*******! Banyak ****** ****** bertebaran jadi ***** ***** memilih bacaan.
Perasaan cintanya untuk seseorang yang begitu besar membuat luka yang mendalam bagi seorang Kanaya.
Kanaya Tsabita menerima pertunangan dari Arslan Khairul Azam karena percaya akan kesungguhan cinta Arslan yang diberikan padanya. Tapi siapa tahu diantara perjalanan cinta mereka hadirlah Rindu Anjani sang sekretaris yang berhasil mengalihkan perhatian Arslan hingga akhirnya melukai perasaan Kanaya.
Diantara gempuran luka dan mempertahankan sebuah harga diri, sosok Baratha hadir untuk menjadi tameng dan luapan rasa kecewa Kanaya pada sebuah cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Putri761, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Foto
Senja kali ini terlihat berbeda. Kanaya hanya tertegun di teras bekakang. Tak ada semangat untuk memasak makanan,karena tidak ada yang ditunggu kepulangannya pada sore ini.
Diantara suasana mendung yang diselingi tiupan angin yang kencang membuat Kanaya merasakan ada kurang. Meskipun tak banyak bicara, tetap saja Kanaya merasa ada yang berbeda dari sore biasanya.
Suara bel menyadarkan lamunannya. Dia pun bergegas melihat siapa yang datang saat suasana petang seperti ini.
Dengan sangat hati-hati, dia mengintip dari sebuah layar yang dibuat khusus untuk melihat siapa yang datang berkunjung. Dan ternyata, pria yang menjadi cinta pertamanya sudah berdiri di depan pintu.
Dengan rasa senang , Kanaya berlari untuk membukakan pintu.
"Papa..." gadis itu menghambur memeluk papanya.
"Apa kabar, Nay?" tanya Arkha.
"Baik, Pa!" jawab Kanaya dengan binar bahagia di wajahnya.
"Papa sehat?"lanjut Kanaya. Bertemu dengan papanya setelah menikah ada perasaan terenyuh. Rasa rindu dan sayang itu seolah meluap dalam emosinya hingga matanya berkaca-kaca.
"Papa nggak diperbolehkan masuk?" Arkha yang hampir terbawa suasana pun akhirnya mencairnya suasana.
"Oh iya, mari, Pa!" Kanaya menarik tangan papanya untuk masuk di rumah kecil yang sekarang lebih rapi dan cantik.
"Papa mau minum apa? Biar Naya buatin." lanjut Kanaya.
"Nggak usah, Nay. Papa hanya sebentar." tolak Arkha sambil memperhatikan keadaan tempat tinggal putrinya.
" Kok cuma sebentar, Pa."
"Iya, Papa cuma nganterin titipan mamamu." Arkha menyerahkan satu plastik besar pada putrinya. Kanaya pun menerimanya plastik yang berisi stok bahan makanan maupun makanan-makanan yang menjadi kesuakaan Kanaya.
"Semarah apapun Mama pada anaknya, tidak akan pernah menghilangkan rasa sayangnya."
"Hanya saja Mama butuh waktu. Kamu bisa mengerti,kan, Nay?" jelas Arkha.
Pria paruh baya itu malah membuat Kanaya ingin menangis. Dia memang sudah mengecewakan mamanya saat memutuskan untuk menikah dengan pria yang tidak jelas asal usulnya dan tidak ada satupun pada diri Bara yang bisa dibanggakan.
"Naya mengerti rasa kecewanya Mama pada Naya." lirih Kanaya melihat mata putrinya berkaca-kaca Arkha pun langsung memeluk Kanaya.
"Jam segini Bara belum pulang?" Arkha mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mas Bara lembur, Pa." jawab Kanaya asal-asalan. Dia tidak ingin papanya berfikir macam-macam dengan keadaan rumah tangganya. Cukup, mereka tahu jika perekonomian keluarnya yang pas-pasan.
"Bara, baik sama kamu? Apa dia suami yang kasar?" selidik Arkha padahal dia sering menyuruh orang untuk memantau keadaan putrinya.
"Mas Bara baik dan sabar, meskipun sedikit bicara." jelas Kanaya membuat Arkha mengangguk karena dia melihat Kanaya tidak berbohong.
"Ini udah petang, Papa balik dulu. Jika liburan atau ada waktu luang datanglah ke rumah. Mama pasti senang." ucap Arkha kemudian beranjak dari duduknya.
