NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Buku Tabungan

Keesokan paginya, Laras bangun dengan tubuh pegal dan satu lengan Bram melingkar di pinggangnya.

Ia mencoba bergeser pelan. Pelukan itu justru mengencang.

"Mau ke mana?" suara Bram terdengar berat oleh tidur.

"Mandi."

"Nanti."

"Kinan bisa mengetuk kapan saja."

Seolah dipanggil oleh ramalan buruk, tiga ketukan cepat terdengar dari pintu.

"Mbak Laras? Ibu memanggil untuk sarapan."

Bram mengerang dan menutupi wajah dengan bantal. Laras menahan tawa, lalu mencubit lengan suaminya agar melepaskan pelukan.

"Katanya strategi melarang tamu?"

"Saya lupa rumah ini memiliki Kinan."

"Komandan gagal."

"Suami kurang tidur."

Pipi Laras memanas mengingat alasan mereka kurang tidur. Ia buru-buru mengambil pakaian dan masuk kamar mandi sebelum Bram sempat menggoda lebih jauh.

***

Setelah sarapan, Bu Rahayu memanggil Laras ke kamar.

Di atas meja ada sebuah buku tabungan dan amplop.

"Ini bekal dari Ibu dan Bapak," katanya. "Bukan pembayaran karena kamu menikah dengan Bram. Anggap saja bantuan awal untuk rumah tangga kalian. Kamu boleh simpan, investasikan, atau jadikan modal setelah dibicarakan bersama."

Laras tidak langsung menyentuhnya. "Jumlahnya terlalu besar?"

"Belum kamu lihat."

"Kalau Bapak yang memberi, biasanya tidak kecil."

Bu Rahayu tersenyum. "Kamu mulai mengenal kami."

Laras membuka amplop dan terdiam melihat angka setoran. Cukup untuk menyewa tempat usaha kecil atau membeli beberapa mesin jahit bekas.

"Aku tidak bisa menerima sebanyak ini."

"Bisa. Menerima hadiah tidak menghapus kemandirianmu. Yang penting tidak ada syarat tersembunyi."

"Benar-benar tidak ada?"

"Ada satu. Jangan habiskan untuk membeli hadiah bagi kami."

Laras tertawa pelan. Ia akhirnya menerima buku tabungan itu dengan kedua tangan.

"Terima kasih, Ibu. Aku akan membicarakannya dengan Mas Bram sebelum memakai."

"Bagus. Tapi ingat, namamu juga ada di rekening itu. Suamimu tidak boleh menganggap semua keputusan uang otomatis miliknya."

"Ibu membela siapa sebenarnya?"

"Orang yang paling masuk akal. Hari ini kamu."

Ucapan itu persis Pak Hardjono. Laras bisa membayangkan bagaimana dua orang keras kepala tersebut bertahan menikah puluhan tahun.

***

Begitu Laras keluar dari kamar Bu Rahayu, Bram menunggu di lorong.

"Ikut saya."

"Ke mana?"

"Kamar."

Tatapan Bram terlalu serius. Ia mengambil tangan Laras dan membawanya masuk, lalu menutup serta mengunci pintu.

Laras menatap kunci, lalu suaminya. "Mas, sekarang masih pagi."

"Saya tahu."

"Tubuhku masih pegal."

Bram berkedip. Pemahaman muncul, diikuti senyum lambat yang membuat Laras ingin menarik kembali semua kata.

"Kamu mengira saya mengunci pintu untuk apa?"

"Tidak mengira apa-apa."

"Kamu menyebut tubuhmu pegal."

"Karena memang pegal. Setelah berdiri di resepsi."

"Tentu."

Nada itu jelas tidak percaya.

Laras memukul dadanya dengan buku tabungan. "Apa maumu?"

Bram tertawa rendah, lalu mengambil sebuah buku tabungan lain dari laci. Ia meletakkannya di telapak Laras bersama kartu ATM dan selembar catatan.

"Ini rekening gaji saya."

Laras menatapnya. "Kenapa diberikan kepadaku?"

"Mulai bulan ini, gaji pokok dan tunjangan yang bisa dipakai rumah tangga masuk ke rekening ini. Potongan resmi tetap berjalan. Saya sudah mengatur notifikasi agar kita berdua bisa melihat transaksi."

"Kamu memberikan seluruh penghasilanmu?"

"Untuk dikelola bersama."

"Kamu tetap butuh uang pribadi."

"Kita tetapkan jumlahnya. Kamu juga punya uang pribadi dari penghasilanmu kelak. Tidak perlu saling meminta izin untuk setiap kopi, asal kebutuhan rumah dan tabungan aman."

Jawaban itu lebih masuk akal daripada sekadar melempar kartu ATM dan menyuruh istri mengurus semua beban.

