NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:71
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Selamat Datang, Tuan Pemilik

"Pak Raka, semua saham La Maison sudah berpindah ke PT Langit Sembilan."

Bayu Santoso berdiri di depan pintu restoran dengan jas yang akhirnya rapi, map hitam di tangan, dan senyum yang biasanya muncul sebelum ia menghancurkan argumen orang. Di sampingnya, Bibi Lestari memegang tas kecil dengan kedua tangan. Bintang memakai kemeja bersih yang sama seperti kemarin, tetapi matanya kembali bersinar.

Fajar berbisik, "Dek, hari ini kalau ada yang nolak, restoran ini yang kita nolak balik."

Bintang menahan tawa.

Pintu La Maison terbuka. Nita melihat mereka. Senyum profesionalnya muncul setengah, lalu mati ketika ia melihat Bayu membuka map.

"Selamat siang," kata Nita, suaranya lebih pelan. "Apakah Bapak sudah..."

Bayu maju satu langkah.

"Perkenalkan, saya Bayu Santoso, kepala hukum PT Langit Sembilan. Mulai hari ini, La Maison adalah milik Pak Raka Surya Pratama. Tolong panggil Pak Suroso."

Wajah Nita kehilangan warna.

"Milik... Pak Raka?"

"Saham seratus persen, izin operasional, merek, inventaris, dan kewajiban supplier sudah kami ambil alih. Kalau perlu saya bacakan satu per satu, saya senang sekali."

Dari dalam, seorang pria paruh baya berjas koki keluar terburu-buru. Tangannya masih berbau saus mentega. Itulah Pak Suroso, manajer restoran yang kemarin terlalu sibuk untuk melihat pintu.

Ia membaca dokumen dari Bayu, lalu lututnya benar-benar melemas.

"Tuan... Pak Raka... saya minta maaf. Saya tidak tahu."

Pak Suroso hampir berlutut. Raka segera memegang lengannya dan menariknya berdiri.

"Berdiri, Pak. Saya bukan orang yang suka melihat orang berlutut."

Semua staf keluar satu per satu: chef, pelayan, kasir, sommelier, petugas kebersihan. Mereka berdiri seperti siswa menunggu kepala sekolah memutuskan hukuman.

Raka memandang mereka. Ia bisa memecat Nita saat itu juga. Bisa membuatnya menangis di depan semua orang. Bisa membeli rasa puas murah.

Tetapi Bibi berdiri di sebelahnya.

"Saya tidak akan memecat siapa pun hari ini," kata Raka. "Tapi saya ingin semua orang mengingat satu hal. Jangan pernah menilai manusia dari pakaian, sepatu, atau cara mereka berdiri di depan pintu."

Nita menunduk. Air mata mulai mengumpul di matanya.

Raka melanjutkan, "Kemarin, Mbak Nita menolak bibi saya. Bibi saya memakai batik yang dia jahit sendiri selama sebulan. Dia merapikannya sejak pagi karena ingin makan dengan tenang bersama keluarga. Restoran ini kehilangan hormatnya sebelum kehilangan tamunya."

Nita terisak. "Saya minta maaf, Bu. Saya benar-benar minta maaf."

Bibi Lestari justru melangkah maju dan menyentuh bahunya.

"Sudah, Nak. Yang penting jangan ulangi ke orang lain."

Nita menangis lebih keras karena dimaafkan oleh orang yang ia rendahkan.

Pak Suroso menunduk dalam. "Saya bertanggung jawab, Pak. Saya yang membiarkan budaya seperti itu."

"Bagus kalau Anda sadar. Anda tetap manajer sementara. Dalam tujuh hari, saya ingin laporan: standar pelayanan baru, pelatihan staf, daftar supplier, dan keluhan pelanggan enam bulan terakhir. Kalau Anda menutupi sesuatu, Pak Bayu yang bicara."

Bayu tersenyum. "Saya bicara dengan surat yang mahal."

Makan siang itu berlangsung di meja terbaik dekat jendela. Bintang duduk kaku pada awalnya, takut salah memegang garpu. Fajar diam-diam mencontohkan cara memakai alat makan dengan terlalu serius sampai Bintang tertawa.

"Bang Fajar juga tidak tahu, ya?"

"Saya tahu. Saya cuma mengetes garpu mana yang paling cocok untuk menyerang steak."

