Amira Khairunissa, tiba-tiba harus menerima kenyataan dan harus menerima dirinya menjadi seorang istri dari pria yang bernama Fajar Rudianto, seorang ketos tampan,dingin dan juga berkharisma di sekolahnya.
Dia terpaksa menerima pernikahan itu karena sebuah perjodohan setelah dirinya sudah kehilangan seseorang yang sangat berharga di dunia ini, yaitu ibunya.
Ditambah dia harus menikah dan harus menjadi seorang istri di usianya yang masih muda dan juga masih berstatus sebagai seorang pelajar SMA, di SMA NEGERI INDEPENDEN BANDUNG SCHOOL.
Bagaimanakah nantinya kehidupan pernikahan mereka selanjutnya dan bagaimanapun keseruan kisah manis di antara mereka, mari baca keseluruhan di novel ini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon satria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35.
Keadaan perpustakaan di jajaran rak Amira tempati lumayan sepi, Amira pun langsung kembali melanjutkan pekerjaannya.
" Banyak banget bukunya." gumam Amira, begitu dia melihat tumpukan buku di troli yang harus dia rapihkan, dan dia juga harus menyusunya di rak buku perpustakaan.
Dia menarik nafasnya dengan dalam, kemudian kembali menghembuskan nafasnya itu dengan cepat dan juga penuh semangat.
" Gak papa Amira, mau sebanyak apapun pekerjaannya, pasti bisa terselesaikan, asalkan kamu berusaha." ucapnya, menyemangati dirinya sendiri.
Dia pun menarik kedua sudut bibirnya dan memulai pekerjaannya itu dengan penuh semangat.
Satu per satu buku-buku itupun langsung dia letakkan di atas rak buku.
Dia juga melakukannya dengan sangat hati-hati, karena pijakan tangga yang dia injak bisa dibilang kecil, sehingga dia harus benar-benar memperhatikan pijakannya.
Dia memang sudah berusaha untuk tetap berhati-hati, walaupun dia tidak akan tau takdir yang akan menimpa kedepannya akan seperti apa.
Dia sibuk dan terus fokus menyimpan buku-buku yang baru saja dia ambil dari tumpukan di troli, buku yang baru saja dia ambil dari gudang perpustakaan.
Namun, saat dia hendak menggapai rak yang ada di sebelahnya dengan menggunakan satu tangannya, kakinya tiba-tiba saja langsung tergelincir dan tubuhnya langsung jatuh ke arah belakang.
" Akh!" teriak Amira, namun suara teriakannya tidak terdengar keras, karena dia langsung membungkam mulutnya sendiri, sehingga orang-orang yang berada di sebrang rak buku itu tidak sempat mendengar suara teriakannya itu.
Gara-gara buku yang terlalu banyak dia pegang, membuat keseimbangannya menjadi terganggu, dan menyebabkan kakinya itu tergelincir di atas anak tangga.
Namun tak disangka, disaat momen genting tersebut, tiba-tiba saja Fajar langsung muncul dan langsung berada tepat di belakangnya.
Dengan sigap dan juga reflek yang cepat, Fajar pun segera menangkap Amira dan segera menarik tubuh Amira ke arahnya, membuat Amira jatuh ke dalam pelukan hangatnya.
Amira yang tadinya sempat teriak karena ada seseorang yang memeluknya, langsung tertahan karena saking takutnya dan hanya bisa terdiam di pelukannya Fajar.
Matanya langsung memandang bingung, tak mengerti bagaimana bisa suaminya itu bisa ada disana di waktu yang sangat tepat.
Sementara itu, Fajar, dia langsung saja mempererat pelukannya dan bisa merasakan detak jantung Amira yang masih berdebar kencang karena rasa terkejutnya.
Dia juga menatap kedua mata Amira yang begitu indah, lalu langsung bernafas lega karena dia sudah berhasil menyelamatkan gadis itu dari bahaya yang sudah mengancamnya.
" F-fajar?" lirih Amira, begitu halus dan juga pelan.
Karena saking terkejutnya, membuat dirinya sampai lupa bagaimana caranya berkedip, apalagi mereka kini saling berpandangan dengan jarak yang sangat dekat.
Kini, dia masih tetap berada di posisinya, terhenti, seperti patung yang tak bergerak, dia masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi.
Fajar, laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu, tiba-tiba saja langsung datang menyelamatkannya dari bahaya yang hampir saja menimpanya.
