Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Bab 34
Itu Bukan Urusanmu
“Dia mau atau tidak, itu bukan urusanmu.”
Bima melangkah melewati ambang pintu. Seragamnya masih penuh bekas tanah makam. Sarung pistol terpasang di pinggang, bukan untuk ditunjukkan, tetapi kehadirannya cukup membuat Joko mundur setengah langkah.
Pakde Rusdi berusaha tetap keras. “Ini urusan keluarga kami, Pak.”
“Kalau begitu selesaikan sebagai keluarga, bukan dengan memaksa janda di rumah duka.”
Bima berdiri di samping Laras, tidak menutupinya, tetapi membuat jarak antara Joko dan Nala.
“Rumah ini milik Mbah Inah,” lanjutnya. “Wahyu adalah keturunan langsung yang telah meninggal. Nala anak sah Wahyu. Haknya sebagai ahli waris tidak hilang karena dia perempuan.”
“Adat keluarga kami berbeda.”
“Adat tidak menghapus hukum negara maupun hukum waris yang harus diperiksa pejabat agama. Pak Lurah sudah memegang akta lahir, kartu keluarga, surat nikah, dan surat kematian.”
Pakde Rusdi menunjuk Laras. “Dia akan menikah lagi. Nanti rumah jatuh ke laki-laki lain.”
“Rumah yang menjadi hak Nala tetap hak Nala. Laras bertindak sebagai ibu dan wali, bukan pemilik yang bebas menyerahkannya.”
Bima memandang kedua putra Rusdi.
“Desa akan membuat berita acara melalui RT, RW, saksi keluarga, dan modin. Kodim juga akan mencatatnya sebagai aset keluarga prajurit gugur. Kalau kalian punya klaim, bawa bukti ke kantor desa.”
“Kami hanya ingin menjaga.”
“Orang yang ingin menjaga tidak datang sehari setelah pemakaman untuk meminta rumah dan perempuan sekaligus.”
Pakde Rusdi mencibir. “Bapak bicara seolah janda itu tanggung jawab tentara selamanya.”
“Hak keluarga prajurit gugur tidak hilang ketika upacara pemakaman selesai,” jawab Bima. “Laras menerima santunan dan hak pendampingan karena Wahyu gugur dalam tugas. Itu bukan sedekah dari keluarga besar yang bisa dicabut sesuka hati.”
“Santunan itu juga berasal dari nama Wahyu. Keluarga ayahnya berhak tahu.”
“Mengetahui bukan berarti mengambil. Setiap pembayaran tercatat atas Laras dan Nala. Kalau ada yang memaksa meminta bagian, laporannya masuk sebagai pemerasan.”
Joko memandang sarung pistol Bima. “Karena Bapak bersenjata, semua orang harus percaya?”
Bima melepaskan tangan dari dekat pinggang dan menaruhnya di atas meja agar maksudnya jelas. “Bukan senjata yang bicara. Akta, saksi, dan hukum yang bicara. Seragam ini hanya memastikan kalian tidak menutup mulut mereka dengan ancaman.”
Pak Lurah membuka halaman baru dan meminta seluruh saksi menuliskan nama. Bahkan Bu Karti yang tidak lancar menulis membubuhkan cap jempol. Kini penolakan Laras bukan lagi kata seorang janda melawan tiga laki-laki.
Wajah Joko memerah. “Bapak tentara jangan mengancam warga.”
“Saya belum mengancam.” Suara Bima tetap datar. “Saya memberi tahu prosesnya. Kalau kalian kembali untuk meneror, menyentuh Laras tanpa izin, atau mengambil barang dari rumah ini, Pak Lurah melapor ke kepolisian. Saya menjadi saksi.”
Pak Lurah maju membawa buku desa. “Saya juga menjadi saksi bahwa Laras menolak pernikahan dan tidak menyerahkan rumah.”
Bu Karti serta tiga perempuan lain ikut menyatakan hal yang sama.
Pakde Rusdi melihat jumlah orang di ruangan. Keberaniannya runtuh ketika menyadari tidak ada satu pun saksi yang memihak.
“Kita pergi,” katanya kepada kedua putranya.
Joko masih ingin berbicara, tetapi Bima hanya menggeser pandangan ke pintu. Tiga laki-laki itu keluar tanpa pamit. Suara mesin motor mereka menghilang di jalan desa.
Pak Lurah mengembuskan napas. “Saya akan minta hansip memeriksa rumah setiap malam. Kunci kedua tetap pada Pak RT. Tidak ada surat pemindahan tanpa kehadiran Laras.”
“Terima kasih,” kata Laras.