"Iya, Pa." jawab Kanaya dengan mengantarkan papanya keluar rumah.
Sekali lagi Arkha memperhatikan halaman rumah kecil yang di tinggali putrinya. Baginya tidak masalah jika putrinya harus berjuang, kehidupan ini mengingatkannya pada dirinya saat masih kecil.
"Papa balik dulu!" pamit Arkha kemudian mencium kening putrinya dan kemudian masuk ke dalam mobil.
Suara Azdan Magrib mengiringi kepergian papanya. Kanaya pun bergegas masuk ke dalam rumah dan kembali mengunci rumahnya.
Kanaya membongkar oleh-oleh dari mamanya tanpa ada selera untuk memakannya. Entah kenapa selera makannya jadi hilang saat suaminya tidak pulang seperti biasanya.
Setelah meletakkan semua makanan di lemari pendingin dan rak dapur. Kanaya langsung beranjak untuk Salat Magrib.
Sebenarnya saat melewati kamar Bara yang selalu terkunci ada rasa penasaran untuk memasuki, tapi tidak bisa. Sudah beberapa kali dia mencoba membukanya tapi selalu saja terkunci.
Kanaya bergegas untuk menunaikan Salat Magrib. Sekarang bertambah satu nama yang dia langitkan untuk segala kebaikan, yaitu nama suaminya.
Setelah melipat mukena, Kanaya mencoba menghubungi kembali nomer Bara tapi tetap saja masih berada di luar jangkauan. Hal itulah yang membuat Kanaya semakin di di rundung rasa gelisah.
Rasanya dia tidak berarti apa-apa dalam kehidupan pria itu. Dia merasakan ada banyak rahasia yang disembunyikan dari dirinya.
"Jika Mas Bara menganggapku penting dia tidak akan membiarkan aku menjadi orang asing dalam hidupnya." gumamnya dalam hati. Tiba-tiba, dia kembali merasa sedih karena tidak pernah beruntung untuk urusan hati. Di khianati saja sesakit itu dan tidak dianggap ternyata juga sakit. Itulah yang di rasakan Kanaya.
Di rumah sendirian, sunyi dengan pikiran yang negatif membuatnya mencari Al-Qur'an yang tersimpan di lemari, mungkin dengan mengaji dia bisa merasa tenang.
Dibukanya lemari dimana dia biasa menyimpan Al-Qur'an, tapi ada yang menarik perhatian dirinya. Sebuah laci yang belum pernah dia buka sama sekali.
Mungkin dia akan menemukan sesuatu tentang Bara di sana. Kanaya mencoba membukanya laci tersebut. Tapi hanya sebuah tumpukan amplop dan lembar-lembar kertas yang warnanya sudah kusam hingga dia tidak tertarik lagi untuk membacanya satu persatu.
Meskipun tak menemukan sesuatu, Kanaya masih ingin merapikan beberapa kertas itu hingga dia menemukan dua lembar foto.
Seketika tubuhnya bergetar, aliran darahnya juga memanas ke seluruh tubuh saat melihat siapa yang ada di dalam foto tersebut.
Entah perasaan apa yang timbul setelah melihat foto suaminya menggendong seorang wanita berjilbab. Wanita itu sangat cantik, senyumnya juga terlihat manis. Perasaan yang menghampiri Kanaya teras begitu hebat, hingga matanya pun meneteskan air mata.
Dan foto kedua pun masih dengan wanita yang sama. Hanya saja keduanya masih terlihat remaja. Tubuh Kanaya langsung meluruh di lantai, rasanya sangat sesak, bahkan lebih sesak ketimbang saat dia memergoki pengakuan perasaan Arslan untuk Rindu.
Suasana kembali sunyi. Wanita yang masih memegangi dua lembar foto itu tak mampu lagi bersuara. Dia seperti kehilangan oksigen untuk bernafas.
Dan yang ingin dia tanyakan pada Tuhan, 'Dosa apa yang sudah dilakukan hingga rasanya Tuhan mengutuk dirinya.'
Tubuhnya benar-benar terasa lemah hingga dirinya hanya mampu tertunduk di lantai.
Beberapa kali dia memukul dadanya yang masih saja terasa sesak.
"Mungkin itu cinta masa lalu Mas Bara? Atau malah mereka masih menjalin hubungan?" pertanyaan demi pertanyaan yang hinggap di kepala malah membuat dirinya merasa sakit. Bahkan Kanaya tak lagi bisa berfikir dengan baik.