Sampai dirinya tidak sadar, kalau dirinya masih berada di dalam dekapannya Fajar, dia juga merasa hangat dan juga nyaman, sehingga tubuhnya sangatlah betah dan juga nyaman berada di dalam pelukannya itu.
" Ceroboh!" ucap Fajar tiba-tiba, di tengah keheningan mereka.
Mendengar ucapan Fajar, Amira pun langsung tersadar dari lamunannya, dia merasa sangat malu karena telah berada di dalam dekapan Fajar dengan waktu yang terlalu lama.
" M-maaf, Jar!" ucapnya, sedikit kaku.
" Ck! terbukti, ya, kalau kamu itu memang ceroboh." cibir Fajar, sambil menyentil kening Amira dengan pelan.
Blush!.
Wajah Amira tiba-tiba saja langsung mendadak memerah, menunjukan rasa malu yang tak bisa terkendali, untung saja wajahnya itu dia tutupi menggunakan cadar, sehingga Fajar tidak bisa melihat kedua pipinya itu yang mendadak bersemu merah.
Dia pun lantas langsung menundukan kepalanya, berusaha menghindari tatapan Fajar yang terus memandangnya dengan senyum yang samar.
" Lihat sini!" pinta Fajar, dengan suaranya yang terkesan berat dan juga pelan.
Dia langsung mengangkat dagu Amira dengan lembut, memaksanya untuk menatap mata tajamnya tetapi memberikan kenyamanan bagi Amira.
Dalam tatapan mereka yang bertemu, ada rasa saling mengerti dan juga perasaan yang terucapkan.
Amira pun sampai menelan ludahnya sendiri, sambil berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.
" Terimakasih, Fajar, aku....aku tidak tau harus berkata apa." ujar Amira dengan suara pelan, karena dia masih merasa sangat malu.
Sedangkan Fajar dia langsung tersenyum tipis, sangatlah tipis, sehingga siapapun tidak akan bisa menyadarinya, termasuk Amira sendiri.
Melihat tingkah istrinya yang tersipu malu seperti itu, membuat Fajar merasa, bahwa Amira itu sangat menggemaskan.
" Gak perlu bilang makasih, saya cuma melakukan apa yang seharusnya saya lakukan." jawab Fajar, kembali ke setelan pabrik dan seolah-olah dia tidak peduli.
" Hilangin sikap cerobohmu itu, karena gak setiap waktu saya ada di samping kamu." sambungnya kembali.
Amira yang mendengar itu, terkadang selalu dibuat bingung oleh sikap Fajar terhadapnya yang terkesan cuek namun penuh perhatian.
" Jangan pikirkan itu, Amira." batin Amira pada dirinya sendiri.
" Jar." panggil Amira, memberanikan diri untuk kembali menatap ke arah Fajar.
Fajar pun lantas langsung membalas tatapan teduh itu tanpa berbicara.
" Aku.... aku izin melanjutkan pekerjaan aku ya." ucapnya meminta izin, kemudian langsung melangkahkan kakinya untuk berlalu dari hadapan Fajar, namun...
" Shhtt!"
Amira yang hendak pergi, tiba-tiba dia langsung meringis kesakitan, Fajar yang melihat itu lantas langsung menghampirinya dan langsung bertanya.
" Kenapa?" tanya Fajar, merasa khawatir karena Amira meringis kesakitan seperti itu.
Dengan wajah yang masih meringis, Amira pun mencoba untuk menjawab.
" Ah, tidak apa-apa, hanya terasa sedikit sakit."
Sebenernya Amira juga merasa bingung dengan dirinya sendiri, padahal sebelumnya rasa sakit di area pergelangan kaki nya itu tidak dia rasa sebelumnya, apa karena hatinya yang terlalu berdebar saat Fajar memeluknya?, sehingga dia melupakan rasa sakit itu untuk sesaat?.
Tanpa banyak mau berpikir lagi, Amira pun berusaha untuk kembali melangkahkan kakinya.
Namun, ketika dia kembali melangkah dengan pelan, ternyata rasa sakit itu benarlah nyata dan semakin terasa di area pergelangan kakinya, sepertinya kakinya itu telah terkilir saat Amira jatuh di pangkuan nya Fajar.
Mendengar Amira kembali meringis untuk kedua kalinya.
***Srtttt***!.
Fajar tanpa berpikir panjang lagi langsung menggendong Amira ala bride style,membuat Amira langsung terkejut dan menolaknya, namun lelaki dingin itu sama sekali tidak mendengarkan.
" Fajar, turunkan aku! nanti ada orang yang melihat kita, ditambah lagi ada CCTV di perpustakaan ini!"