Ia baru sadar lututnya lemas setelah semua orang pergi. Bima mengambil Nala dari lengannya sebelum bayi itu ikut terlepas.
Nala menatap wajah asing tersebut, lalu menarik kerah seragamnya.
“Dia tidak takut pada Komandan,” kata Laras.
“Belum tahu saja.”
Laras hampir tertawa, tetapi kesedihan kembali menahan dadanya.
Mereka mengemasi pakaian Nala, kartu kesehatan, selendang Mbah Inah, dan bungkusan tabungan. Isi rumah lain ditulis dalam berita acara. Laras mengunci pintu utama dan menyerahkan kunci cadangan kepada Pak RT.
Sebelum pergi, Laras masuk sekali lagi ke dapur. Cobek Mbah Inah masih berada di dekat tungku. Ada sisa kayu bakar, cangkir enamel yang retak, dan beras dalam kaleng kecil. Ia ingin membawa semuanya, tetapi rumah tanpa benda-benda itu akan terasa seperti sudah benar-benar mati.
Ia hanya mengambil selendang dan sebuah sisir kayu. Sisir itu dibungkus kain lalu dimasukkan ke tas Nala.
“Saya akan kembali setelah empat puluh hari untuk doa dan urusan surat,” katanya kepada Pak RT.
“Rumah ini kami jaga. Kalau Pakde datang lagi, saya kirim kabar hari itu juga.”
Bima memasang segel kertas sederhana pada lemari dan meminta Pak Lurah menandatanganinya. Bukan penyitaan, hanya bukti jika seseorang membuka paksa sebelum daftar waris selesai.
Ia tidak menoleh ketika jip meninggalkan Girisari. Kalau menoleh, ia takut tidak sanggup pergi.
Di perjalanan, Nala tertidur di pangkuan Laras. Bima menyetir dengan satu tangan dan menyerahkan surat dari saku dasbor.
“Persetujuan darurat tiga hari. Besok bagian perbekalan datang membuat pendaftaran sementara.”
“Tiga hari saja?”
“Cukup sampai izin tiga bulan terbit.”
“Kalau izin tidak terbit?”
“Terbit.”
Keyakinan itu membuat Laras tidak bertanya lagi.
Mereka tiba di kompleks setelah Magrib. Bu Wati menunggu bersama Satya. Begitu melihat Laras, bayi itu merangkak cepat, lalu berhenti ketika melihat Nala.
Beberapa tetangga ikut keluar. Bima tidak membiarkan kerumunan mendekat. Ia menjelaskan singkat bahwa pengasuh Nala meninggal dan anak itu mendapat penempatan darurat sebagai tanggungan Laras.
“Besok data resmi disampaikan,” katanya. “Malam ini beri mereka ruang.”
Bu Titin membawa air panas. Iwan menurunkan kasur lipat dan kotak pakaian bayi. Parjo mengirim bubur serta telur rebus dari dapur, semuanya dicatat sebagai jatah Laras yang belum diambil selama di desa.
Untuk pertama kalinya sejak Mbah Inah jatuh, Laras tidak perlu meminta bantuan. Orang-orang bergerak di sekelilingnya seperti sebuah keluarga yang tahu apa yang harus dilakukan.
Kedua anak saling menatap.
Nala mulai menangis lebih dulu karena tempat asing. Satya ikut menangis meski tidak tahu sebabnya.
“Selamat datang di rumah baru,” kata Bu Wati. “Tetangga satu kamarmu berisik.”
Malam itu Nala tidur di kasur bersama Laras. Satya tetap di ranjang bayi dekat dinding. Laras membersihkan ruam popok Nala dengan air hangat, mengeringkannya, lalu mengoleskan salep dari dr. Sinta.
Bima berdiri di pintu terbuka bersama Iwan. Ia memastikan lampu, air, dan kunci jendela aman sebelum kembali ke bagian depan.
“Istirahatlah,” katanya. “Besok urusan kertas.”
Laras memandang dua anak yang akhirnya berada di satu ruangan.
“Terima kasih, Komandan.”
Bima mengangguk. “Sekarang kau tidak perlu meninggalkan salah satu.”
Keesokan paginya, dua tangisan meledak hampir bersamaan.
Laras bangun terburu-buru. Nala lapar di sampingnya, sementara Satya sudah berdiri berpegangan pada sisi ranjang bayi.
Sebelum Laras sempat mengangkat salah satu, Satya menjatuhkan tubuh ke kasur, merangkak mendekati Nala, lalu menarik telinganya.
Tangis Nala berubah menjadi jeritan.