Bibi mencicipi sup krim, lalu berhenti. Matanya berkaca-kaca.

"Enak sekali, Nak. Tapi Bibi tetap suka nasi goreng Pak Maman."

"Tidak apa-apa. Kita bisa suka dua-duanya."

Raka memperhatikan tangan Bibi yang kini tidak lagi gemetar. Kemenangan hari itu bukan Nita yang pucat. Kemenangan itu adalah Bibi makan tanpa merasa harus pergi.

Setelah makan, Pak Suroso membawa buku reservasi. Ia menunjukkan daftar member lama dan aturan yang selama ini membuat staf berani menolak tamu tanpa penjelasan manusiawi.

"Mulai hari ini," kata Raka, "membership tetap ada untuk sistem reservasi. Jangan pakai itu untuk menghina orang. Dress code boleh ada untuk acara tertentu, tapi tidak boleh dijadikan senjata. Tamu yang sopan dilayani. Tamu yang kasar ditolak, sekaya apa pun."

Pak Suroso mencatat cepat.

[Mimpi: restrukturisasi aset La Maison selesai.]

[Kemampuan Penilaian Dasar terbuka. Fungsi: mendeteksi kualitas tersembunyi barang dalam radius terbatas.]

Pandangan Raka berubah. Di meja, sendok perak menampilkan label kualitas. Di dinding, lukisan replika tertulis nilai rendah. Di tangan Bibi, cincin sederhana peninggalan ibunya bersinar lembut, harganya kecil, nilainya berat secara emosional.

Lalu ada sinyal lain. Jauh, sekitar dua kilometer. Warna hijau tua, berdenyut dari tenggara.

[Mimpi: sinyal harta bernilai tinggi terdeteksi. Lokasi kemungkinan Pasar Batu Giok.]

Raka menatap keluar jendela.

Fajar mengikuti arah matanya. "Bang, kenapa senyum-senyum? Mau belanja lagi ya?"

"Jar, kamu tahu apa itu batu giok?"

"Batu mahal yang sering dipakai di film?"

Raka meminta semua staf menulis ulang satu kalimat di buku pelayanan: tamu dinilai dari perilaku. Penampilan hanya bungkus. Restoran mewah sering bersembunyi di balik kata standar sambil membiarkan penghinaan berjalan sebagai kebiasaan. Pak Suroso membacakan kalimat itu keras-keras di depan staf, dan untuk pertama kalinya Nita mendengarnya tanpa bisa berlindung di balik senyum profesional.

Saat hidangan utama keluar, chef sendiri berdiri di dekat meja untuk menjelaskan menu. Bibi berkali-kali berkata tidak perlu, tetapi Raka meminta chef tetap menjelaskan dengan bahasa sederhana. Ia ingin Bibi tahu bahwa tempat mahal pun bisa berbicara dengan manusiawi kalau pemiliknya memaksa.

Bintang sempat salah mengambil pisau ikan untuk daging. Ia panik, takut ditertawakan. Fajar langsung menukar pisaunya sendiri dan berkata, "Tenang, Dek. Kalau alat makan ada banyak, berarti restoran ini yang ribet. Kamu tidak salah." Bibi tertawa sampai air matanya berhenti. Raka menyimpan momen itu lebih dalam daripada angka akuisisi.

Setelah makan, Nita meminta izin bicara pribadi dengan Bibi. Ia mengaku dulu ia juga berasal dari keluarga biasa, tetapi setelah bekerja di restoran mahal ia mulai meniru cara tamu kaya memandang orang lain. Bibi hanya berkata, "Jangan lupa dari mana kamu pernah takut lapar, Nak." Kalimat itu membuat Nita menunduk lama.

Sebelum pulang, Raka meminta Pak Suroso mengundang tiga pelanggan lama yang pernah ditolak dengan alasan penampilan dan memberi mereka makan malam gratis tanpa publikasi. Ia tidak ingin perubahan La Maison hanya menjadi adegan viral tentang pemilik baru. Perbaikan yang benar harus menyentuh orang yang pernah terluka ketika tidak ada kamera.

Bayu mencatat keputusan itu sebagai biaya reputasi. Fajar menyebutnya biaya hati. Bibi hanya tersenyum, karena ia tahu Raka sedang belajar membedakan antara membalas hinaan dan memperbaiki pintu.

"Besok," kata Raka, "kita jadi pemain baru di pasar itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!