Laras membaca catatan. Bram sudah menuliskan gaji, tunjangan, potongan, dana darurat, bantuan rutin untuk kegiatan sosial, dan estimasi biaya rumah dinas.

"Kamu membuat anggaran?"

"Saya bisa mengatur logistik satu kompi. Rumah tangga seharusnya tidak lebih kacau."

"Kamu belum mengenal harga kebutuhan dapur."

"Karena itu kamu memegang pengelolaan harian."

Laras menutup buku tersebut. "Aku tidak mau menjadi petugas keuangan tanpa suara. Keputusan besar harus berdua."

"Setuju."

"Penghasilan usahaku tetap di rekeningku. Kontribusi ke rumah tangga kita tentukan, bukan kamu ambil otomatis."

"Setuju."

"Kalau salah satu ingin memberi keluarga dalam jumlah besar, harus bicara."

"Setuju."

"Kamu terlalu mudah setuju."

Laras menunjukkan buku tabungan pemberian Bu Rahayu. Bram membaca angka setoran, lalu bersiul pelan.

"Bapak sedang berusaha membeli menantu favorit."

"Ibu bilang tidak boleh kupakai membeli hadiah untuk mereka."

"Berarti jelas untukmu. Mau dipakai apa?"

"Belum. Aku ingin menyimpannya sampai rencana usahaku punya hitungan. Tidak ada mesin, sewa, atau bahan yang dibeli hanya karena uang tersedia."

"Bagus."

"Kamu tidak akan meminta sebagian untuk kebutuhan rumah?"

"Itu hadiah atas namamu. Bukan hak saya."

Laras memandang dua buku di tangannya. Satu hadiah keluarga, satu penghasilan suami. Semua diberikan tanpa daftar kewajiban tersembunyi. Ia seharusnya merasa lega, tetapi rasa takut lama tetap muncul.

"Bagaimana kalau suatu hari kita bertengkar?" tanyanya. "Kamu bisa menuduh aku menghabiskan uangmu."

Bram tidak menganggap pertanyaan itu berlebihan. Ia mengambil kertas kosong dan menulis tiga judul: kebutuhan bersama, tabungan bersama, uang pribadi.

"Setiap pemasukan dan pengeluaran rumah dicatat," katanya. "Bukan agar saling mengawasi, melainkan supaya tidak ada yang bisa mengubah ingatan saat marah."

"Kamu sungguh memikirkan semuanya seperti laporan operasi."

"Dokumen mencegah pertengkaran bodoh."

"Tidak semua pertengkaran bisa selesai dengan tabel."

"Kalau begitu kita bicara. Tapi tabel membantu memastikan kita bertengkar tentang masalah yang benar."

Laras menahan senyum. Ia mengambil pena dan menambahkan satu judul lagi: modal usaha Laras.

"Ini tidak otomatis menjadi uang rumah," katanya.

"Setuju."

"Kalau usahaku rugi, aku tidak mengambil dana darurat tanpa bicara."

"Setuju."

"Kalau untung, aku ingin menyisihkan bagian untuk melatih perempuan lain."

Bram menatapnya. "Kamu belum memulai usaha dan sudah memikirkan orang lain."

"Aku tahu rasanya punya kemampuan tetapi tidak punya pintu masuk."

"Kalau begitu tulis sebagai tujuan, bukan beban. Kamu tidak harus menyelamatkan semua orang sendirian."

Kalimat itu membuat Laras terdiam. Bram tidak mengecilkan mimpinya, hanya mengingatkan agar ia tidak mengulang kebiasaan mengorbankan diri.

Mereka menandatangani kertas anggaran pertama itu dengan bercanda, lalu menyimpannya di antara dua buku tabungan. Secarik kertas sederhana menjadi perjanjian bahwa kepercayaan mereka akan memiliki angka, suara, dan batas yang bisa dilihat keduanya.

Bram mendekat, membuat Laras mundur sampai betisnya menyentuh ranjang.

"Karena syaratmu masuk akal."

"Kenapa harus mengunci pintu untuk memberi buku tabungan?"

"Supaya Kinan tidak masuk dan mengumumkan saldo saya ke seluruh rumah."

"Bukan untuk menggodaku?"

"Awalnya tidak."

"Awalnya?"

Bram mengambil buku tabungan dari tangan Laras, meletakkannya di meja, lalu memeluk pinggangnya.

"Kamu yang memberi ide."

Laras menahan dada Bram. "Aku masih pegal."

"Saya hanya mau mencium."

"Pembohong."

"Istri saya cepat belajar."

Bram mengecup ujung hidungnya, lalu mundur sebelum Laras benar-benar menolak. Ia menunjuk dua buku tabungan yang kini berdampingan di meja.

"Mulai sekarang, semua tentangku... kamu yang pegang."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!