" Saya gak peduli!" sahut Fajar dengan datarnya.
Bahkan Fajar pun langsung membawa Amira dan berjalan melewati rak-rak buku, hingga pada akhirnya Fajar menduduki Amira di sebuah kursi yang merupakan kursi tempat kerja Amira berada.
Amira merasa sangat malu sekali, namun dibalik itu semua ada rasa haru dengan perhatian Fajar yang begitu tulus padanya.
Tidak sampai disitu, Fajar pun kini langsung jongkok di hadapan kaki Amira, lalu memegang kaki wanita itu dengan lembut dan mulai melepaskan ikatan tali sepatu yang menutupi kakinya Amira.
Amira yang melihat itu merasa tidak enak dan merasa canggung, bahkan dia mencoba menarik kakinya tersebut dari genggamannya Fajar.
" Kamu tidak perlu seperti ini, Fajar, aku bisa melakukannya sendiri." ucap Amira dengan wajah yang sudah memerah menahan malu.
Namun, Fajar masih bersikeras dan tak menggubris perkataan dari Amira.
Dengan perlahan, Fajar kini melepaskan sepatu dari kakinya Amira memperlihatkan kaki Amira yang seputih susu segar alami dengan kulit nya yang sangat halus, lalu setelah melepaskannya Fajar pun langsung memegang pergelangan kaki Amira dengan teliti dan juga penuh perhatian.
Dalam hati, Amira merasa sangat terharu dan tersentuh, namun, dia juga tetap merasa malu dengan perlakuan lembut dan penuh perhatian dari Fajar.
Fajar yang sudah mengecek kondisi kakinya Amira pun lantas langsung mengurut pergelangan kakinya Amira yang terkilir, gerakan tangannya terasa lembut dan juga menenangkan, Amira bahkan menutup kedua matanya, merasakan kesakitan di kakinya yang perlahan mulai mereda.
" Kaki kamu terkilir, Amira, tapi bisa-bisanya kamu bilang gak papa." ucap Fajar berdecak pelan, sambil terus memijat kakinya dengan pelan.
" Aku memang gak papa kok, Jar."
Meski masih merasa tidak enak, Amira akhirnya menyerah saja pada kebaikan hati Fajar.
Fajar dengan hati-hati menggenggam pergelangan kaki Amira yang terkilir.
Sementara itu, matanya fokus menatap mata Amira, mencoba membaca rasa sakit yang mungkin sudah di sembunyikan di balik tatapan gadis itu.
" Bilang kalau sakit, jangan pura-pura sok kuat!" ucap Fajar dengan nada dingin, tetapi tersembunyi berjuta rasa khawatir di dalam hatinya.
Dia tau betapa keras kepalanya Amira kala dia selalu ingin menunjukan kekuatannya dan ketangguhan nya, bahkan saat merasakan sakit sekalipun, Amira selalu menahannya.
Amira pun langsung menggigit bibir bawahnya, sambil menatap Fajar yang begitu fokus merawat kakinya.
Dia bahkan langsung tersenyum tipis dibalik cadarnya, kemudian langsung mengangguk pelan.
" Iya, Jar, aku akan bilang kalau aku merasa sakit." jawabnya dengan suara pelan.
Namun, di dalam hati, Amira telah berjanji pada dirinya sendiri untuk bisa tetap bertahan walaupun dia merasakan sakit sekalipun, karena dia tidak ingin menjadi beban bagi suaminya itu.
Fajar terus memijat pergelangan kakinya Amira, sesekali dia juga menanyakan apakah pijitannya itu terlalu keras atau malah terlalu lembut.
Namun Amira hanya menjawabnya dengan gelengan kepala, menunjukan bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, dibalik senyuman nya itu, dia merasakan rasa sakit yang semakin menyerang pergelangan kakinya.
Dia juga menahan erat tangisannya, supaya dia tidak terlihat lemah di depan Fajar.
" Jar, sepertinya sudah cukup." lirih Amira.
Di tengah-tengah rasa sakitnya, dia juga merasa tidak nyaman saat Fajar terus memijat pergelangan kakinya.
Dia tidak nyaman bukan karena pijatan dari Fajar, melainkan karena dia takut jika seseorang nantinya akan melihat mereka dalam situasi seperti ini.
Bagaimana mereka harus menjelaskan jika nantinya ada orang yang melihat mereka?.
TO BE CONTINUE.
meleleh hati adek Amira bang Fajar🤭🤭🤭