangun. Jangan terus memikirkan tomat yang sudah jatuh," kata Seroja tegas.

Bagas mengusap matanya, lalu berdiri.

"Pegang ujung kayu ini, Mas. Nanti waktu aku hitung sampai tiga, kita tekan sama-sama. Mas Danu dorong gerobaknya dari belakang."

Seroja mengatur semuanya dengan cepat. Mereka tak punya waktu untuk menyesali kerugian. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan sisa panen.

Kedua pemuda itu langsung mengambil posisi sesuai arahan Seroja.

"Satu... dua... tiga!"

Seroja dan Bagas menekan dahan jati itu sekuat tenaga. Di saat yang sama, Danu mendorong gerobak dari belakang sambil berteriak mengerahkan seluruh tenaganya.

Roda gerobak berderit keras bergesekan dengan bibir lubang. Sedikit demi sedikit roda itu terangkat, lalu akhirnya kembali menginjak tanah yang rata.

Danu mengembuskan napas panjang. Tubuhnya langsung ambruk telentang di atas tanah karena kelelahan. Sementara itu, Bagas bersandar pada roda gerobak, menatap keranjang-keranjang tomat dengan wajah lesu.

Seroja memunguti tomat yang berserakan satu per satu. Buah yang memar dibersihkannya pelan dengan ujung kain luriknya. Dadanya terasa sesak. Berbulan-bulan mereka merawat tanaman itu, tetapi hanya butuh satu jebakan untuk merusak sebagian hasil panennya.

"Matahari sudah tinggi, Seroja," gumam Bagas dengan suara lirih. Ia menunjuk cahaya matahari yang menembus sela-sela daun jati. "Pedagang besar dari rumah makan biasanya sudah pulang dari pasar sebelum jam sepuluh. Kalau kita sampai sekarang, mungkin pembeli borongan sudah tidak ada."

Danu hanya terdiam. Ia memalingkan wajah, menahan kecewa. Tenaga yang selama ini ia banggakan ternyata tak bisa melawan waktu.

Seroja menyusun kembali tomat yang memar di bagian atas keranjang. Setelah itu ia menatap kedua sepupunya.

"Kita tetap ke kota, Mas," katanya mantap. "Tomat ini kita tanam dan rawat dengan kerja keras. Mutunya bagus. Orang yang benar-benar cari barang bagus tidak akan menolak hanya karena kita datang lebih siang."

Seroja tidak mau menyerah pada akal licik Supri.

Baru saja Danu hendak kembali mendorong gerobak, suara mesin mobil memecah kesunyian Hutan Jati.

Dari tikungan jalan setapak yang tersambung ke jalan aspal, sebuah jip Toyota Land Cruiser FJ40 berwarna hijau tua melaju pelan. Ban-bannya yang besar melindas batu dan ranting tanpa hambatan. Di masa itu, mobil seperti ini hanya dimiliki pejabat atau pengusaha besar.

Melihat gerobak kayu menghalangi jalan, pengemudi jip mengerem. Mobil berhenti beberapa meter di depan Seroja.

Pintu sebelah kiri terbuka.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dari mobil. Kemeja safari abu-abunya tampak rapi, dipadukan dengan celana kain yang disetrika licin. Jam tangan berikat kulit melingkar di pergelangan kirinya, sementara sepatu pantofelnya yang hitam tampak mencolok di atas tanah berdebu.

Pria itu melangkah mendekat dengan tenang. Dari raut wajahnya terlihat jelas ia terbiasa memimpin dan memberi perintah. Mula-mula ia hendak menegur pemilik gerobak yang menghalangi jalan.

Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Pandangan pria itu tidak tertuju pada roda gerobak yang masih penuh lumpur. Matanya justru terpaku pada tomat-tomat merah yang memenuhi keranjang bambu milik Seroja.

Ia mengamatinya lama. Buah-buah itu bulat, besar, dan merah merata. Sekilas saja sudah terlihat bahwa tomat itu dipanen pada waktu yang tepat.

Seroja melangkah mendekat. Dari cara berpakaian dan pembawaannya, ia tahu pria ini bukan orang sembarangan. Orang seperti ini terbiasa memilih barang terbaik dan tidak kekurangan uang.

"Maaf, Pak. Gerobak kami tadi masuk lubang sampai menghalangi jalan jip Bapak," ujar Seroja sopan sambil sedikit menundukkan kepala. "Sebentar lagi kami singkirkan ke pinggir."

Pria berkemeja safari itu mengangkat tangan, memberi isyarat agar Seroja tidak buru-buru memindahkan gerobaknya.

"Kalian dari desa kapur di sebelah sana?" tanyanya. Suaranya berat, tapi tenang.

"Iya, Pak," jawab Seroja.

Pria itu mendekati keranjang tomat. "Tomat ini kalian tanam sendiri?"

Seroja mengangguk. "Iya, Pak. Dipetik tadi sebelum subuh."

Pria itu mengamati tomat-tomat itu lebih saksama. Keningnya berkerut.

"Setahu saya tanah di desa kalian banyak kapurnya. Sulit ditanami tomat sebesar ini. Apalagi sekarang sawah dan ladang di mana-mana sedang diserang wereng."

Seroja tetap menatapnya dengan tenang.

"Tanah kapur memang cepat kering, Pak. Tapi kalau dirawat dengan benar tetap bisa ditanami. Kami pakai kompos dari kotoran sapi dan daun jati yang sudah matang supaya akarnya kuat. Bibitnya juga kami pilih yang tahan panas. Syukurlah, sampai sekarang wereng belum menyerang kebun kami."

Pria itu terdiam.

Sudah terlalu sering ia mendengar pedagang di pasar membual demi menaikkan harga barang. Tapi gadis desa di depannya tidak banyak bicara. Ia menjelaskan cara menanam tomat dengan sederhana dan masuk akal.

Pakaiannya memang lusuh.

Namun, dari cara berbicara dan sorot matanya, pria itu tahu gadis ini bukan orang sembarangan.

"Saya Subroto," kata pria itu. "Pemilik warung makan di utara alun-alun kota kabupaten."

Bagas dan Danu saling berpandangan. Mereka tentu mengenal nama itu. Warung Makan Pak Subroto sudah terkenal sampai ke desa-desa. Banyak pejabat dan saudagar kota makan di sana. Setiap hari, dapurnya membutuhkan banyak sayuran segar.

Pak Subroto membungkuk di depan keranjang Seroja. Ia mengambil satu tomat merah dari bagian atas.

Dari saku kemeja safarinya, ia mengeluarkan pisau lipat kecil. Dengan gerakan terampil, tomat itu dibelah menjadi dua.

Kulitnya terbelah dengan bunyi renyah. Daging buahnya tampak tebal dan padat, dengan sedikit air. Sarinya yang bening membasahi mata pisau.

Pak Subroto langsung membawa separuh tomat itu ke mulutnya. Ia mencicipinya di tempat, tak peduli debu jalan dan lalat hutan yang beterbangan.

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!